Share

Pasrah

Author: Nic Arhsy
last update publish date: 2026-09-17 20:12:29

Iring-iringan mobil sedan hitam berkaca gelap meluncur membelah padatnya lalu lintas pusat kota. Stella duduk tenang di kursi belakang, menyandarkan punggungnya pada jok kulit yang empuk seraya menatap ke luar jendela. Di sampingnya, Syahnaz memangku kotak bekal eksklusif buatan Fiona dengan sikap serba canggung.

"Nyonya Muda, apakah tidak apa-apa kalau Tuan Sean nantinya marah karena kita menggunakan namanya di hadapan Nyonya Besar?" bisik Syahnaz lirih, tak mampu menyembunyikan getaran cemas
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (13)
goodnovel comment avatar
Sri Yati
sean benaran punya wanita lain kah?
goodnovel comment avatar
Sri Yati
sebenarnya sean kemana sih?
goodnovel comment avatar
Tina Tinul
seandainya bukan selingkuh pun yang buat kesal kenapa ada masalah apa-apa tidak mau diskusi dengan Stella
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Rumah Sakit

    Langkah kaki Stella bergema dingin di sepanjang lorong marmer lantai eksekutif. Langkahnya tegas dan terukur, tidak menunjukkan sedikit pun keraguan pasca mendapati kenyataan pahit di kantor suaminya. Saat pintu lift khusus berdenting dan terbuka, Stella langsung melangkah masuk, disusul oleh Syahnaz yang sibuk menundukkan kepala seraya memeluk kotak bekal.Di dalam ruang lift yang berdinding cermin mengilat, Stella menatap bayangan dirinya sendiri. Tidak ada lagi raut wajah ratapan atau sudut mata yang membasah. Yang tersisa hanyalah tatapan sehitam jelaga, dingin dan penuh tekad yang mengeras. Kecewa yang berulang telah menempa jiwanya menjadi besi baja."Nyonya Muda..." panggil pengawal pribadi yang bertugas memimpin rombongan begitu mereka keluar dari pintu lift di area lobby utama. Pria berbadan tegap itu membungkuk pelan dengan raut wajah penuh tanya. "Apakah kita langsung kembali ke mansion?"Stella menghentikan langkahnya tepat di tengah lobby. Ia memutar tubuhnya perlahan, me

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Pasrah

    Iring-iringan mobil sedan hitam berkaca gelap meluncur membelah padatnya lalu lintas pusat kota. Stella duduk tenang di kursi belakang, menyandarkan punggungnya pada jok kulit yang empuk seraya menatap ke luar jendela. Di sampingnya, Syahnaz memangku kotak bekal eksklusif buatan Fiona dengan sikap serba canggung."Nyonya Muda, apakah tidak apa-apa kalau Tuan Sean nantinya marah karena kita menggunakan namanya di hadapan Nyonya Besar?" bisik Syahnaz lirih, tak mampu menyembunyikan getaran cemas di suaranya.Stella menyunggingkan senyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya dari deretan gedung bertingkat. "Biarkan saja. Kalaupun Sean murka, dia tidak akan melimpahkannya padamu atau para pengawal. Dia hanya akan menganggap aku sedang bertindak kekanak-kanakan karena terbakar cemburu."Mobil akhirnya berbelok memasuki pelataran megah Anderson Group, sebuah pencakar langit berlantai lima puluh yang menjadi simbol kekuasaan mutlak keluarga Anderson. Begitu kendaraan berhenti tepat di depan l

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Pergi

    Pengawal berbadan paling tegap di antara mereka merogoh saku jas mewahnya, memegang ponsel dinas dan segera mendial nomor pribadi Presdir Anderson Group. Keheningan yang menekan mendadak menyelimuti koridor lantai tiga. Hanya suara nada sambung yang monoton berbunyi nyaring dari speaker ponsel yang ditempelkan di telinga pengawal tersebut.Satu detik... lima detik... sepuluh detik... Panggilan itu terus bergulir tanpa ada tanda-tanda akan diangkat. Pengawal itu mencoba menekan nomornya sekali lagi dengan dahi berkerut cemas, namun hasilnya tetap sama, nihil.Mata Stella memancarkan kilatan penuh kemenangan yang tersembunyi rapat di balik kacamata hitamnya. Dugaan alibinya tepat sasaran. Sean yang saat ini sedang tenggelam dalam urusan rahasianya bersama wanita lain tidak akan pernah menyentuh ponselnya di jam-jam rawan seperti ini."Bagaimana?" desak Stella dengan suara bernada jengkel yang dibuat-buat, sambil melirik jam tangan berlapis berlian di pergelangan tangannya. "Sudah pukul

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Izin

    Ide itu melintas begitu jernih di kepala Stella. Keretakan hubungan yang sengaja diciptakan Sean melalui kecurigaan ini adalah celah emas yang selama ini ia tunggu. Jika Sean berpikir bahwa Stella sedang dikuasai oleh rasa cemburu dan berusaha mencari keberadaannya, maka pria itu tidak akan pernah menduga bahwa di balik tindakan impulsifnya, Stella sedang menyusun langkah catur terakhir untuk melarikan diri.Stella memutar tubuhnya perlahan dari meja rias ketika mendengar pintu kamar diketuk dua kali. Syahnaz melangkah masuk membawa nampan berisi sarapan hangat dan segelas susu hamil, disusul oleh Fiona yang membawa perlengkapan pemeriksaan rutinnya."Nyonya Stella, Tuan Sean meminta kami memastikan Anda sarapan dan minum vitamin tepat waktu," ujar Syahnaz dengan suara lembut seraya meletakkan nampan di atas meja kecil dekat sofa.Stella menatap nampan itu sekilas, lalu menghabiskannya tanpa protes sedikit pun. Selesai meminum vitaminnya tepat jam sepuluh pagi, Stella menatap Fiona ya

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Misterius

    "Awas saja kalian kalau sampai terjadi sesuatu dengan istri dan anakku! Nyawa kalian sebagai gantinya!!” Teriak Sean tajam, menyela penjelasannya dengan bentakan yang tak sabar. Fiona tersentak pelan, menggigit bibirnya erat-erat. Rasa dengki merayapi celah hatinya melihat betapa paniknya pria setegar Sean hanya karena rintihan lemas Stella. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Fiona merapikan kembali sisa peralatan medisnya ke dalam tas. "Saya sudah menyuntikkan obat penawar mual dan penenang dosis aman, Tuan. Nyonya Stella butuh istirahat total dan ruangan yang tenang malam ini," ujar Fiona seraya berusaha menguasai wibawanya kembali. "Saya dan Syahnaz akan melapor ke Nyonya Besar jika ada perkembangan lain." "Tidak perlu melapor pada siapa pun!" tegur Sean kaku, matanya menatap Fiona dengan kilatan bahaya. "Urusan di lantai tiga adalah tanggung jawabku. Kalian berdua bekerja untuk saya, jadi jangan bertindak berlebihan apalagi yang bukan urusan kalian. Kalian cuma pekerja di ruma

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Muntah

    Pria itu berdiri mematung di samping ranjang selama beberapa detik. Napasnya masih terdengar memburu, beradu dengan keheningan kamar utama yang kian menekan. Dengan gerakan canggung, Sean meraih ponselnya kembali di atas nakas, menyimpannya sembarangan, lalu melangkah menuju meja kecil di sudut ruangan. Ia menuangkan air putih dari teko kaca ke dalam gelas porselen, meminumnya hingga kandas dalam satu tegukan panjang demi menetralkan emosiSetelah menaruh gelasnya kembali, Sean melangkah pelan menuju pintu kaca yang menghubungkan kamar dengan balkon pribadi di lantai tiga. Ia menggeser pintu itu secara perlahan, keluar menyongsong angin malam yang berembus dingin.Di bawah pendar temaram lampu balkon, Sean menyalakan sebatang rokok. Pria tegap itu berdiri bersandar pada pagar pembatas, menyesap rokoknya dalam-dalam seraya menatap lurus ke arah pemandangan malam kota di kejauhan. Gesturnya begitu kaku, raut wajahnya diliputi beban pikiran yang amat berat. Dari sela-sela kepulan asap p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status