Share

Welcome Jakarta

Author: Nic Arhsy
last update publish date: 2026-11-01 17:53:07

"Jangan pernah mencoba menyentuhku sembarangan, Sean," gerutu Stella sambil buru-buru menarik tangannya dari genggaman hangat sang suami, meski rona merah di pipinya gagal ia sembunyikan di balik temaram cahaya senja.

Sean hanya tertawa kecil, tidak merasa tersinggung sedikit pun dengan penolakan setengah hati itu. Pria tersebut justru memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menikmati ekspresi salah tingkah wanita yang bertahun-tahun ia sia-baikan. "Baiklah, Nyonya Sean. Aku tidak akan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
roso wulan
Liam bahagia melihat ibu nya datang
goodnovel comment avatar
roso wulan
semoga Stella nyaman dan tak kembali pergi ke kota pesisir
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Hangat

    Bisikan lirih Stella seolah hanyut bersama embusan pendingin udara di ruangan itu, tetapi tidak bagi Sean. Pria itu menajamkan pendengarannya, lalu perlahan menoleh ke arah sofa tempat istrinya duduk bersandar. Ada guratan penyesalan yang mendalam di matanya sewaktu menyaksikan Stella menyendiri dengan pandangan menembus kaca luar.Sean menyerahkan miniatur dinosaurus yang dipegangnya kepada Liam. "Liam main sebentar di sini sama Mba Rini dan Mba Era, ya, Papa mau temani Mama dulu," bisiknya lembut yang disambut anggukan antusias dari sang putra yang sibuk menata robot barunya.“Oke, Papa. Liam main sendiri di sini… temani Mama dan bujuk Mama biar Mama mau baikan sama Papa lagi…” jawab Liam bijak.“Anak pintar…” Sean merapikan rambut Liam. “Mba, tolong jaga Liam dan pastikan dia tidak bakal cedera,” perintah Sean menatap ke arah dua pengasuh anaknya dengan sorot mata tajam. “Kalau sampai anak saya terluka karena kelalaian kalian, kalian yang akan menanggung akibatnya, paham?!” tegas S

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Haru

    Sontak pipi Stella merona merah padam mendengar celetukan polos dari putranya sendiri. Ia buru-buru menarik tangannya dari genggaman Sean, lalu mendaratkan tatapan tajam bercampur salah tingkah ke arah sang suami."Jangan ngawur, Liam. Mana ada yang mau ciuman di depan anak kecil," protes Stella dengan nada dingin yang dibuat-buat, meski rona malu di wajahnya tidak bisa disembunyikan.Sean tergelak renyah, menikmati momen menggemaskan itu dengan binar mata yang memancarkan cinta mendalam. Ia tidak ambil pusing saat Stella kembali menjaga jarak, karena bagi Sean, melihat istrinya tersipu dan merespons seperti itu saja sudah merupakan kemajuan besar setelah sekian tahun terpisah."Iya, Sayang. Kalau orang dewasa ciumannya itu tidak boleh terlihat di ruang terbuka, biasanya sih malam hari atau di dalam kamar. Iya kan, Sayang?" goda Sean penuh kehangatan, melirik manja ke arah istrinya yang langsung membelalakkan mata."Jangan ngawur, Sean. Liam masih kecil, jangan bahas yang aneh-aneh!"

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Rumah Baru

    "Stella terlihat kecapekan. Sean, bawalah Stella istirahat dulu ke rumah, sekalian dia lihat rumah baru kalian. Dia butuh istirahat karena terlalu kerja keras sendirian selama ini," tegas sang ayah membuat Sean mengangguk tenang."Baik, Pa. Liam juga butuh istirahat dan tempat bermain yang steril, tidak seperti rumah sakit. Lagian Nenek kan sudah sembuh, iya kan, Nek?" ledek Sean dengan menggoda sang nenek."Pergilah, Stella, istirahat di rumahmu bawa Liam. Biar dia tahu bagaimana suaminya," tegas sang nenek."Tapi, Nek. Kedatangan Stella ke Jakarta kan untuk jagain Nenek..." sanggah Stella masih sedikit enggan."Nenek sudah sehat, Stella. Sejak cucu buyut nenek Liam datang menjenguk Nenek, ada sebuah keajaiban yang datang. Tiba-tiba Nenek menjadi kuat lagi, dan tiba-tiba Nenek menjadi sehat. Sakit-sakit badan Nenek menghilang entah ke mana. Apalagi setelah melihatmu mau datang jenguk nenek tua ini. Aku sudah sembuh..." jawab sang nenek girang yang terlihat dari raut wajahnya."Nenek.

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Bersatu

    "Papa, Mama, dan Nenek... ayo dong, pelukan lagi sama Mama Stella!" seru Liam tiba-tiba dengan suara anak kecilnya yang nyaring, memecah kesunyian di antara orang dewasa yang masih terbuai dalam keheningan emosional.Bocah tiga tahun itu merangkak turun dari sofa tempatnya duduk tadi, lalu menghampiri Stella dan Sean yang masih berlutut di hadapannya. Dengan kedua tangan mungilnya, Liam menarik ujung baju Stella dan baju Sean secara bersamaan, memaksa kedua orang tuanya itu untuk merapat semakin dekat."Liam mau kita bertiga bobok bareng di rumah baru, terus main sama Nenek, Kakek, Tante Jessica, sama Tante Clarissa juga," lanjut Liam dengan mata berbinar penuh harap, menatap bergantian ke arah seluruh anggota keluarga besar Anderson yang berdiri mengelilingi mereka.Reaksi polos dan tulus dari sang buah hati seketika membuat ketegangan di dalam ruangan president suite mencair sepenuhnya. Nyonya Besar Anderson yang berbaring di pembaringan tersenyum paling lebar, tertawa kecil sembari

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Astrid Yang?

    "Ja-jadi... selama ini hidupku, tempat tinggalku, bahkan pekerjaan pertamaku di Swiss, semuanya adalah hasil rekayasa Papa?" ucapan Stella terhenti dengan suara bergetar hebat, matanya menatap Papa Edward penuh keterkejutan yang membuncah.Papa Edward mengangguk tenang tanpa sedikit pun rasa bersalah, justru menyunggingkan senyuman tipis yang penuh wibawa. "Betul, Stella. Papa tidak ingin menantu kesayangan Papa hidup dalam kekurangan di negeri orang. Semua fasilitas itu adalah hakmu sebagai bagian dari keluarga Anderson, meskipun saat itu hubungan kalian sedang berada di titik nadir."Sean yang berdiri di samping Stella tampak sama terkejutnya. Pria itu mengepalkan kedua tangannya erat-erat, menatap sang ayah dengan sorot mata menuntut penjelasan lebih jauh. "Kenapa Papa tidak pernah memberitahuku? Kenapa Papa membiarkanku tersiksa mencari keberadaan Stella selama tiga tahun penuh tanpa petunjuk apa pun?""Karena kalau Papa memberitahumu, kau tidak akan pernah belajar arti kehilangan

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Skenario Papa?

    "Bagaimana kabar Nenek sekarang? Apakah sudah mendingan, Nek?" tanya Stella dengan nada bicara yang masih terdengar sedikit kaku dan canggung, mengingat gejolak emosi luar biasa yang baru saja ia lalui beberapa saat lalu.Mendengar pertanyaan penuh perhatian dari cucu mantunya itu, Nyonya Besar Anderson langsung tersenyum lebar hingga garis-garis keriput di wajah sepuhnya tampak semakin jelas. Wanita sepuh itu merentangkan kedua tangannya dengan binar kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan."Nenek jauh lebih baik sekarang, Sayang! Terutama setelah melihatmu berdiri di sini bersama Liam," jawab Nyonya Besar dengan suara parau namun hangat. "Sini, mendekatlah pada Nenek. Jangan bersikap kaku begitu, sekarang kita semua sudah berkumpul sebagai keluarga seutuhnya. Jangan ingat lagi tentang masa lalu, semua tidak akan bisa ada yang di ubah. Yang terpenting semua orang sudah menyadari kesalahannya masing-masing dan pasti akan mendapat hukuman yang setimpal atas kejahatannya.” Tegas sang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status