Share

Bab 3

Author: Penacely
last update publish date: 2026-10-29 00:27:45

Pagi itu, Rosalyn pergi bekerja sebagai pelatih balet bagi anak-anak kecil. Setiap hari Senin dan Selasa dia berangkat dengan senyum ceria, mengayuh sepeda keranjangnya yang tampak usang dan jauh dari kata layak dipandang.

“Rosalyn!”

Rosalyn menoleh saat namanya dipanggil dengan begitu keras. Dia tersenyum sambil melambaikan tangan ketika melihat Thomas, petugas kebersihan yang berlari ke arahnya dengan wajah cemas.

“Ada apa?” tanya Rosalyn.

Thomas terlihat gelisah dan langsung menyerahkan selembar kertas kepada Rosalyn, lalu menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

“Putri Rania memanggilmu ke istana,” ucap pria itu.

Rosalyn membeku. Dia membaca kata demi kata surat itu berulang kali untuk memastikan bahwa yang dibacanya benar. Namun, begitu melihat tanda tangan Putri Rania, tubuhnya langsung lemas hingga dia terhuyung ke belakang.

“Kenapa putri memanggilku?” tanyanya cemas. “Apa aku melakukan kesalahan?”

Pikiran Rosalyn langsung mencari-cari kemungkinan yang membuatnya harus menemui Putri Rania, wanita yang begitu disayangi oleh keluarga kerajaan. Hingga akhirnya, ingatannya tertuju pada kejadian ketika dia menerima dua koin emas dari pangeran kedua.

“Mungkinkah karena itu?” pikirnya ragu.

Dan begitu menjelang siang, Rosalyn tetap mengajar meskipun jauh di dalam hatinya, kecemasan terus mengusik. Menunggu hingga tengah hari tiba terasa begitu lama, membuat jantungnya semakin berdebar setiap kali teringat undangan dari Putri Rania.

“Latihan hari ini cukup sampai di sini karena ibu guru ada urusan mendesak,” ucap Rosalyn sambil sesekali mengusap kepala anak-anak didiknya yang terlihat menggemaskan.

“Sampai jumpa lagi, Ibu Guru!” teriak anak-anak secara bersamaan.

Rosalyn mengangguk dan tersenyum, lalu melambaikan tangannya kepada mereka.

“Sampai jumpa lagi!”

Begitu keluar dari gedung sekolah seni, Rosalyn langsung mengayuh sepedanya secepat mungkin menuju istana. Bagaimanapun, datang terlambat setelah menerima undangan dari Putri Rania merupakan tindakan yang tidak pantas, terlebih mengingat kedudukan wanita itu sebagai anggota keluarga kerajaan.

“Apa pun yang terjadi nanti, semoga semuanya baik-baik saja,” ucap Rosalyn sambil mengayuh sepedanya semakin cepat.

Setibanya di gerbang tinggi istana pangeran kedua yang begitu megah, Rosalyn menunjukkan surat undangan dengan segel khusus milik Putri Rania. Berkat surat itu, dia diizinkan masuk setelah melewati pemeriksaan ketat.

“Nona Rosalyn?” sapa seorang pria berwajah mengenakan setelan jas rapi.

“Silakan ikut dengan saya. Putri Rania sudah menunggu Anda di dalam.”

Rosalyn mengikutinya melewati halaman yang luas dengan taman-taman bunga. Betapa megahnya istana pangeran kedua yang selama ini hanya bisa dia dengar melalui gosip yang beredar.

Sebuah air mancur berdiri di tengah taman. Beberapa burung merpati putih bertengger di sekitarnya. Untuk sesaat, kecemasannya terlupakan oleh keindahan tempat itu.

“Silakan, Putri Rania ada di dalam,” ucap kepala pelayan dengan ramah.

Rosalyn mengangguk, lalu perlahan melangkahkan kaki melewati pintu putih yang menghubungkan bangunan itu dengan taman belakang.

“Rosalyn!”

Rania memanggilnya dengan antusias. Wanita itu sedang duduk di kursi rodanya bersama pelayan pribadinya. Wajahnya tampak begitu bahagia melihat Rosalyn datang tepat waktu.

Namun, ada sesuatu yang membuatnya merasa aneh ketika melihat beberapa gaun yang tergantung, peralatan rias, papan lukis berukuran besar, serta seorang pria berpakaian nyentrik yang tampaknya merupakan pelukis itu sendiri.

“Duduklah, Rosalyn. Jangan sungkan,” ucap Rania.

Rosalyn duduk dengan anggun. Dia berusaha bersikap sopan dan menjaga etika di hadapan wanita bangsawan itu.

“Maaf, Putri. Sebelumnya, apakah saya melakukan kesalahan hingga Putri memanggil saya ke istana yang begitu megah ini?” tanya Rosalyn.

“Apa?” Rania mengernyit, lalu tertawa.

“Hahaha!”

Dia menutupi mulutnya dengan tangan yang memegang saputangan berenda. “Jadi, kau mengira aku akan menghukummu karena suatu kesalahan?”

Rosalyn mengangguk kecil. “Maaf, Putri. Saya hanya khawatir telah melakukan sesuatu yang tidak berkenan.”

“Tidak, Rosalyn,” jawab Rania cepat. “Bagaimana mungkin aku menghukum balerina yang begitu kusukai?”

Rosalyn seketika membeku. Dia mendongakkan wajah, menatap wanita bangsawan di hadapannya yang terang-terangan mengakui bahwa dirinya adalah balerina favoritnya.

“Kalau aku menghukummu, bagaimana mungkin aku bisa menikmati tarianmu yang indah itu di kemudian hari?” lanjut Rania sambil tersenyum.

“Daripada memikirkan hal itu, lebih baik kau segera bersiap dan mencoba gaun indah rancanganku yang akan dijual pada musim panas nanti. Aku ingin kau menjadi model pertama yang mengenakan gaun rancanganku.”

Rosalyn seketika tertegun. “Saya? Bagaimana mungkin saya—”

“Rosalyn,” potong Rania cepat. “Tidak ada wanita yang lebih cocok mengenakan gaun rancanganku selain dirimu.”

“Bukankah kau pernah mendengarnya? Kau itu adalah balerina tercantik yang dikagumi banyak bangsawan.”

“Lagipula aku akan membayarmu dengan harga mahal, jadi lakukan saja.”

Senyum Rania perlahan memudar. Tatapannya berubah, menyiratkan tuntutan dan perintah yang tidak bisa dibantah. Seolah-olah Rosalyn sama sekali tidak memiliki hak untuk menolak keinginannya.

Meskipun Rosalyn tidak ingin memakai baju seperti itu, dia tak kuasa menolak perintah. Dia juga butuh uang itu. Akhirnya, dia pergi menuju ruangan yang disediakan khusus untuk berganti pakaian dan dirias.

“Tenangkan dirimu, Rosalyn. Semuanya demi uang,” ucapnya sambil mulai melepas satu per satu pakaiannya.

Setelah berganti pakaian, Rosalyn membiarkan wajahnya dipoles. Rambutnya yang panjang disanggul dengan hiasan kepala.

“Cantik sekali,” ucap Rania.

Setelah selesai dengan riasan dan gaya rambut, Rosalyn mendekati sang putri dan mengikuti perintahnya untuk melakukan gerakan memutar, memperlihatkan gaun indah yang melekat di tubuhnya yang ramping.

“Sempurna!” puji Rania. “Terakhir, kamu harus memakai kalung ini. Kamu bisa memakainya di balik tirai dengan cermin yang lebih besar.”

Rosalyn mengangguk patuh. “Baik, Putri.”

Sreeet…

Tirai tersibak begitu saja. Rosalyn masuk dengan kalung berkilauan. Sebelum itu, dia memandangi dirinya sendiri yang tampak berbeda dari biasanya.

“Berpakaian seperti bangsawan... apakah aku pantas?” pikirnya.

Rosalyn mulai memasangkan kalung itu dengan mengaitkan penguncinya di belakang leher. Namun, semakin dia berusaha, semakin dia kesulitan.

“Rosalyn! Keluarlah jika sudah selesai!” Terdengar suara Rania sampai ke dalam tirai.

“Maaf, Putri! Tapi, saya kesulitan memasang kalung yang Anda berikan,” jawab Rosalyn dari balik tirai yang masih tertutup.

Rosalyn menunggu. Dia mengira diamnya Putri Rania adalah tanda bahwa wanita itu akan membawa seseorang untuk membantunya memasangkan kalung. Namun, dia sudah cukup lama menunggu hingga akhirnya berniat keluar dari balik tirai.

Namun, tiba-tiba...

Sreeet…

Tirai tersibak. Rosalyn langsung membeku di tempatnya.

Dia lagi.

Pangeran Damian.

Rosalyn tidak menyangka bahwa orang yang masuk ke balik tirai bukanlah seorang pelayan, melainkan pangeran. Kini, pria itu berdiri di belakangnya dengan tubuh yang begitu tinggi hingga membuat Rosalyn terlihat kecil.

Ternyata, gosip itu benar. Sang pangeran memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Namun di balik itu, tatapannya yang tajam menunjukkan kebencian dan sesuatu yang lain yang lebih rumit.

“Pangeran, kenapa Anda...” Rosalyn tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

Rosalyn merasa tertekan, tatapan pria itu semakin membuatnya tak mampu bicara. Apalagi dia perlahan mengangkat kalung dan mengarahkannya ke lehernya. Jarak antara sang pangeran dan rakyat biasa kini terlalu dekat.

“Singkirkan tanganmu agar semuanya cepat selesai,” ucap Damian.

Rosalyn terjebak dalam situasi yang sulit. Tubuhnya gemetar karena harus berhadapan secara tiba-tiba dengan Damian, yang kini berdiri begitu dekat untuk memasangkan kalung di lehernya. Namun, di saat yang sama, dia juga ingin melindungi bagian bahunya yang terbuka dari pandangan pria itu.

“Singkirkan, atau aku sendiri yang memaksamu?” Suara Damian kembali terdengar mengancam.

Rosalyn tidak memiliki pilihan lain selain menurunkan tangannya dan memejamkan mata ketika napas pria itu terasa begitu dekat menyentuh lehernya.

Merasa semuanya telah selesai, Rosalyn perlahan membuka mata. Namun, dia justru membeku saat melihat cermin. Bukan kalung yang menarik perhatiannya, melainkan tatapan Damian yang begitu sulit diartikan.

“Rosalyn... kenapa aku harus melakukan hal-hal seperti ini lagi untuk orang sepertimu?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 6

    DORR!!Peluru itu melesat, memecah keheningan. Telinga Rosalyn berdenging sementara tubuhnya semakin gemetar saat melihat cairan merah mengalir menodai lantai. Pria yang beberapa saat lalu mencoba melecehkannya kini tergeletak setelah Pangeran Damian melepaskan satu tembakan dari pistolnya.Pada saat itu, Rosalyn akhirnya menyadari betapa jauhnya kehidupan sederhana yang dijalaninya dari kehidupan orang-orang kalangan atas. Pangeran Damian tidak segan menembak seseorang yang melakukan tindakan menjijikkan di wilayah kekuasaannya.“P-Pangeran….” Rosalyn yang masih ketakutan akhirnya memberanikan diri untuk membuka mulut.Dengan kaki dan tangan yang gemetar, Rosalyn berusaha bangkit meskipun berkali-kali dia mencoba dan jatuh. Tubuhnya terasa begitu lemah, sementara rasa takut yang masih menguasai dirinya membuatnya kesulitan untuk berdiri tegak.“M-Maafkan saya,” ucap Rosalyn setelah akhirnya berhasil berdiri dengan berpegangan pada meja di sampingnya.Satu tangannya berusaha menutupi

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 5

    Malam itu di balkon istana, sepeda usang terlihat masih terparkir di halaman istana. Pekerjaan sebagai model pakaian belum juga usai.Damian berdiri di balkon, memandangi sepeda itu. Sebenarnya, dia tidak begitu terganggu dengan keberadaan sepeda itu. Hanya saja, dia tahu bahwa istrinya telah membuat wanita itu bekerja hingga larut malam.“Oscar,” panggil Damian.Ajudannya segera melangkah mendekat. “Ya, Pangeran.”“Apa pelukis dan balerina itu masih lama?” tanyanya tanpa menoleh.“Sepertinya masih cukup lama, mengingat Putri Rania menginginkan hasil yang sempurna dengan detail yang cukup memakan waktu,” jawab Oscar berdasarkan pengamatannya.Damian kembali mengembuskan asap cerutunya. Kali ini, dia menatap langit seolah sedang menikmati pemandangan indah di hadapannya. Namun, sebenarnya dia hanya sedang memikirkan betapa liciknya cara Rania memperlakukan seseorang yang tidak berdaya.“Apa istriku masih di sana? Apa dia terus mengawasi sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 4

    “Rosalyn… kenapa aku harus melakukan hal-hal seperti ini lagi untuk orang sepertimu?”Rosalyn semakin tertekan mendengar bisikan itu tepat di telinganya. Tatapan sang pangeran yang dipenuhi kebencian membuatnya semakin takut hingga dia memilih menundukkan pandangan dan memejamkan mata, seolah ingin menghindari tatapan mengerikan pria itu.“Apa kau tahu betapa seringnya aku mendengar namamu?” Bisikan itu kembali terdengar. “Aku sampai membenci nama itu.”Damian semakin mendekatkan dirinya ke samping leher Rosalyn. “Jika perlu…“Aku tidak ingin mendengarnya lagi.”Wajah Rosalyn tertunduk kaku. Dia begitu merinding mendengar bisikan -bisikan yang menujukkan rasa ketidaksukaan. Dia tahu mungkin kehadirannya di dekat istri sang pangeran adalah sesuatu yang tidak dia sukai.Namun…Rosalyn tidak tahu alasan kenapa dia begitu dibenci. Jika disukai pangeran adalah ketidakmungkinan yang bisa dia terima. Tapi dibenci? Apakah dia bahkan pantas dibenci oleh seseorang seperti Pangeran?Sreeet…Tira

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 3

    Pagi itu, Rosalyn pergi bekerja sebagai pelatih balet bagi anak-anak kecil. Setiap hari Senin dan Selasa dia berangkat dengan senyum ceria, mengayuh sepeda keranjangnya yang tampak usang dan jauh dari kata layak dipandang.“Rosalyn!”Rosalyn menoleh saat namanya dipanggil dengan begitu keras. Dia tersenyum sambil melambaikan tangan ketika melihat Thomas, petugas kebersihan yang berlari ke arahnya dengan wajah cemas.“Ada apa?” tanya Rosalyn.Thomas terlihat gelisah dan langsung menyerahkan selembar kertas kepada Rosalyn, lalu menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.“Putri Rania memanggilmu ke istana,” ucap pria itu.Rosalyn membeku. Dia membaca kata demi kata surat itu berulang kali untuk memastikan bahwa yang dibacanya benar. Namun, begitu melihat tanda tangan Putri Rania, tubuhnya langsung lemas hingga dia terhuyung ke belakang.“Kenapa putri memanggilku?” tanyanya cemas. “Apa aku melakukan kesalahan?”Pikiran Rosalyn langsung mencari-cari kemungkinan yang membuatnya harus

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 2

    “Bagus, bagus sekali, Rosalyn!”Rosalyn membungkuk ke arah Putri Rania yang memberikan tepuk tangan paling meriah untuknya saat musik selesai. Suara gemuruh tepuk tangan menggelegar di seluruh penjuru gedung opera itu.Berkat mendiang neneknya yang sudah menyekolahkannya dalam tarian balet, kini Rosalyn menjadi balerina yang paling mencuri perhatian dan dikagumi banyak bangsawan. Bahkan mereka rela membayar mahal untuk melihat pertunjukannya.Rosalyn pun tersenyum kepada orang yang sering memberinya imbalan berupa kepingan emas. Dia begitu disukai oleh Putri Rania, dan Rosalyn begitu menyukai uangnya.“Rosalyn, kemarilah!”Rosalyn berjalan mendekati sang putri. “Salam, Putri. Saya memberi hormat.”“Aku sungguh menyukai penampilanmu malam ini.”Rosalyn juga menyukai pujian itu. Dia menyukai bahwa kemungkinan besar dirinya akan kembali mendapatkan imbalan yang bisa dia pakai untuk melunasi utang.“Namun kali ini suamiku yang akan memberikan imbalan untukmu. Dia akan menemuimu di belakan

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 1

    “Rosalyn! Menikahlah denganku. Jika kita menikah, aku janji akan mencintaimu seumur hidupku dan setia. Aku bahkan akan membuatmu tidak perlu bekerja lagi!“Tidak! Berhenti mengejarku dan pergi!”Wanita muda bernama Rosalyn itu menatap pemuda berseragam militer di hadapannya dengan kesal. Sementara tangannya sibuk memilih tomat yang masih layak dikonsumsi meskipun dibeli dengan harga murah di pasar yang terletak di pinggiran kota Docia.“Aku bisa membiayai hidupmu. Aku seorang prajurit dan gajiku cukup untuk memenuhi kebutuhan kita,” ucap pria itu lagi.Rosalyn berkacak pinggang. “Bahkan jika kau seorang jenderal atau pangeran, aku tidak akan menikah denganmu!”“Jangan bercanda, tidak ada jenderal atau pangeran yang bisa menikah denganmu!” Pemuda itu mulai kehabisan kesabaran.Rosalyn hanya mendengus kesal. Dia memilih mengabaikan pemuda yang bahkan namanya sudah dia lupakan itu. Pria itu terus mengejarnya sejak dia tiba di pasar.“Oh, ayolah, Rosalyn. Aku bisa membuatmu bahagia. Terle

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status