Home / Urban / Biarkan Aku Membantumu Nyonya / BAB 5: Malam Tanpa Mata-Mata

Share

BAB 5: Malam Tanpa Mata-Mata

Author: Benduls
last update Last Updated: 2025-12-22 12:13:04

Layar ponsel di lantai itu akhirnya padam, menyisakan cahaya remang lampu tidur berwarna amber. 

Keheningan kamar itu mendadak terasa berat.

​Di atasnya, Aurelia tidak memberinya ruang sedikit pun untuk berpikir. 

Wanita itu bergerak dengan keanggunan yang mematikan, jemarinya yang lentik dan gemetar melepaskan kancing kemeja Dava satu per satu. Rasanya harga diri Dava runtuh bersamaan dengan terbukanya kancing-kancing itu.

​"Jangan pikirkan hal lain," bisik Aurelia. Suaranya parau. "Malam ini, biarkan aku merasa hidup."

​Dava menatap lurus ke dalam mata Aurelia. 

Dava tahu dia hanyalah pria sewaan. Namun, saat kulit mereka bersentuhan tanpa penghalang kain, insting maskulinnya mengambil alih. 

Tubuh Dava yang atletis—hasil dari tahun-tahun bekerja kasar sebagai kuli panggul demi menyambung hidup—tampak begitu kontras dengan kelembutan kulit Aurelia yang seputih porselen dan terawat oleh kemewahan.

Untuk pertama kalinya sejak ia menerima kontrak Reinhart, Dava tidak merasa seperti asisten yang rendah. Ia merasa seperti pria yang memegang kendali penuh. 

Aroma parfum vanilla dan musk dari tubuh Aurelia bercampur dengan feromon yang memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang memabukkan.

​Malam itu, di dalam kamar yang kedap suara, Aurelia membimbing Dava dengan lembut namun penuh gairah yang meledak-ledak. 

Ia menunjukkan rasa haus yang telah ia simpan rapat selama tiga tahun pernikahan hambar dengan Reinhart—pria yang memuja kekuasaan namun gagal memuja istrinya sendiri di atas ranjang.

​Mereka bercinta dengan intensitas yang jauh melampaui sekadar "tugas" kontrak. 

Aurelia mendesah di ceruk leher Dava, jemarinya mencengkeram bahu kokoh pemuda itu.

​Bagi Dava, setiap inci tubuh Aurelia adalah kenikmatan yang berbahaya. Lekuk tubuh hourglass-nya yang sempurna, pinggulnya yang berisi, dan cara wanita itu memuja setiap sentuhannya membuat Dava benar-benar lupa akan kasta sosial mereka yang timpang. 

Malam itu, mereka bukan lagi majikan dan pelayan; mereka adalah sepasang manusia yang terjebak dalam obsesi, mengabaikan dunia luar yang penuh kepalsuan.

​Namun, kedamaian itu hanyalah ilusi yang sangat tipis.

​Menjelang dini hari, Dava tetap terjaga. Matanya menatap nanar ke arah langit-langit kamar yang dihiasi mural klasik, sementara tangannya merasakan sisa-sisa kehangatan tubuh Aurelia yang masih menempel di kulitnya.

​Dengan gerakan sangat perlahan agar tidak membangunkan wanita itu, Dava menjangkau ponselnya yang tergeletak di lantai. 

Satu pesan dari Sita masih terlihat di layar.

​Rasa bersalah menghantam ulu hati Dava. 

Ia baru saja melakukan hal yang seharusnya menjadi komitmen atas cinta, namun ia melakukannya demi segepok uang dan beasiswa S2. Ia merasa seperti pengkhianat yang menjual jiwanya.

​Dava hendak meletakkan kembali ponselnya saat matanya menangkap sesuatu yang ganjil. Sebuah hiasan dinding berupa ukiran kayu mahoni di sudut ruangan tampak sedikit miring—hanya beberapa milimeter, namun cukup untuk menarik perhatian mata Dava.

​Ia teringat kata-kata Aurelia sebelum mereka memulai: "Semua sistem internal sudah kumatikan, Dava. Kita punya privasi penuh."

​Dava bangkit dari tempat tidur dengan sangat hati-hati. Ia berjalan telanjang mendekati hiasan itu, kakinya yang dingin menyentuh marmer. Di balik celah kecil ukiran kayu tersebut, ia melihat sebuah titik hitam kecil.

Itu adalah sebuah lensa mikro yang sangat samar, nyaris tak terlihat jika tidak diperhatikan dengan jarak dekat. Tidak ada lampu merah yang berkedip, menandakan itu adalah kamera tipe sensor tinggi yang bekerja dalam spektrum infra merah.

​Dava membeku di tempatnya berdiri. 

Darahnya seolah berhenti mengalir. Jika Aurelia mengklaim sudah mematikan sistem keamanan internal rumah lewat panel kendali, lalu kamera milik siapa ini?

​Dava kembali ke tempat tidur dengan keringat dingin membasahi punggungnya. 

​Satu jawaban mengerikan muncul di benaknya. Reinhart? 

Dava bergidik ngeri. 

Dia mengira telah mencicipi kebebasan. Padahal, mungkin saja mereka berdua baru saja memberikan sebuah "pertunjukan" langsung yang disiarkan secara privat ke perangkat Reinhart di Singapura.

Ia berjalan mundur, penuh ketakutan.

​Dava menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua, mencoba memejamkan mata, namun pikirannya terus berputar liar.

“Tidak mungkin,” gumam Dava. 

Dava terlelap pada akhirnya, namun bahkan prasangka itu menghantui alam bawah sadarnya.

Apa ini harga yang harus dibayarnya demi mendapatkan uang secara mudah?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 129: Laporan yang Memuaskan

    Rumah mewah Reinhart terasa lebih gelap dan dingin dari biasanya. Lampu-lampu taman hanya menyala redup, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding marmer. Olivia melangkah masuk dengan langkah percaya diri, high heels hitamnya berbunyi pelan di lantai. Dress merah ketat yang ia pakai tadi malam sudah diganti dengan setelan hitam sederhana tapi tetap menonjolkan lekuk tubuhnya yang sempurna — payudara montok, pinggang ramping, pinggul lebar. Rambut hitam panjangnya tergerai, mata cokelatnya tajam dan penuh kepuasan. Penjaga membukakan pintu ruang kerja pribadi tanpa sepatah kata. Reinhart sudah duduk di balik meja mahoni besar, segelas whiskey di tangan kanan, senyum tipis menghiasi wajahnya. Ia menatap Olivia dari atas ke bawah seperti sedang menilai barang berharga yang baru saja dikembalikan. “Duduk,” kata Reinhart, suaranya rendah dan tenang. Olivia duduk di kursi depan meja, kakinya disilangkan dengan anggun. Ia mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya, meletakkannya di

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 128: Bonus yang Tak Terduga

    Dava melaju sendirian ke rumah mewah Reinhart di pinggiran kota. Jalan tol sepi, lampu-lampu jalan berkedip seperti mata yang mengawasi. Dava memakai jas hitam yang sama, rambut undercut rapi, aroma parfum mahal yang sudah menjadi ciri khasnya. Ia tahu pertemuan malam ini bukan pertemuan biasa. Reinhart memanggilnya langsung melalui pesan singkat sore tadi: “Malam ini jam 21.00. Datang sendirian. Kita perlu bicara soal kemajuanmu.” Dava tahu Reinhart puas. Clara Wijaya sudah jatuh lebih dalam dari yang ia prediksi. Pengakuan cinta Clara kemarin malam, akses penuh ke data Luna Group, dan hubungan intim yang semakin sering — semuanya berjalan sesuai rencana. Tapi Dava juga tahu, Reinhart bukan orang yang mudah puas. Ada sesuatu yang lebih besar di balik panggilan ini. Ia tiba tepat waktu. Penjaga membukakan gerbang tanpa sepatah kata. Dava masuk ke ruang kerja pribadi Reinhart di lantai dua — ruangan yang sama seperti pertemuan pertama, meja kayu mahoni besar, kursi kulit hitam, rak

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 127: Langkah Kedua – Racun yang Mulai Mengalir

    Pagi itu Dava bangun dengan kepala berat dan dada sesak. Cahaya matahari kota yang sudah terik menyusup lewat celah gorden kamar Nadia, tapi rumah gang terasa dingin dan kosong. Nadia masih di apartemen Tebet bersama Aurelia. Dava sendirian, hanya ditemani rasa bersalah yang semakin tebal setiap hari. Ia duduk di tepi ranjang, memandang foto Nadia di meja samping. Senyum polos Nadia, mata hijau besarnya yang penuh cinta — foto itu diambil sebelum liburan, sebelum semuanya menjadi neraka. Dava mengusap foto itu pelan, lalu berdiri. Hari ini adalah hari pertama ia benar-benar memulai langkah kedua: meracuni kepercayaan Clara Wijaya dari dalam. Langkah pertama sudah selesai. Clara sudah jatuh cinta. Ia sudah menyatakan perasaannya, sudah tidur dengannya dua kali, sudah percaya bahwa Dava adalah pria yang berbeda, yang bisa diandalkan. Sekarang saatnya langkah kedua: membuat Clara membuka diri sepenuhnya, memberikan akses ke rahasia bisnisnya, ke data sensitif Luna Group, ke kelemahan-k

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 126: Pertemuan Malam yang Pahit

    Malam itu langit Jakarta sudah gelap sepenuhnya, hanya diterangi lampu-lampu kota yang berkedip-kedip seperti bintang palsu. Dava duduk di teras belakang rumah gang, menatap langit tanpa bintang. Ponselnya bergetar pelan di saku jaket. Pesan dari Aurelia. “Dav… aku butuh bicara sama kamu. Hanya berdua. Malam ini. Ada sesuatu yang harus aku katakan. Tolong datang ke rooftop kafe biasa. Jam 22:00. Aku tunggu.” Dava menatap pesan itu lama. Jantungnya berdegup lebih kencang. Ia tahu Aurelia sedang menahan sesuatu sejak kemarin — rasa cemburu yang ia dengar di suaranya saat telepon dengan Nadia, diamnya saat ia mendengar desahan dari kamar. Ia tahu ini tidak akan mudah. Ia mengetik balasan singkat: “Oke. Aku datang. Tunggu aku.” Dava berdiri, mengambil kunci mobil. Ia tidak memberi tahu siapa pun. Ia hanya mengambil jaket hitam dan pergi. Sepanjang jalan ke Kemang, pikirannya berputar. Ia sedang menghancurkan Clara Wijaya demi Nadia. Ia sedang berbohong pada semua orang. Dan sekarang,

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 125: Panggilan Pagi dari Clara

    Pagi itu rumah kecil di gang masih diselimuti keheningan. Matahari baru saja muncul, sinarnya menyelinap pelan lewat jendela dapur yang kotor. Dava duduk di meja makan sendirian, gelas kopi hitam di depannya sudah setengah kosong. Ia belum tidur semalaman. Pikirannya penuh dengan rencana menghancurkan Clara Wijaya, dengan desahan Nadia dari malam sebelumnya, dengan rasa cemburu Aurelia yang ia rasakan di telepon, dan dengan ancaman Reinhart yang terus mengintai. Jam dinding menunjukkan pukul 07:15. Ponsel Dava bergetar di atas meja. Nomor Clara. Dava mengangkat dengan tangan yang sedikit gemetar. “Dav… pagi,” suara Clara terdengar lembut, tapi ada nada manja yang membuat Dava merinding. “Aku baru bangun. Kamu sudah di mana?” Dava menelan ludah. “Di rumah. Pagi, Clara.” Clara tertawa kecil. “Aku kangen kamu sejak tadi malam. Malam kemarin… luar biasa. Aku masih merasakan kamu di dalam aku.” Dava diam sebentar. Ia membayangkan tubuh Clara yang telanjang di ranjang mewahnya, desa

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 124: Pengakuan di Ruang Kerja

    Hari berikutnya, Dava melaju ke gedung PT. Luna Group dengan perasaan campur aduk. Jam menunjukkan pukul 16:30 sore. Langit kota sudah mulai jingga, tapi pikiran Dava gelap. Reinhart masih menunggu bukti kemajuan. Tapi setiap langkah Dava terasa seperti menginjak ranjau — satu kesalahan, semuanya bisa meledak. Ia memakai jas hitam custom yang sudah menjadi seragam barunya, rambut undercut rapi, aura yang Reinhart ciptakan membuatnya terlihat lebih tajam dan menarik. Clara sudah mengatur pertemuan sore ini di ruang kerjanya — bukan ruang meeting umum, tapi ruang pribadi Clara di lantai 18. “Kita bisa bicara lebih bebas,” kata Clara kemarin di telepon, suaranya hangat dan sedikit menggoda. Dava tiba di lantai 18. Sekretaris Clara menyambutnya dengan senyum profesional. “Bu Clara sudah menunggu di dalam, Pak Dava.” Dava masuk. Ruang kerja Clara luas, modern, dengan jendela kaca besar yang menghadap kota yang mulai menyala lampu. Clara berdiri di dekat meja, gaun hitam pendek membalut

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status