MasukLayar ponsel di lantai itu akhirnya padam, menyisakan cahaya remang lampu tidur berwarna amber.
Keheningan kamar itu mendadak terasa berat.
Di atasnya, Aurelia tidak memberinya ruang sedikit pun untuk berpikir.
Wanita itu bergerak dengan keanggunan yang mematikan, jemarinya yang lentik dan gemetar melepaskan kancing kemeja Dava satu per satu. Rasanya harga diri Dava runtuh bersamaan dengan terbukanya kancing-kancing itu.
"Jangan pikirkan hal lain," bisik Aurelia. Suaranya parau. "Malam ini, biarkan aku merasa hidup."
Dava menatap lurus ke dalam mata Aurelia.
Dava tahu dia hanyalah pria sewaan. Namun, saat kulit mereka bersentuhan tanpa penghalang kain, insting maskulinnya mengambil alih.
Tubuh Dava yang atletis—hasil dari tahun-tahun bekerja kasar sebagai kuli panggul demi menyambung hidup—tampak begitu kontras dengan kelembutan kulit Aurelia yang seputih porselen dan terawat oleh kemewahan.
Untuk pertama kalinya sejak ia menerima kontrak Reinhart, Dava tidak merasa seperti asisten yang rendah. Ia merasa seperti pria yang memegang kendali penuh.
Aroma parfum vanilla dan musk dari tubuh Aurelia bercampur dengan feromon yang memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang memabukkan.
Malam itu, di dalam kamar yang kedap suara, Aurelia membimbing Dava dengan lembut namun penuh gairah yang meledak-ledak.
Ia menunjukkan rasa haus yang telah ia simpan rapat selama tiga tahun pernikahan hambar dengan Reinhart—pria yang memuja kekuasaan namun gagal memuja istrinya sendiri di atas ranjang.
Mereka bercinta dengan intensitas yang jauh melampaui sekadar "tugas" kontrak.
Aurelia mendesah di ceruk leher Dava, jemarinya mencengkeram bahu kokoh pemuda itu.
Bagi Dava, setiap inci tubuh Aurelia adalah kenikmatan yang berbahaya. Lekuk tubuh hourglass-nya yang sempurna, pinggulnya yang berisi, dan cara wanita itu memuja setiap sentuhannya membuat Dava benar-benar lupa akan kasta sosial mereka yang timpang.
Malam itu, mereka bukan lagi majikan dan pelayan; mereka adalah sepasang manusia yang terjebak dalam obsesi, mengabaikan dunia luar yang penuh kepalsuan.
Namun, kedamaian itu hanyalah ilusi yang sangat tipis.
Menjelang dini hari, Dava tetap terjaga. Matanya menatap nanar ke arah langit-langit kamar yang dihiasi mural klasik, sementara tangannya merasakan sisa-sisa kehangatan tubuh Aurelia yang masih menempel di kulitnya.
Dengan gerakan sangat perlahan agar tidak membangunkan wanita itu, Dava menjangkau ponselnya yang tergeletak di lantai.
Satu pesan dari Sita masih terlihat di layar.
Rasa bersalah menghantam ulu hati Dava.
Ia baru saja melakukan hal yang seharusnya menjadi komitmen atas cinta, namun ia melakukannya demi segepok uang dan beasiswa S2. Ia merasa seperti pengkhianat yang menjual jiwanya.
Dava hendak meletakkan kembali ponselnya saat matanya menangkap sesuatu yang ganjil. Sebuah hiasan dinding berupa ukiran kayu mahoni di sudut ruangan tampak sedikit miring—hanya beberapa milimeter, namun cukup untuk menarik perhatian mata Dava.
Ia teringat kata-kata Aurelia sebelum mereka memulai: "Semua sistem internal sudah kumatikan, Dava. Kita punya privasi penuh."
Dava bangkit dari tempat tidur dengan sangat hati-hati. Ia berjalan telanjang mendekati hiasan itu, kakinya yang dingin menyentuh marmer. Di balik celah kecil ukiran kayu tersebut, ia melihat sebuah titik hitam kecil.
Itu adalah sebuah lensa mikro yang sangat samar, nyaris tak terlihat jika tidak diperhatikan dengan jarak dekat. Tidak ada lampu merah yang berkedip, menandakan itu adalah kamera tipe sensor tinggi yang bekerja dalam spektrum infra merah.
Dava membeku di tempatnya berdiri.
Darahnya seolah berhenti mengalir. Jika Aurelia mengklaim sudah mematikan sistem keamanan internal rumah lewat panel kendali, lalu kamera milik siapa ini?
Dava kembali ke tempat tidur dengan keringat dingin membasahi punggungnya.
Satu jawaban mengerikan muncul di benaknya. Reinhart?
Dava bergidik ngeri.
Dia mengira telah mencicipi kebebasan. Padahal, mungkin saja mereka berdua baru saja memberikan sebuah "pertunjukan" langsung yang disiarkan secara privat ke perangkat Reinhart di Singapura.
Ia berjalan mundur, penuh ketakutan.
Dava menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua, mencoba memejamkan mata, namun pikirannya terus berputar liar.
“Tidak mungkin,” gumam Dava.
Dava terlelap pada akhirnya, namun bahkan prasangka itu menghantui alam bawah sadarnya.
Apa ini harga yang harus dibayarnya demi mendapatkan uang secara mudah?
“A-aku harus pergi ke kampus,” ucap Dava pada Aurelia.Ketika Dava menoleh, Aurelia tengah tidur dengan napas teratur. Ah, Nyonya sudah tertidur, batin Dava.Selesai berkemas, Dava memacu mobil operasionalnya dengan kecepatan tinggi menembus kemacetan jalan. Jantungnya berpacu lebih cepat daripada putaran mesin mobil. Kemejanya yang tadi basah kini memang sudah kering, namun sensasi kulit Aurelia yang bersentuhan dengannya di bawah shower pagi tadi masih terasa nyata, seperti bekas luka yang tak terlihat.Di dalam kepalanya, suara Aurelia dan pesan-pesan cemas Sita saling beradu. Ia merasa kikuk memikirannya.Sesampainya di pelataran kampus, Dava mengerem mendadak. Ia melihat sosok gadis dengan blus cokelat muda berdiri gelisah di depan gedung fakultas. Dava keluar mobil dengan terburu-buru."Sita!" panggil Dava sambil berlari menghampirinya.Sita menoleh. Ekspresi cemas di wajahnya seketika berubah menjadi campuran antara lega dan marah. Saat Dava sampai di depannya, Sita langsu
Dava pun terbangun dengan rasa pening yang menghantam pelipisnya. Ingatan tentang lensa kamera tersembunyi yang ia temukan semalam masih menghantui pikirannya. Namun, saat ia menoleh ke samping, tempat tidur itu lagi-lagi sudah kosong.Hanya ada keharuman vanilla dan jasmine yang tertinggal di bantal, serta suara gemericik air yang jatuh dari balik pintu kaca buram di sudut ruangan. Aurelia sedang mandi.Dava duduk di tepi ranjang, menatap tangannya yang sedikit gemetar. Pikirannya berperang antara rasa takut pada Reinhart dan daya tarik Aurelia yang tak tertahankan.Seharusnya ia segera pergi, kembali ke paviliunnya sebelum pelayan lain curiga. Namun, bayangan tubuh Aurelia semalam membuat kaki Dava justru melangkah ke arah kamar mandi.Ia membuka pintu kaca tersebut. Uap panas langsung menyergap wajahnya. Aurelia tersentak, ia berbalik dengan rambut yang basah kuyup menutupi sebagian dadanya. Matanya yang jernih membelalak kaget, namun rasa terkejut itu hanya bertahan sedetik se
Layar ponsel di lantai itu akhirnya padam, menyisakan cahaya remang lampu tidur berwarna amber. Keheningan kamar itu mendadak terasa berat.Di atasnya, Aurelia tidak memberinya ruang sedikit pun untuk berpikir. Wanita itu bergerak dengan keanggunan yang mematikan, jemarinya yang lentik dan gemetar melepaskan kancing kemeja Dava satu per satu. Rasanya harga diri Dava runtuh bersamaan dengan terbukanya kancing-kancing itu."Jangan pikirkan hal lain," bisik Aurelia. Suaranya parau. "Malam ini, biarkan aku merasa hidup."Dava menatap lurus ke dalam mata Aurelia. Dava tahu dia hanyalah pria sewaan. Namun, saat kulit mereka bersentuhan tanpa penghalang kain, insting maskulinnya mengambil alih. Tubuh Dava yang atletis—hasil dari tahun-tahun bekerja kasar sebagai kuli panggul demi menyambung hidup—tampak begitu kontras dengan kelembutan kulit Aurelia yang seputih porselen dan terawat oleh kemewahan.Untuk pertama kalinya sejak ia menerima kontrak Reinhart, Dava tidak merasa seperti asi
Keesokan harinya, kampus pascasarjana Universitas Maju tampak berkabut. Udara segar yang ada sedikit mendinginkan kepala Dava yang terasa mendidih setelah rentetan kejadian gila beberapa hari terakhir. Ia berdiri di depan gedung fakultas dengan ransel yang terasa lebih berat, bukan karena buku-buku tebal di dalamnya, melainkan karena rahasia yang ia pikul.Dava menarik napas dalam. Tadi ia baru menjalankan kelas pertama.Hari ini adalah hari pertamanya kuliah S2. Gelar yang ia impikan sejak kecil, tiket yang seharusnya ia dapatkan dengan keringat kejujuran, kini ia beli dengan harga dirinya sendiri."Dava? Dava Atmajaya?"Suara feminin yang lembut itu membuat Dava tersentak. Ia menoleh dan seketika itu juga seluruh tubuhnya membeku. Berdiri beberapa meter darinya, seorang gadis dengan blus cokelat muda dan rambut dikuncir kuda menatapnya dengan mata yang berbinar tak percaya."Sita?" suara Dava tercekat.Sita adalah masa lalunya. Gadis yang pernah mengisi hari-harinya di masa S
Ia menunduk, menangkap bibir merah Aurelia dengan ciuman yang penuh tekanan—campuran antara rasa frustrasi, nafsu yang tertahan, dan amarah pada keadaan. Aurelia membalasnya dengan intensitas yang sama, tangannya merayap ke rambut Dava, menariknya semakin dalam ke dalam pusaran gairah.Dava membawa tangan kekarnya ke atas kaki jenjang Aurelia, naik ke pahanya. “Ahh,” Aurelia mengerang atas sentuhan Dava.Dava dengan cepat membuka pakaian yang membungkus tubuh Aurelia. Ia seakan lupa dengan tanggungan harga dirinya. Persetan! Dalam benak Dava, uang miliaran itu menjadi pegangannya sekarang.Maka Dava terus mencumbu, ia biarkan Aurelia menikmati permainannya. “Aurelia…”Aurelia ikut mengerang di bawah Dava, membuat wajah Dava semakin memanas. Hatinya tak karuan sekarang.Sekarang, tanpa sehelai pakaian pun mereka bercumbu. Tangan Dava mulai nakal dan menyentuh area terlarang.“Teruskan.. Dava… ah!” pinta Aurelia.Dava lantas mabuk dalam permainan malam ini. Bohong jika dibilang ia t
Tangan Dava gemetar saat ujung pulpen itu menyentuh permukaan kertas kontrak yang dingin. Di ruangan itu, kesunyian terasa begitu menekan, hanya detak jam dinding mewah dan deru napasnya sendiri yang terdengar.Di hadapannya, Reinhart berdiri dengan tangan bersedekap, sementara Aurelia menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja—posisi yang nampak sengaja menonjolkan lekuk tubuhnya yang mustahil untuk diabaikan.Satu miliar.Angka itu terus berputar di kepala Dava. Itu adalah nyawa ayahnya. Itu adalah tiketnya menuju universitas ternama. Namun itu juga harga dari kehormatan yang selama ini ia berusaha jaga dengan susah payah."Aku tidak punya banyak waktu, Dava," suara Reinhart memecah kesunyian, tajam dan tidak sabar.Dava memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah lelah ibunya di koridor rumah sakit, wajah ayahnya yang terbaring lemah.Lalu dengan satu tarikan napas panjang, ia membubuhkan tanda tangannya. Rasanya ia menggores harga dirinya sendiri."Pilihan yang cerdas," uja







