Share

Bab 2

Author: Penacely
last update publish date: 2026-10-29 00:23:32

“Bagus, bagus sekali, Rosalyn!”

Rosalyn membungkuk ke arah Putri Rania yang memberikan tepuk tangan paling meriah untuknya saat musik selesai. Suara gemuruh tepuk tangan menggelegar di seluruh penjuru gedung opera itu.

Berkat mendiang neneknya yang sudah menyekolahkannya dalam tarian balet, kini Rosalyn menjadi balerina yang paling mencuri perhatian dan dikagumi banyak bangsawan. Bahkan mereka rela membayar mahal untuk melihat pertunjukannya.

Rosalyn pun tersenyum kepada orang yang sering memberinya imbalan berupa kepingan emas. Dia begitu disukai oleh Putri Rania, dan Rosalyn begitu menyukai uangnya.

“Rosalyn, kemarilah!”

Rosalyn berjalan mendekati sang putri. “Salam, Putri. Saya memberi hormat.”

“Aku sungguh menyukai penampilanmu malam ini.”

Rosalyn juga menyukai pujian itu. Dia menyukai bahwa kemungkinan besar dirinya akan kembali mendapatkan imbalan yang bisa dia pakai untuk melunasi utang.

“Namun kali ini suamiku yang akan memberikan imbalan untukmu. Dia akan menemuimu di belakang panggung,” ujar Rania.

Senyum Rosalyn seketika memudar. Bukannya dia tidak senang, hanya saja ini pertama kalinya dia mendengar bahwa suami Putri Rania, Pangeran Kedua Damian Alexan yang akan memberikan hadiah secara langsung.

Dia baru menyadari bahwa Pangeran yang biasanya duduk disamping istrinya menemani menonton pertunjukan kini tidak ada di sana.

“Jangan takut,” ujar Rania, seolah mengetahui kekhawatiran balerina favoritnya itu. “Dia tidak akan membuatmu gemetar ketakutan.”

Dengan senyum paksa, dia membungkuk sebagai tanda hormat, kemudian berpamitan untuk pergi ke belakang panggung. Setibanya di sana langsung mencari keberadaan Damian Alexan.

“Tidak ada,” gumam Rosalyn.

Setelah berdiri diam dan menunggu, Rosalyn akhirnya memilih pergi. Dia menyerah dan tidak ingin lagi membuang waktu untuk mencarinya meskipun dia ingin mendapatkan imbalan itu.

Dia memasuki kamar ganti yang disediakan khusus untuknya, mulai melepaskan jepit rambutnya satu per satu. Terakhir, dia membiarkan rambut panjang berwarna cokelat kemerahan itu terurai hingga mencapai pinggangnya.

“Bagaimana ini? Tidak dapat koin emas?” gumamnya sambil menutup lemari.

BRAK!

“Akh!”

Begitu pintu lemari tertutup, dia melihat pantulan seseorang di cermin. Rosalyn langusng berbalik dan mendapati seorang pria berdiri tepat di belakangnya sambil menunduk.

“Siapa kau?” tanyanya ketakutan. Dia buru-buru menutupi bagian pakaiannya yang sedikit terbuka.

Namun begitu pria asing itu mengangkat wajahnya, Rosalyn langsung membeku.

Itu Pangeran Kedua…

Damian Alexan, suami dari wanita yang begitu menyukai penampilannya. Pria yang memiliki tatapan tajam saat ini berdiri di hadapannya!

“Pangeran Kedua.” Rosalyn sambil membungkuk untuk memberikan hormat. “Maafkan saya!”

Rosalyn menunduk begitu mendengar langkah kaki mendekat. Lalu sepasang sepatu hitam mewah khas bangsawan kelas atas berhenti di hadapannya. Dan saat itu, dia menyadari bahwa nasib buruk mungkin akan menimpanya sebentar lagi.

“Angkat kepalamu,” ucap Damian. Suaranya terdengar begitu asing di telinga.

Rosalyn menuruti perintah itu. Perlahan dia mengangkat wajahnya, tetapi tetap tidak berani menatap sang pangeran secara langsung.

“Tatap aku,” perintah pria itu.

Rosalyn mulai gemetar. Kedua tangannya saling meremas karena gelisah. “T-Tapi, Pangeran....”

“Aku bilang tatap aku,” kata Damian sekali lagi. Nada bicaranya tetap tenang, tetapi dinginnya terasa seolah mampu menenggelamkan siapa pun ke dasar lautan.

Rosalyn tidak punya pilihan lain selain mengangkat wajahnya. Rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya, sementara mata cokelatnya menatap mata Damian yang berwarna abu-abu kehijauan.

Ini… adalah pertama kalinya dia menatap wajah sang pangeran dari jarak sedekat ini.

Berbeda dengan Rosalyn, Damian hanya terdiam. Dia tampak tenang, menatap wanita yang begitu disukai oleh istrinya. Balerina yang paling sering dia dengar namanya, sekaligus wanita yang kecantikannya konon begitu dikagumi oleh para bangsawan.

“Ulurkan tanganmu,” ujar Damian lagi.

Rosalyn menuruti perintahnya dengan menyodorkan telapak tangannya yang masih dihiasi bulu-bulu dan aksesori khas penari balet.

“Apa dua koin emas cukup?” tanya pria itu, membuat Rosalyn tersentak.

Rosalyn langsung membungkuk lagi. “Cukup!”

“Terima kasih banyak atas kemurahan hati Pangeran.”

“Menurutmu… Kenapa aku harus repot-repot memberikan koin emas untuk orang sepertimu?”

Damian membungkuk, menatap Rosalyn lekat-lekat hingga tubuhnya menegang.

“Apa kau pikir kau begitu istimewa?”

Rosalyn hanya terdiam mematung, dia tak tahu harus menjawab apa. Namun dia tahu bahwa ucapan itu tak lebih dari rasa tidak suka pangeran terhadap orang sepertinya.

Tidak lama setelah itu, Rosalyn merasa pria itu telah pergi begitu saja saat langkah kakinya perlahan terdengar menjauh. Kedua tangannya gemetar menggenggam dua koin emas itu.

“Apa salahku?”

____

Suasana malam yang basah karena diguyur hujan, Rosalyn berjalan menuntun sepedanya menyusuri rumah-rumah kecil di gang. Meski langkahnya tenang, hatinya bergemuruh kacau saat teringat ucapan sang pangeran.

Apa kau pikir kau begitu istimewa?

Tentu saja tidak. Rosalyn hanya seorang anak haram dari seorang bangsawan yang bahkan tak mengakui kelahirannya.

Dan jika yang dimaksud oleh Pangeran Damian adalah kecantikannya yang selalu diincar pria bangsawan, maka Rosalyn akan mengakuinya. Tapi jika yang dimaksud adalah kemampuan baletnya, tentu saja dia tidak terima!

Rosalyn semakin larut dalam perasaannya, sampai-sampai tak terasa dia sudah sampai di depan pintu rumah kayu tempatnya pulang.

KLEK!

Pintu kayu itu terbuka. Perapian tua di dalam rumah menjadi sumber kehangatan untuk mengusir dingin setelah seharian beraktivitas.

“Ibu? Sedang apa?” tanyanya ketika melihat ibunya menunduk di dekat perapian.

Wanita yang wajahnya mulai keriput itu melirik putrinya dengan sinis. “Ibu sedang menghangatkan diri. Kau tidak lihat hujan membuat udara semakin dingin?”

Rosalyn meletakkan tas di bahunya, kemudian duduk di meja makan yang sudah rapuh. Dia mengambil gelas, menuangkan air hangat, lalu meminumnya. Sejenak dia memperhatikan ibunya, teringat dengan perdebatan belum lama ini.

“Aku hanya bertanya. Lagipula, aku tidak begitu merasa kedinginan,” ucap Rosalyn setelah menghabiskan air hangatnya.

Rose yang memiliki semangat tinggi untuk mengubah hidup, segera menghampiri putri satu-satunya dengan senyum mengembang. Dia menopang dagunya dengan satu tangan, lalu menatap Rosalyn lekat-lekat.

“Hari ini surat lamaran datang lagi,” ujar wanita itu. “Jumlahnya ada lima. Maukah kau membacanya?”

Rosalyn langsung menghela napas, kemudian bangkit dari duduknya. “Sudah kubilang aku tidak tertarik. Aku tidak akan menikah, dan ibu sudah berjanji tidak membahasnya lagi.”

Rose langsung terbelalak. “Jika kau tidak menikah, bagaimana kita bisa melanjutkan garis keturunan keluarga ini?!”

Rosalyn pun menghentikan langkahnya. Dia kembali menoleh kepada ibunya sambil tersenyum tipis.

“Ibu, keluarga kita bukan keluarga kerajaan. Jadi, untuk apa pusing memikirkan garis keturunan?”

Rose semakin emosi. “Bagaimana dengan utang? Siapa yang akan membayarnya?”

“Aku,” balas Rosalyn cepat. “Aku yang akan membayarnya jadi tenang saja.”

Setelah puas melihat respons ibunya, Rosalyn pergi ke kamarnya. Dia ingin ibunya tahu bahwa urusan pernikahan dan jalan hidup sepenuhnya berada di tangannya.

Rosalyn duduk di kursi belajarnya yang sudah usang dimakan usia. Setelah itu, dia mengambil dua koin emas yang baru diberikan sebagai imbalan atas penampilannya malam ini.

“Ini adalah pertama kalinya aku bertatap muka dengan Pangeran Kedua,” ucap Rosalyn sambil memandangi dua koin emas di tangannya.

Ingatannya kembali menelusuri kejadian beberapa jam sebelumnya. Saat itu, tubuhnya nyaris terjatuh karena ketakutan saat berhadapan dengan seorang pangeran yang dikenal sangat kejam di medan perang. Dan ucapannya itu… membuatnya merasa tidak nyaman.

Dan kenapa pula dia mengatakan hal seperti itu? Kenapa dia begitu membencinya meskipun baru pertama kali bertemu?

Tidak ingin berlarut-larut, Rosalyn mengalihkan pandangannya pada setumpuk surat yang berserakan di atas meja. Dia mulai membuka surat-surat lamaran dari para pemuda yang mengaguminya, bahkan dari pria tua yang ingin menjadikannya selir.

“Kenapa mereka sangat ingin menikah?” ujarnya saat membaca salah satu surat itu.

Surat yang berasal dari seorang prajurit bernama Arno yang berjasa di medan perang dan berniat menikahi Rosalyn sebagai istrinya setelah memenangkan peperangan. Dia benar-benar kagum kepada pria yang masih sempat mengirimkan surat cinta meskipun sedang berada di medan perang.

“Memangnya siapa yang mau menikah?” Rosalyn tersenyum penuh ambisi.

“Tujuan hidupku adalah mendapatkan kebebasan. Aku akan pergi ke ujung dunia, membangun vila yang cantik, lalu menghabiskan sisa hidupku dengan berkebun dan beternak.”

Tangan Rosalyn bergerak menunjuk sebuah tempat yang ada di peta. Tempat yang sangat jauh dari Kerajaan Docia. Sebuah tempat di mana dia ingin menghabiskan sisa hidupnya, jauh dari segala tekanan yang selama ini membuatnya sesak.

“Daripada bernasib sama seperti ibu. Aku lebih baik tidak menikah seumur hidupku.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 6

    DORR!!Peluru itu melesat, memecah keheningan. Telinga Rosalyn berdenging sementara tubuhnya semakin gemetar saat melihat cairan merah mengalir menodai lantai. Pria yang beberapa saat lalu mencoba melecehkannya kini tergeletak setelah Pangeran Damian melepaskan satu tembakan dari pistolnya.Pada saat itu, Rosalyn akhirnya menyadari betapa jauhnya kehidupan sederhana yang dijalaninya dari kehidupan orang-orang kalangan atas. Pangeran Damian tidak segan menembak seseorang yang melakukan tindakan menjijikkan di wilayah kekuasaannya.“P-Pangeran….” Rosalyn yang masih ketakutan akhirnya memberanikan diri untuk membuka mulut.Dengan kaki dan tangan yang gemetar, Rosalyn berusaha bangkit meskipun berkali-kali dia mencoba dan jatuh. Tubuhnya terasa begitu lemah, sementara rasa takut yang masih menguasai dirinya membuatnya kesulitan untuk berdiri tegak.“M-Maafkan saya,” ucap Rosalyn setelah akhirnya berhasil berdiri dengan berpegangan pada meja di sampingnya.Satu tangannya berusaha menutupi

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 5

    Malam itu di balkon istana, sepeda usang terlihat masih terparkir di halaman istana. Pekerjaan sebagai model pakaian belum juga usai.Damian berdiri di balkon, memandangi sepeda itu. Sebenarnya, dia tidak begitu terganggu dengan keberadaan sepeda itu. Hanya saja, dia tahu bahwa istrinya telah membuat wanita itu bekerja hingga larut malam.“Oscar,” panggil Damian.Ajudannya segera melangkah mendekat. “Ya, Pangeran.”“Apa pelukis dan balerina itu masih lama?” tanyanya tanpa menoleh.“Sepertinya masih cukup lama, mengingat Putri Rania menginginkan hasil yang sempurna dengan detail yang cukup memakan waktu,” jawab Oscar berdasarkan pengamatannya.Damian kembali mengembuskan asap cerutunya. Kali ini, dia menatap langit seolah sedang menikmati pemandangan indah di hadapannya. Namun, sebenarnya dia hanya sedang memikirkan betapa liciknya cara Rania memperlakukan seseorang yang tidak berdaya.“Apa istriku masih di sana? Apa dia terus mengawasi sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 4

    “Rosalyn… kenapa aku harus melakukan hal-hal seperti ini lagi untuk orang sepertimu?”Rosalyn semakin tertekan mendengar bisikan itu tepat di telinganya. Tatapan sang pangeran yang dipenuhi kebencian membuatnya semakin takut hingga dia memilih menundukkan pandangan dan memejamkan mata, seolah ingin menghindari tatapan mengerikan pria itu.“Apa kau tahu betapa seringnya aku mendengar namamu?” Bisikan itu kembali terdengar. “Aku sampai membenci nama itu.”Damian semakin mendekatkan dirinya ke samping leher Rosalyn. “Jika perlu…“Aku tidak ingin mendengarnya lagi.”Wajah Rosalyn tertunduk kaku. Dia begitu merinding mendengar bisikan -bisikan yang menujukkan rasa ketidaksukaan. Dia tahu mungkin kehadirannya di dekat istri sang pangeran adalah sesuatu yang tidak dia sukai.Namun…Rosalyn tidak tahu alasan kenapa dia begitu dibenci. Jika disukai pangeran adalah ketidakmungkinan yang bisa dia terima. Tapi dibenci? Apakah dia bahkan pantas dibenci oleh seseorang seperti Pangeran?Sreeet…Tira

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 3

    Pagi itu, Rosalyn pergi bekerja sebagai pelatih balet bagi anak-anak kecil. Setiap hari Senin dan Selasa dia berangkat dengan senyum ceria, mengayuh sepeda keranjangnya yang tampak usang dan jauh dari kata layak dipandang.“Rosalyn!”Rosalyn menoleh saat namanya dipanggil dengan begitu keras. Dia tersenyum sambil melambaikan tangan ketika melihat Thomas, petugas kebersihan yang berlari ke arahnya dengan wajah cemas.“Ada apa?” tanya Rosalyn.Thomas terlihat gelisah dan langsung menyerahkan selembar kertas kepada Rosalyn, lalu menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.“Putri Rania memanggilmu ke istana,” ucap pria itu.Rosalyn membeku. Dia membaca kata demi kata surat itu berulang kali untuk memastikan bahwa yang dibacanya benar. Namun, begitu melihat tanda tangan Putri Rania, tubuhnya langsung lemas hingga dia terhuyung ke belakang.“Kenapa putri memanggilku?” tanyanya cemas. “Apa aku melakukan kesalahan?”Pikiran Rosalyn langsung mencari-cari kemungkinan yang membuatnya harus

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 2

    “Bagus, bagus sekali, Rosalyn!”Rosalyn membungkuk ke arah Putri Rania yang memberikan tepuk tangan paling meriah untuknya saat musik selesai. Suara gemuruh tepuk tangan menggelegar di seluruh penjuru gedung opera itu.Berkat mendiang neneknya yang sudah menyekolahkannya dalam tarian balet, kini Rosalyn menjadi balerina yang paling mencuri perhatian dan dikagumi banyak bangsawan. Bahkan mereka rela membayar mahal untuk melihat pertunjukannya.Rosalyn pun tersenyum kepada orang yang sering memberinya imbalan berupa kepingan emas. Dia begitu disukai oleh Putri Rania, dan Rosalyn begitu menyukai uangnya.“Rosalyn, kemarilah!”Rosalyn berjalan mendekati sang putri. “Salam, Putri. Saya memberi hormat.”“Aku sungguh menyukai penampilanmu malam ini.”Rosalyn juga menyukai pujian itu. Dia menyukai bahwa kemungkinan besar dirinya akan kembali mendapatkan imbalan yang bisa dia pakai untuk melunasi utang.“Namun kali ini suamiku yang akan memberikan imbalan untukmu. Dia akan menemuimu di belakan

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 1

    “Rosalyn! Menikahlah denganku. Jika kita menikah, aku janji akan mencintaimu seumur hidupku dan setia. Aku bahkan akan membuatmu tidak perlu bekerja lagi!“Tidak! Berhenti mengejarku dan pergi!”Wanita muda bernama Rosalyn itu menatap pemuda berseragam militer di hadapannya dengan kesal. Sementara tangannya sibuk memilih tomat yang masih layak dikonsumsi meskipun dibeli dengan harga murah di pasar yang terletak di pinggiran kota Docia.“Aku bisa membiayai hidupmu. Aku seorang prajurit dan gajiku cukup untuk memenuhi kebutuhan kita,” ucap pria itu lagi.Rosalyn berkacak pinggang. “Bahkan jika kau seorang jenderal atau pangeran, aku tidak akan menikah denganmu!”“Jangan bercanda, tidak ada jenderal atau pangeran yang bisa menikah denganmu!” Pemuda itu mulai kehabisan kesabaran.Rosalyn hanya mendengus kesal. Dia memilih mengabaikan pemuda yang bahkan namanya sudah dia lupakan itu. Pria itu terus mengejarnya sejak dia tiba di pasar.“Oh, ayolah, Rosalyn. Aku bisa membuatmu bahagia. Terle

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status