ログインHari-hari bergulir begitu saja.Sejak kejadian malam itu, Rosalyn terus mengurung diri di kamarnya. Untuk pertama kalinya, dia terbangun karena suara bising yang semakin lama semakin mengganggu.“Sebenarnya, apa yang sedang dilakukan Ibu?” gumamnya kesal.Dia menuruni tangga kayu sambil mengucek matanya yang masih terasa berat. Namun, langkahnya seketika terhenti saat melihat keadaan rumahnya yang berantakan. Matanya membulat, menatap barang-barang yang berserakan.“Ibu!” serunya.“Ibu!”“Ada apa ini, Bu?”Rosalyn segera menghampiri ibunya yang terduduk di lantai kayu sambil menangis. Rose langsung memegangi bahu putrinya dengan erat, sementara air mata terus mengalir membasahi wajahnya.“Kenapa kau baru keluar sekarang?” tanya Rose di sela-sela tangisannya. “Kenapa?!”“Kenapa kau mengurung diri di kamar sampai mengabaikan ibumu sendiri, hah?!” Rose berteriak begitu keras hingga Rosalyn tertegun.“Penagih utang datang, Rosalyn! Mereka membuat rumah kita berantakan dan menghancurkan ba
DORR!!Peluru itu melesat, memecah keheningan. Telinga Rosalyn berdenging sementara tubuhnya semakin gemetar saat melihat cairan merah mengalir menodai lantai. Pria yang beberapa saat lalu mencoba melecehkannya kini tergeletak setelah Pangeran Damian melepaskan satu tembakan dari pistolnya.Pada saat itu, Rosalyn akhirnya menyadari betapa jauhnya kehidupan sederhana yang dijalaninya dari kehidupan orang-orang kalangan atas. Pangeran Damian tidak segan menembak seseorang yang melakukan tindakan menjijikkan di wilayah kekuasaannya.“P-Pangeran….” Rosalyn yang masih ketakutan akhirnya memberanikan diri untuk membuka mulut.Dengan kaki dan tangan yang gemetar, Rosalyn berusaha bangkit meskipun berkali-kali dia mencoba dan jatuh. Tubuhnya terasa begitu lemah, sementara rasa takut yang masih menguasai dirinya membuatnya kesulitan untuk berdiri tegak.“M-Maafkan saya,” ucap Rosalyn setelah akhirnya berhasil berdiri dengan berpegangan pada meja di sampingnya.Satu tangannya berusaha menutupi
Malam itu di balkon istana, sepeda usang terlihat masih terparkir di halaman istana. Pekerjaan sebagai model pakaian belum juga usai.Damian berdiri di balkon, memandangi sepeda itu. Sebenarnya, dia tidak begitu terganggu dengan keberadaan sepeda itu. Hanya saja, dia tahu bahwa istrinya telah membuat wanita itu bekerja hingga larut malam.“Oscar,” panggil Damian.Ajudannya segera melangkah mendekat. “Ya, Pangeran.”“Apa pelukis dan balerina itu masih lama?” tanyanya tanpa menoleh.“Sepertinya masih cukup lama, mengingat Putri Rania menginginkan hasil yang sempurna dengan detail yang cukup memakan waktu,” jawab Oscar berdasarkan pengamatannya.Damian kembali mengembuskan asap cerutunya. Kali ini, dia menatap langit seolah sedang menikmati pemandangan indah di hadapannya. Namun, sebenarnya dia hanya sedang memikirkan betapa liciknya cara Rania memperlakukan seseorang yang tidak berdaya.“Apa istriku masih di sana? Apa dia terus mengawasi sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya
“Rosalyn… kenapa aku harus melakukan hal-hal seperti ini lagi untuk orang sepertimu?”Rosalyn semakin tertekan mendengar bisikan itu tepat di telinganya. Tatapan sang pangeran yang dipenuhi kebencian membuatnya semakin takut hingga dia memilih menundukkan pandangan dan memejamkan mata, seolah ingin menghindari tatapan mengerikan pria itu.“Apa kau tahu betapa seringnya aku mendengar namamu?” Bisikan itu kembali terdengar. “Aku sampai membenci nama itu.”Damian semakin mendekatkan dirinya ke samping leher Rosalyn. “Jika perlu…“Aku tidak ingin mendengarnya lagi.”Wajah Rosalyn tertunduk kaku. Dia begitu merinding mendengar bisikan -bisikan yang menujukkan rasa ketidaksukaan. Dia tahu mungkin kehadirannya di dekat istri sang pangeran adalah sesuatu yang tidak dia sukai.Namun…Rosalyn tidak tahu alasan kenapa dia begitu dibenci. Jika disukai pangeran adalah ketidakmungkinan yang bisa dia terima. Tapi dibenci? Apakah dia bahkan pantas dibenci oleh seseorang seperti Pangeran?Sreeet…Tira
Pagi itu, Rosalyn pergi bekerja sebagai pelatih balet bagi anak-anak kecil. Setiap hari Senin dan Selasa dia berangkat dengan senyum ceria, mengayuh sepeda keranjangnya yang tampak usang dan jauh dari kata layak dipandang.“Rosalyn!”Rosalyn menoleh saat namanya dipanggil dengan begitu keras. Dia tersenyum sambil melambaikan tangan ketika melihat Thomas, petugas kebersihan yang berlari ke arahnya dengan wajah cemas.“Ada apa?” tanya Rosalyn.Thomas terlihat gelisah dan langsung menyerahkan selembar kertas kepada Rosalyn, lalu menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.“Putri Rania memanggilmu ke istana,” ucap pria itu.Rosalyn membeku. Dia membaca kata demi kata surat itu berulang kali untuk memastikan bahwa yang dibacanya benar. Namun, begitu melihat tanda tangan Putri Rania, tubuhnya langsung lemas hingga dia terhuyung ke belakang.“Kenapa putri memanggilku?” tanyanya cemas. “Apa aku melakukan kesalahan?”Pikiran Rosalyn langsung mencari-cari kemungkinan yang membuatnya harus
“Bagus, bagus sekali, Rosalyn!”Rosalyn membungkuk ke arah Putri Rania yang memberikan tepuk tangan paling meriah untuknya saat musik selesai. Suara gemuruh tepuk tangan menggelegar di seluruh penjuru gedung opera itu.Berkat mendiang neneknya yang sudah menyekolahkannya dalam tarian balet, kini Rosalyn menjadi balerina yang paling mencuri perhatian dan dikagumi banyak bangsawan. Bahkan mereka rela membayar mahal untuk melihat pertunjukannya.Rosalyn pun tersenyum kepada orang yang sering memberinya imbalan berupa kepingan emas. Dia begitu disukai oleh Putri Rania, dan Rosalyn begitu menyukai uangnya.“Rosalyn, kemarilah!”Rosalyn berjalan mendekati sang putri. “Salam, Putri. Saya memberi hormat.”“Aku sungguh menyukai penampilanmu malam ini.”Rosalyn juga menyukai pujian itu. Dia menyukai bahwa kemungkinan besar dirinya akan kembali mendapatkan imbalan yang bisa dia pakai untuk melunasi utang.“Namun kali ini suamiku yang akan memberikan imbalan untukmu. Dia akan menemuimu di belakan







