Mag-log inAngga mencoba untuk menghubungi Alena yang ada di Rumah tengah mengerjakan pekerjannya yang ada di kantor! Alena dengan sengaja dia mengerjakan pekerjaan kantor di Rumah untuk menemani Arlina yang masih ingin dekat dengan Alena.
Berulang kali Angga menghubungi Alena, namun sayang tidak ada satu panggilan pun yang Alena jawab, tidak ada satu pesan yang Alena balas! dia dengan sengaja tidak memperdulikan Angga yang kini benar-benar kalang kabut dengan semua pekerjaannya. Bukan hanya itu saja, tapi saham perusahaan sejak kemarin semakin menurun! membuat Angga semakin tidak tenang, bahkan hanya untuk sekedar minum saja dia tidak bisa menelannya. Angga tanpak sangat kesal dengan Alena yang mendiamkan dia! Angga sadar, kalau apa yang sudah dia lakukan salah, dia juga sudah berpisah dengan Alena, tapi mau bagaimana pun Alena tidak ada hak menghancurkan Angga setelah berpisah. Ahhhhh.. Prakkk Angga sangat marah dengan Alena, dia membuang ponsel genggam miliki dengan berteriak dengan sangat kencang! Angga melampiaskan, kemarahannya pada ponsel yang tidak bersalah. Hemmmsss Angga membuang napas berat dengan menyandarkan punggung lelahnya! dia semakin bingung dengan apa yang harus dia lakukan, dia tidak ingin menjadi pria miskin tidak punya apapun lagi. "Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan kepercayaan Alena??" batin Angga dengan mengusap wajahnya dengan sangat kasar. Tepat saat Rangga mencari cara untuk mendapatkan kembali Alena, dia mendengar suara perempuan yang sudah menemani dia selama 5 tahun terakhir! perempuan yang harusnya tidak dia cintai, perempuan yang harusnya tidak dia nikahi, perempuan yang harusnya tidak dia pertahankan, hanya karena Fania punya keturunan Angga. Angga membuka matanya mendengar suara Fania, dia melihat perempuan cantik yang suka dengan pakaian yang sangat seksi melangkah mendekati Angga dengan sangat anggun. "Mas, kamu kenapa semalam tidak pulang??" tanya Fania dengan mendudukkan dirinya dipangkuan Angga dengan manja Hah.. Angga membuang napas kasar mendengar apa yang ditanyakan Fania! bagaimana dia bisa pulang disaat karyawannya tengah lembur untuk menjalin kerja sama yang baru dengan perusahan kecil maupun besar. "Mas, kamu kenapa terlihat tidak senang??" tanya Fania dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Angga Angga melepas tangan Fania dengan pelan, dia tengah tidak mood melihat Fania yang sangat manja dengan dia! Angga hanya ingin tenang saat ini, dia mengharapkan ada muzijat yang datang membantu dia. "Mas kamu kenapa sih??" tanya Fania tidak terima dengan apa yang Angga lakukan padanya, padahal dia ingin bermanja dengan Angga, tapi Angga dengan terang-terangan menolak apa yang Fania inginkan. "Fan! aku minta tolong, jangan membuat ku semakin pusing!!" keluh Angga dengan menatap Fania dengan tatapan memohon, dia berharap kalau Fania mau mengerti sama seperti saat Angga bersama dengan Alena. Angga mengingat dimana saat dia masih bersama dengan Alena! Alena, tampak sangat memanjakan dia, tidak perna sekali saja Alena membuat mood Angga semakin hancur. Ada kalahnya saat mood Angga tidak baik-baik saja, Alena sangat paham dan berusaha untuk mengembalikan mood Angga! Alena akan menawari Angga dengan memijat, membuatkan sesuatu yang Angga suka, atau membantu mengerjakan pekerjaan Angga. Sangat jauh berbeda dengan Fania yang hanya tau manja dan manja, dia akan marah dengan Angga saat Angga menolak memanjakan dia! seperti saat ini Fania tampak sangat jelas kalau dia tengah kesal dengan Angga. Ingin sekali Angga melempar istrinya yang duduk di pangkuannya ke lantai dingin ruang kerjanya! Fania bukannya membantu dia menyelesaikan masalah malah menambah masalah untuk Angga. "Fan! aku ini banyak masalah di kantor!!!" ucap Angga tempat didepan wajah Fania "Kamu sebagai istri bukannya membantu malah membuat ku semakin pusing!!" keluh Angga dengan mendorong Fania turun dari atas pangkuannya. Fania menatap Angga dengan tatapan tidak percaya kalau Angga sangat kasar dengan dia, padahal selama mereka menikah, tidak perna sekalipun Angga kasar dengannya. "Kamu kenapa kasar sih??" tanya Fania tidak terima dengan apa yang sudah dilakukan Angga baru saja, dia jauh-jauh datang ke kantor hanya ingin dekat dengan suaminya, malah Angga sangat menolak dan kasar padanya. "Kasar?? aku melakukan apa??" heran Angga dengan menatap Fania tidak mengerti lagi saat ini. Kepala Angga semakin pusing melihat dan mendengar ocehan Fania yang sangat tidak berbobot!! Fania sangat jauh berbeda dengan Alena, perempuan yang dia tinggalkan. "Lebih baik kamu pulang, kalau kamu datang ke kantor tidak membuat jalan untuk ku" usir Angga dengan menunjuk pintu ruang kerjanya. "Kamu mengusir ku??" heran Fania tidak percaya dengan aoa yang Angga katakan Angga memejamkan matanya, dia tidak tau harus bagaimana menghadapi perempuan yang ada didepan matanya saat ini! kalau saja sekarang yang ada didepan matanya adalah Alena, mungkin dia langsung memberikan saran, ide, bahkan menyelesaikan masalah yang ada. Sayang semua hanya tinggal kenangan yang ada, dia sendiri yang menyuruhnya pergi dari hidup Angga demi sebongkah tanah yang tidak berharga! Angga membuang berlian yang ada didekat bongkahan tanah. "Len, ternyata!! aku tanpa kamu tidak bisa apapun" batin Angga penuh dengan penyesalan. Dia kemarin yakin kalau dia akan menyelesaikan masalah yang ada dan bangkit tanpa bantuan Alena, namun semua hanya bayangan Angga saja! nyatanya dia sekarang membutuhkan Alena dari pada Fania yang memberikan dia anak. Angga membuka matanya saat dia mendengar apa yang dikatakan Fania, dia menatap perempuan yang ada didepannya dengan tatapan tajam, kesal, marah, murka, menjadi satu, sampai membuat Fania merasa takut, ngeri secara bersamaan. "Apa kamu bilang??" tanya Angga saat Fania mengatakan kalau dia menyesal menikah dengan Angga yang tidak peduli lagi dengannya. "Menyesal?? kalau bukan karena kamu yang menggoda ku, mana mungkin aku cerai dengan Alena" lanjut Angga dengan membentak Fania dengan sangat kencang, bahkan suaranya sampai terdengar keluar ruang kerja Angga Banyak karyawan yang mulai kepo dengan apa yang sudah terjadi didalam ruang kerja Angga! mereka bertanya-tanya kenapa Angga tampak sangat marah dengan Fania yang mereka tau sangat Angga manjakan, setelah kepergian Alena. Angga tidak perna menduga kalau Fania akan mengataka kalau dia menyesal menikah dengan dia, disaat dia yang menggodanya, sampai dimana Fania hamil anannya. "Kalau kamu pria setia, tidak akan perna tergoda dengan yang namanya perempuan" bentak Fania tidak mau kalah dengan Angga "Kamu tergoda dengan ku, kamu juga menyalahkan ku, kamu tidak melihat salah kamu!! kamu hanya tau menyalahkan orang lain" lanjut Fania "Dan yah! soal kamu berpisah dengan Alena, itu semua karena kamu tidak bisa menjaga Alena tetap ada di Luar Negeri! bahkan pernikahan kita saja sampai terdengar sampai ketelinga Alena yang ada di Luar Negeri" lanjut Fania semakin menyudutkan Angga Angga hampir saja jatuh kalau saja dia tidak berpegangan di meja kerja miliknya mendengar apa yang dikatakan Fania! dia merasa semua memang salahnya, dia sudah menikah dengan perempuan hebat malah dengan tidak tau dirinya menikah dengan Fania. "Kenapa?? sekarang kamu menyesal saat Alena benar-benat pergi?? atau menyesal karena perusahaan akan bangkrut??" sindir Fania terang-terangan. "Bahkan sekarang disaat kamu ingin bangkrut, aku masih ada disini menemani kamu! tidak meninggalkan kamu" bentak Fania dengan menghentakan kakinya dengan marah, sebelum dia pergi meninggalkan ruang kerja Angga yang kini sudah terjatuh dilantai dingin ruang kerjanya dengan rasa sesal, sesak, kecewa pada dirinya sendiri, dia juga merasa malu dengan apa yang dia lakukan. Angga meratapi nasibnya kehilangan Alena, dia sulit bangkit saat ini! dia ingin Alena kembali padanya tanpa berpisah dengan Fania dan putranya yang dia cintai. Berbeda dengan Alena yang kini ada di Rumah sakit, dimana dia tengah menunggu pria yang sudah dia tabrak dijalan saat ingin pergi dengan putri kesayangannya. Alena tampak sangat cemas didepan ruang operasi dimana ternyata sebelum Alena menabrak pria yang belum dia kenal, dia sudah mendapatkan luka penganiayaan. Ada luka tembak dibagain dada kiri, ada luka sayat diperut bagian kanan bawa! dan ada luka memar dikepala belakangnya! bukan hanya itu ada luka tusuk dibagian lengan sebelah kanan dan punggung sebelah kanan. Entah siapa yang sudah membuat pria tampan yang Alena tabrak terluka parah sampai mati pun tidak bisa, hidup pun susah. "Tuhan selamatkan pria yang tadi aku tabrak!! aku janji saat dia selamat, aku akan menjaga dan melindungi dia sampai titik darah penghabisan" batin Alena dengan mondar-mandir didepan ruang operasi menunggu hasil yang memuaskan dari tim dokter yang menyelamatkan pria yang dia tabrak tanpa identitas.Dion menghubungi Alif yang ada didalam kamarnya, dia tengah menatap bulan dan bintang malam dengan sebotol wins dan sebatang nikotin yang menemaninya.Pikiran Alif sangat kalut, dia terus dihubungi Kakek Dion menanyakan soal dimana Dion dan Alena, berulang kali Alif mengatakan kalau dia tidak tau, tapi tetap saja kakek Dion tidak percaya dengan apa yang Alif katakan.Menurut Alif pekerjaannya saat ini jauh lebih melelahkan dibandingkan dengan pekerjaannya yang biasanya.Dia diantara dua maut yang bisa saja mengambil nyawanya kapan saja! disisi lain Dion menitipkan Alena yang terus murung setiap harinya, hanya saat ada Alif mengantar makanan, baru Alena seolah tidak terjadi apapun.Sedangkan di luar Apartemen ada anak buah kakek Dion yang bisa saja dia menghajar dan mengalahkan mereka, tapi saat setelah itu Alif yakin kalau mereka akan menemukan Alena yang bersama dengan dia.Sedangkan Dion dia masih dirawat di Rumah sakit, dia masih menjalankan perawatan, dia juga baru saja sadar dari
Alena menatap bintang dan bulan yang sangat terang benerang! dia sangat rindu dengan pria yang selalu mendekapnya dengan sayang.Sudah berhari-hari Dion meninggalkan dia, sudah sangat lama Alena tidak berkomunikasi dengan Dion, sudah lama Dion pergi meninggalkan Alena sendirian.Entah bagaimana keadaan Dion saat ini, yang pasti Alena sangat merinduhkan pria yang sudah menjadi obat mujarab untuknya setelah pengkhianatan suaminya.Ingin Alena memeluk Dion, ingin Alena mengatakan kalau dia sangat takut akan kehilangan Dion, dia sangat takut kalau Dion benar-benar pergi dengan perempuan yang dijodohkan dengan dia.Alena merasa sangat menyesal sudah cuek, bertindak tanpa berpikir akan yang terjadi dengan dia dan Dion seperti sekarang ini."Maafkan aku!" lirih Alena dengan penyesalan yang sangat amat dalamSedangkan Dion di LA dia tengah istirahat total! dengan penjagaan yang sangat ketat! tidak ada yang diperbolehkan masuk ke dalam kamar rawat inap Dion sembarangan, termasuk suster dan dok
"Alif!! pesankan aku tiket ke LA" ucap Alena dengan menatap Alif yang tampak sibuk didepan layar laptopnya Alif tidak menyahut dia diam saja! dia tidak minat untuk memesankan Alena tiket ke LA, dia takut Alena hanya akan memperkeru keadaan Dion di Negara orang. Apalagi dia mendengar dari anak buahnya kalau Dion saat ini sangat lah kacau, dia dilarikan ke Rumah sakit karena kebanyakan minum menyebabkan lambung Dion bermasalah. Alena yang ada diseberang meja kerja Alif, dia benar-benar menatap Alif dengan tatapan memohon, agar dia mau memesankan tiket ke Luar Negeri. "Alif aku mohon sama kamu!" lirih Alena Alif mendongak menatap Alena dengan tatapan mengejek dan bertanya, untuk apa Alena datang ke LA kalau saja dia saat masih bersama dengan Dion! Dion dicuekin. "Untuk apa??" tanya Alif "Aku ingin minta maaf sama dia" sahut Alena "Tunggu saja dia pulang" sahut Alif dengan sangat cuek Alena tidak bisa menunggu lagi, Dion tidak bisa dihubungi sejak kemarin! dia takut terjadi sesuat
TokTokTokCeklekAlif masuk ke dalam kamar Alena dengan membawa makanan yang sudah dia siapkan untuk Alena atas permintaan Dion.Dion tidak datang menemui Alena sejak terakhir dia membawa makan untuk Alena! Dion yang tampak sangat frustasi dia meninggalkan Negaranya untuk perjalanan bisnis ke LA sejak kemarin.Alif ditugaskan Dion untuk menjaga Alena, percuma saja Dion memperhatikan Alena, tapi Alena sama sekali tidak perduli.Kesempatan datang disaat Dion sangat frustasi, dia ada jadwal meeting dengan klien yang ada di Luar Negeri membahas kerja sama yang sudah beberapa bulan tertunda.Dion dengan tekat yang sangat kuat dia meninggalkan Alena sementara waktu yang mana dia yakin kalau Alena tengah ingin jauh dari dia.Dion mempercayakan Alena pada Asisten pribadinya yang kini sudah mengantar makan siang untuk Alena! tadi pagi Alif tidak mengatar makanan, karena dia sangat sibuk di kantor."Nona Maafkan saya! ini makan siang anda!" ucap Alif dengan sangat sopan dan sangat menghargai
"Sayang! kamu makan dulu, nanti kamu sakit" ucap Dion dengan membawa bubur ayam yang dia beli didepan komplek Alena menatap Dion yang kini mendudukkan dirinya ditepi ranjang dengan pelan! Dion sangat perhatian dengan perempuan yang sangat dia cintai. "Aku ingin pulang" lirih Alena dengan nada suara yang sangat pelan Alena menunduk, tidak berani menatap pria yang tengah menatapnya dengan tatapan penuh cinta dan juga sangat terlihat sayang. Sangat jelas kalau saat ini Dion menunjukkan kehangatan ke Alena! begitupun dengan Alena yang juga merasa apa yang Dion tunjukan padanya. "Aku tidak akan membiarkan kamu pulang, selagi kamu masih seperti ini!" sahut Dion dengan mengarahkan sendok makan dengan bubur ke arah mulut Alena. Alena tidak mau makan, dia membuang muka! Dion menghela napas melihat Alena menolak suapan yang dia berikan. "Sedikit saja" pinta Dion dengan memohon Alena tidak menyahut, dia masih saja membuang muka! tanpa peduli perasaan Dion saat ini! Alena benar-b
Alena terdiam dengan menatap langit-langit kamar Dion yang ada di Apartemen! tatapannya kosong, dia tidak menyangka kalau Dion tidak mau melepaskan dia begitu saja. Jelas Kakeknya sudah tidak merestui hubungan mereka, tapi dia malah tetap mempertahankan Alena dan lebih memilih menyakiti Alena agar dia tetap disisinya. Sedangkan Dion yang ada disamping Alena dengan tubuh sama-sama polos dengan Alena, dia memeluk cintanya dengan merasa puas, bisa menahan Alena agar tidak ingin pergi sementara waktu. Dion tidak ingin kehilangan Alena, dia sudah terlanjur jatuh cinta dengan Alena saat ini! apapun yang terjadi dia akan hanya menikahi perempuan yang ada didekapannya. Alena sendiri dia terdiam dengan menatap kosong langit-langit, dia tidak tau harus bagaimana lagi, dia merasa sangat lelah, sakit, dan juga tidak berdaya saat ini. Alena tanpa sadar meneteskan air matanya, dia tidak tahan dengan apa yang dilakukan Dion padanya, meskipun dia tau kalau Dion ingin menahan dia disampingnya. D
"Akhirnya kamu bisa pulang!" ucap Alena dengan senyum, dia tidak lagi meninggalkan putrinya hanya dengan Avia di Rumah Arlina berulang kali menghubungi Alena untuk menanyakan kapan Alena akan pulang dari Rumah sakit! menanyakan bagaimana kabar pria yang ditabrak Mommy nya, kapan dia sembuh, kapan
Dion menatap berkas yang ada ditangannya dengan menaikan satu alisnya! dia tidak menyangka perempuan yang sampai saat ini, belum dia ketahui siapa namanya! dia adalah pewaris satu-satunya keluarga Prawari yang selama ini tidak banyak orang tau. "Ternyata masih ada perempuan bodoh di Dunia ini" lir
Alena keluar dari dalam kamar yang ada didalam kamar rawat inap Dion dengan senyum! dia melihat Dion yang sudah bangun dari tidurnya dengan raut wajah yang sudah jauh lebih segar. Alena mendekati pria yang dia kenal Dion, entah namanya atau bukan tapi yang jelas saat ini Alena tidak ingin memperpa
Alena menatap pria tampan yang ada didepannya dengan tatapan sulit dijelaskan, dia baru sadar kalau di Dunia ini ada pria yang jauh, lebih tepatnya sangat jauh dari kata tampan saja! bahkan mantan suaminya tidak sebanding dengan pria yang terbaring didepannya yang masih memejamkan mata tajamnya.







