Share

Bab 6

Penulis: Dadar
Hingga dini hari berikutnya, Manolia baru memulihkan sedikit tenaga, seorang diri pergi ke rumah sakit untuk merawat lukanya.

Melihat bekas luka mengerikan di tubuhnya, dokter agak kaget, membersihkan dan membalut lukanya selama tiga jam penuh.

Dia kesakitan hingga keringat dingin bercucuran, beberapa kukunya bahkan patah, akhirnya barulah berhasil melewati semuanya.

Setelah beristirahat di rumah sakit selama dua hari, lukanya perlahan membentuk kerak.

Selama itu, Yusvina setiap hari mengirim banyak pesan provokatif.

[Ayah dan Ibu kita sudah setuju, akan mengubah kamarmu menjadi kamar bayi, nanti aku dan anak Wendrino pulang akan tinggal di sana. Kapan kamu mau pindahkan semua barang rongsokanmu itu?]

[Wendrino hari ini menemaniku memilih gaun pengantin, aku rasa beberapa gaun ini bagus, dia membelikannya semua untukku. Aku mencoba sepatu sampai kakiku sakit. Wendrino sampai iba, bahkan memijat kakiku.]

Melihat foto di mana Wendrino menatap Yusvina dengan penuh kasih, mata Manolia hanya terasa hampa.

Dia tidak membalas satu pun pesan Yusvina. Setelah lukanya sembuh, dirinya pulang ke rumah dan mulai mengemas barang.

Selain beberapa dokumen penting, semua barang lainnya dibuangnya, tidak menyisakan satu pun.

Pelayan melihat itu, dengan takut-takut mendekat untuk menegur, "Nona Manolia, maksud Nona Yusvina adalah agar Anda pindah ke ruang bawah tanah, di sana cahaya kurang, tapi ruangnya luas, nggak perlu buang barang-barang ini."

Manolia menatap kamar yang kosong, suaranya datar.

"Nggak perlu, barang-barang ini nggak berguna lagi, buang saja. Aku akan segera pergi ke luar negeri, nggak akan kembali lagi."

Pelayan terkejut, matanya menyingkap sedikit rasa heran.

"Setelah Anda pergi, nggak akan kembali lagi?"

Belum sempat dia selesai bicara, Wendrino mendorong pintu aula masuk.

"Siapa yang pergi nggak akan kembali?"

Pelayan baru hendak menjawab, Yusvina keluar dari kamar. "Kenapa datang begitu pagi, aku masih belum selesai dandan!"

Wendrino juga tidak lagi memedulikan mereka berdua, dia segera berjalan ke samping Yusvina dan mencolek hidungnya dengan ringan.

"Nggak apa-apa, kamu dandan pelan-pelan, aku bisa menunggu."

"Aku selalu nggak bisa gambar alis yang rapi, kamu 'kan ahli, tolong bantu aku melukis alis, ya."

Keduanya bercakap-cakap sambil tertawa, masuk ke kamar dan menutup pintu.

Manolia pun menarik pandangan kembali, diam-diam menutup koper yang sudah dikemas.

Sepanjang hari itu, Wendrino dan Yusvina terus bersama, sangat mesra.

Wendrino memasak sarapan sendiri, memeluk Yusvina, menyuapnya sedikit demi sedikit.

Dia menemani Yusvina menonton film sambil menjelaskan setiap detail kecil yang tersembunyi.

Dia menarik Yusvina ke balkon untuk berciuman, membiarkan lipstik mengotori kerah bajunya, di sudut mata terselip kelembutan yang tak pudar ....

Para pembantu yang melihat dari jauh, diam-diam membicarakan mereka.

"Nona Yusvina dan Tuan Wendrino tampak sangat mesra. Meski belum menikah, ini sudah seperti pasangan pengantin baru yang lengket, tak terpisahkan sekejap pun!"

"Nona Yusvina sejak kecil dimanja, terbiasa dengan sifat manja. Sekarang menikah dengan Tuan Wendrino yang begitu mencintainya, pasti dimanja tanpa batas, benar-benar beruntung!"

"Ah, kasihan Nona Manolia. Sejak kecil sudah diabaikan keluarga, itu saja sudah menyedihkan. Susah payah akhirnya menyukai seseorang, tapi orang itu malah kakak iparnya sendiri. Padahal mereka saudara kandung, bagaimana bisa semalang ini?"

Mendengar keluhan mereka dari balik pintu, Manolia menundukkan pandangan.

Dulu, dia juga bertanya berkali-kali pada Yang Maha Kuasa, mengapa memperlakukannya seperti ini.

Namun setelah mati sekali, dia memahami satu prinsip: apa yang harus diperjuangkan, jika itu bukan miliknya, maka jangan dipaksakan.

Cinta keluarga begitu, cinta asmara pun begitu.

Oleh karena itu, Manolia tidak lagi melekat, hanya ingin melepaskan diri, pergi selamanya, dan tidak akan lagi terjebak dalam lumpur kesedihan.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 24

    Sejak saat itu, Manolia tidak pernah lagi melihat Wendrino.Dia hanya mendengar bahwa pria itu menjual perusahaannya, dan sejak itu tidak ada lagi yang mengetahui keberadaannya.Pak Antonio dan Bu Yuresha kemudian juga pernah mencoba menghubunginya, tetapi Manolia tidak mengatakan apa pun. Dia hanya mengirim kembali surat pemutusan hubungan orang tua–anak yang dulu mereka kirimkan kepadanya.Kalau dibilang tidak tersentuh tentu tidak mungkin, tetapi Manolia juga tidak berniat lagi memiliki hubungan apa pun dengan mereka.Bagaimanapun, bagi dirinya semua itu sudah menjadi hal yang sangat lama sekali.Setahun kemudian, Manolia memiliki sebuah studio kecil miliknya sendiri.Dia juga memiliki beberapa teman baik yang mempunyai cita-cita yang sama.Dibandingkan saat dulu bekerja di perusahaan, dia merasa lebih lelah.Walau begitu, dia telah mewujudkan mimpi yang dulu pernah dia miliki.Di dalam hatinya hanya terasa kepuasan yang tak terbatas.Pada hari pertama studio itu berdiri, seperti bi

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 23

    Setelah kembali dari supermarket, hujan sudah benar-benar berhenti.Manolia dan Levario membawa satu kantong besar bahan makanan dan berjalan santai di jalan.Terasa sangat menyenangkan.Tiba-tiba sebuah sosok yang sangat dikenal muncul di depan mata Manolia di bawah gedung apartemen.Senyum di sudut bibir Manolia perlahan menghilang.Dia sama sekali tidak menyangka itu adalah orang yang paling ingin menemukannyaOrang itu adalah Wendrino.Rupanya Wendrino benar-benar datang mencarinya sampai ke sini.Levario yang berpikiran tajam tentu juga menyadari ada yang tidak beres pada Manolia. Dia melirik Wendrino yang tidak jauh dari sana, lalu secara refleks berdiri di depan Manolia melindunginya.Sebelum melihat Manolia, hati Wendrino sebenarnya penuh harapan.Namun ketika melihat ada seorang pria di sampingnya, wajah Wendrino langsung menjadi suram.Setelah mendekat dan melihat jelas wajah Levario, Wendrino menjadi murka.Dia segera melangkah, dengan cepat mendekat, dan Levario yang menyad

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 22

    Beberapa hari ini Wendrino selain mencari keberadaan Manolia, dia juga kembali dan tinggal di tempat yang dulu pernah dia huni.Karena dia adalah anak yang dibuang oleh Keluarga Sarion, tempat tinggalnya tentu tidak terlalu baik.Bahkan terkadang atap rumah sampai bocor ketika hujan, membuat seluruh ruangan menjadi lembap.Meskipun begitu, Wendrino sangat suka berada di tempat ini, karena ada jejak aroma Manolia.Itu membuat hatinya yang gelisah bisa mendapatkan sedikit ketenangan.Dia memandang perabotan di dalam kamar. Di dalam hatinya ada perasaan yang begitu akrab sekaligus asing. Dia merasa akrab karena keberadaan Manolia membuatnya merasa sangat hangat. Merasa asing karena sebelumnya dia sama sekali tidak bisa melihat.Satu-satunya yang membuatnya bisa merasakan adalah bimbingan sabar Manolia yang terus-menerus.Bisa dikatakan bahwa wanita itu adalah harapan dalam kehidupan gelapnya.Perasaan suka Wendrino terhadapnya bukan hanya sebatas cinta antara pria dan wanita, lebih banyak

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 21

    Setelah menyelesaikan urusan Yusvina dan kedua orang tuanya, Wendrino tampaknya masih belum puas.Bagaimanapun, Manolia sekarang sudah bukan lagi milik keluarga Yanata, tentu saja Wendrino bisa membalas dendam pada Keluarga Yanata sepuasnya.Wendrino memerintahkan orang-orangnya memanfaatkan ketidakhadiran anggota Keluarga Yanata, mulai membeli banyak saham Grup Yanata dan mulai mengontrol jumlah pesanan perusahaan.Karena harga terlalu murah, perusahaan milik Keluarga Yanata akhirnya diboikot oleh banyak perusahaan.Dengan cepat perusahaan itu dijauhi oleh industri ini.Namun itu masih belum cukup, Wendrino juga sengaja memberitahukan kabar ini kepada tiga orang di ruang bawah tanah.Pak Antonio sangat terpukul dan segera pingsan, sementara Bu Yuresha juga sibuk berjalan kian kemari dengan kewalahan.Bagaimanapun, perusahaan Keluarga Yanata sudah menguras banyak tenaga dan usaha dari suami istri itu.Satu-satunya yang tidak peduli adalah Yusvina.Begitu melihat Wendrino, wanita itu te

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 20

    Setibanya mobil di vila Keluarga Sarion, Yusvina masih bingung kenapa hari ini tidak ada yang membantunya membuka pintu mobil.Dia terpaksa melepaskan satu tangan yang memegang tas untuk membuka pintu mobil dan turun.Tiba-tiba sebuah tenaga dari luar menyeretnya begitu saja.Matanya segera ditutup dengan kain hitam tebal.Ketakutan yang luar biasa mencekam hatinya.Yusvina secara naluriah berteriak, "Siapa kalian?! Lepaskan aku!""Aku adalah istri Wendrino, siapa pun yang berani menyentuhku akan menyesal!"Suaranya tinggi dan halus.Pria yang mengikat tangannya tak tahan, menendang betisnya dan berkata dengan kejam, "Diam! Kalau ingin hidup, bersikaplah baik!"Mendengar itu, Yusvina berhenti berteriak dan tidak berani bersuara lagi.Entah sudah berapa lama.Yusvina hanya menyadari dirinya dibawa ke tempat yang kedap udara, bahkan udara di sekitarnya terasa tipis.Wendrino kemudian berjalan mendekat dan menyingkap kain hitam di mata Yusvina.Yusvina secara naluriah mundur."Kenapa? Beg

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 19

    "Pak Wendrino, ini dokumen yang sebelumnya Anda minta aku selidiki."Asistennya meletakkan map dokumen di atas meja.Wendrino membukanya, terlihat lembaran tagihan rumah sakit saat itu.Tercatat dengan jelas bahwa saat Yusvina berusia tiga tahun, dia tiba-tiba sakit parah dan membutuhkan sel darah tali pusat secara darurat agar nyawanya bisa diselamatkan.Kelahiran Manolia tidak lain adalah untuk Yusvina.Wendrino meremas dokumen itu dengan tangan yang sedikit menegang.Dia selalu bingung dengan keberpihakan Pak Antonio dan Bu Yuresha, tetapi tidak pernah terlintas di benaknya tentang hal ini.Di dalam dokumen juga terdapat sebuah ponsel yang tampak sudah agak rusak.Wendrino mengenalinya, itu adalah ponsel yang pernah dipakai oleh Manolia.Asisten melalui catatan panggilan berhasil menemukan lokasi terakhir kartu SIM-nya.Kemudian menyerahkannya ke tim teknisi untuk memulihkan data.Barulah dokumen itu berada di tangan Wendrino.Dia menatap layar kunci dengan empat digit sandi ponsel,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status