LOGIN"Beri waktu dua minggu. Kalau dalam dua minggu Sean masih seperti mayat hidup begitu, kita sendiri yang bakal turun tangan ambil alih pencarian ini, Bro."Suara berat Leonel memecah keheningan kafe eksklusif di kawasan Senopati, Jakarta Selatan. Pria itu menyesap espresso-nya santai, menatap Samuel yang duduk di hadapannya dengan wajah lelah dan lingkaran hitam tebal di bawah mata. Di luar jendela, hujan gerimis mengguyur jalanan ibu kota yang mulai senggang."Nenek sudah tanda tangan surat kontrak kerja sama khusus buat kita berdua, Leon," ujar Samuel seraya menggeser map kulit hitam ke atas meja. "Kita dikasih wewenang penuh buat mengawasi semua pergerakan Sean, sekalian menyaring informasi apa pun dari tim detektif swasta Swiss itu. Nenek jujur trauma, takut Sean bertindak bodoh lagi seperti di awal yang mau bunuh diri, itu bakalan bikin hancur nama Anderson Group."Leonel membuka map tersebut, memindai lembaran dokumen dengan tatapan tenang namun terukur. "Trus, gimana sama Julia
"Introspeksi diri? Di saat istri dan calon anakku dibawa kabur oleh pria lain?!"Suara berat Sean terdengar bergetar menahan ledakan amarah yang luar biasa di dalam ruang VIP Anderson Hospital. Napasnya memburu, matanya merah menyala menatap sang nenek yang duduk kokoh di kursi roda. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, melangkah maju-mundur di atas lantai marmer yang dingin."Aku memperlakukannya dengan cara terbaik yang kubisa, Nek! Aku memberinya segalanya! Nama keluarga Anderson, kemewahan, perlindungan…”"Perlindungan atau kurungan, Sean?!" potong Nyonya Besar dengan bentakan tegas yang menggema di seluruh ruangan. Sang matriarch menatap cucu kesayangannya itu tanpa gentar sedikit pun. "Kamu mengurungnya seperti burung dalam sangkar emas! Kamu mencurigai setiap langkahnya, mengawasinya seperti pergerakannya, bahkan tidak membiarkannya bernapas lega! Apakah itu yang kamu sebut sebagai perlindungan?!"Sean bungkam. Bibirnya terkunci rapat, namun dadanya naik turun meluapkan kek
“Sudah lama kita tidak menyelidiki tentang transaksi ilegal di pelabuhan dan bandara.” Suara bariton Iptu Satria Wardhana Danubaya tanpa memperlihatkan kepentingan pribadinya. “Jika ada pergerakan mencurigakan tanpa barang bukti, wajib selidiki dan pantau ketat.”“Siap, Ndan!”“Kalau perlu minta devisi IT kerja sama.”“Siap, Komandan.”Langkah catur yang dimainkan oleh keluarga Anderson sudah diperhitungkan oleh Satria sejak awal. Ketika pihak Anderson memilih jalur detektif swasta internasional dan mengabaikan laporan resmi kepolisian, Satria tidak panik. Sebagai perwira intelijen yang berdedikasi melatih keahliannya bertahun-tahun, ia tahu persis bahwa kekuatan sejati seorang pemburu terletak pada ketenangan saat mangsanya mulai bertindak gegabah.Satria menyesap kopi hitam dingin di atas mejanya, menatap berkas rekapitulasi data lalu lintas udara. Kehadiran tim detektif swasta asal Swiss di dasar jurang memang sempat memberi secercah harapan palsu bagi Sean, namun di situlah letak
"Nyonya Besar, ada kejanggalan fatal di dasar jurang ini."Suara dari telepon satelit memecah keheningan malam yang mencekam di lantai atas Anderson Hospital. Di dasar jurang yang curam dan berselimut kabut tebal, pimpinan tim detektif swasta asal Swiss berdiri mengamati bangkai SUV hitam yang telah hangus tak berbentuk. Sinar lampu sorot ultraviolet memantul di antara puing-puing logam yang berkarat."Apa maksudmu, Marc?" tanya Nyonya Besar dengan nada suara yang seketika berubah tegang. Di sampingnya, Julian dan Samuel berdiri terpaku, sementara Sean yang terbaring kaku mendadak menggerakkan jemarinya."Pola remuk kendaraan ini dan sebaran residu ledakan tidak cocok dengan skenario mobil meluncur berkecepatan tinggi saat tikungan," jelas detektif itu dingin melalui sambungan terenkripsi. "Sistem pemindai forensik kami tidak menemukan jejak residu organik atau struktur kalsium yang tersisa di dalam kabin pengemudi. Mobil ini dijatuhkan secara presisi dalam keadaan kosong."Kata 'koso
Sementara di lokasi yang berbeda, pagi itu Stella tampak sibuk membantu Satria mengangkat barang kepindahannya di bawah kaki gunung dengan pemandangan indah hamparan sawah luas. Angin pegunungan yang sejuk berembus lembut, membelai wajah Stella yang kini tampak jauh lebih tenang. Tidak ada lagi bising hiruk-pikuk kota Jakarta, tidak ada lagi kilatan lampu kamera pers, dan yang terpenting, tidak ada lagi bayang-bayang cengkeraman ketakutan dari sosok Sean Anderson."Stella, jangan mengangkat kardus yang terlalu berat. Biar aku saja," panggil Satria tegas seraya bergegas mengambil alih kotak kayu kecil dari jemari Stella."Aku hanya ingin membantu, Mas Satria. Lagipula kotak ini sangat ringan, hanya berisi perlengkapan dapur," sahut Stella dengan sunggingan senyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sudah sangat lama tidak pernah menghiasi bibirnya.Satria menatap wanita di hadapannya itu dengan tatapan hangat. Rumah kayu bergaya tradisional yang berdiri kokoh di lereng pegunungan ini sen
"Bawa cucu mantuku kembali ke Jakarta. Sekarang juga!"Suara bariton yang tenang namun berwibawa itu memecah keheningan koridor ruang perawatan VIP Rumah Sakit Utama Aldenia. Seorang wanita lanjut usia berpakaian serba hitam elegan melangkah anggun, dituntun oleh dua orang pengawal pribadi berpakaian serba gelap. Wajahnya yang dihiasi kerutan halus tetap memancarkan aura kekuasaan. Dia adalah Nyonya Besar Anderson, nenek kandung Sean yang selama ini paling disegani sekaligus satu-satunya sosok yang ditakuti oleh Sean Anderson.Mendengar kabar musibah mengerikan yang menimpa cucu menantu pilihan hatinya, Nyonya Besar langsung membatalkan seluruh agenda rapat bisnis penting di luar negeri dan terbang kembali ke tanah air menggunakan jet pribadi. Tanpa kompromi sedikit pun, ia memerintahkan pemindahan Sean dari RS Aldenia menuju Anderson Hospital, sebuah rumah sakit megah milik jaringan keluarga mereka di Jakarta, guna mendapatkan perawatan psikiatris dan pemulihan medis secara intensif.







