เข้าสู่ระบบ
“Gugurkan janin itu, Stella. Putraku menikahimu karena balas budi. Keluarga Anderson tidak ingin memiliki keturunan dari rahim seorang benalu. Kami bukan lembaga amal.”
Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Nyonya Anderson. Meski tanpa nada dan emosi tapi terlihat begitu dingin, hingga menyesakkan dada. Wanita tua itu bahkan tak sudi menoleh ke arah sang mantu. Begitu dalam kebencian di matanya. Sorot yang sama dengan wanita cantik di sebelahnya yang merupakan adik sang suami. “Mama benar, Kak!” sahut Jessica dengan nada halus. “Di mata kami, kamu hanya wanita penggoda yang melakukan apa pun demi uang. Di mana-mana, pelacur gak boleh sampai melahirkan. Apalagi, Kak Sean menikahi kamu cuma karena kasihan. ” Kedua tangan Stella bergetar hebat. Secara refleks, jemarinya yang dingin turun memeluk perutnya yang masih datar. Ada perih di hatinya. Bagaimana mungkin dia dipaksa harus membunuh darah dagingnya sendiri, di saat dia sendiri berharap bahwa anak itu adalah keajaiban untuknya agar keluarga Anderson menerima kehadirannya? “Tapi, Ma,” suara Stella terdengar pecah dan serak. Isak tangis menyumbat tenggorokannya hingga ia sulit bernapas. “Ini darah daging Sean, cucu Mama sendiri. Mohon berikan dia kesempatan untuk hidup.” Nyonya Anderson mendongak cepat. Tatapan matanya menusuk tajam, terlihat angkuh dan kejam. “Cucu? Jangan membuatku tertawa, Stella!” potong Nyonya Anderson dingin. Dia mendengkus pelan. “Justru karena itu darah daging Sean, makanya dia tidak boleh lahir dari perutmu. Jangan gunakan anak untuk menjerat Sean lebih jauh. Kamu sudah cukup menyanderanya dengan ayahmu, kan?” “Ma…” “Sudah aku katakan, jangan panggil aku mama kalau tidak ada Sean! Jijik aku mendengarnya. Gugurkan minggu ini, atau kuadukan kau menentang mertuamu pada Sean,” tegas Nyonya Anderson seraya berdiri dari duduknya. Stella diam menunduk sambil menyerap kata-kata itu, memegangi perutnya ketika mertua dan adik iparnya itu melenggang pergi. Ini bukan pertama kalinya Stella diperlakukan seperti ini. Selama dua tahun membina rumah tangga bersama Sean, dia kerap dibiarkan menyantap makanan sisa di dapur, dikucilkan dalam setiap acara keluarga, dicap sebagai wanita tak berguna, dan diperlakukan lebih rendah dari seorang pelayan rumah tangga. Bahkan, semua ini sudah dimulai sejak Stella pertama kali menjejakkan kakinya ke keluarga Anderson. Stella memang bukan berasal dari keluarga terpandang. Dulu, usaha keluarganya mengalami kebangkrutan akibat hutang yang menumpuk dan hal itu membuat mereka seketika jatuh miskin. Ayahnya yang merupakan satu-satunya keluarga, mengalami syok berat hingga terkena serangan jantung dan tak sadarkan diri. Ia segera dilarikan ke rumah sakit dan diputuskan bahwa ayah Stella harus dirawat intensif di ICU hingga waktu yang tak bisa ditentukan. Stella sendiri adalah dokter, ia bekerja di rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Tiap hari mengabdikan diri untuk mencari uang dan merawat ayahnya. Meski begitu, biaya perawatan itu tentu saja tidak murah. Sampai setahun kemudian, Stella bertemu lagi dengan Sean. Cinta lamanya di SMA. Pria itu datang dalam keadaan koma akibat kecelakaan maut yang dialaminya. Stella ditugaskan untuk merawatnya. Dan sejak itu, ia dengan setia mendampingi Sean. Setiap hari, Stella dengan telaten membersihkan tubuh pasien VIP tersebut, mengganti pakaiannya, melantunkan doa-doa kesembuhan, hingga membacakan cerita dan menyanyikan lagu untuk pria yang tak sadarkan diri itu. Ketulusan itu mengetuk hati Mariam Anderson, Nenek Sean. Merasa berhutang budi dengan Stella, ia akhirnya menikahkan Stella dengan Sean ketika cucunya itu sudah pulih. Nyonya besar itu bahkan berjanji akan membiayai perawatan ayah Stella jikalau wanita itu menyetujui perjodohan ini. Stella tentu saja menerima tawaran tersebut. Tapi, keputusan itu ditentang sepenuhnya oleh keluarga Anderson yang lain. Hanya karena Sean, sosok yang paling dihormati oleh keluarga Anderson, menyetujuinya, mereka akhirnya terpaksa untuk setuju juga. Maka tidak heran saat Sean tak melihat, mereka semua akan merundung Stella. Dan Stella selalu membiarkan dirinya menjadi objek perundungan. Dia bahkan tidak pernah mengeluh atau mengadu kepada Sean, karena tidak ingin menambah beban sang suami yang sudah menghidupinya itu. Namun dengan kejadian hari ini, Stella sadar dia tidak boleh lagi berdiam diri ketika keluarga dari ayah janinnya menuntut untuk melenyapkan buah hatinya sendiri. ‘Aku harus jujur ke Kak Sean. Aku tidak bisa membiarkan mereka berlaku semena-mena pada anak kami, meski mereka keluarga Kak Sean sendiri. Kak Sean pasti akan melakukan sesuatu soal ini,’ bisik Stella dalam hati penuh harap. Stella akhirnya bangkit berdiri setelah beberapa menit terdiam dalam kehampaan. Dengan langkah tertatih dan pandangan yang kabur oleh genangan air mata, Stella memutar tubuhnya. Dia menyusuri koridor sunyi di lantai dua menuju ruang kerja pribadi milik Sean. Biasanya, Stella tidak pernah berani datang ke ruangan itu kecuali atas permintaan sang suami. Ini pertama kalinya ia datang dengan inisiatif berbicara dengan sang suami. Tapi, saat jemari dinginnya hendak menyentuh gagang pintu, langkah Stella mendadak terhenti. Pintu itu sedikit terbuka, menyisakan celah sempit. Samar-samar, terdengar suara baritone bernada rendah, serak, dan begitu memikat milik suaminya. Sean sedang berbicara melalui panggilan pengeras suara dengan sahabat dekatnya, Sam. “Jujur, aku kasihan melihat istrimu, Sean,” suara Sam terdengar berat dari seberang panggilan. “Ibu dan adik-adikmu memperlakukannya jauh lebih buruk daripada seorang pembantu. Kamu gak nyangka, bukan?” Keheningan melingkupi lorong sejenak. Jantung Stella berdegup kencang tak beraturan. Bahkan, sahabat Sean yang hanya sesekali bertemu dengan anggota keluarga Anderson yang lain menangkap situasinya. Di dalam ruangan, Sean tampak berdiri membelakangi pintu. Postur tubuhnya yang jangkung, tegap, dan berotot dibalut kemeja hitam yang lengannya tergulung rapi hingga ke siku. Jemari tangannya yang kokoh dan berurat menyangga sebuah gelas kristal berisi wiski. Sebuah tawa pelan dan rendah, yang terdengar amat tampan namun memancarkan aura dominasi yang kuat meluncur dari bibir pria itu. “Kamu bertanya apakah aku tahu, Sam?” sahut Sean tenang. Dentingan halus es batu yang bersentuhan dengan dinding gelas kristal terdengar sangat jelas saat jemarinya memutar gelas itu dengan santai. “Tentu saja aku tahu.” Jantung Stella serasa berhenti berdetak saat itu juga. Seluruh darah di tubuhnya membeku. “Serius kamu tahu?” tegur Sam dengan nada heran yang pekat. “Ya.” “Sean, kamu tahu dan kamu membiarkannya saja? Kamu tidak marah keluargamu memperlakukan perempuan yang berkorban untuk merawatmu sampai sembuh total saat koma seperti itu?” tanya Samuel. Sean menaruh gelas kristalnya ke atas meja marmer dengan gerakan perlahan namun teramat mantap. Setiap gerak-geriknya memancarkan pesona pria dewasa yang terbiasa mengendalikan segala hal di sekitarnya. “Aku sudah membalas pengabdiannya dengan memberikan status istri dan fasilitas keluarga Anderson. Dia sadar siapa yang memberikan support kepada keluarganya.” Sean memiringkan wajahnya sedikit, memperlihatkan sisi sampingnya yang sempurna dan teramat tampan, rahang tajam, hidung mancung, dan tatapan mata elang yang penuh kendali. Wajah yang sudah berhasil membuat Stella jatuh cinta. “Jadi, pengabdian pada keluargaku adalah harga yang memang pantas dia bayar untuk tetap tinggal di rumah ini. Dia tak pernah mengeluh, bukan? Artinya dia istri yang baik,” pungkas Sean datar. “Sudah selayaknya dia sadar diri dan tidak mengeluh.”"Nyonya Muda... minum air hangat ini dulu," panggil Dokter Maria lembut seraya menyodorkan cangkir keramik beruap tipis.Stella mengangguk pelan. Tangan kirinya yang tak lagi terpasang selang infus menerima cangkir tersebut dengan gerakan perlahan. Tatapannya hangat menatap wanita yang pernah menjadi dokter pribadinya itu, sebelum mengembuskan napas lega."Jangan panggil aku Nyonya lagi, Dokter Maria," panggil Stella lembut namun penuh penekanan. "Aku bukan nyonyamu lagi. Lagipula, kamu juga penyelamat hidupku. Aku gak nyangka bisa ada di titik ini, bisa menyelamatkan anakku dari lingkungan toxic."Dokter Maria tersenyum haru, matanya sedikit berkaca-kaca mendengar ketegasan dan kepasrahan wanita di hadapannya. Ia duduk di tepi ranjang, merapikan selimut tipis yang melapisi kaki Stella."Baiklah... Stella," sahut Dokter Maria lembut. "Yang penting sekarang kamu dan bayimu sudah aman. Secara hukum, secara media, bahkan di mata keluarga Anderson, kamu dinyatakan telah meninggal dunia da
"Bagaimana situasi di dasar jurang?" tanya kasat lantas ke salah satu anggota Unit Laka Lantas yang baru saja memanjat naik dengan pakaian penuh jelaga dan tanah."Medan sulit dijangkau, Ndan." Jawabnya pelan. "Tapi tadi team masih terus mencoba turun ke bawah, Ndan, setelah bantuan datang." Iptu Satria Wardhana Danubaya mengalihkan pandangannya dari kobaran api yang mulai mereda di bawah sana, menatap anggota dengan raut wajah tenang namun tegas. "Kumpulkan semua sisa material yang bisa diidentifikasi. Pastikan tim forensik mencatat kendaraan terbakar habis bersama penumpang di dalamnya.""Siap, Ndan! Tim forensik Polres sudah bergerak menuju lokasi untuk pembuatan laporan resmi," jawab anggota tersebut sebelum kembali bergabung dengan jajaran personel yang sibuk mengamankan perimeter.Kasat Lantas berpangkat AKP yang berdiri di samping Satria menghembuskan napas berat, menggeleng-gelengkan kepala melihat kepulan asap tebal yang masih membumbung. "Laka tunggal yang parah banget, Sat
Kepanikan hebat melanda ruang kabin helikopter yang masih melayang di udara. Tubuh jangkung Sean rubuh menghantam lantai kabin, tak sadarkan diri dengan wajah sepucat mayat. Napasnya tersengal parah akibat syok berat yang menghantam mentalnya secara mendadak."Sean! Sean, bangun!" teriak Samuel histeris sambil menahan tubuh sahabat karibnya itu agar tidak bergeser dihantam angin kencang. Wajah Samuel sendiri sudah dipenuhi peluh dingin, matanya bergetar menatap lurus ke luar pintu helikopter.Di bawah sana, di balik rimbunnya pepohonan pinus, kobaran api merah kehitaman masih melahap habis kerangka SUV hitam di dasar jurang. Asap hitam pekat membumbung tinggi, mencemari langit pagi yang semula tenang."Bro! Sadar, Bro!" Samuel menepuk-nepuk pipi Sean dengan kencang, namun pria keturunan asing itu tetap tak bergeming.Samuel memutar kepalanya ke arah saluran interkom dengan napas memburu. Tim pengawal Anderson Group di bawah juga sedang dalam kondisi ketakutan setengah mati. Muka para
"Bukan mengungkit, Ste. Itu fakta," kekeh Satria ringan di tengah guncangan mobil yang makin hebat. "Kalau dulu kamu tidak nekat mengoperasi bahuku yang kena tembak di klinik kecil itu tanpa melaporkannya ke dinas, mungkin aku sudah mati kehabisan darah atau dipecat."Stella menghembuskan napas panjang, sedikit terhibur oleh kenangan masa lalu itu. Namun, keheningan singkat itu mendadak pecah ketika raungan mesin di belakang mereka terdengar makin memekakkan telinga.Di atas udara, baling-baling helikopter hitam milik Anderson Group menciptakan pusaran angin kencang yang menerbangkan dedaunan kering. Dari kabin utama yang terbuka, Sean berdiri mencengkeram erat pegangan pintu. Wajah pria keturunan asing itu pucat pasi, kemeja mewahnya kusut, dan matanya yang memerah menatap lurus ke arah SUV hitam yang meliuk-liuk di jalanan perbukitan."Jangan terlalu rapat! Tahan posisi kalian!" bentak Sean histeris melalui saluran radio interkom kepada seluruh armada pengawalnya di bawah. Suaranya
"Perutmu aman, Ste?" tatapnya sambil memainkan persneling dengan kaki lincah pada pedal gas dan rem. Tangan pria berbadan tegap itu tampak sudah terlatih pada setir kemudi."Aman, Mas. Kamu fokus saja ke jalanan, Mas. Jangan sampai fokusmu terpecah," bisik Stella yang tampak sedikit tegang sambil memegangi perutnya."Wajah kamu tampak tegang banget, apa kita coba istirahat dulu di salah satu rumah warga?""Nanti terlacak lagi, Mas.""Emang sebelumnya kita yang salah, kita mengurusi semuanya dari ponsel di lokasi kita menginap. Aku gak nyangka Sean-mu itu bakalan seliar ini. Aku pikir dia gak akan ngejar, soalnya info yang aku dapatkan ada wanita lain di rumah itu," ucap pria itu dengan mata yang waspada. Kelincahannya mengemudi mengingatkan pada aksi di film Fast & Furious."Iya, Mas. Aku juga gak nyangka dia bakalan se-effort ini nyariin aku. Aku pikir dia bakalan cuek gitu," jawab Stella sambil menatap ke arah pria itu."Makanya itu, untungnya aku juga udah siapin beberapa plan. Nah
"Suara apa itu?"Gelas teh hangat yang dipegang Stella mendadak bergetar hebat hingga cairan manis di dalamnya terpercik mengenai jemari lenturnya. Wajah cantiknya seketika pucat pasi, matanya membelalak menatap langit-langit plafon rumah sewa yang bergetar seiring gemuruh angin kencang yang menghantam atap.Pria berjas kasual di hadapan Stella langsung berdiri sigap. Sorot matanya yang tenang mendadak berubah tajam dan penuh kewaspadaan. Ia menyibak sedikit tirai jendela, mengintip ke arah langit pagi yang kini tertutup bayangan hitam helikopter berlogo Anderson Group yang sedang bersiap mendarat di lapangan terbuka tak jauh dari tempat mereka."Sialan! Bagaimana bisa pria berengsek itu menemukan tempat ini sejauh dan secepat ini?!" umpat sang penyelamat seraya berbalik cepat, mencengkeram lembut kedua bahu Stella untuk menangkas rasa paniknya. "Stella, dengarkan aku. Sean sudah ada di sini. Kita harus pergi lewat pintu belakang sekarang juga!""T-tapi... bagaimana dengan papa?" bisi







