共有

Bab 5

作者: Penacely
last update 公開日: 2026-11-03 15:32:22

Malam itu di balkon istana, sepeda usang terlihat masih terparkir di halaman istana. Pekerjaan sebagai model pakaian belum juga usai.

Damian berdiri di balkon, memandangi sepeda itu. Sebenarnya, dia tidak begitu terganggu dengan keberadaan sepeda itu. Hanya saja, dia tahu bahwa istrinya telah membuat wanita itu bekerja hingga larut malam.

“Oscar,” panggil Damian.

Ajudannya segera melangkah mendekat. “Ya, Pangeran.”

“Apa pelukis dan balerina itu masih lama?” tanyanya tanpa menoleh.

“Sepertinya masih cukup lama, mengingat Putri Rania menginginkan hasil yang sempurna dengan detail yang cukup memakan waktu,” jawab Oscar berdasarkan pengamatannya.

Damian kembali mengembuskan asap cerutunya. Kali ini, dia menatap langit seolah sedang menikmati pemandangan indah di hadapannya. Namun, sebenarnya dia hanya sedang memikirkan betapa liciknya cara Rania memperlakukan seseorang yang tidak berdaya.

“Apa istriku masih di sana? Apa dia terus mengawasi sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya sampai semuanya selesai?” Damian berbalik setelah mengajukan pertanyaan itu, menatap ajudannya dengan sorot mata tajam.

Oscar terdiam sejenak. Dia tampak sedikit gelisah sebelum akhirnya menjawab, “Sebenarnya, Putri Rania sudah pergi ke kamarnya satu jam yang lalu.”

Damian seketika terkejut, meskipun nyaris tidak terlihat. Dia segera mematikan cerutunya lalu berjalan meninggalkan ruang kerjanya.

“Di mana Putri? Apa dia sudah tidur?” tanya Damian kepada pelayan yang berjaga di depan pintu kamar istrinya.

Pelayan itu membungkuk hormat. “Putri sudah tidur, Pangeran.”

Damian langsung pergi. Firasatnya mengatakan bahwa dia harus segera memeriksa pekerjaan yang telah ditinggalkan istrinya. Dia tahu, mungkin ada sesuatu yang terjadi di luar kendalinya.

Dengan langkah yang sedikit lebih cepat, Damian tetap mempertahankan ketenangannya. Meskipun firasat buruk mulai mengusiknya, dia tetap berusaha mengendalikan diri.

BRAK!

Pintu terbuka dengan suara keras.

Matanya langsung menyapu ruangan yang berantakan, dengan cat dan kuas berserakan di lantai. Namun, pandangannya tertuju pada sebuah lukisan yang tampak begitu indah dan luar biasa. Damian melangkah mendekat untuk mengamati hasil karya itu.

“Lepaskan! Lepaskan aku!”

Saat indra pendengarannya yang tajam menangkap suara-suara putus asa itu, Damian langsung menoleh ke arah sebuah pintu yang menjadi sumbernya. Dia sudah menduga ada sesuatu yang tidak beres ketika mengetahui bahwa istrinya meninggalkan begitu saja pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.

“Tolong aku… Siapa pun, tolong!”

Damian mendekati pintu. Namun, pintu itu terkunci dari dalam. Dia menoleh ke belakang dan memberi isyarat kepada Oscar untuk mendobraknya.

Oscar mengangguk. Pria bertubuh kekar itu mengambil jarak yang cukup jauh untuk mempersiapkan diri, lalu berlari dan menghantamkan tubuhnya ke arah pintu yang terkunci.

BRAK!

Pintu itu akhirnya terbuka setelah didobrak dengan keras.

Damian langsung melihat seorang wanita yang tampak begitu putus asa. Air mata mengalir dengan tatapan ketakutan, dan kedua tangannya yang berlumuran cairan merah menunjukkan bahwa dia telah berusaha melawan.

Sementara itu, pelukis yang mencoba melakukan kejahatan di dalam istana terduduk ketakutan. Sang pangeran berhenti tepat di hadapannya dengan tatapan menggelap.

Damian berjongkok, lalu mencengkeram rambutnya dengan kuat hingga kepala pria itu terdongak ke belakang.

“Berani-beraninya kau melakukan hal menjijikkan ini di tempatku?” ucap Damian tanpa sedikit pun perubahan ekspresi di wajahnya.

“Ampuni saya, Pangeran! Ampuni saya!” Pelukis itu menangkupkan kedua telapak tangannya, memohon belas kasihan.

Damian sempat mengira pria itu akan dengan mudah mengakui kesalahannya. Namun, dugaannya ternyata salah besar ketika pelukis itu tiba-tiba menunjuk Rosalyn, yang sedang duduk memeluk dirinya sendiri sambil terus meneteskan air mata.

“D–dia yang menggodaku lebih dulu!” Pelukis itu menatap Rosalyn dengan tajam. “Dia yang menawarkan tubuhnya kepadaku!”

Damian seketika mengalihkan pandangannya kepada Rosalyn. Namun wanita itu hanya duduk terdiam dengan pandangan kosong. Tidak ada perlawanan, bahkan usaha untuk membela diri. Rosalyn tampak seperti seseorang yang telah kehilangan seluruh kekuatannya.

“Aku akan meringankan hukumanmu jika kau berkata jujur,” ucap Damian sambil kembali menatap pelukis itu.

“Apa kau sudah melakukannya?” Tatapan Damian semakin dingin. “Sebagai pria, kau pasti tahu apa yang kumaksud. Apa kau sudah melakukannya?”

Pelukis itu menelan ludah dengan susah payah.

“Belum….” Pelukis itu akhirnya mulai mengatakan yang sebenarnya setelah melihat tatapan Damian. “Saya belum sempat melakukannya. Wanita itu terus mencakar wajah saya dengan kukunya yang tajam.”

Damian seketika tersenyum tipis. “Belum sempat, katamu?”

Dia langsung melepaskan cengkeramannya dari rambut pria itu, lalu kembali berdiri. Dengan tenang, Damian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, sementara tatapannya tetap tertuju pada pelukis yang kini berada di bawah kekuasaannya.

“Oscar, tolong ambilkan pistol di ruang kerjaku.”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 7

    Hari-hari bergulir begitu saja.Sejak kejadian malam itu, Rosalyn terus mengurung diri di kamarnya. Untuk pertama kalinya, dia terbangun karena suara bising yang semakin lama semakin mengganggu.“Sebenarnya, apa yang sedang dilakukan Ibu?” gumamnya kesal.Dia menuruni tangga kayu sambil mengucek matanya yang masih terasa berat. Namun, langkahnya seketika terhenti saat melihat keadaan rumahnya yang berantakan. Matanya membulat, menatap barang-barang yang berserakan.“Ibu!” serunya.“Ibu!”“Ada apa ini, Bu?”Rosalyn segera menghampiri ibunya yang terduduk di lantai kayu sambil menangis. Rose langsung memegangi bahu putrinya dengan erat, sementara air mata terus mengalir membasahi wajahnya.“Kenapa kau baru keluar sekarang?” tanya Rose di sela-sela tangisannya. “Kenapa?!”“Kenapa kau mengurung diri di kamar sampai mengabaikan ibumu sendiri, hah?!” Rose berteriak begitu keras hingga Rosalyn tertegun.“Penagih utang datang, Rosalyn! Mereka membuat rumah kita berantakan dan menghancurkan ba

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 6

    DORR!!Peluru itu melesat, memecah keheningan. Telinga Rosalyn berdenging sementara tubuhnya semakin gemetar saat melihat cairan merah mengalir menodai lantai. Pria yang beberapa saat lalu mencoba melecehkannya kini tergeletak setelah Pangeran Damian melepaskan satu tembakan dari pistolnya.Pada saat itu, Rosalyn akhirnya menyadari betapa jauhnya kehidupan sederhana yang dijalaninya dari kehidupan orang-orang kalangan atas. Pangeran Damian tidak segan menembak seseorang yang melakukan tindakan menjijikkan di wilayah kekuasaannya.“P-Pangeran….” Rosalyn yang masih ketakutan akhirnya memberanikan diri untuk membuka mulut.Dengan kaki dan tangan yang gemetar, Rosalyn berusaha bangkit meskipun berkali-kali dia mencoba dan jatuh. Tubuhnya terasa begitu lemah, sementara rasa takut yang masih menguasai dirinya membuatnya kesulitan untuk berdiri tegak.“M-Maafkan saya,” ucap Rosalyn setelah akhirnya berhasil berdiri dengan berpegangan pada meja di sampingnya.Satu tangannya berusaha menutupi

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 5

    Malam itu di balkon istana, sepeda usang terlihat masih terparkir di halaman istana. Pekerjaan sebagai model pakaian belum juga usai.Damian berdiri di balkon, memandangi sepeda itu. Sebenarnya, dia tidak begitu terganggu dengan keberadaan sepeda itu. Hanya saja, dia tahu bahwa istrinya telah membuat wanita itu bekerja hingga larut malam.“Oscar,” panggil Damian.Ajudannya segera melangkah mendekat. “Ya, Pangeran.”“Apa pelukis dan balerina itu masih lama?” tanyanya tanpa menoleh.“Sepertinya masih cukup lama, mengingat Putri Rania menginginkan hasil yang sempurna dengan detail yang cukup memakan waktu,” jawab Oscar berdasarkan pengamatannya.Damian kembali mengembuskan asap cerutunya. Kali ini, dia menatap langit seolah sedang menikmati pemandangan indah di hadapannya. Namun, sebenarnya dia hanya sedang memikirkan betapa liciknya cara Rania memperlakukan seseorang yang tidak berdaya.“Apa istriku masih di sana? Apa dia terus mengawasi sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 4

    “Rosalyn… kenapa aku harus melakukan hal-hal seperti ini lagi untuk orang sepertimu?”Rosalyn semakin tertekan mendengar bisikan itu tepat di telinganya. Tatapan sang pangeran yang dipenuhi kebencian membuatnya semakin takut hingga dia memilih menundukkan pandangan dan memejamkan mata, seolah ingin menghindari tatapan mengerikan pria itu.“Apa kau tahu betapa seringnya aku mendengar namamu?” Bisikan itu kembali terdengar. “Aku sampai membenci nama itu.”Damian semakin mendekatkan dirinya ke samping leher Rosalyn. “Jika perlu…“Aku tidak ingin mendengarnya lagi.”Wajah Rosalyn tertunduk kaku. Dia begitu merinding mendengar bisikan -bisikan yang menujukkan rasa ketidaksukaan. Dia tahu mungkin kehadirannya di dekat istri sang pangeran adalah sesuatu yang tidak dia sukai.Namun…Rosalyn tidak tahu alasan kenapa dia begitu dibenci. Jika disukai pangeran adalah ketidakmungkinan yang bisa dia terima. Tapi dibenci? Apakah dia bahkan pantas dibenci oleh seseorang seperti Pangeran?Sreeet…Tira

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 3

    Pagi itu, Rosalyn pergi bekerja sebagai pelatih balet bagi anak-anak kecil. Setiap hari Senin dan Selasa dia berangkat dengan senyum ceria, mengayuh sepeda keranjangnya yang tampak usang dan jauh dari kata layak dipandang.“Rosalyn!”Rosalyn menoleh saat namanya dipanggil dengan begitu keras. Dia tersenyum sambil melambaikan tangan ketika melihat Thomas, petugas kebersihan yang berlari ke arahnya dengan wajah cemas.“Ada apa?” tanya Rosalyn.Thomas terlihat gelisah dan langsung menyerahkan selembar kertas kepada Rosalyn, lalu menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.“Putri Rania memanggilmu ke istana,” ucap pria itu.Rosalyn membeku. Dia membaca kata demi kata surat itu berulang kali untuk memastikan bahwa yang dibacanya benar. Namun, begitu melihat tanda tangan Putri Rania, tubuhnya langsung lemas hingga dia terhuyung ke belakang.“Kenapa putri memanggilku?” tanyanya cemas. “Apa aku melakukan kesalahan?”Pikiran Rosalyn langsung mencari-cari kemungkinan yang membuatnya harus

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 2

    “Bagus, bagus sekali, Rosalyn!”Rosalyn membungkuk ke arah Putri Rania yang memberikan tepuk tangan paling meriah untuknya saat musik selesai. Suara gemuruh tepuk tangan menggelegar di seluruh penjuru gedung opera itu.Berkat mendiang neneknya yang sudah menyekolahkannya dalam tarian balet, kini Rosalyn menjadi balerina yang paling mencuri perhatian dan dikagumi banyak bangsawan. Bahkan mereka rela membayar mahal untuk melihat pertunjukannya.Rosalyn pun tersenyum kepada orang yang sering memberinya imbalan berupa kepingan emas. Dia begitu disukai oleh Putri Rania, dan Rosalyn begitu menyukai uangnya.“Rosalyn, kemarilah!”Rosalyn berjalan mendekati sang putri. “Salam, Putri. Saya memberi hormat.”“Aku sungguh menyukai penampilanmu malam ini.”Rosalyn juga menyukai pujian itu. Dia menyukai bahwa kemungkinan besar dirinya akan kembali mendapatkan imbalan yang bisa dia pakai untuk melunasi utang.“Namun kali ini suamiku yang akan memberikan imbalan untukmu. Dia akan menemuimu di belakan

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status