เข้าสู่ระบบ“Anqi?” Gu Chen mengguncang pelan lengan istrinya, membuyarkan lamunannya setelah beberapa menit wanita itu hanya membisu.Angguk menyetujui dengan anggukan. “Benarkah?” Tiba-tiba saja wajah Gu Chen berubah semringah, binar bahagia terpancar jelas dari manik matanya.“Tapi aku tidak bisa berjanji secara pasti,” sahut Anqi mengelak, meski jauh di lubuk hatinya, ia sudah bertekad untuk memperjuangkan waktu itu.“Aku mengerti. Nanti kita coba cocokkan jadwal bersama.” Gu Chen menggenggam kedua tangan Anqi erat-erat, lalu mendaratkan kecupan lembut di punggung tangan wanita itu. “Terima kasih, Anqi.”Anqi bergeming. Sesaat, ia terkesima melihat pancaran kebahagiaan di wajah suaminya. Ia akui dalam hati, pria itu terlihat berkali-kali lipat lebih tampan ketika tersenyum tulus seperti ini. Tanpa sempat disaring oleh akal sehatnya, kakinya tiba-tiba berjingkit, dan bibirnya mendaratkan kecupan sekilas tepat di bibir Gu Chen.“Anqi?” Gu Chen tersentak kaget di tempatnya.“Kenapa? Tidak
Gu Chen hanya menanggapinya dengan senyuman hangat yang menenangkan. “Ngomong-ngomong... masih ada lagi hal lain yang ingin kau tahu dari suamimu ini, Nyonya Gu?”Anqi seketika membelalakkan matanya kaget, salah tingkah. “Kau…”“Aku kenapa, hm?” tanya Gu Chen memasang wajah polos tanpa dosa yang justru terlihat menyebalkan di mata istrinya.“Kau membuatku seperti seorang penyusup untuk mencuri dokumen penting perusahaanmu,” ketus Anqi pura-pura merajuk.“Aku sama sekali tidak berpikir seperti itu. Aku justru mengira kau hanya penasaran sebagai sesama profesional di dunia bisnis. Wajar saja jika seorang pekerja andal ingin tahu banyak hal soal bisnis.”Anqi terdiam seribu bahasa. Ia sempat membuka mulutnya hendak mendebat kalimat itu, namun kembali menutupnya rapat-rapat tanpa ada suara yang keluar. “Terserahmu,” ucapnya akhirnya sambil memalingkan wajah ke arah lain.Ia mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak terpancing em
“Contohnya?” pancing Anqi. “Aku yakin, Cahaya Pagi hanyalah salah satu,” batinnya.“Seperti bisnis minuman boba yang sempat booming dulu.”“Aku paham... usaha model begitu memang cepat viral, tapi bukankah bisnis musiman seperti itu juga sangat cepat mati dan punya risiko gulung tikar yang tinggi?”“Tepat sekali. Tapi bisnis seperti itu punya keunggulan, cepat berputar dan cepat menghasilkan keuntungan tunai yang masif. Kuncinya kita harus terus memantau pergerakan pasar, tren apa yang sedang digandrungi masyarakat saat ini.”“Dan jika kamu menemukan tren baru, kamu langsung menanam modal lagi di sana?”“Betul. Prinsip dasarnya sederhana, yang penting uang kas terus berputar dan pundi-pundi keuntungan bertambah,” sahut Gu Chen mantap.Beberapa saat lamanya, Anqi terdiam seribu bahasa. Ia membatin kagum. Seberapa gesit dan tajam sebenarnya insting bisnis pria di sampingnya ini dalam membaca pasar?Belum sempat Anqi meni
“Suami?” Anqi mengeja dalam hati. Suami sebatas transaksi? Atau sehidup semati? Ia kembali bertanya, apakah ada suami sehidup semati? Kenyataan yang ia lihat, bapaknya bukan laki-laki setia, Suami Lin Yun pria bejat, Wang Meng beberapa kali putus, selingkuh di perkantoran juga sudah jadi rahasia umum. Mungkin masih ada laki-laki yang setia, tapi berapa persen? Mungkin hanya nol koma persen, tapi adakah dirinya di sana?“Baiklah,” sahut Gu Chen seraya langsung mengeluarkan ponsel dari saku celananya. “Kamu mau pesan kopi apa, hm?”“Americano,” jawab Anqi lembut.“Baiklah, pesanan sudah ku-submit. Dari kafe terdekat dari sini, estimasi sepuluh menit sampai.”Anqi mengangguk kecil. “Terima kasih, Gu Chen.”“Kenapa mendadak jadi seformal begitu, Nyonya Gu?” goda Gu Chen sambil menaikkan sebelah alisnya.Anqi memilih untuk abai. Ia meluruskan kembali pandangannya menatap lurus ke depan. “Gu Chen... sambil menunggu kop
“Apa kau... juga sering melakukan hal seperti ini pada Tang Tang?” tanyanya pelan, memecah keheningan yang menyelimuti kamar tersebut.Gerakan tangan Gu Chen terhenti sesaat. Ia lantas mematikan hairdryer di tangannya. “Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?” Gu Chen balik bertanya dengan sorot mata menyelidik.“Cuma penasaran saja,” jawab Anqi asal, berusaha menepis gugup.Gu Chen bergeser duduk di hadapannya, lalu menyentuh helaian rambut Anqi yang kini sudah kering. “Anqi, aku memang berusaha berbuat yang terbaik untukmu, untuk Ibu, juga untuk Tang Tang. Tapi jangan pernah bandingkan posisimu dengan mereka. Kalian semua orang-orang terpenting dalam hidupku, tetapi kalian tidak berada dalam satu tempat yang sama.”Anqi mengerutkan keningnya cukup tajam, bingung dengan arah pembicaraan pria itu.“Kalian masing-masing memiliki tempat khusus di hatiku. Hatiku bukan ruang yang dibagi tiga, melainkan memiliki porsi dan ruan
“Apakah sebaiknya kita bercerai saja?” batinnya mulai menimbang-nimbang keputusan itu dengan getir.Jika ia mengakhiri semuanya di sini, ia tidak perlu lagi pusing memikirkan rahasia kekayaan Gu Chen yang berlapis-lapis. Ia tidak perlu lagi menuntut sebuah transparansi dan kepercayaan yang mahal harganya. Dan yang paling penting, perasaannya tidak perlu lagi terombang-ambing di dalam ketidakpastian yang menyiksa ini.***Anqi tertidur lelap dalam posisi setengah duduk sambil memeluk Tang Tang di atas ranjang pasien ketika Gu Chen tiba-tiba mendorong pintu ruang rawat itu larut malam. Bibi Wang, yang sejak tadi berjaga di sofa, sontak terbangun dari tidur ayamnya dan langsung mengusap kedua matanya karena kaget.“Tuan Gu…” sapa Bibi Wang setengah berbisik.“Dari pagi tadi Nyonya tetap di sini, Bi?” tanya Gu Chen dengan suara pelan, berusaha agar tidak membangunkan kedua orang di atas ranjang.Bibi Wang mengangguk pelan. “Say







