เข้าสู่ระบบ"Video apa yang sudah kamu siapkan, Chelsea?" bisik Jessica penasaran, mencondongkan tubuhnya melintasi Nyonya Anderson di tengah kegelapan ballroom. "Video lama yang bakal bikin reputasi Stella hancur total," jawab Chelsea berbisik penuh kepuasan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh racun. "Dulu dia pernah dikerjain sama cowok-cowok dan hampir dilecehkan di ruang balet. Aku nyewa detektif buat nyari rekaman itu. Mampus kau, Stella! Malam ini seluruh alumni bakal liat betapa murahannya kamu!" Clarissa yang mendengar bisikan itu seketika merinding hebat. Ia menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan yang gelap. Di dalam hatinya, Clarissa tahu betul bahwa Stella sudah keluar dari gedung ini, meninggalkan mereka semua bersama kebenaran yang sebentar lagi meledak. Layar proyektor raksasa berukuran belasan meter di atas panggung utama mulai memancarkan cahaya putih terang. Suara musik nostalgia mengalun lembut, menampilkan foto-foto lama alumni Anderson School. Namun, han
"Biar aku saja yang duduk di situ, Sean. Daripada dikosongkan dan dilihat orang lain tidak enak," seloroh Chelsea lembut seraya menyunggingkan senyum penuh harap. Ia sudah hendak menarik kursi di samping kanan Sean, siap mengambil alih posisi sang Nyonya Utama."Jangan sentuh kursi itu, Chelsea! Ini milik Stella istriku." tegur Sean tegas, suaranya dipenuhi penekanan dingin yang menembus keheningan meja VIP.Chelsea tersentak kaku di tempatnya berdiri, tangannya mengambang di udara. Pengusiran halus namun mematikan di depan mata ibu Sean dan sahabat-sahabatnya membuat rona merah menahan malu berkumpul di wajah Chelsea.Nyonya Anderson menghembuskan napas kasar dengan raut wajah amat jengkel. "Sean! Kamu ini kenapa kasar sekali pada Chelsea? Dia hanya berniat baik! Lagi pula, mana isterimu itu? Sudah mau setengah jam dia di toilet! Apa dia tidak tahu diri membiarkan kamu menunggu seperti ini di meja utama?""Stella sedang merapikan riasannya, Ma. Tolong jangan mulai memperkeruh suasana
Sepeninggal Stella yang pamit ke kamar mandi, Sean berdiri tegak di dekat area utama ballroom, masih memandangi ujung koridor dengan tatapan hangat. Hatinya diliputi rasa bangga yang luar biasa. Kenyataan bahwa Stella adalah alumni dari sekolah yang sama dengannya membuat perasaan Sean kian membumbung tinggi.Di tengah lamunan indahnya, dua sosok pria berjas amat rapi melangkah mendekat dengan tawa renyah. Mereka adalah Samuel dan Leonel, dua sahabat karib Sean sejak zaman sekolah hingga saat ini yang kerap menjadi mitra bisnis utamanya."Woy, Kapten!" sapa Leonel heboh seraya menepuk bahu Sean cukup keras. "Gaya banget lu dari tadi berdiri di kelilingi investor asing mulu. Mana Nyonya Muda? Tadi heboh banget di depan pada ngebahas ratu sekolah kita dulu yang ternyata bini lu?"Sean terkekeh penuh rasa bangga, merapikan sedikit kerah jas hitamnya. "Lagi ke kamar mandi sebentar. Kenapa? Kalian kaget?"“Sama! Aku juga kaget.” Jawab Sean dengan wajah memerah bahagia.Samuel yang berdiri
Langkah kaki Stella yang anggun berayun pasti membelah kerumunan tamu. Begitu tubuhnya melewati tirai kain merah tebal di dekat lorong belakang, area yang sepenuhnya luput dari jangkauan pandangan Sean dan para pengawal pribadinya, sikap tenang Stella seketika berganti menjadi gerakan cepat dan penuh determinasi.Ia tidak melangkah menuju toilet wanita. Jemari lentiknya meremas kuat tas kecil mewahnya, menyusuri lorong sepi berlantai marmer dingin menuju pintu keluar darurat berlabel merah. Di dalam tas kecil itu tersimpan paspor baru, dokumen identitas, dan akses rekening rahasia yang telah ia persiapkan matang-matang. Semua yang ia butuhkan untuk memulai hidup baru bersama janin di dalam kandungannya, jauh dari cengkeraman keluarga Anderson.Namun, tepat saat jemari lentiknya menyentuh gagang besi pintu darurat itu, sebuah suara perempuan yang sangat familier mendadak bergema memanggil namanya dari arah belakang."Stella!"Langkah Stella terhenti seketika. Jantungnya berdegup kencan
Suasana di sekitar mereka mendadak diliputi keheningan canggung usai klaim kepemilikan mutlak yang diucapkan Sean. Ethan dan Zavier saling melempar pandang, lalu terkekeh pelan untuk mencairkan ketegangan yang mendadak terasa di antara mereka."Wah, luar biasa. Selamat ya, Sean, Stella," ujar Ethan seraya menganggukkan kepalanya penuh rasa hormat. "Kami benar-benar tidak menyangka kalian berdua yang akhirnya bersatu. Pasangan yang sangat serasi.""Benar," puji Zavier menimpali dengan tulus. "Ratu sekolah kita akhirnya jatuh ke tangan sang kapten basket. Takdir memang tidak ada yang tahu."Stella hanya mengulas senyum tipis yang anggun, jemari lentiknya menepuk pelan lengan Sean yang masih merangkul pinggangnya dengan sangat erat. "Terima kasih, Ethan, Zavier. Senang sekali bisa bertemu kalian lagi setelah sekian lama.""Iya, lama banget gak dapet kabar kamu, Ste. Tiba-tiba udah sold aja."celetuk Zavier cepat lalu di senggol oleh Ethan karena Sean seketika merengut."Kalau begitu, kami
Sedan mewah dengan kaca gelap itu perlahan berhenti tepat di bawah lobi megah drop-off zone Grand Ballroom Hotel Anderson. Lampu kristal raksasa memancarkan kilau keemasan, memantul sempurna pada deretan mobil mewah yang sedang antre di sepanjang karpet merah depan lobi. Keriuhan suara jepretan kamera para awak media dan gumaman kagum dari tamu VIP memenuhi ruangan malam ini.Sopir pribadi Sean bergerak cepat membukakan pintu. Sean melangkahkan kaki jenjangnya keluar terlebih dahulu, merapikan jas tuksedo hitamnya yang tampak sangat sempurna menempel di tubuh tegapnya. Pria itu menyunggingkan senyum ketampanan yang begitu dominan, lalu berbalik dan mengulurkan tangannya untuk menyambut sang istri.Stella menyambut uluran tangan kokoh itu, melangkah keluar dengan gerakan yang sangat anggun. Gaun malam hijau zamrud berpotongan A-line yang membalut tubuh indahnya bergerak melambai halus. Lengan panjang transparan bermotif sulur emas yang melekat di tangannya berkilau diterpa cahaya lampu







