Share

Janji Kecil

Author: Nic Arhsy
last update publish date: 2026-10-19 21:59:22

Suasana ruang makan mendadak hening seketika. Pertanyaan polos yang meluncur dari bibir mungil Liam bagaikan belati tajam yang langsung menghujam jantung Stella tanpa ampun.

Ia mematung dengan sendok nasi yang masih menggantung di udara, sementara debaran jantungnya mendadak bergemuruh hebat, menciptakan rasa sesak yang luar biasa di dadanya.

Selama ini, Stella selalu berusaha setengah mati untuk membangun dunia yang aman, hangat, dan tampak sempurna bagi putranya. Ia menutupi segala ketakutan,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
roso wulan
yuks Stella tumbuh kembang Liam butuh figur seorang ayah
goodnovel comment avatar
roso wulan
kasihan liam dia juga ingin seperti teman teman nya yang selalu di jemput dan bermain dengan ayah nya
goodnovel comment avatar
E❤️‍🩹A
ayoolah stel pertemukan Liam dngan ayahnya ,dia jga berhak tau lho
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Mobil Mewah

    "Monggo dilanjutkan sarapannya, Pak, Bu. Saya langsung ke dapur belakang dulu ya, bereskan bahan-bahan katering hari ini," pamit Mbak Lastri ramah sambil tersenyum penuh arti, lalu melangkah menuju bagian belakang rumah kayu kecil itu.Sean kembali duduk di kursinya, mendampingi Liam yang dengan lahap menyuapkan sisa sarapannya. Di seberang meja, Stella masih sibuk merapikan kotak bekal sang buah hati dengan gerakan yang sesekali tampak salah tingkah akibat godaan Mbak Lastri sebelumnya."Ayo, Pa, makannya cepetan dikit. Nanti gerbang sekolahnya keburu ditutup sama Pak Satpam yang suka galak itu," protes Liam lucu sambil melambaikan sendok kecilnya ke udara.Sean tersenyum lebar, segera menghabiskan sisa makanan di piringnya. "Siap, Komandan. Papa sudah selesai."Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk bersiap. Setelah Liam memastikan tas kecil dan botol minumnya tersusun rapi, ketiganya melangkah keluar rumah menuju jalan setapak perkampungan nelayan. Pagi itu, udara pesisir terasa

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Mba Lastri

    "Pa, bangun! Matahari sudah tinggi, nanti Liam telat kalau jalannya tidak cepat!" seru Liam riang sambil menarik-narik ujung jaket Sean yang masih terlelap di atas sofa keras ruang tengah.“Jam berapa sekarang?” Tanya Sean malas karena dia pertama kali kembali tertidur lelap setelah tiga tahun belakangan.Udah jam enam pagi, Pa! Ayo bangun nanti mama marah…” bisik Liam lagi.Sean mengerjap perlahan, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari pagi yang menembus celah jendela kayu rumah kecil itu. Begitu melihat wajah ceria putranya yang sudah rapi mengenakan seragam sekolah biru, rasa lelah di tubuhnya seketika menguap begitu saja. Pria itu langsung tersenyum lebar, bangkit duduk, and merapikan rambut acak-acakan di kepalanya."Siap, jagoan! Papa siap-siap dulu. Papa bangun sekarang," balas Sean riang, menyambut pelukan hangat Liam penuh antusias.Di tengah kesibukan pagi itu, Liam tiba-tiba mendongak menatap sang ibu yang sedang menyiapkan perlengkapan di dekat meja dapur."M

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Jangan Berisik!

    "Melepaskan segalanya?" Stella tertawa sinis, meski suara tawa itu terdengar begitu getir dan bergetar di ujung tenggorokannya. Ia menatap pria di hadapannya dengan tatapan tidak percaya. "Kamu pikir Anderson Group itu mainan, Sean? Nenekmu di ibu kota sedang sakit-sakitan, mikirkan kamu yang justru meninggalkan perusahaan dan mungkin sedang goyah, dan ibumu... ibumu tidak akan pernah membiarkanmu pergi begitu saja hanya demi seorang wanita sepertiku!"Sean tidak gentar sedikit pun. Pria itu justru melangkah lebih dekat, menatap manik mata Stella dengan sorot penuh keyakinan yang tidak bisa dibantah."Keluargaku sudah tahu semuanya. Dan mereka sangat menyesal. Kita semua ingin kamu kembali ke hidupku, Stella," tegas Sean dengan suara rendah namun sarat akan ketetapan hati. "Selama tiga tahun aku hidup bagaikan mayat hidup, menyusuri jalanan dari satu kota ke kota lain demi mencari bayangan kalian, aku sudah membuang seluruh keangkuhan dan ambisi keluarga itu. Jabatan, harta, kekuasa

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Kesempatan

    Suasana meja makan malam itu terasa begitu kontras. Di satu sisi, tawa renyah dan binar kebahagiaan terpancar jelas dari mata bulat Liam yang tak henti-hentinya menatap sang ayah dengan penuh kekaguman. Namun di sisi lain, udara di sekitar Stella terasa begitu pekat oleh keheningan yang kaku dan canggung."Yeay! Hari pertama makan malam dengan keluarga lengkap..." seru Liam riang gembira, lalu menoleh ke arah ayahnya. "Pa, besok anterin Liam ke sekolah, ya?""Pasti dong, Nak. Papa pasti antarkan kamu ke sekolah besok. Sekalian kenalan secara resmi sama Bu Guru dan teman-teman kamu..." jawab Sean penuh semangat, sambil melirik sekilas ke arah Stella yang tampak menekuri piringnya, menyuapkan makanan dalam diam.Stella masih bergeming. Wanita itu menyuapkan makanannya dengan lambat, sengaja menghindari tatapan mata Sean yang beberapa kali terarah kepadanya. Meski ia telah membiarkan pria itu masuk dan duduk di hadapannya malam ini, bukan berarti luka-luka lama di hatinya langsung sem

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Makan Malam Keluarga

    "Yeayy! Mama terpana lihat ketampanan papa..." seru Liam riang gembira sambil melompat-lompat kecil di samping Sean, tangannya menarik-narik ujung apron Stella dengan penuh antusias.Stella sama sekali tidak bergeming. Manik matanya menatap lekat-lekat pria yang berdiri di hadapannya. Hilang sudah janggut lebat dan rambut kusut yang selama beberapa jam lalu menutupi sebagian besar wajahnya. Kini, yang terlihat adalah pahatan wajah tegas, hidung mancung, rahang kokoh, serta sorot mata penuh cinta dan permohonan yang begitu melekat dalam ingatannya. Wajah Sean Anderson, pria yang dulu sangat ia cintai sekaligus ia takuti, kini berdiri tepat di depan pintu rumahnya tanpa ada lagi topeng penyamaran.Jantung Stella berdegup kencang, menghantam dadanya dengan rasa nyeri bercampur kelegaan yang aneh. Tenggorokannya terasa kering, membuatnya tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Ia merasa seolah sedang berdiri di antara dua dunia, masa lalu yang penuh luka dan kenyataan masa kini yang

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Kembali

    “Kak Sean! Apa yang terjadi kenapa kakak keluar bawa Liam? Apakah Kakak di usir?” Tanya Clarissa seketika saat melihat kakaknya menggendong Liam mendekat ke arah mobil.“‘Menurutmu?”“Sudah! Jangan main tebak-tebakan. Aku gak suka.”“Kami mau pangkas.” Jawab Sean akhirnya tertawa bahagia dan seketika Clarissa mendekat dan memeluk kakaknya yang masih menggendong puteranya dengan erat.“Artinya kak Stella tidak mengusirmu bukan?” Tanya Clarissa lagi.“Tidak. Liam yang menolongku. Puteraku memang sepintar aku.” Tegas Sean bangga.“Ah! Kalau nenek tahu pasti nenek sangat bahagia sekali.”“Nanti kita akan video call sama nenek, setelah aku membujuk Stella.”“Trus, sekarang mau kemana? Ayo!”“Kita mau pangkas Tante. Biar mama suka lagi sama papa.”Ckarissa menyeka air mata haru lalu mengangguk. “Naik mobil kak?”“Tidak. Kata Liam ada deket sini. Aku ingin gendong puteraku.”Clarissa mengangguk sambil tertawa tapi tangannya terus mengusap air mata yang tak henti mengalir.Mereka berjalan men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status