Share

Tegang

Author: Nic Arhsy
last update publish date: 2026-09-15 21:00:14

Mata Fiona membelalak sempurna, membeku di tempatnya berdiri bagai patung granit. Baki perak berisi peralatan medis dan cangkir penawar mual yang dipegangnya bergetar hebat. Pemandangan di atas ranjang mewah itu menghantam ulu hatinya dengan telak. Sean, pria yang amat ia damba, tampak berpasrah sepenuhnya dalam rengkuhan intim bersama Stella, tanpa busana atas, hanya berbalut selembar handuk, dengan jemari yang tengah sibuk mengurai pakaian istrinya.

Tak ada jejak perpecahan. Tak ada sisa pert
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (23)
goodnovel comment avatar
E❤️‍🩹A
emang aslinya kamu hanya akan luluh jika sama Stella saja Sean ,kmu tuh sdah bucin akut padanya dan hanya Stella yg bsa jdi pawang mu
goodnovel comment avatar
Sri Yati
fiona kena mental tuh dibentak sean .. salah fiona juga masuk kamar tanpa ketuk pintu
goodnovel comment avatar
Sri Yati
bahasamu bikin ngakak sean... silaturahmi ke tempat dedek ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Teslla Sky

    Mata bulat Liam Alexander mengerjap beberapa kali menatap pria berambut gondrong dan berbrewok tebal di hadapannya. Tawaran tak terduga itu jelas membuat seorang bocah berusia tiga tahun kebingungan, namun rasa percaya diri yang mengalir dalam darahnya membuat Liam tidak merasa gentar sedikit pun."Dijual, Om?" tanya Liam dengan nada polos, kepalanya miring ke samping dengan gestur menggemaskan. "Tapi ini kan hasil karya Liam buat lomba tadi. Walaupun satunya sudah Liam setor ke Bu Guru, yang ini mau Liam bawa pulang buat ditunjukin ke Mama di rumah."Pria seniman jalanan itu tertawa renyah, suara baritonnya terdengar begitu hangat dan ramah di telinga Liam. Ia semakin terpesona dengan cara bicara bocah mungil di depannya yang terdengar begitu cerdas, jauh melebihi anak-anak seusianya."Iya, dijual ke Om. Om sangat suka cara kamu memadukan warna abu-abu dan hijau di kertas ini. Kelihatan hidup sekali, seperti gajah sungguhan yang punya semangat," puji pria itu tulus sambil menunjuk s

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Siapa?

    "Ste, dengar dulu. Jangan langsung emosi begitu," suara Satria terdengar dari ujung sambungan telepon, bernada lembut namun tegas, berusaha meredam kepanikan yang mendadak meledak di dada Stella.Stella masih terisak pelan, sebelah tangannya meremas erat ujung bajunya sendiri sementara air matanya terus menetes membasahi pipi. Bayangan wajah dingin Sean Anderson yang merampas segala hal dalam hidupnya kembali berputar jelas di kepala.Bagi Stella, Liam adalah satu-satunya nyawa yang ia miliki. Menyerahkan atau mempertemukan anak itu dengan keluarga Anderson sama saja dengan menyerahkan belahan jiwanya ke dalam kandang singa yang siap mencabik-cabik."Bukan aku mau ikut campur terlalu jauh urusan rumah tanggamu, Ste," lanjut Satria dengan nada sesal. "Tapi kamu juga tahu sendiri, anak sekecil Liam tidak akan bisa terus-menerus diberi jawaban bohong. Semakin besar dia, pertanyaannya akan semakin sulit kamu bendung. Kalau suatu saat dia mencari tahu sendiri dengan caranya, itu justru aka

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Siuman

    Tiba-tiba, suara getaran dari ponsel jadul miliknya memecah keheningan sore itu. Layar kecil berwarna jingga pudar itu menyala, menampilkan nama yang sangat ia kenal.Stella langsung meraih benda tersebut dengan jemari yang mendadak dingin. Tanpa menunggu lama, ia langsung menggeser tombol hijau dan mendekatkannya ke telinga."Halo, Mas Satria..." sapa Stella dengan suara bergetar tertahan.Di seberang sana, terdengar hela napas berat sebelum suara bariton Satria menyapa balik dengan nada yang terburu-buru namun sarat akan kehati-hatian. "Ste, kamu tenang dulu ya dengar ini. Aku telepon karena ada kabar penting tentang keluargamu di Jakarta."Jantung Stella langsung berdegup kencang tak karuan. "Kabar apa, Mas? Jangan bilang kalau...""Bukan, bukan soal Sean," potong Satria cepat, seolah mengerti ketakutan terbesar wanita itu. "Ini soal papamu. Tadi siang, dari orang kepercayaan di rumah sakit, aku dapat kabar kalau papamu sempat siuman selama kurang lebih lima menit sebelum akhirnya

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Smartphone

    "Mama, ini ada surat dari Bu Guru. Katanya Mama harus tandatangani kalau pengen Liam lihat gajah dan binatang lain," ucap Liam dengan mata berbinar-binar penuh harap, sambil menyodorkan selembar kertas lipat kepada Stella yang baru saja selesai membereskan piring bekas makan siang mereka.Stella tersenyum kecil menyambut uluran tangan putranya, lalu membuka lipatan kertas tersebut. Namun, sebelum ia sempat membaca isinya lebih jauh, Liam kembali bersuara dengan nada polos yang langsung membuat gerakan tangan Stella terhenti seketika."Terus kata Bu Guru, semua orang tua teman-teman di kelas sudah punya smartphone, kenapa Mama tidak punya WA? Apa karena Mama tidak punya uang?"Pertanyaan polos nan telak itu meluncur begitu saja dari bibir mungil seorang anak berusia tiga tahun.Seketika itu juga, Stella menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa tercekat, meninggalkan rasa kelat yang teramat sangat di dadanya.Bukan masalah uang tabungan dari hasil kerja kerasnya selama

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Janji Kecil

    Suasana ruang makan mendadak hening seketika. Pertanyaan polos yang meluncur dari bibir mungil Liam bagaikan belati tajam yang langsung menghujam jantung Stella tanpa ampun.Ia mematung dengan sendok nasi yang masih menggantung di udara, sementara debaran jantungnya mendadak bergemuruh hebat, menciptakan rasa sesak yang luar biasa di dadanya.Selama ini, Stella selalu berusaha setengah mati untuk membangun dunia yang aman, hangat, dan tampak sempurna bagi putranya. Ia menutupi segala ketakutan, menutup rapat-rapat luka masa lalu, dan menjadi sosok ibu sekaligus pelindung bagi Liam.Namun, sekuat apa pun ia berusaha menyembunyikan kenyataan pahit bahwa bocah itu tumbuh tanpa figur seorang ayah, waktu pembalasan dari kebohongan-kebohongan kecil itu akhirnya datang juga. Anak sekecil Liam mulai peka dengan lingkungan sekitar, melihat teman-teman sebayanya diantar oleh kedua orang tua mereka, lalu membandingkannya dengan kehidupan mereka berdua di rumah kecil ini."Mama... kok malah diam

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Kangen Papa

    "Mbak, ada kiriman amplop cokelat tebal buat Mbak Stella dari kurir luar kota tadi pagi. Katanya titipan khusus untuk Mbak Stella," suara Mbak Lastri menyapa dari ambang pintu dapur, membawa sebuah amplop cokelat besar dengan ekspresi wajah yang penasaran. Stella yang baru saja selesai membereskan peralatan masak langsung menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup kencang seketika, jemarinya yang masih sedikit basah mendadak terasa dingin. Di tempat terpencil ini, tak pernah ada orang yang mengiriminya surat resmi, apalagi menggunakan jasa ekspedisi luar kota. "Dari siapa, Mbak? Ada nama pengirimnya di belakang?" tanya Stella dengan suara tercekat, mencoba menutupi kegugupannya sambil menerima amplop tersebut. Mbak Lastri menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Nggak ada nama terangnya, Mbak, cuma ada catatan kecil di luarnya. Tapi sepertinya aman kok, nggak kelihatan mencurigakan." “Iya kan zaman sekarang agak ngeri-ngeri sedap kalau nerima paket…” Stella terkekeh sambil menar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status