Share

Chelsea

Penulis: Nic Arhsy
last update Tanggal publikasi: 2026-07-13 19:08:17

“Bercerai?”

Sean melepaskan emosinya melalui tatapan yang sangat dingin. Matanya memicing tajam, menatap Stella seolah-olah wanita di hadapannya baru saja menyampaikan sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal.

“Jangan bicara asal, Stella,” desis Sean. Suaranya tetap bernada rendah dan berat, namun memancarkan aura intimidasi yang sangat pekat.

“Pernikahan ini bukan hal sepele yang bisa kamu putuskan begitu saja hanya karena emosi sesaat.”

Dia berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat teratur, tegap, dan berwibawa, lalu merapikan kancing jas mewahnya. Siluet tubuhnya yang jangkung dan atletis benar-benar mencerminkan keturunan bangsawan bisnis kelas atas.

“Sampai kantor, aku akan berikan jadwal liburan yang kamu inginkan. Jadi, hentikan tindakan dramatis ini, karena keputusanku sudah mutlak.”

Stella tidak membalas ucapan itu. Dia hanya duduk tenang, menatap Sean yang sedang membetulkan posisi dasinya dengan jemarinya yang terawat, sebuah pemandangan yang selalu tampak sempurna di mata siapa pun.

Namun kini Stella hanya menatapnya dengan pandangan hampa. Senyuman tipis dan dingin masih bertahan di bibirnya.

“Aku berangkat,” ujar Sean dingin tanpa mengalihkan pandangannya lagi. “Belanjalah atau ke salon, selesaikan masalah emosionalmu sebelum Mama tahu dan menyudutkanmu.”

Sean mengeluarkan black card miliknya dari dalam dompet, meletakannya di atas meja makan. Ia lalu melangkah meninggalkan ruang makan.

Suara deru mesin mobil sport milik Sean yang bergerak menjauhi area pekarangan rumah mewah mereka menjadi penanda bahwa pria itu telah pergi.

Ruang makan kembali diliputi kesunyian. Stella menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.

Beban di dadanya tidak serta-merta sirna, namun keputusan bulat yang telah diambilnya memberikan rasa kebebasan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Selama dua tahun terakhir, Stella telah mengubur impian besarnya. Sebagai seorang lulusan terbaik dokter spesialis yang memiliki pemahaman mendalam di bidang riset farmakologi, Stella rela meninggalkan potensi kariernya demi mengabdi secara penuh sebagai seorang istri.

Namun hari ini, dia menyadari bahwa mengorbankan seluruh hidupnya demi pria yang hanya menjadikannya budak yang dipakai sesuka hati adalah sebuah kekeliruan besar.

Jika dia ingin membesarkan kandungannya, maka dia harus meninggalkan keluarga ini. Dia harus memiliki finansial dan perlindungan hukum yang kuat agar ayahnya juga tidak perlu berada di bawah naungan mereka.

Tak ingin membuang waktu, Stella bangkit dari duduknya, melangkah menuju kamar, lalu mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas. Jemarinya yang tenang segera menghubungi nomor seorang pengacara senior yang merupakan rekan lama ayahnya.

“Selamat pagi, Pak Adnan. Ini Stella,” sapa Stella tenang. “Ya, saya membutuhkan bantuan Bapak untuk mengurus gugatan cerai saya kepada suami saya, Sean Anderson. Tolong siapkan seluruh dokumennya secara tertutup dan secepat mungkin.”

Setelah mengakhiri panggilan tersebut, ponsel Stella kembali bergetar. Sebuah nama yang sangat familier muncul di layar, Julian.

Julian adalah sahabat lamanya sejak masa kuliah di fakultas kedokteran, yang kini menjabat sebagai CEO di Lian Farma. Perusahaan riset farmasi tersebut berkembang sangat pesat dan belakangan ini sedang berdiskusi dengan Anderson Group terkait kerja sama proyek pengembangan riset berskala besar.

“Stella, akhirnya kamu menerima panggilanku,” suara Julian terdengar ramah dari seberang garis.

“Gimana? Apakah kamu sudah mempertimbangkan tawaranku sebagai kepala tim riset di Lian Farma? Kamu sudah tidak muncul dua tahun, tapi aku yakin tidak ada orang yang lebih cocok dibanding kamu.”

Stella memejamkan mata sejenak, memantapkan keyakinan dalam hatinya. Proyek yang dikelola Lian Farma merupakan proyek strategis yang dijadwalkan akan menandatangani kesepakatan bersama Anderson Group pekan depan.

Ini adalah kesempatan terbaik baginya untuk kembali berdiri di atas kakinya sendiri.

“Aku terima, dengan satu syarat.”

“Oke. Katakan saja.”

“Aku mau Lian Farma melindungi privasiku seperti biasa.”

“Dengan senang hati,” ujar Julian antusias.

“Bagaimana kalau siang ini kita bertemu siang ini di Seasons Hotel? Aku ingin mengenalkanmu pada beberapa investor utama.”

“Tentu. Aku akan datang tepat waktu.”

Dua jam kemudian, tampilan Stella telah berubah sepenuhnya. Dia menanggalkan pakaian rumahannya dan berganti mengenakan setelan blazer berwarna putih gading yang baru dibelinya.

Rambutnya yang biasa diikat sederhana kini terurai rapi, menghias wajah cantiknya yang tegas. Binar matanya tidak lagi memancarkan kelemahan yang mudah ditindas, melainkan ketegasan seorang profesional yang mandiri.

Beberapa jam kemudian, dengan langkah mantap, Stella memasuki area lobi Ballrooms Seasons Hotel, tempat pertemuannya dengan Julian diselenggarakan.

Namun, baru beberapa meter melangkah melintasi atrium lobi yang megah tersebut, langkah Stella terhenti.

Di sudut atrium dekat akses masuk ruang privat VIP, tampak beberapa pria berjas mahal sedang berdiri mengelilingi seorang wanita. Di sana berdiri Sean, didampingi dua rekan bisnis sekaligus sahabat dekatnya, Samuel dan Leonel.

Dalam balutan jas abu-abu gelap buatan penjahit Italia terkemuka, penampilan Sean begitu memikat, wajahnya yang tampan tanpa cela, postur tubuhnya yang menjulang gagah, dan tatapan matanya yang tajam menatap sekeliling.

Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang wanita cantik bergaun sutra merah muda dengan penampilan yang sangat terawat. Wajahnya tampak begitu berseri.

Stella berdiri diam di balik pilar marmer. Pandangannya terarah penuh pada pemandangan di depannya.

“Perhatikan langkahmu, Chelsea,” ujar Leon dengan nada suara yang sangat protektif. “Kondisi kehamilanmu masih berada di trimester awal, sebaiknya hindari penggunaan sepatu ber-hak tinggi.”

Chelsea mengulas senyum halus, menyentuh lengan Sean secara alami untuk menjaga keseimbangannya.

Dan Sean, pria yang selalu bersikap dingin dan berjarak pada Stella, memegang siku Chelsea begitu hati-hati. Tatapan mata elangnya menunduk menatap Chelsea, memancarkan pesona penuh kesiagaan, sesuatu yang tidak pernah Stella lihat selama dua tahun pernikahan mereka.

“Kalian berlebihan,” tutur Chelsea dengan nada lembut. “Aku hanya hamil muda, bukan mengidap penyakit berat.”

“Justru karena kamu hamil muda, kami harus ekstra menjagamu,” sahut Sam dengan nada bersahabat. Dia kemudian menepuk bahu Sean pelan. “Tenang aja. Ada Sean di sini. Dia ini calon ayah yang sempurna. Lihat cara dia memegangimu, refleks naluri seorang ayahnya langsung keluar begitu tahu kamu hamil.”

Dada Stella berdenyut pilu untuk yang terakhir kalinya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (19)
goodnovel comment avatar
Neng Hernii
ahh brengsek nyaa sean berani²nya membuat hamil wanita lain
goodnovel comment avatar
Ratih Tyas
kenapa kamu gak ceraikan Stella aja trus nikah sama selingkuhan mu itu Sean
goodnovel comment avatar
Ratih Tyas
Asem, ternyata si chelsea juga lagi hamidun
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Apa itu?

    Sean tiba-tiba mengecup pipi Stella. "Kau menggairahkan malam ini," bisiknya sambil menyapu rambut basahnya ke belakang, lalu meraih selimut yang sempat terdorong ke sudut kasur. Tanpa rasa bersalah, Sean menarik Stella ke dalam pelukannya dari belakang, melingkarkan lengan tegapnya di pinggang sang istri. Hawa panas dari tubuh Sean terasa kontras dengan tubuh Stella yang mendadak dingin dan kaku. Bagi Sean, apa yang baru saja terjadi adalah pembuktian mutlak bahwa Stella masih miliknya sepenuhnya, seorang istri yang tidak akan pernah bisa benar-benar lepas dari genggamannya, betapa pun berkas perceraian itu telah berada di depan mata."Tidurlah, Stella. Jangan buat masalah lagi besok," bisik Sean santai, suara seraknya begitu dekat di telinga Stella sebelum deru napasnya perlahan teratur tanda pria itu telah lelah dengan kepuasan penuh.Perlahan namun pasti, Stella menggeser lengan tegap Sean yang menindih pinggangnya. Setiap pergerakan terasa sangat berat. Tubuhnya begitu remuk, peg

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Ah! Jangan, Kak.

    Stella mematung saat punggungnya terhempas ke atas kasur yang empuk. Ujung jarinya menegang, meremas sprei satin hitam dengan ketakutan yang mendadak membumbung tinggi. Matanya menatap lurus pada sepasang manik hitam Sean yang dipenuhi oleh keangkuhan dan dominasi yang pekat.Bayangan Nenek Anderson yang sedang beristirahat di lantai bawah mendadak terlintas tajam di benaknya. Keributan sekecil apa pun di kamar ini pasti akan langsung merusak suasana dan mengganggu kesehatan wanita tua itu yang kian melemah. Rasa hormat yang mendalam pada satu-satunya orang yang bersikap baik padanya di rumah ini melumpuhkan seluruh niat Stella untuk berteriak."Lepaskan aku, Kak Sean," bisik Stella dengan suara bergetar namun sarat akan penolakan yang jelas. Ia berusaha menggeser bahunya, mencoba mendorong dada bidang Sean yang masih basah dengan sisa kekuatan yang ia miliki.Sean tidak bergeming sedikit pun. Cengkeramannya pada kedua pergelangan tangan Stella justru makin mengerat di atas kepala, me

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Paksaan

    “Buat apa bahas hal ini di saat makan malam? Jangan bikin malu,” potong Sean tajam.Suaranya yang berat memotong keheningan ruangan. Tatapan matanya menajam, menusuk Stella dengan implikasi teguran yang teramat jelas, bahwa Sean paling benci membahas masalah pribadi bersama orang lain, apalagi hal sesensitif dan seprivat itu di hadapan seluruh keluarga besar.Mendengar respons Sean, wajah Nyonya Anderson yang tadinya sempat pucat pasi seketika berganti warna menjadi merah padam.Wanita paruh baya itu menunduk tajam, meremas kain serbet di pangkuannya demi menutupi rasa malu dan kecemasan yang sempat membakar dadanya. Jika saja Nenek Anderson tidak berada di ujung meja, pasti dia sudah membentak Stella habis-habisan.Sementara itu, Jessica duduk terpaku dengan napas tertahan. Di bawah taplak meja kayu jati yang tebal, jemarinya meremas kain gaunnya sendiri. Matanya berkilat menatap Stella dengan dendam yang membara. Berani-beraninya wanita tanpa latar belakang ini mencoba memancing to

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Dokter Kandungan

    Di ujung sambungan telepon yang telah terputus secara sepihak, Sean berdiri diam di koridor lantai atas Seasons Hotel. Jemari kokohnya menggenggam ponsel dengan erat, memperlihatkan urat-urat halus di punggung tangannya yang membuat penampilannya terlihat sangat jantan.Namun, kejengkelan yang sempat merayapi benaknya perlahan mengendur, berganti dengan ketenangan dingin yang kembali menguasai perawakannya yang karismatik. Napas Sean berembus perlahan dari hidung bangirnya.Meski tadi Stella bereaksi tak biasa, tapi wanita itu tetap langsung menurut dan bertekad menemuinya begitu mendengar nada bicaranya yang meninggi.Dengan kata lain, keberadaan Stella di atas panggung tadi hanyalah bentuk rekayasa singkat bersama Julian untuk memancing cemburunya. Wanita itu masih berada dalam genggamannya.Sean kembali mengoperasikan ponselnya, mendial nomor istrinya.“Stella,” ucap Sean saat panggilan kembali terhubung. Nada suaranya terdengar sangat tenang, namun sarat akan otoritas yang dominan

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Pengacara - Adnan

    Gema tepuk tangan riuh masih terdengar di dalam ballroom Seasons Hotel saat Stella menuruni anak tangga panggung utama. Plakat kristal dan piala penghargaan bernuansa emas berada dalam pelukannya. Fokus seluruh isi ruangan masih tertuju pada sosok wanita yang baru saja dinobatkan sebagai peneliti terbaik tahun ini.Julian yang menunggunya di bawah panggung menyambut Stella dengan raut bangga. Tanpa membuang waktu, Julian membimbing Stella menuju jajaran tamu VIP di sisi kanan ballroom, tempat para petinggi industri medis dan investor internasional berkumpul.“Kamu memang sangat mengagumkan, Stella,” bisik Julian rendah dengan senyum tipis. “Mari, beberapa pimpinan konsorsium internasional ingin mendiskusikan implementasi paten formulamu secara langsung.”“Julian, aku tidak menyangka, kamu masih mencantumkan namaku di sana. Aku bahkan sudah melupakannya.” Bisik Stella dengan mata berkaca-kaca terharu.“Tentu, itu adalah hasil kerja kerasmu. Dan kamu berhak mendapatkan tepuk tangan seme

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Julian

    Sean tidak memberikan bantahan atas pernyataan Samuel. Pria itu hanya mengulas senyum tipis di bibirnya yang tampan, sebuah senyuman berwibawa yang penuh karisma, memancarkan rasa tanggung jawab dan kepedulian yang mendalam.“Sudahlah. Kita ke dalam,” kata Sean dengan nada suara bariton lembut—sangat berbeda dari intonasi dingin dan berjarak yang selalu ia gunakan saat berbicara dengan Stella. “Tidak baik bagi Chelsea berdiri terlalu lama.”Stella baru tahu Sean bisa bicara selembut itu. Selama ini, Stella berpikir cara bicaranya yang dingin itu memang sudah menjadi kepribadiannya. Ternyata, sikapnya juga tergantung pada siapa dia berbicara.Dari balik pilar marmer, Stella mengamati bagaimana jemari Sean yang kokoh memegang siku Chelsea dengan penuh hati-hati. Sikap protektif berkarisma dari pria tampan itu, sesuatu yang tidak pernah Stella dapatkan selama dua tahun menjalankan peran sebagai istri, kini diberikan sepenuhnya kepada wanita lain.Pikiran Stella bekerja dengan sangat cepa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status