แชร์

Ayo Cerai!

ผู้เขียน: Nic Arhsy
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-13 19:07:30

“Kamu gak khawatir? Jika terlalu dingin ke dia, bisa saja dia lelah dan pergi,” tegur Sam dari seberang telepon.

Sean tidak menunjukkan gejolak emosi sama sekali. Dia menegakkan tubuhnya, merapikan jam tangan mewah berbahan platinum di pergelangan tangannya yang kokoh.

“Khawatir soal apa? Stella cinta buta padaku. Mustahil dia berani mengambil tindakan yang bertentangan dengan keinginanku.

Di seberang sambungan telepon, Sam tertawa. “Dasar pria brengsek.”

“Kamu mau lihat bukti sejauh apa dia mengabdi padaku?” Sean tersenyum miring. “Aku bisa saja minta dia menggugurkan kandungan sesuai keingan Mama. Aku yakin dia akan melakukannya.”

Kata-kata itu terucap dari bibir tipis Sean dengan begitu tenang dan berwibawa, seolah-olah topik yang mereka bahas hanyalah urusan sepele yang tidak memiliki bobot emosional.

Di lorong yang remang, Stella berdiri membeku. Tangan kanannya terkepal erat di atas dada yang terasa sangat sesak.

Selama dua tahun ini, Stella sengaja menelan semua makian Nyonya Anderson dan cemoohan Jessica karena dia tidak ingin menambah beban pikiran sang suami.

Pun seandainya Sean tahu, dia yakin terlalu sibuk dengan urusan bisnis hingga tidak sempat melindunginya dari penindasan di rumah tersebut. Stella tidak pernah sedikit pun memiliki prasangka buruk pada suaminya.

Namun kenyataannya, di mata pria yang sangat dia kagumi itu, semua ketulusan dan pengorbanan hanyalah bentuk kelemahan seorang wanita yang mudah dikendalikan.

Dari balik pintu, tawa Sam kembali terdengar, seolah sikap sahabatnya yang menganggap menggugurkan darah dagingnya hal yang biasa itu candaan lucu.

“Kalau kamu tidak menginginkannya, kenapa gak cerai saja dan menikah dengan Chelsea?”

Chelsea. Seketika nama itu bergema pahit di ingatan Stella. Chelsea adalah cinta pertama Sean. Wanita dari kalangan elit lulusan luar negeri, berpenampilan sempurna, dan selalu menjadi sosok menantu idaman yang dielu-elukan oleh Nyonya Anderson.

Sean menghela napas pelan. Ibu jarinya mengusap dagunya yang mulus terawat. Nada bicaranya terdengar sangat pragmatis dan penuh perhitungan bisnis yang cerdas.

“Chelsea adalah wanita terpelajar. Aku tidak mungkin menempatkan wanita seperti Chelsea untuk mengurus rumah tangga atau menahan emosi Ibuku saat beliau sedang terganggu.”

“Lagipula, dimana lagi aku bisa menemukan istri yang penurut dan mudah diatur seperti Stella?” lanjut Sean. “Dia beda dari Chelsea, tidak punya apa-apa, lebih cocok menjadi pembantu. Mudah mengendalikannya, beri sedikit perhatian, dia langsung menurut.”

Stella memejamkan matanya rapat-rapat, berusaha menahan gelombang rasa kecewa yang menghancurkan hatinya. Pria yang dulu jemarinya dia genggam erat saat berada dalam kondisi kritis, pria dengan pesona luar biasa yang namanya selalu ia selipkan dalam setiap doa malamnya, ternyata dengan sengaja memanfaatkan ketulusannya.

Tanpa menimbulkan suara, Stella melangkah mundur. Setiap pijakan kakinya terasa begitu hampa. Dia menyusuri koridor remang menuju kamar utama mereka, lalu mengunci pintu dari dalam.

Tubuhnya luruh di atas karpet yang dingin. Stella memeluk erat perutnya yang masih datar, merapatkan lututnya ke dada, dan menangis dalam keheningan yang mencekam. Tidak ada jeritan. Hanya helaan napasnya yang tersengal-sengal menahan kepedihan yang luar biasa.

‘Maafkan Mama, Nak … Mama terlalu bodoh karena pernah mengira tempat ini adalah rumah terbaik, sampai akhirnya Mama membahayakanmu,’ batinnya meratap.

Malam itu, Stella menangis hingga matanya tak lagi mampu mengeluarkan air mata. Dan ketika sinar matahari pagi masuk di sela-sela gorden, binar cinta yang selama dua tahun ini menghiasi matanya telah padam sepenuhnya.

“Nyonya Stella? Apakah Anda sudah terbangun?”

Ketukan pelan dari pembantu rumah tangga mengejutkan Stella dari diamnya. Dia mengerjapkan matanya yang terasa sangat perih dan sembab. Cahaya pagi telah memenuhi seluruh sudut kamar.

Jam dinding menunjukkan pukul delapan pagi. Ini adalah kali pertama dalam dua tahun Stella terlambat bangun. Tidak ada lagi masakan hangat di dapur sejak pukul lima subuh, dan tidak ada lagi kopi hitam panas yang biasanya dia sediakan untuk suaminya.

Dengan tubuh yang terasa hampa, Stella bangkit dan membuka pintu kamar.

“Nyonya, Tuan Sean sudah menunggu di meja makan,” ujar pembantu rumah tangga itu dengan raut cemas. “Tuan menanyakan Anda kenapa belum turun untuk menyiapkan sarapan.”

Stella menatapnya dengan pandangan datar.

“Terima kasih. Aku akan turun sekarang.”

Dia membasuh wajahnya dengan air dingin, mengompres mata bengkaknya, merapikan pakaian seadanya, lalu melangkah turun menyusuri tangga menuju ruang makan bernuansa minimalis modern.

Di sana, Sean telah duduk rapi. Dia tampak begitu tampan menawan dalam balutan kemeja kerja yang menutupi dada bidangnya dengan sempurna. Pria itu memegang tablet kantor dengan jemari panjang nan kokoh, sementara dahinya sedikit berkerut fokus.

Di atas meja hanya tersaji makanan buatan koki rumah.

Ketika mendengar langkah kaki Stella, Sean mendongak. Tatapan mata elangnya dingin, tajam, dan berkilat menawan.

“Kamu baru bangun?” tegur Sean dengan suara baritone berat yang dipenuhi kendali. “Sejak kapan kamu menjadi tidak disiplin, Stella? Aku ada pertemuan penting pagi ini. Baju kerjaku juga belum kamu siapkan.”

Stella berjalan perlahan, lalu duduk di kursi yang berseberangan dengan Sean. Wajahnya pucat, namun tatapannya lurus dan sangat tenang.

“Maaf, Kak. Aku sedang tidak enak badan,” sahut Stella dengan nada datar tanpa sedikit pun kesan bersalah.

Sean mengamati istrinya sejenak. Alih-alih menunjukkan kecemasan, dia menatap Stella dengan pandangan dingin, merasa yakin bahwa istrinya hanya sedang mencari perhatiannya.

Sean menaruh tabletnya di atas meja marmer dengan gerakan tenang, lalu bersedekap.

Posisinya membuat bahunya yang tegap terlihat semakin dominan.

“Dengan alasan tidak enak badan sedikit, kamu pikir bisa sampai menelantarkan kewajibanmu sebagai istri?”

Pria itu menghela napas panjang, berlagak seperti pria dermawan yang sedang mengalah. “Apalagi sekarang? Kamu masih ngambek soal rencana honeymoon ke Swiss yang kamu minta dan aku tunda itu?”

Sean menatap Stella dengan pandangan mengintimidasi, mengulas senyum tipis di bibirnya, sebuah senyuman yang biasanya sanggup meluluhkan siapa saja termasuk Stella.

Belum lama ini, Sean memang lagi-lagi menunda liburan mereka yang awalnya direncanakan untuk bulan madu. Stella marah ketika ia mengetahui jika Sean bukan menunda karena alasan pekerjaan, tapi karena rencana dengan Chelsea dan teman-temannya.

“Bulan depan aku memiliki jadwal kosong. Aku akan minta sekretarisku untuk mengatur liburan kita yang tertunda. Jadi, hentikan sikap kekanakan seperti ini.”

Sean berkata seolah sedang memberi penawaran pada anak kecil yang merajuk. Dia merasa yakin bahwa penawaran tersebut akan segera mengembalikan Stella menjadi sosok yang penurut seperti biasanya.

Namun, jawaban yang keluar dari bibir Stella justru membuat garis rahang tegas milik Sean mengeras.

“Terima kasih tawarannya, Kak,” ujar Stella pelan namun sangat jelas. “Tapi aku sudah tidak berminat pergi.”

Dahi Sean yang rupawan berkerut halus. “Apa maksudmu? Jangan bertingkah, Stella.”

Stella menghembuskan napas perlahan, melepaskan seluruh beban yang selama ini menghimpit dadanya. Dia menatap tepat ke dalam manik mata pria di hadapannya.

“Aku tidak sedang berpura-pura,” kata Stella tenang. “Dulu aku bertahan karena mengira ketulusanku memiliki arti di rumah ini. Namun ternyata, aku hanya berjuang sendirian untuk sesuatu yang tidak pernah ada.”

Sean menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu mahal, menatap Stella dengan pandangan dingin yang tajam dan merendahkan. “Jangan mengajakku berdebat pagi ini, Stella. Aku tidak memiliki waktu untuk…”

“Mari kita bercerai, Kak Sean,” potong Stella tenang.

Seketika ruang makan yang luas itu hening. Suara denting piring dari arah dapur terhenti sepenuhnya. Sean terdiam mematung.

“Apa maksudmu?” suara Sean terdengar sangat rendah dan sarat akan bahaya.

Stella mengulas senyuman paling tipis dan paling dingin yang pernah Sean lihat dari istrinya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (68)
goodnovel comment avatar
𝙽𝚊𝚟𝚎𝚍
𝚂𝚝𝚎𝚕𝚕𝚊 𝚙𝚘𝚔𝚘𝚔𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚖𝚞 𝚑𝚊𝚛𝚞𝚜 𝚙𝚎𝚛𝚐𝚒 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚂𝚎𝚊𝚗 𝚜𝚎𝚌𝚎𝚙𝚊𝚝𝚗𝚢𝚊. 𝚋𝚞𝚊𝚗𝚐 𝚓𝚊𝚞𝚑" 𝚕𝚊𝚔𝚒 𝚖𝚊𝚌𝚊𝚖 𝚍𝚊𝚓𝚓𝚊𝚕 𝚋𝚐𝚝𝚞
goodnovel comment avatar
𝙽𝚊𝚟𝚎𝚍
𝚑𝚎𝚑 𝚂𝚎𝚊𝚗, 𝚂𝚝𝚎𝚕𝚕𝚊 𝚒𝚝𝚞 𝚒𝚜𝚝𝚛𝚒𝚖𝚞, 𝚢𝚐 𝚛𝚎𝚕𝚊 𝚗𝚐𝚎𝚛𝚊𝚠𝚊𝚝 𝚔𝚖𝚞 𝚜𝚎𝚓𝚊𝚔 𝚔𝚖𝚞 𝚔𝚘𝚖𝚊 𝚜𝚖𝚙𝚎 𝚜𝚎𝚑𝚊𝚝 𝚜𝚎𝚙𝚎𝚛𝚝𝚒 𝚜𝚎𝚔𝚊𝚛𝚊𝚗𝚐. 𝚋𝚒𝚜𝚊"𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚖𝚞 𝚖𝚒𝚔𝚒𝚛 𝚍𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚊𝚖𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚒𝚊 𝚔𝚢𝚊 𝚙𝚎𝚖𝚋𝚊𝚗𝚝𝚞
goodnovel comment avatar
roso wulan
rasain deh siapin baju sendiri Sono Stella itu istri bukan pembantu yang bisa keu perlakukan seenak nya saja
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Pagi

    Cahaya keemasan mentari pagi merayap pelan menerobos celah gorden kamar utama, menyinari serakan pakaian yang berhamburan di atas karpet bulu. Suasana ruangan yang semalam dipenuhi gelombang gairah liar kini berubah menjadi keheningan yang mencekam.Sean terbangun dengan kepala yang terasa dihantam beban berat. Efek obat perangsang dosis tinggi yang semalam membakar seluruh sarafnya telah menguap sepenuhnya, menyisakan rasa pening yang menggigit di pelipis dan rasa kebas di sekujur tubuh. Pria itu mengusap wajahnya kasar, perlahan membuka mata yang memerah.Di sampingnya, Stella terbaring miring membelakanginya, terbungkus selimut marun hingga sebatas dada. Bahunya yang polos memperlihatkan jejak-jejak kemerahan—bukti nyata dari perlakuan brutal Sean sepanjang malam.Kenangan semalam mendadak berputar hebat di dalam otak Sean bagaikan kilatan film. Mulai dari rengekan Chelsea di lobi, tegukan jus bermasalah di penthouse, usahanya melarikan diri dengan kesadaran yang terkoyak, hingga b

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Lagi

    “Ahhh! Akhirnya aku keluar, Stella…” erang Sean sambil memeluk istrinya erat. Dia terkapar lemas di atas tubuh sang istri tak berdaya. Sampai beberapa saat kemudian dia berguling lemas di sampingnya.Gelombang panas dari racikan obat perangsang dosis tinggi yang dicekoki Chelsea ternyata belum surut sepenuhnya. Efek racun kimiawi itu masih membakar aliran darah Sean, memompa jantungnya tanpa henti dan mengunci nalurinya dalam pusaran gairah yang brutal. Pria itu tidak terpuaskan hanya dengan satu kali pelepasan. Bagi Sean malam ini, kehangatan dan kepasrahan fisik Stella adalah satu-satunya penawar yang sanggup meredakan gejolak membara di dalam dadanya.“Stella, aku masih belum puas, milikku berdiri lagi…” Tanpa membiarkan Stella menghela napas lega, Sean kembali menarik tubuh istrinya yang masih terkulai lemas di atas ranjang. Dengan gerakan yang penuh dominasi dan tenaga yang tak berkurang sedikit pun, Sean mengangkat tubuh Stella, membawanya turun dari pembaringan menuju dinding

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Pulang

    “Ahh! Panas sekali…” desah Sean di dalam mobil sambil memegangi miliknya yang kian mengeras.Mobil sedan hitam yang meluncur dengan kecepatan tinggi itu akhirnya membelit gerbang megah kediaman Anderson Group. Begitu kendaraan berhenti sempurna di depan lobi utama, Sean langsung menghempas pintu mobil. Kondisinya sangat berantakan. Kemeja mewahnya tak terkancing sempurna, peluh dingin membasahi seluruh pelipis dan lehernya, sementara matanya memerah padam terikat oleh sisa-sisa efek obat perangsang yang terus membakar seluruh saraf tubuhnya.Tanpa memedulikan sapaan terkejut dari para pelayan yang bersiaga di lobi, Sean melangkah selebar yang ia bisa menaiki anak tangga marmer menuju lantai dua. Napasnya memburu, berat dan tidak beraturan. Setiap ketukan jantungnya memompa gelombang panas yang menuntut pelepasan, dan hanya satu nama yang tersisa di dalam benaknya yang temaram, yaitu Stella.Di dalam kamar utama yang luas, suasana terasa begitu tenang dan sejuk. Cahaya lampu tidur meny

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Sentuhan

    "Oughhh! Kenapa aku sangat ingin melakukannya…” Desah Sean lolos begitu saja dari sela bibirnya yang bergetar. Efek obat perangsang dosis tinggi yang menjalar dalam aliran darahnya membuat seluruh saraf fisiknya terbakarkan oleh gairah buatan yang pekat. Tubuhnya kaku pasrah di atas ranjang king size milik Chelsea, menikmati pasang surut sensasi panas yang kian tidak terkendali saat jemari dingin wanita itu berselancar liar di atas kulit dadanya.Chelsea menyunggingkan senyum kemenangan yang amat culas. Tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya, ia merayap naik, mendekatkan wajahnya hingga hembusan napas hangatnya menyapu leher Sean. Ia siap menuntaskan ambisinya malam ini, mengikat Sean secara utuh dan menyingkirkan Stella selamanya dari takhta keluarga Anderson.Namun, tepat ketika Chelsea menunduk untuk mempagut lehernya, sentuhan dingin dari kalung perak yang tergantung di leher wanita itu bergesek keras dengan kulit hangat Sean.Jleb!Sensasi dingin yang menusuk itu bagaik

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Obat

    "Aww! Sean, kepalaku pusing sekali... lantai ini seperti berputar," keluh Chelsea tiba-tiba dengan nada melengking yang tertahan. Tubuhnya limbung, sempoyongan ke arah Sean hingga hampir membentur pintu mobil. Kedua tangannya mencengkeram erat lengan jas Sean, berpura-pura tidak sanggup menopang berat badannya sendiri."Chelsea! Kamu kenapa?" Sean refleks menahan pinggang Chelsea agar tidak terjatuh."Kaki aku lemas, Sean... aku tidak bisa jalan, takut jatuh," rengek Chelsea dengan mata terpejam dan napas memburu yang dibuat-buat. "Tolong jangan tinggalkan aku di lobi. Antarkan aku sampai ke dalam penthouse, ya? Ya, Sean?"Sean menghela napas panjang seraya melirik jam di pergelangan tangannya. Rasa bersalah karena memikirkan kandungan Chelsea serta bayang-bayang tekanan dari neneknya membuat Sean tidak punya pilihan lain. "Baiklah, aku antarkan sampai atas. Tapi setelah itu aku langsung pulang."“Baiklah, tidak masalah, Sean. Asalkan kau antar aku ke atas.” Dengan susah payah Sean m

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Rengekan

    "Kamu benar-benar keterlaluan, Sean!" tangis Chelsea makin pecah. Air mata buayanya menetes membasahi pipi yang terpoles riasan sempurna. Didekapnya tablet di dadanya erat-erat, memamerkan raut kehancuran seolah dirinya adalah korban paling terzalimi di dunia. "Aku melakukan semua ini demi kamu, demi perusahaan kita! Tapi kamu lebih memilih membela wanita yang jelas-jelas memanfaatkanmu ini!"Sean mengusap wajahnya kasar. Rasa bersalah mendadak menyusup di sela-sela egonya saat melihat tangisan wanita yang pernah menjadi bagian penting dalam masa lalunya. Ditambah lagi, kehamilan Chelsea yang ia yakini sebagai darah dagingnya sendiri membuat posisi Sean makin terdesak oleh rasa tanggung jawab yang timpang."Chelsea, bukan begitu maksudku..." suara Sean melunak, kehilangan nada tegas yang tadi sempat dipamerkannya. Ia melangkah mendekati Chelsea, mengulurkan tangan untuk mengusap bahu wanita itu. "Aku hanya tidak ingin kamu stres dalam keadaan hamil begini. Tolong mengerti, ini bukan t

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status