Share

Journaling

Author: Nic Arhsy
last update publish date: 2026-10-12 19:33:15
Hari-hari berikutnya di pedesaan Swiss berjalan dengan keindahan yang menenangkan.

Udara pegunungan Alpen yang sejuk berpadu sempurna dengan kehangatan di dalam rumah kayu peninggalan nenek Sofia.

Stella menikmati setiap detik perannya sebagai seorang ibu bagi Liam Alexander.

Bayi mungil itu tumbuh dengan sangat sehat, mewarisi keindahan fisik perpaduan antara ayah dan ibunya serta ketenangan yang membuat hari-hari Stella dipenuhi senyuman.

Di sela-sela waktu mengurus Liam, Stella tetap k
Nic Arhsy

Sean lagi butuh support Yuk kakak-kakak kasih support buat Sean

| 2
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Baby Boy
Biarin cuekin dulu, Kak. Baru 4 bulan, Sean nyakitin Stella 2 tahun, ga ada apa2 nya itu .. hiks hiks ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Bijaksana

    Monitor medis di dalam ruang ICU VVIP Anderson Hospital berdenyut pelan dalam keheningan malam, menampilkan grafik detak jantung yang mulai berangsur stabil. Di sisi ranjang tempat ayah mertuanya terbaring koma, Sean duduk termenung di atas kursi kulit hitam. Tangannya yang besar menggenggam erat jemari sang mertua yang terasa dingin, sementara sisa-sisa air mata masih mengering di sudut matanya.Bagi Sean, pria paruh baya di hadapannya ini bukan sekadar orang tua dari istri yang sedang pergi meninggalkannya. Ayah Stella adalah sisa kenangan terakhir tentang cinta sejatinya, dan juga tanggung jawab besar yang bersumpah ia jaga dengan nyawanya sendiri.Pintu ruangan bergeser pelan tanpa suara. Samuel melangkah masuk dengan ekspresi tegang, memegang ponsel yang layarnya masih menyala terang. Baru saja Samuel menutup sambungan telepon dari Nenek, yang di ujung sana mengamuk hebat menuntut agar seluruh jajaran dokter rumah sakit diganti akibat kepanikan berita yang beredar, ia harus seger

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Gundah

    Dinginnya ruangan ganti dokter di rumah sakit desa terpencil itu seolah menusuk hingga ke tulang. Stella masih terpaku di atas kursi plastik usang, menatap nanar layar ponselnya yang kini meredup. Rekaman video kemarahan Sean di lobi Anderson Hospital terus berputar di dalam kepalanya, meninggalkan gema suara bentakan yang begitu kontras dengan kelembutan pria itu di masa lalu.Pesan dari Satria tadi bagaikan beban berat yang menghantam pertahanan terakhirnya. Selama ini, Stella berusaha keras membangun dinding kebohongan di dalam hatinya, meyakinkan diri bahwa pelariannya ke desa ini adalah keputusan yang benar untuk menyelamatkan diri dari bayang-bayang keluarga Anderson. Ia mengira Sean dan keluarganya hanya memandang sang ayah sebagai beban atau sekadar alat pelindung status sosial. Namun, video berdurasi singkat itu meruntuhkan segalanya dalam hitungan detik.Ia melihat sendiri bagaimana urat-urat di leher Sean menonjol, bagaimana mata pria itu memerah dan dipenuhi keputusasaan y

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Berita

    Ruang ganti dokter di rumah sakit kecil desa itu terasa sangat menyesakkan. Ponsel di tangan Stella masih menyala, menampilkan pesan teks dan video rekaman amatir yang baru saja dikirimkan oleh Satria. Pesan itu seketika meruntuhkan sisa-sisa pertahanan yang telah ia bangun.Pesan dari Satria terpampang jelas di layar."Ste, aku harus ngabarin ini. Cuma aku emang udah kesulitan buat cari kabar perkembangan karna Sean udah mengganti semua petugas medis dan dia mengambil dokter luar yang benar-benar tak bisa di suap. Lihat berita yang aku kirim sepertinya papanu kesehatan lagi drop. Aku kirim berita yang aku rekam layar. Kau bisa melihatnya sendiri atau cari berita di sosmed. Tapi, sepertinya sudah tertangangi karena suasana rumah sakit sudah kembali tenang. Aku sudah meminta orangku ke rumah sakit tapi belum ada perkembangan."Bersamaan dengan pesan itu, Satria melampirkan rekaman video berita televisi nasional yang sedang booming. Di layar kecil tersebut, suasana pelataran Anderson H

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Merangkak

    Sinar matahari pagi masuk lewat jendela kaca rumah kayu Alpen, menghangatkan sudut ruangan tempat Liam Alexander sibuk bereksplorasi. Bayi yang kini sudah menginjak usia tujuh bulan itu terlihat sangat lincah. Dengan gigi susu kecil yang baru tumbuh dua di bagian bawah, Liam merangkak dengan cepat mengejar bola kain warna-warni yang digelindingkan oleh ibunya."Wah, jagoan Mama sudah pintar sekali merangkak, ya? Mau ke mana, hm?" gemas Stella sambil berlutut di atas karpet bulu, tertawa kecil saat Liam berhasil menangkap bola itu dan langsung mendongak menatapnya dengan mata bulat yang sangat jernih, mata yang begitu mirip dengan milik Sean.Sofia Von Bern yang baru saja keluar dari dapur membawa nampan berisi cangkir teh langsung tersenyum lebar melihat pemandangan itu. Ia meletakkan nampannya di atas meja lalu ikut duduk bersila di samping Stella."Dia cepat sekali besarnya, Stel. Perasaan baru kemarin kamu melahirkan anak ini dalam kondisi darurat di atas ranjang itu, dan sekarang

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Praktek

    Cairan beralkohol dengan kadar tinggi itu membakar kerongkongan Sean, meninggalkan rasa perih yang teramat sangat, namun sama sekali tidak mampu menumpulkan rasa sakit yang mencengkeram dadanya. Sean meletakkan botol wiski tersebut kembali ke atas meja bar dengan kasar hingga menimbulkan suara benturan keras. Napasnya memburu, sementara pandangannya menerawang kosong menembus kaca jendela besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta dari ketinggian lantai penthouse-nya.Di bawah pengawasan ketat psikiater, pelampiasan semacam ini sebenarnya sangat dilarang. Namun malam ini, pertahanan mental Sean benar-benar runtuh hingga ke titik terendah. Bayangan wajah Stella saat terakhir kali menatapnya dengan penuh kekecewaan terus berputar-putar di dalam kepalanya, menghantui setiap detik keheningan yang ia lalui.Tiba-tiba, suara ketukan pelan namun tegas terdengar memecah keheningan ruang kerja pribadinya. Pintu berderit terbuka, menampilkan sosok Samuel yang melangkah masuk

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Journaling

    Hari-hari berikutnya di pedesaan Swiss berjalan dengan keindahan yang menenangkan. Udara pegunungan Alpen yang sejuk berpadu sempurna dengan kehangatan di dalam rumah kayu peninggalan nenek Sofia. Stella menikmati setiap detik perannya sebagai seorang ibu bagi Liam Alexander. Bayi mungil itu tumbuh dengan sangat sehat, mewarisi keindahan fisik perpaduan antara ayah dan ibunya serta ketenangan yang membuat hari-hari Stella dipenuhi senyuman. Di sela-sela waktu mengurus Liam, Stella tetap konsisten menepati janjinya untuk membantu Sofia. Setiap sore, ketika Liam tertidur pulas di dalam boks kayunya, Stella duduk di dekat meja kerja beralaskan cahaya lampu temaram, meneliti lembar demi lembar data patologi klinik milik Sofia. Analisis seluler dan penyusunan jurnal medis internasional itu bukan sekadar bentuk balas budi, melainkan terapi mental yang menjaga pikirannya tetap tajam dan terarah. Semua rahasia keberadaannya di Swiss terjaga dengan sangat rapat. Tidak ada satu pun cel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status