LOGINMobil hitam mewah yang membawa Sean perlahan memasuki halaman kediaman utama keluarga Anderson. Pria itu menolak diantar sampai pintu depan, memilih melangkah sendiri menyusuri lorong-lorong rumah yang kini terasa teramat lengang dan dingin. Tempat ini adalah saksi bisu hari-hari terakhir Stella menetap di tengah keluarga Anderson sebelum tragedy pahit itu terjadi.Mata Sean yang tirus dan hitam mengedar ke sekeliling. Bau harum khas lavender, aroma kesukaan Stella, masih tertinggal tipis di udara, mengiris dadanya dengan rasa penyesalan yang amat pedih. Setiap sudut ruangan seolah memutar kembali bayangan Stella, bagaimana wanita itu tersenyum lembut meski menahan luka, bagaimana ia melayani Sean tanpa pernah mengeluh, dan bagaimana ia selalu menunduk sabar di hadapan keangkuhan keluarga Anderson.Langkah kaki Sean terhenti di depan pintu kamar utama yang dulunya mereka tempati bersama. Dengan tangan gemetar, ia memutar gagang pintu kayu tersebut.Kamar itu rapi, terlalu rapi hingga
"Ada pergerakan dari tim investigator asing di pusat, Sat. Kamu harus kembali ke markas Polda besok pagi."Suara bariton Iptu Bagas dari balik telepon satelit berdekut pelan, memecah keheningan pagi yang sejuk di teras rumah kayu Pedalaman Aldenia. Satria berdiri tegap mengamati hamparan kabut tipis yang menyelimuti aliran sungai di kejauhan, raut wajahnya seketika berubah serius dan penuh perhitungan."Berapa lama aku harus di sana, Gas?" tanya Satria dengan nada suara rendah namun tegas."Paling lama tiga sampai empat hari," sahut Bagas di seberang sana. "Tim swasta asal Swiss itu mulai mempertanyakan keabsahan dokumen otopsi dan laporan Laka Lantas dari Polda. Kamu harus berada di sana untuk memblokir akses data mereka secara langsung dari sistem intelijen pusat sebelum mereka melangkah lebih jauh."Satria menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. "Baik. Persiapkan berkasnya. Besok subuh aku berangkat dari dermaga Aldenia."Setelah mematikan sambungan telepon terenkripsi it
"Nenek ingin kalian membawa Sean keluar dari Jakarta minggu depan, apa pun caranya."Suara Nyonya Besar bergetar menahan gejolak emosi di ruang tengah kediaman utama keluarga Anderson. Matanya yang sembap menatap tegas ke arah Samuel dan Leonel yang berdiri tegap di hadapannya. Di atas meja jati yang megah, beberapa lembar dokumen rencana rehabilitasi medis serta laporan perkembangan mental Sean terhampar tak tersentuh."Tapi Nenek, kondisi psikologis Sean masih sangat labil," ujar Samuel seraya melangkah mendekat dengan raut wajah khawatir. "Obat penenang dari psikiater hanya menekan simtomnya secara sementara. Begitu pengaruhnya habis, dia kembali memanggil nama Stella dan mengamuk mencari petunjuk.""Itu sebabnya dia harus dipindahkan dari Anderson Hospital!" potong Nyonya Besar seraya menghentakkan ujung tongkat kayunya ke lantai marmer. "Kamar rumah sakit itu hanya mengurungnya dalam bayang-bayang trauma dan halusinasi. Suasana di sana makin membuat jiwanya membusuk! Bawa dia ke
Pagi berganti siang, tetapi kehangatan di pekarangan klinik Pedalaman Aldenia Barat itu seakan tak luntur terkikis sang surya. Kapten Irvan dan Iptu Nathan akhirnya pamit undur diri untuk kembali ke markas masing-masing setelah memastikan situasi keamanan di sekitar wilayah perbatasan sungai aman terkendali.Sebelum beranjak, Nathan sempat menepuk bahu Satria pelan seraya berbisik, "Jaga dia baik-baik, Sat. Senyum wanita itu mahal harganya, jangan sampai ada air mata lagi yang jatuh di tanah Aldenia ini."“Siap bapak Kapolsek!” Canda Satria, melepas keberangkatan dua perwira sahabatnya itu hingga bayangan tubuh tegap mereka menghilang di balik rimbunnya pepohonan jalan setapak.Begitu ua perwira itu menjauh, Satria mengalihkan pandangannya ke dalam klinik. Antrean warga desa yang berkunjung sejak pagi kini mulai terlihat. Stella terlihat sedang mengemas beberapa sisa perban, merapikan stetoskop, dan mengelap meja kayunya dengan kain bersih. Senyum tak pernah lepas dari wajah cantiknya
pagi itu, Stella sedikit terlambat bangun, tapi Satria sudah menyiapkan sarapan, sampai dirinya merasa terkejut dan tak enak hati."Mas, kok jadi kamu yang masak? Astaga maaf aku telat bangun...""Udah, nyantai aja lagi. Aku udah biasa dulu waktu di dinas jauh..." jawabnya santai sambil mengangkat nasi goreng ke atas meja. "Konon katanya ini nasi goreng terenak se angkatan. Coba deh sini..." "Oh, ya?" Stella mulai luwes dan terlihat jauh lebih segar."Iya. Ini tuh andalan banget dulu, sini deh..." ajaknya sambil duduk."Aku mandi dulu deh, Mas. Takutnya lagi santai-santai ada pasien lagi..."sahut Stella."Oke, pelan-pelan, ya, kamar mandi nya belum sempet ganti keramik, soalnya gak tekejar waktu nya kemarin...""Aman, Mas." Stella berjalan ke kamar mandi, sedangkan perwira polisi itu tampak membereskan rumah sampai suara langkah kaki dengan tawa yang sangat dia kenal mendekat. Iptu Satria melepaskan celemek dan langsung menyambut kedua tamu yang memang senagaja dia undang."Akhirnya
Tepat pukul sepuluh malam, dentang lonceng besi di balai desa bergema tiga kali, disusul suara mendengung halus dari gardu umum yang perlahan mati. Dalam hitungan detik, seluruh penerangan di sudut-sudut desa padam total. Kegelapan pekat yang dingin membungkus pemukiman kayu di kaki gunung tersebut, menyisakan kerlip bintang di langit malam dan cahaya remang rembulan yang menembus sela-sela pepohonan rindang.Di dalam rumah kayu, Stella yang sedang merapikan beberapa botol vitamin di ruang praktik mendadak menghentikan gerakannya. Ruangan yang tadinya terang oleh dua bohlam redup kini berubah gelap gulita. Hanya ada suara jangkrik yang bersahut-sahutan dan deru lembut aliran sungai dari kejauhan."Stella? Jangan panik, ini aku. Kamu harus membiasakan diri juga di situasi kaya gini sendirian nantinya..." Suara berat dan tenang milik Satria terdengar dari arah teras, disusul langkah kaki yang teratur mendekati pintu depan. Tak lama kemudian, berpendar cahaya kuning hangat dari lentera







