หน้าหลัก / Romansa / Biarkan Aku Membantumu Nyonya / BAB 4: Masa Lalu yang Kembali Menghantui

แชร์

BAB 4: Masa Lalu yang Kembali Menghantui

ผู้เขียน: Benduls
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-22 12:12:39

Keesokan harinya, kampus pascasarjana Universitas Maju tampak berkabut. 

Udara segar yang ada sedikit mendinginkan kepala Dava yang terasa mendidih setelah rentetan kejadian gila beberapa hari terakhir. 

Ia berdiri di depan gedung fakultas dengan ransel yang terasa lebih berat, bukan karena buku-buku tebal di dalamnya, melainkan karena rahasia yang ia pikul.

​Dava menarik napas dalam. Tadi ia baru menjalankan kelas pertama.

Hari ini adalah hari pertamanya kuliah S2. Gelar yang ia impikan sejak kecil, tiket yang seharusnya ia dapatkan dengan keringat kejujuran, kini ia beli dengan harga dirinya sendiri.

​"Dava? Dava Atmajaya?"

​Suara feminin yang lembut itu membuat Dava tersentak. Ia menoleh dan seketika itu juga seluruh tubuhnya membeku. Berdiri beberapa meter darinya, seorang gadis dengan blus cokelat muda dan rambut dikuncir kuda menatapnya dengan mata yang berbinar tak percaya.

​"Sita?" suara Dava tercekat.

​Sita adalah masa lalunya. Gadis yang pernah mengisi hari-harinya di masa SMA, cinta monyet yang hampir menjadi serius sebelum Dava memutuskan untuk menghilang karena rasa rendah diri akibat kemiskinan keluarganya. 

Sita kini tampak jauh lebih dewasa, cantik dengan cara yang sederhana dan tulus—sangat kontras dengan kecantikan Aurelia yang intimidatif dan penuh gairah.

​"Ya ampun, benar kamu!" Sita mendekat dengan langkah riang. "Aku dengar kamu lulus dengan IPK sempurna di tingkat sarjana, tapi setelah itu kamu hilang ditelan bumi. Kamu lanjut S2 di sini juga? Ambil jurusan apa?"

​Dava berusaha memaksakan senyum, meski jantungnya berdegup kencang karena rasa takut. Takut jika Sita tahu apa yang ia lakukan sekarang untuk membiayai kuliah ini. "Manajemen Bisnis, Sit. Kamu sendiri?"

​"Ekonomi Syariah. Wah, gedung kita bersebelahan! Kita harus sering-sering makan siang bareng, Dav. Ibuku masih sering menanyakanmu, lho," ujar Sita hangat.

​Namun, di tengah percakapan itu, sebuah mobil Mercedes-Benz hitam mengilap berhenti tepat di depan mereka. Pintu belakang terbuka, dan seorang pria bersetelan safari keluar—itu adalah salah satu ajudan kepercayaan Reinhart.

​"Saudara Dava," ucap ajudan itu dengan suara kaku dan keras, menarik perhatian mahasiswa lain. "Nyonya Aurelia sedang menunggu di butik. Beliau ingin Anda segera menjemputnya karena jadwal pertemuannya dimajukan."

​Dava merasakan wajahnya memanas. Sita menatap mobil mewah itu, lalu menatap Dava dengan dahi berkerut. "Dava... itu siapa? Kamu sudah punya supir pribadi?"

​"Bukan, Sit. Itu... itu kerjaan sampinganku. Aku jadi asisten pribadi di perusahaan besar," jawab Dava gugup.

​"Asisten pribadi yang dijemput dengan mobil mewah begitu?" Sita bertanya dengan nada curiga yang kental. "Dav, kamu baik-baik saja, kan? Kamu tidak terlibat hal yang aneh-aneh?"

​"Aku baik-baik saja, Sit. Aku harus pergi sekarang. Nanti kita sambung lagi," Dava segera masuk ke dalam mobil, menghindari tatapan menyelidik Sita yang terasa menodong.

​Di dalam mobil, Dava melepaskan dasinya dengan kasar. Ia merasa sesak. Baru saja ia merasakan sedikit udara kehidupan normal bersama seorang teman, namun dunia kelam Reinhart kembali menariknya masuk.

​Sesampainya di butik, Aurelia sudah menunggunya di VIP Lounge. Ia sedang mencoba sebuah gaun malam transparan berwarna perak yang sangat minim. Saat Dava masuk, Aurelia sedang berdiri di depan cermin besar, membiarkan pelayan butik menyesuaikan bagian pinggulnya.

​"Lama sekali, Dava," ucap Aurelia dingin, tapi matanya yang terpantul di cermin menatap Dava dengan nakal. "Kuliahmu lebih penting daripada aku?"

​"Maaf, Nyonya," jawab Dava pendek. 

Aurelia pun memberi kode pada para pelayan untuk keluar ruangan.

​Begitu pintu tertutup, Aurelia berbalik. Gaun itu begitu tipis hingga Dava bisa melihat bayangan lekuk tubuhnya yang menggoda. Aurelia berjalan mendekati Dava, jemarinya membelai dada Dava yang terbungkus kemeja kampus.

​"Tadi itu siapa? Ada gadis yang bicara denganmu di kampus?" tanya Aurelia. Suaranya mengandung nada cemburu yang tipis. 

Pasti ajudan yang menjemputnya tadi memberitahu Aurelia, batin Dava.

​"Hanya teman lama," jawab Dava sambil mencoba memalingkan wajah.

​Aurelia tertawa renyah, tawa yang terdengar mengejek. Ia mencengkeram dagu Dava, memaksa pemuda itu menatap matanya. 

​Aurelia lalu menekan tubuhnya ke arah Dava, membuat Dava bisa merasakan setiap inci kehangatan tubuhnya. 

"Ingat, Dava. Dalam kontrak itu, tidak boleh ada wanita lain. Kau adalah milikku selama sembilan bulan ke depan, atau sampai benihmu tumbuh di sini," ia mengarahkan tangan Dava ke perutnya yang rata dan halus.

​Dava merasa muak sekaligus terangsang. Dualitas perasaan ini menyiksanya. "Kenapa Anda melakukan ini, Nyonya? Nyonya punya segalanya. Kenapa harus menghancurkan hidup orang lain juga?"

​Wajah Aurelia mendadak berubah. Keangkuhannya runtuh, digantikan oleh kesedihan yang mendalam. "Segalanya? Kau pikir rumah besar yang dingin itu adalah segalanya? Reinhart memperlakukanku seperti pajangan. Dia tidak bisa mencintaiku, Dava. Dia bahkan tidak bisa menyentuhku tanpa rasa benci pada dirinya sendiri karena kekurangannya."

​Aurelia menyandarkan kepalanya di bahu Dava. "Kau adalah satu-satunya hal yang aku miliki sekarang, meski aku harus membelimu dari suamiku sendiri."

​Dava terdiam. Ia baru menyadari bahwa di balik kemewahan dan keseksian yang dipamerkan Aurelia, wanita ini adalah jiwa yang hancur. Ia ingin membencinya, tapi ia justru merasa kasihan. 

“Sudahlah, Dava. Kita pulang.”

Aurelia berkaca sekali lagi dengan gaunnya, sebelum pergi meninggalkan Dava sendiri. Seolah wanita itu tidak baru saja mencurahkan hatinya.

***

​Malam itu, Reinhart berangkat ke Singapura. Mansion besar itu langsung terasa sepi, namun ketegangan justru meningkat. 

Dava berada di kamarnya, mencoba fokus pada tugas kuliahnya, ketika pintu penghubung itu terbuka tanpa ketukan.

​Aurelia masuk. Kali ini, ia tidak memakai baju tidur sutra. Ia hanya mengenakan kemeja putih milik Reinhart yang kebesaran, yang hanya menutupi hingga pangkal pahanya. Kancing atasnya terbuka, memperlihatkan kulit lehernya yang jenjang.

​Di tangannya, ia membawa sebotol wine mahal.

​"Malam ini, lupakan kontrak itu, Dava," bisik Aurelia sambil menuangkan minuman ke dua gelas. "Aku sudah mematikan semua sensor dan kamera di sayap bangunan ini. Pelayan sudah aku pulangkan ke paviliun."

​Ia memberikan satu gelas pada Dava. Dava menerimanya dengan tangan gemetar.

​"Kenapa Anda mematikan kameranya? Bukankah Reinhart ingin bukti?" tanya Dava.

​Aurelia tersenyum misterius. Ia menyesap wine-nya, menyisakan noda merah di bibirnya yang menggoda. "Biarkan dia melihat rekaman kosong. Aku ingin dia tahu bahwa ada momen-momen yang tidak bisa ia beli dengan uangnya."

​Aurelia merangkak ke atas tempat tidur Dava, gerakannya seperti kucing hutan yang sedang mengincar mangsa. Ia menarik buku tugas Dava dan melemparkannya ke lantai.

​"Belajarnya besok saja, Mahasiswa," goda Aurelia. Ia menarik kerah kemeja Dava, membawa wajah pemuda itu mendekat ke wajahnya. "Malam ini, aku adalah gurumu."

​Dava tidak bisa melawan lagi. Aroma wine dan parfum Aurelia memabukkannya lebih dari apa pun. Ia mencium Aurelia dengan kasar, meluapkan semua rasa frustrasi dan cemburunya hari ini. Aurelia mendesah nikmat, tangannya merobek kancing kemeja Dava hingga terlepas.

Namun, di tengah kemesraan itu, ponsel Dava yang tergeletak di lantai bergetar. Sebuah pesan W******p masuk dari Sita:

​’Dav, aku tadi lihat kamu di mobil itu... aku khawatir. Kalau kamu ada masalah atau terjepit sesuatu, tolong cerita padaku. Aku masih peduli padamu.’

​Dava melihat sekilas notifikasi itu di layar ponselnya yang menyala di lantai. Rasa bersalah menghujam jantungnya. 

Di atasnya, ada wanita paling cantik dan seksi yang sedang memuja tubuhnya, sementara di layar ponselnya, ada wanita dari masa lalunya yang menawarkan ketulusan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 7: Pertemuan Dua Dunia

    “A-aku harus pergi ke kampus,” ucap Dava pada Aurelia.Ketika Dava menoleh, Aurelia tengah tidur dengan napas teratur. Ah, Nyonya sudah tertidur, batin Dava.Selesai berkemas, Dava memacu mobil operasionalnya dengan kecepatan tinggi menembus kemacetan jalan. Jantungnya berpacu lebih cepat daripada putaran mesin mobil. Kemejanya yang tadi basah kini memang sudah kering, namun sensasi kulit Aurelia yang bersentuhan dengannya di bawah shower pagi tadi masih terasa nyata, seperti bekas luka yang tak terlihat.​Di dalam kepalanya, suara Aurelia dan pesan-pesan cemas Sita saling beradu. Ia merasa kikuk memikirannya.​Sesampainya di pelataran kampus, Dava mengerem mendadak. Ia melihat sosok gadis dengan blus cokelat muda berdiri gelisah di depan gedung fakultas. Dava keluar mobil dengan terburu-buru.​"Sita!" panggil Dava sambil berlari menghampirinya.​Sita menoleh. Ekspresi cemas di wajahnya seketika berubah menjadi campuran antara lega dan marah. Saat Dava sampai di depannya, Sita langsu

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 6: Embun yang Membakar

    Dava pun terbangun dengan rasa pening yang menghantam pelipisnya. Ingatan tentang lensa kamera tersembunyi yang ia temukan semalam masih menghantui pikirannya. Namun, saat ia menoleh ke samping, tempat tidur itu lagi-lagi sudah kosong.​Hanya ada keharuman vanilla dan jasmine yang tertinggal di bantal, serta suara gemericik air yang jatuh dari balik pintu kaca buram di sudut ruangan. Aurelia sedang mandi.​Dava duduk di tepi ranjang, menatap tangannya yang sedikit gemetar. Pikirannya berperang antara rasa takut pada Reinhart dan daya tarik Aurelia yang tak tertahankan.Seharusnya ia segera pergi, kembali ke paviliunnya sebelum pelayan lain curiga. Namun, bayangan tubuh Aurelia semalam membuat kaki Dava justru melangkah ke arah kamar mandi.​Ia membuka pintu kaca tersebut. Uap panas langsung menyergap wajahnya. Aurelia tersentak, ia berbalik dengan rambut yang basah kuyup menutupi sebagian dadanya. Matanya yang jernih membelalak kaget, namun rasa terkejut itu hanya bertahan sedetik se

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 5: Malam Tanpa Mata-Mata

    Layar ponsel di lantai itu akhirnya padam, menyisakan cahaya remang lampu tidur berwarna amber. Keheningan kamar itu mendadak terasa berat.​Di atasnya, Aurelia tidak memberinya ruang sedikit pun untuk berpikir. Wanita itu bergerak dengan keanggunan yang mematikan, jemarinya yang lentik dan gemetar melepaskan kancing kemeja Dava satu per satu. Rasanya harga diri Dava runtuh bersamaan dengan terbukanya kancing-kancing itu.​"Jangan pikirkan hal lain," bisik Aurelia. Suaranya parau. "Malam ini, biarkan aku merasa hidup."​Dava menatap lurus ke dalam mata Aurelia. Dava tahu dia hanyalah pria sewaan. Namun, saat kulit mereka bersentuhan tanpa penghalang kain, insting maskulinnya mengambil alih. Tubuh Dava yang atletis—hasil dari tahun-tahun bekerja kasar sebagai kuli panggul demi menyambung hidup—tampak begitu kontras dengan kelembutan kulit Aurelia yang seputih porselen dan terawat oleh kemewahan.Untuk pertama kalinya sejak ia menerima kontrak Reinhart, Dava tidak merasa seperti asi

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 4: Masa Lalu yang Kembali Menghantui

    Keesokan harinya, kampus pascasarjana Universitas Maju tampak berkabut. Udara segar yang ada sedikit mendinginkan kepala Dava yang terasa mendidih setelah rentetan kejadian gila beberapa hari terakhir. Ia berdiri di depan gedung fakultas dengan ransel yang terasa lebih berat, bukan karena buku-buku tebal di dalamnya, melainkan karena rahasia yang ia pikul.​Dava menarik napas dalam. Tadi ia baru menjalankan kelas pertama.Hari ini adalah hari pertamanya kuliah S2. Gelar yang ia impikan sejak kecil, tiket yang seharusnya ia dapatkan dengan keringat kejujuran, kini ia beli dengan harga dirinya sendiri.​"Dava? Dava Atmajaya?"​Suara feminin yang lembut itu membuat Dava tersentak. Ia menoleh dan seketika itu juga seluruh tubuhnya membeku. Berdiri beberapa meter darinya, seorang gadis dengan blus cokelat muda dan rambut dikuncir kuda menatapnya dengan mata yang berbinar tak percaya.​"Sita?" suara Dava tercekat.​Sita adalah masa lalunya. Gadis yang pernah mengisi hari-harinya di masa S

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 3: Sandiwara di Balik Sutra

    Ia menunduk, menangkap bibir merah Aurelia dengan ciuman yang penuh tekanan—campuran antara rasa frustrasi, nafsu yang tertahan, dan amarah pada keadaan. Aurelia membalasnya dengan intensitas yang sama, tangannya merayap ke rambut Dava, menariknya semakin dalam ke dalam pusaran gairah.Dava membawa tangan kekarnya ke atas kaki jenjang Aurelia, naik ke pahanya. “Ahh,” Aurelia mengerang atas sentuhan Dava.Dava dengan cepat membuka pakaian yang membungkus tubuh Aurelia. Ia seakan lupa dengan tanggungan harga dirinya. Persetan! Dalam benak Dava, uang miliaran itu menjadi pegangannya sekarang.Maka Dava terus mencumbu, ia biarkan Aurelia menikmati permainannya. “Aurelia…”Aurelia ikut mengerang di bawah Dava, membuat wajah Dava semakin memanas. Hatinya tak karuan sekarang.Sekarang, tanpa sehelai pakaian pun mereka bercumbu. Tangan Dava mulai nakal dan menyentuh area terlarang.“Teruskan.. Dava… ah!” pinta Aurelia.Dava lantas mabuk dalam permainan malam ini. Bohong jika dibilang ia t

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 2: Gerbang Neraka yang Indah

    Tangan Dava gemetar saat ujung pulpen itu menyentuh permukaan kertas kontrak yang dingin. Di ruangan itu, kesunyian terasa begitu menekan, hanya detak jam dinding mewah dan deru napasnya sendiri yang terdengar.Di hadapannya, Reinhart berdiri dengan tangan bersedekap, sementara Aurelia menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja—posisi yang nampak sengaja menonjolkan lekuk tubuhnya yang mustahil untuk diabaikan.​Satu miliar.​Angka itu terus berputar di kepala Dava. Itu adalah nyawa ayahnya. Itu adalah tiketnya menuju universitas ternama. Namun itu juga harga dari kehormatan yang selama ini ia berusaha jaga dengan susah payah.​"Aku tidak punya banyak waktu, Dava," suara Reinhart memecah kesunyian, tajam dan tidak sabar.​Dava memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah lelah ibunya di koridor rumah sakit, wajah ayahnya yang terbaring lemah.Lalu dengan satu tarikan napas panjang, ia membubuhkan tanda tangannya. Rasanya ia menggores harga dirinya sendiri.​"Pilihan yang cerdas," uja

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status