LOGINKeesokan harinya, kampus pascasarjana Universitas Maju tampak berkabut.
Udara segar yang ada sedikit mendinginkan kepala Dava yang terasa mendidih setelah rentetan kejadian gila beberapa hari terakhir.
Ia berdiri di depan gedung fakultas dengan ransel yang terasa lebih berat, bukan karena buku-buku tebal di dalamnya, melainkan karena rahasia yang ia pikul.
Dava menarik napas dalam. Tadi ia baru menjalankan kelas pertama.
Hari ini adalah hari pertamanya kuliah S2. Gelar yang ia impikan sejak kecil, tiket yang seharusnya ia dapatkan dengan keringat kejujuran, kini ia beli dengan harga dirinya sendiri.
"Dava? Dava Atmajaya?"
Suara feminin yang lembut itu membuat Dava tersentak. Ia menoleh dan seketika itu juga seluruh tubuhnya membeku. Berdiri beberapa meter darinya, seorang gadis dengan blus cokelat muda dan rambut dikuncir kuda menatapnya dengan mata yang berbinar tak percaya.
"Sita?" suara Dava tercekat.
Sita adalah masa lalunya. Gadis yang pernah mengisi hari-harinya di masa SMA, cinta monyet yang hampir menjadi serius sebelum Dava memutuskan untuk menghilang karena rasa rendah diri akibat kemiskinan keluarganya.
Sita kini tampak jauh lebih dewasa, cantik dengan cara yang sederhana dan tulus—sangat kontras dengan kecantikan Aurelia yang intimidatif dan penuh gairah.
"Ya ampun, benar kamu!" Sita mendekat dengan langkah riang. "Aku dengar kamu lulus dengan IPK sempurna di tingkat sarjana, tapi setelah itu kamu hilang ditelan bumi. Kamu lanjut S2 di sini juga? Ambil jurusan apa?"
Dava berusaha memaksakan senyum, meski jantungnya berdegup kencang karena rasa takut. Takut jika Sita tahu apa yang ia lakukan sekarang untuk membiayai kuliah ini. "Manajemen Bisnis, Sit. Kamu sendiri?"
"Ekonomi Syariah. Wah, gedung kita bersebelahan! Kita harus sering-sering makan siang bareng, Dav. Ibuku masih sering menanyakanmu, lho," ujar Sita hangat.
Namun, di tengah percakapan itu, sebuah mobil Mercedes-Benz hitam mengilap berhenti tepat di depan mereka. Pintu belakang terbuka, dan seorang pria bersetelan safari keluar—itu adalah salah satu ajudan kepercayaan Reinhart.
"Saudara Dava," ucap ajudan itu dengan suara kaku dan keras, menarik perhatian mahasiswa lain. "Nyonya Aurelia sedang menunggu di butik. Beliau ingin Anda segera menjemputnya karena jadwal pertemuannya dimajukan."
Dava merasakan wajahnya memanas. Sita menatap mobil mewah itu, lalu menatap Dava dengan dahi berkerut. "Dava... itu siapa? Kamu sudah punya supir pribadi?"
"Bukan, Sit. Itu... itu kerjaan sampinganku. Aku jadi asisten pribadi di perusahaan besar," jawab Dava gugup.
"Asisten pribadi yang dijemput dengan mobil mewah begitu?" Sita bertanya dengan nada curiga yang kental. "Dav, kamu baik-baik saja, kan? Kamu tidak terlibat hal yang aneh-aneh?"
"Aku baik-baik saja, Sit. Aku harus pergi sekarang. Nanti kita sambung lagi," Dava segera masuk ke dalam mobil, menghindari tatapan menyelidik Sita yang terasa menodong.
Di dalam mobil, Dava melepaskan dasinya dengan kasar. Ia merasa sesak. Baru saja ia merasakan sedikit udara kehidupan normal bersama seorang teman, namun dunia kelam Reinhart kembali menariknya masuk.
Sesampainya di butik, Aurelia sudah menunggunya di VIP Lounge. Ia sedang mencoba sebuah gaun malam transparan berwarna perak yang sangat minim. Saat Dava masuk, Aurelia sedang berdiri di depan cermin besar, membiarkan pelayan butik menyesuaikan bagian pinggulnya.
"Lama sekali, Dava," ucap Aurelia dingin, tapi matanya yang terpantul di cermin menatap Dava dengan nakal. "Kuliahmu lebih penting daripada aku?"
"Maaf, Nyonya," jawab Dava pendek.
Aurelia pun memberi kode pada para pelayan untuk keluar ruangan.
Begitu pintu tertutup, Aurelia berbalik. Gaun itu begitu tipis hingga Dava bisa melihat bayangan lekuk tubuhnya yang menggoda. Aurelia berjalan mendekati Dava, jemarinya membelai dada Dava yang terbungkus kemeja kampus.
"Tadi itu siapa? Ada gadis yang bicara denganmu di kampus?" tanya Aurelia. Suaranya mengandung nada cemburu yang tipis.
Pasti ajudan yang menjemputnya tadi memberitahu Aurelia, batin Dava.
"Hanya teman lama," jawab Dava sambil mencoba memalingkan wajah.
Aurelia tertawa renyah, tawa yang terdengar mengejek. Ia mencengkeram dagu Dava, memaksa pemuda itu menatap matanya.
Aurelia lalu menekan tubuhnya ke arah Dava, membuat Dava bisa merasakan setiap inci kehangatan tubuhnya.
"Ingat, Dava. Dalam kontrak itu, tidak boleh ada wanita lain. Kau adalah milikku selama sembilan bulan ke depan, atau sampai benihmu tumbuh di sini," ia mengarahkan tangan Dava ke perutnya yang rata dan halus.
Dava merasa muak sekaligus terangsang. Dualitas perasaan ini menyiksanya. "Kenapa Anda melakukan ini, Nyonya? Nyonya punya segalanya. Kenapa harus menghancurkan hidup orang lain juga?"
Wajah Aurelia mendadak berubah. Keangkuhannya runtuh, digantikan oleh kesedihan yang mendalam. "Segalanya? Kau pikir rumah besar yang dingin itu adalah segalanya? Reinhart memperlakukanku seperti pajangan. Dia tidak bisa mencintaiku, Dava. Dia bahkan tidak bisa menyentuhku tanpa rasa benci pada dirinya sendiri karena kekurangannya."
Aurelia menyandarkan kepalanya di bahu Dava. "Kau adalah satu-satunya hal yang aku miliki sekarang, meski aku harus membelimu dari suamiku sendiri."
Dava terdiam. Ia baru menyadari bahwa di balik kemewahan dan keseksian yang dipamerkan Aurelia, wanita ini adalah jiwa yang hancur. Ia ingin membencinya, tapi ia justru merasa kasihan.
“Sudahlah, Dava. Kita pulang.”
Aurelia berkaca sekali lagi dengan gaunnya, sebelum pergi meninggalkan Dava sendiri. Seolah wanita itu tidak baru saja mencurahkan hatinya.
***
Malam itu, Reinhart berangkat ke Singapura. Mansion besar itu langsung terasa sepi, namun ketegangan justru meningkat.
Dava berada di kamarnya, mencoba fokus pada tugas kuliahnya, ketika pintu penghubung itu terbuka tanpa ketukan.
Aurelia masuk. Kali ini, ia tidak memakai baju tidur sutra. Ia hanya mengenakan kemeja putih milik Reinhart yang kebesaran, yang hanya menutupi hingga pangkal pahanya. Kancing atasnya terbuka, memperlihatkan kulit lehernya yang jenjang.
Di tangannya, ia membawa sebotol wine mahal.
"Malam ini, lupakan kontrak itu, Dava," bisik Aurelia sambil menuangkan minuman ke dua gelas. "Aku sudah mematikan semua sensor dan kamera di sayap bangunan ini. Pelayan sudah aku pulangkan ke paviliun."
Ia memberikan satu gelas pada Dava. Dava menerimanya dengan tangan gemetar.
"Kenapa Anda mematikan kameranya? Bukankah Reinhart ingin bukti?" tanya Dava.
Aurelia tersenyum misterius. Ia menyesap wine-nya, menyisakan noda merah di bibirnya yang menggoda. "Biarkan dia melihat rekaman kosong. Aku ingin dia tahu bahwa ada momen-momen yang tidak bisa ia beli dengan uangnya."
Aurelia merangkak ke atas tempat tidur Dava, gerakannya seperti kucing hutan yang sedang mengincar mangsa. Ia menarik buku tugas Dava dan melemparkannya ke lantai.
"Belajarnya besok saja, Mahasiswa," goda Aurelia. Ia menarik kerah kemeja Dava, membawa wajah pemuda itu mendekat ke wajahnya. "Malam ini, aku adalah gurumu."
Dava tidak bisa melawan lagi. Aroma wine dan parfum Aurelia memabukkannya lebih dari apa pun. Ia mencium Aurelia dengan kasar, meluapkan semua rasa frustrasi dan cemburunya hari ini. Aurelia mendesah nikmat, tangannya merobek kancing kemeja Dava hingga terlepas.
Namun, di tengah kemesraan itu, ponsel Dava yang tergeletak di lantai bergetar. Sebuah pesan W******p masuk dari Sita:
’Dav, aku tadi lihat kamu di mobil itu... aku khawatir. Kalau kamu ada masalah atau terjepit sesuatu, tolong cerita padaku. Aku masih peduli padamu.’
Dava melihat sekilas notifikasi itu di layar ponselnya yang menyala di lantai. Rasa bersalah menghujam jantungnya.
Di atasnya, ada wanita paling cantik dan seksi yang sedang memuja tubuhnya, sementara di layar ponselnya, ada wanita dari masa lalunya yang menawarkan ketulusan.
Rumah mewah Reinhart terasa lebih gelap dan dingin dari biasanya. Lampu-lampu taman hanya menyala redup, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding marmer. Olivia melangkah masuk dengan langkah percaya diri, high heels hitamnya berbunyi pelan di lantai. Dress merah ketat yang ia pakai tadi malam sudah diganti dengan setelan hitam sederhana tapi tetap menonjolkan lekuk tubuhnya yang sempurna — payudara montok, pinggang ramping, pinggul lebar. Rambut hitam panjangnya tergerai, mata cokelatnya tajam dan penuh kepuasan. Penjaga membukakan pintu ruang kerja pribadi tanpa sepatah kata. Reinhart sudah duduk di balik meja mahoni besar, segelas whiskey di tangan kanan, senyum tipis menghiasi wajahnya. Ia menatap Olivia dari atas ke bawah seperti sedang menilai barang berharga yang baru saja dikembalikan. “Duduk,” kata Reinhart, suaranya rendah dan tenang. Olivia duduk di kursi depan meja, kakinya disilangkan dengan anggun. Ia mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya, meletakkannya di
Dava melaju sendirian ke rumah mewah Reinhart di pinggiran kota. Jalan tol sepi, lampu-lampu jalan berkedip seperti mata yang mengawasi. Dava memakai jas hitam yang sama, rambut undercut rapi, aroma parfum mahal yang sudah menjadi ciri khasnya. Ia tahu pertemuan malam ini bukan pertemuan biasa. Reinhart memanggilnya langsung melalui pesan singkat sore tadi: “Malam ini jam 21.00. Datang sendirian. Kita perlu bicara soal kemajuanmu.” Dava tahu Reinhart puas. Clara Wijaya sudah jatuh lebih dalam dari yang ia prediksi. Pengakuan cinta Clara kemarin malam, akses penuh ke data Luna Group, dan hubungan intim yang semakin sering — semuanya berjalan sesuai rencana. Tapi Dava juga tahu, Reinhart bukan orang yang mudah puas. Ada sesuatu yang lebih besar di balik panggilan ini. Ia tiba tepat waktu. Penjaga membukakan gerbang tanpa sepatah kata. Dava masuk ke ruang kerja pribadi Reinhart di lantai dua — ruangan yang sama seperti pertemuan pertama, meja kayu mahoni besar, kursi kulit hitam, rak
Pagi itu Dava bangun dengan kepala berat dan dada sesak. Cahaya matahari kota yang sudah terik menyusup lewat celah gorden kamar Nadia, tapi rumah gang terasa dingin dan kosong. Nadia masih di apartemen Tebet bersama Aurelia. Dava sendirian, hanya ditemani rasa bersalah yang semakin tebal setiap hari. Ia duduk di tepi ranjang, memandang foto Nadia di meja samping. Senyum polos Nadia, mata hijau besarnya yang penuh cinta — foto itu diambil sebelum liburan, sebelum semuanya menjadi neraka. Dava mengusap foto itu pelan, lalu berdiri. Hari ini adalah hari pertama ia benar-benar memulai langkah kedua: meracuni kepercayaan Clara Wijaya dari dalam. Langkah pertama sudah selesai. Clara sudah jatuh cinta. Ia sudah menyatakan perasaannya, sudah tidur dengannya dua kali, sudah percaya bahwa Dava adalah pria yang berbeda, yang bisa diandalkan. Sekarang saatnya langkah kedua: membuat Clara membuka diri sepenuhnya, memberikan akses ke rahasia bisnisnya, ke data sensitif Luna Group, ke kelemahan-k
Malam itu langit Jakarta sudah gelap sepenuhnya, hanya diterangi lampu-lampu kota yang berkedip-kedip seperti bintang palsu. Dava duduk di teras belakang rumah gang, menatap langit tanpa bintang. Ponselnya bergetar pelan di saku jaket. Pesan dari Aurelia. “Dav… aku butuh bicara sama kamu. Hanya berdua. Malam ini. Ada sesuatu yang harus aku katakan. Tolong datang ke rooftop kafe biasa. Jam 22:00. Aku tunggu.” Dava menatap pesan itu lama. Jantungnya berdegup lebih kencang. Ia tahu Aurelia sedang menahan sesuatu sejak kemarin — rasa cemburu yang ia dengar di suaranya saat telepon dengan Nadia, diamnya saat ia mendengar desahan dari kamar. Ia tahu ini tidak akan mudah. Ia mengetik balasan singkat: “Oke. Aku datang. Tunggu aku.” Dava berdiri, mengambil kunci mobil. Ia tidak memberi tahu siapa pun. Ia hanya mengambil jaket hitam dan pergi. Sepanjang jalan ke Kemang, pikirannya berputar. Ia sedang menghancurkan Clara Wijaya demi Nadia. Ia sedang berbohong pada semua orang. Dan sekarang,
Pagi itu rumah kecil di gang masih diselimuti keheningan. Matahari baru saja muncul, sinarnya menyelinap pelan lewat jendela dapur yang kotor. Dava duduk di meja makan sendirian, gelas kopi hitam di depannya sudah setengah kosong. Ia belum tidur semalaman. Pikirannya penuh dengan rencana menghancurkan Clara Wijaya, dengan desahan Nadia dari malam sebelumnya, dengan rasa cemburu Aurelia yang ia rasakan di telepon, dan dengan ancaman Reinhart yang terus mengintai. Jam dinding menunjukkan pukul 07:15. Ponsel Dava bergetar di atas meja. Nomor Clara. Dava mengangkat dengan tangan yang sedikit gemetar. “Dav… pagi,” suara Clara terdengar lembut, tapi ada nada manja yang membuat Dava merinding. “Aku baru bangun. Kamu sudah di mana?” Dava menelan ludah. “Di rumah. Pagi, Clara.” Clara tertawa kecil. “Aku kangen kamu sejak tadi malam. Malam kemarin… luar biasa. Aku masih merasakan kamu di dalam aku.” Dava diam sebentar. Ia membayangkan tubuh Clara yang telanjang di ranjang mewahnya, desa
Hari berikutnya, Dava melaju ke gedung PT. Luna Group dengan perasaan campur aduk. Jam menunjukkan pukul 16:30 sore. Langit kota sudah mulai jingga, tapi pikiran Dava gelap. Reinhart masih menunggu bukti kemajuan. Tapi setiap langkah Dava terasa seperti menginjak ranjau — satu kesalahan, semuanya bisa meledak. Ia memakai jas hitam custom yang sudah menjadi seragam barunya, rambut undercut rapi, aura yang Reinhart ciptakan membuatnya terlihat lebih tajam dan menarik. Clara sudah mengatur pertemuan sore ini di ruang kerjanya — bukan ruang meeting umum, tapi ruang pribadi Clara di lantai 18. “Kita bisa bicara lebih bebas,” kata Clara kemarin di telepon, suaranya hangat dan sedikit menggoda. Dava tiba di lantai 18. Sekretaris Clara menyambutnya dengan senyum profesional. “Bu Clara sudah menunggu di dalam, Pak Dava.” Dava masuk. Ruang kerja Clara luas, modern, dengan jendela kaca besar yang menghadap kota yang mulai menyala lampu. Clara berdiri di dekat meja, gaun hitam pendek membalut







