LOGINpagi itu, Stella sedikit terlambat bangun, tapi Satria sudah menyiapkan sarapan, sampai dirinya merasa terkejut dan tak enak hati."Mas, kok jadi kamu yang masak? Astaga maaf aku telat bangun...""Udah, nyantai aja lagi. Aku udah biasa dulu waktu di dinas jauh..." jawabnya santai sambil mengangkat nasi goreng ke atas meja. "Konon katanya ini nasi goreng terenak se angkatan. Coba deh sini..." "Oh, ya?" Stella mulai luwes dan terlihat jauh lebih segar."Iya. Ini tuh andalan banget dulu, sini deh..." ajaknya sambil duduk."Aku mandi dulu deh, Mas. Takutnya lagi santai-santai ada pasien lagi..."sahut Stella."Oke, pelan-pelan, ya, kamar mandi nya belum sempet ganti keramik, soalnya gak tekejar waktu nya kemarin...""Aman, Mas." Stella berjalan ke kamar mandi, sedangkan perwira polisi itu tampak membereskan rumah sampai suara langkah kaki dengan tawa yang sangat dia kenal mendekat. Iptu Satria melepaskan celemek dan langsung menyambut kedua tamu yang memang senagaja dia undang."Akhirnya
Tepat pukul sepuluh malam, dentang lonceng besi di balai desa bergema tiga kali, disusul suara mendengung halus dari gardu umum yang perlahan mati. Dalam hitungan detik, seluruh penerangan di sudut-sudut desa padam total. Kegelapan pekat yang dingin membungkus pemukiman kayu di kaki gunung tersebut, menyisakan kerlip bintang di langit malam dan cahaya remang rembulan yang menembus sela-sela pepohonan rindang.Di dalam rumah kayu, Stella yang sedang merapikan beberapa botol vitamin di ruang praktik mendadak menghentikan gerakannya. Ruangan yang tadinya terang oleh dua bohlam redup kini berubah gelap gulita. Hanya ada suara jangkrik yang bersahut-sahutan dan deru lembut aliran sungai dari kejauhan."Stella? Jangan panik, ini aku. Kamu harus membiasakan diri juga di situasi kaya gini sendirian nantinya..." Suara berat dan tenang milik Satria terdengar dari arah teras, disusul langkah kaki yang teratur mendekati pintu depan. Tak lama kemudian, berpendar cahaya kuning hangat dari lentera
"Beri waktu dua minggu. Kalau dalam dua minggu Sean masih seperti mayat hidup begitu, kita sendiri yang bakal turun tangan ambil alih pencarian ini, Bro."Suara berat Leonel memecah keheningan kafe eksklusif di kawasan Senopati, Jakarta Selatan. Pria itu menyesap espresso-nya santai, menatap Samuel yang duduk di hadapannya dengan wajah lelah dan lingkaran hitam tebal di bawah mata. Di luar jendela, hujan gerimis mengguyur jalanan ibu kota yang mulai senggang."Nenek sudah tanda tangan surat kontrak kerja sama khusus buat kita berdua, Leon," ujar Samuel seraya menggeser map kulit hitam ke atas meja. "Kita dikasih wewenang penuh buat mengawasi semua pergerakan Sean, sekalian menyaring informasi apa pun dari tim detektif swasta Swiss itu. Nenek jujur trauma, takut Sean bertindak bodoh lagi seperti di awal yang mau bunuh diri, itu bakalan bikin hancur nama Anderson Group."Leonel membuka map tersebut, memindai lembaran dokumen dengan tatapan tenang namun terukur. "Trus, gimana sama Julia
"Introspeksi diri? Di saat istri dan calon anakku dibawa kabur oleh pria lain?!"Suara berat Sean terdengar bergetar menahan ledakan amarah yang luar biasa di dalam ruang VIP Anderson Hospital. Napasnya memburu, matanya merah menyala menatap sang nenek yang duduk kokoh di kursi roda. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, melangkah maju-mundur di atas lantai marmer yang dingin."Aku memperlakukannya dengan cara terbaik yang kubisa, Nek! Aku memberinya segalanya! Nama keluarga Anderson, kemewahan, perlindungan…”"Perlindungan atau kurungan, Sean?!" potong Nyonya Besar dengan bentakan tegas yang menggema di seluruh ruangan. Sang matriarch menatap cucu kesayangannya itu tanpa gentar sedikit pun. "Kamu mengurungnya seperti burung dalam sangkar emas! Kamu mencurigai setiap langkahnya, mengawasinya seperti pergerakannya, bahkan tidak membiarkannya bernapas lega! Apakah itu yang kamu sebut sebagai perlindungan?!"Sean bungkam. Bibirnya terkunci rapat, namun dadanya naik turun meluapkan kek
“Sudah lama kita tidak menyelidiki tentang transaksi ilegal di pelabuhan dan bandara.” Suara bariton Iptu Satria Wardhana Danubaya tanpa memperlihatkan kepentingan pribadinya. “Jika ada pergerakan mencurigakan tanpa barang bukti, wajib selidiki dan pantau ketat.”“Siap, Ndan!”“Kalau perlu minta devisi IT kerja sama.”“Siap, Komandan.”Langkah catur yang dimainkan oleh keluarga Anderson sudah diperhitungkan oleh Satria sejak awal. Ketika pihak Anderson memilih jalur detektif swasta internasional dan mengabaikan laporan resmi kepolisian, Satria tidak panik. Sebagai perwira intelijen yang berdedikasi melatih keahliannya bertahun-tahun, ia tahu persis bahwa kekuatan sejati seorang pemburu terletak pada ketenangan saat mangsanya mulai bertindak gegabah.Satria menyesap kopi hitam dingin di atas mejanya, menatap berkas rekapitulasi data lalu lintas udara. Kehadiran tim detektif swasta asal Swiss di dasar jurang memang sempat memberi secercah harapan palsu bagi Sean, namun di situlah letak
"Nyonya Besar, ada kejanggalan fatal di dasar jurang ini."Suara dari telepon satelit memecah keheningan malam yang mencekam di lantai atas Anderson Hospital. Di dasar jurang yang curam dan berselimut kabut tebal, pimpinan tim detektif swasta asal Swiss berdiri mengamati bangkai SUV hitam yang telah hangus tak berbentuk. Sinar lampu sorot ultraviolet memantul di antara puing-puing logam yang berkarat."Apa maksudmu, Marc?" tanya Nyonya Besar dengan nada suara yang seketika berubah tegang. Di sampingnya, Julian dan Samuel berdiri terpaku, sementara Sean yang terbaring kaku mendadak menggerakkan jemarinya."Pola remuk kendaraan ini dan sebaran residu ledakan tidak cocok dengan skenario mobil meluncur berkecepatan tinggi saat tikungan," jelas detektif itu dingin melalui sambungan terenkripsi. "Sistem pemindai forensik kami tidak menemukan jejak residu organik atau struktur kalsium yang tersisa di dalam kabin pengemudi. Mobil ini dijatuhkan secara presisi dalam keadaan kosong."Kata 'koso







