Share

Bab 5

Author: Dadar
Manolia tidak menyangka, Wendrino tidak mengenalinya, tetapi bisa mengenali gelang ini.

Hatinya dipenuhi perasaan campur aduk, dia hendak berbicara, tetapi dihentikan Yusvina.

"Manolia, kamu nggak minta izin padaku, kenapa mengambil gelangku?"

Setelah berkata, Yusvina melangkah maju hendak merebut gelang itu, kuku yang tajam menggores punggung tangan Manolia hingga berdarah.

Manolia menahan rasa sakit dengan mengerang pelan, berusaha menarik tangan, tetapi dirinya malah terjatuh ke belakang.

Melihat adegan ini, wajah Wendrino berubah drastis, secara naluriah melindungi Yusvina di pelukannya, menatap Manolia dengan tatapan sangat muram.

"Begitu rupanya, aku kira ...."

"Jadi ternyata kamu mencuri gelang Yusvina, setelah ketahuan malah marah-marah pada dia. Manolia, kamu sungguh menjijikkan!"

Melihat pria itu bahkan tidak memberi kesempatan menjelaskan, dan segera percaya perkataan Yusvina, tubuh Manolia merinding.

Manolia mengangkat tangannya yang berdarah itu, berkata dengan nada yang tak bisa menyembunyikan keputusasaan dan rasa sakit, "Kalau kamu bisa mengingat gelang ini, kenapa nggak menyadari bahwa sejak matamu pulih, kamu nggak pernah melihat Yusvina memakainya? Karena dia sama sekali nggak tahu gelang itu ada, dan jelas bukan yang kamu pikirkan itu ...."

Belum sempat selesai berbicara dengan kata-kata yang seakan mengalirkan darah dari hatinya, Manolia ditampar ayahnya.

Matanya menjadi gelap, tubuhnya tidak terkendali jatuh ke menara sampanye.

Ratusan gelas berserakan menghantam tubuhnya, membasahi seluruh badannya.

Dia pun jatuh dengan keras ke lantai, tubuhnya penuh memar dan darah, sakit hingga air matanya terus mengalir.

Bu Yuresha dengan wajah dingin berjalan ke arahnya, menuangkan anggur merah dari tangan langsung ke wajahnya, suaranya tegas.

"Yusvina nggak memakainya karena gelang itu rusak secara nggak sengaja, jadi dikirim untuk diperbaiki. Hari ini pelayan baru mengambilnya, kamu malah diam-diam memakainya, dan berpikir untuk memilikinya?"

"Biasanya kamu ribut di rumah nggak apa-apa, tapi hari ini ulang tahun kakakmu, di depan umum kamu memainkan drama ini, mempermalukan Keluarga Yanata! Ini perhiasan paling berharga yang sangat dijaga nenekmu, diwariskan untuk Yusvina tercinta, bagaimana mungkin jadi milikmu?"

Pak Antonio pun sepakat dengan Bu Yuresha, seketika membuat Wendrino yakin bahwa mereka mengatakan fakta.

Pria itu menenangkan Yusvina yang menangis tersedu-sedu, membersihkan air mata di wajahnya.

Setelah itu, dia berjalan ke sisi Manolia, berjongkok, mengangkat pergelangan tangannya yang penuh luka.

Dia melepas gelang itu, menghapus darah dengan saputangan, dan memakaikannya di tangan Yusvina, wajahnya penuh perhatian.

"Yusvina, gelang ini menyimpan cinta nenek padamu, juga membawa kenangan lima tahun kita bersama, aku nggak akan membiarkan siapa pun menodainya."

Dia berkata tegas, lalu menatap Pak Antonio, suaranya dingin seperti es.

"Om Wendrino, mencuri harta keluarga secara diam-diam dan berperilaku nggak pantas, apa Keluarga Yanata nggak seharusnya menegakkan hukum keluarga?"

Pak Antonio mengangguk-angguk, segera memanggil orang untuk mengambil cambuk, memegangnya sendiri.

"Sesuai aturan keluarga, kesalahan yang dilakukan Manolia hari ini harus menerima lima puluh cambukan! Aku, Antonio, telah gagal mendidik anak, sampai mengganggu suasana semua orang. Hari ini, di hadapan semua orang, aku akan memberi pelajaran pada anak durhaka ini, demi menegakkan disiplin keluarga!"

Sambil berkata, dia mengayunkan cambuk, menghantam dengan keras.

Siut! Punggung Manolia terluka parah, tubuhnya gemetar tiada henti.

Teriakan memilukan menggema di aula, darah mengucur deras, dengan cepat membasahi seluruh tubuhnya.

Rasanya sakit melanda, sampai kesadaran mulai kabur, dari tenggorokannya terdengar erangan sakit yang terputus-putus.

"Aku nggak mencuri apa pun, gelang itu ... sebenarnya ... milikku .... Nenek yang memberikannya padaku!"

Melihat Manolia terkapar di genangan darah, Wendrino tidak merasa iba, malah menutup mata Yusvina dan membawanya pergi.

Menyaksikan sosok kedua orang itu yang kian menjauh, Manolia perlahan menutup mata merah darahnya.

Dia menggigit bibir yang berlumuran darah dan air mata, menahan sakit agar tidak mengeluarkan suara apa pun.

Setelah hukuman selesai, Pak Antonio dan Bu Yuresha tidak menoleh sedikit pun, segera pergi.

Tamu dan pelayan di aula mengejek sambil meninggalkan tempat, tak ada yang peduli padanya.

Dia terbaring penuh luka di lantai dingin, lampu pun padam.

Tinggallah kegelapan tak berujung, sepenuhnya menyelubungi dirinya.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 24

    Sejak saat itu, Manolia tidak pernah lagi melihat Wendrino.Dia hanya mendengar bahwa pria itu menjual perusahaannya, dan sejak itu tidak ada lagi yang mengetahui keberadaannya.Pak Antonio dan Bu Yuresha kemudian juga pernah mencoba menghubunginya, tetapi Manolia tidak mengatakan apa pun. Dia hanya mengirim kembali surat pemutusan hubungan orang tua–anak yang dulu mereka kirimkan kepadanya.Kalau dibilang tidak tersentuh tentu tidak mungkin, tetapi Manolia juga tidak berniat lagi memiliki hubungan apa pun dengan mereka.Bagaimanapun, bagi dirinya semua itu sudah menjadi hal yang sangat lama sekali.Setahun kemudian, Manolia memiliki sebuah studio kecil miliknya sendiri.Dia juga memiliki beberapa teman baik yang mempunyai cita-cita yang sama.Dibandingkan saat dulu bekerja di perusahaan, dia merasa lebih lelah.Walau begitu, dia telah mewujudkan mimpi yang dulu pernah dia miliki.Di dalam hatinya hanya terasa kepuasan yang tak terbatas.Pada hari pertama studio itu berdiri, seperti bi

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 23

    Setelah kembali dari supermarket, hujan sudah benar-benar berhenti.Manolia dan Levario membawa satu kantong besar bahan makanan dan berjalan santai di jalan.Terasa sangat menyenangkan.Tiba-tiba sebuah sosok yang sangat dikenal muncul di depan mata Manolia di bawah gedung apartemen.Senyum di sudut bibir Manolia perlahan menghilang.Dia sama sekali tidak menyangka itu adalah orang yang paling ingin menemukannyaOrang itu adalah Wendrino.Rupanya Wendrino benar-benar datang mencarinya sampai ke sini.Levario yang berpikiran tajam tentu juga menyadari ada yang tidak beres pada Manolia. Dia melirik Wendrino yang tidak jauh dari sana, lalu secara refleks berdiri di depan Manolia melindunginya.Sebelum melihat Manolia, hati Wendrino sebenarnya penuh harapan.Namun ketika melihat ada seorang pria di sampingnya, wajah Wendrino langsung menjadi suram.Setelah mendekat dan melihat jelas wajah Levario, Wendrino menjadi murka.Dia segera melangkah, dengan cepat mendekat, dan Levario yang menyad

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 22

    Beberapa hari ini Wendrino selain mencari keberadaan Manolia, dia juga kembali dan tinggal di tempat yang dulu pernah dia huni.Karena dia adalah anak yang dibuang oleh Keluarga Sarion, tempat tinggalnya tentu tidak terlalu baik.Bahkan terkadang atap rumah sampai bocor ketika hujan, membuat seluruh ruangan menjadi lembap.Meskipun begitu, Wendrino sangat suka berada di tempat ini, karena ada jejak aroma Manolia.Itu membuat hatinya yang gelisah bisa mendapatkan sedikit ketenangan.Dia memandang perabotan di dalam kamar. Di dalam hatinya ada perasaan yang begitu akrab sekaligus asing. Dia merasa akrab karena keberadaan Manolia membuatnya merasa sangat hangat. Merasa asing karena sebelumnya dia sama sekali tidak bisa melihat.Satu-satunya yang membuatnya bisa merasakan adalah bimbingan sabar Manolia yang terus-menerus.Bisa dikatakan bahwa wanita itu adalah harapan dalam kehidupan gelapnya.Perasaan suka Wendrino terhadapnya bukan hanya sebatas cinta antara pria dan wanita, lebih banyak

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 21

    Setelah menyelesaikan urusan Yusvina dan kedua orang tuanya, Wendrino tampaknya masih belum puas.Bagaimanapun, Manolia sekarang sudah bukan lagi milik keluarga Yanata, tentu saja Wendrino bisa membalas dendam pada Keluarga Yanata sepuasnya.Wendrino memerintahkan orang-orangnya memanfaatkan ketidakhadiran anggota Keluarga Yanata, mulai membeli banyak saham Grup Yanata dan mulai mengontrol jumlah pesanan perusahaan.Karena harga terlalu murah, perusahaan milik Keluarga Yanata akhirnya diboikot oleh banyak perusahaan.Dengan cepat perusahaan itu dijauhi oleh industri ini.Namun itu masih belum cukup, Wendrino juga sengaja memberitahukan kabar ini kepada tiga orang di ruang bawah tanah.Pak Antonio sangat terpukul dan segera pingsan, sementara Bu Yuresha juga sibuk berjalan kian kemari dengan kewalahan.Bagaimanapun, perusahaan Keluarga Yanata sudah menguras banyak tenaga dan usaha dari suami istri itu.Satu-satunya yang tidak peduli adalah Yusvina.Begitu melihat Wendrino, wanita itu te

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 20

    Setibanya mobil di vila Keluarga Sarion, Yusvina masih bingung kenapa hari ini tidak ada yang membantunya membuka pintu mobil.Dia terpaksa melepaskan satu tangan yang memegang tas untuk membuka pintu mobil dan turun.Tiba-tiba sebuah tenaga dari luar menyeretnya begitu saja.Matanya segera ditutup dengan kain hitam tebal.Ketakutan yang luar biasa mencekam hatinya.Yusvina secara naluriah berteriak, "Siapa kalian?! Lepaskan aku!""Aku adalah istri Wendrino, siapa pun yang berani menyentuhku akan menyesal!"Suaranya tinggi dan halus.Pria yang mengikat tangannya tak tahan, menendang betisnya dan berkata dengan kejam, "Diam! Kalau ingin hidup, bersikaplah baik!"Mendengar itu, Yusvina berhenti berteriak dan tidak berani bersuara lagi.Entah sudah berapa lama.Yusvina hanya menyadari dirinya dibawa ke tempat yang kedap udara, bahkan udara di sekitarnya terasa tipis.Wendrino kemudian berjalan mendekat dan menyingkap kain hitam di mata Yusvina.Yusvina secara naluriah mundur."Kenapa? Beg

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 19

    "Pak Wendrino, ini dokumen yang sebelumnya Anda minta aku selidiki."Asistennya meletakkan map dokumen di atas meja.Wendrino membukanya, terlihat lembaran tagihan rumah sakit saat itu.Tercatat dengan jelas bahwa saat Yusvina berusia tiga tahun, dia tiba-tiba sakit parah dan membutuhkan sel darah tali pusat secara darurat agar nyawanya bisa diselamatkan.Kelahiran Manolia tidak lain adalah untuk Yusvina.Wendrino meremas dokumen itu dengan tangan yang sedikit menegang.Dia selalu bingung dengan keberpihakan Pak Antonio dan Bu Yuresha, tetapi tidak pernah terlintas di benaknya tentang hal ini.Di dalam dokumen juga terdapat sebuah ponsel yang tampak sudah agak rusak.Wendrino mengenalinya, itu adalah ponsel yang pernah dipakai oleh Manolia.Asisten melalui catatan panggilan berhasil menemukan lokasi terakhir kartu SIM-nya.Kemudian menyerahkannya ke tim teknisi untuk memulihkan data.Barulah dokumen itu berada di tangan Wendrino.Dia menatap layar kunci dengan empat digit sandi ponsel,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status