共有

Biarkan Aku Pergi, Pangeran!
Biarkan Aku Pergi, Pangeran!
作者: Penacely

Bab 1

作者: Penacely
last update 公開日: 2026-10-29 00:20:18

“Rosalyn! Menikahlah denganku. Jika kita menikah, aku janji akan mencintaimu seumur hidupku dan setia. Aku bahkan akan membuatmu tidak perlu bekerja lagi!

“Tidak! Berhenti mengejarku dan pergi!”

Wanita muda bernama Rosalyn itu menatap pemuda berseragam militer di hadapannya dengan kesal. Sementara tangannya sibuk memilih tomat yang masih layak dikonsumsi meskipun dibeli dengan harga murah di pasar yang terletak di pinggiran kota Docia.

“Aku bisa membiayai hidupmu. Aku seorang prajurit dan gajiku cukup untuk memenuhi kebutuhan kita,” ucap pria itu lagi.

Rosalyn berkacak pinggang. “Bahkan jika kau seorang jenderal atau pangeran, aku tidak akan menikah denganmu!”

“Jangan bercanda, tidak ada jenderal atau pangeran yang bisa menikah denganmu!” Pemuda itu mulai kehabisan kesabaran.

Rosalyn hanya mendengus kesal. Dia memilih mengabaikan pemuda yang bahkan namanya sudah dia lupakan itu. Pria itu terus mengejarnya sejak dia tiba di pasar.

“Oh, ayolah, Rosalyn. Aku bisa membuatmu bahagia. Terlebih lagi, aku bisa membayar utang keluargamu sebelum jatuh tempo.”

Mendengar ucapan itu, Rosalyn yang sedang memilih tomat langsung menghentikan gerakannya. Bukannya termakan bujuk rayu, dia justru merasa marah karena pemuda itu berani menyinggung utang keluarganya dan menghubungkannya dengan pernikahan.

“Dari siapa kau mendengar tentang utang keluargaku?” tanya Rosalyn sambil berkacak pinggang.

Pemuda itu terlihat gelagapan. Wajahnya pucat, sementara tangannya bergerak gelisah karena tertekan melihat reaksi Rosalyn.

“Bukankah semua orang sudah tahu?” Pemuda itu berhenti sejenak sambil membenarkan topi militernya. “Sudah tersebar luas bahwa ibumu sedang mencari menantu yang bisa membantunya membayar utang.”

Rosalyn langsung memejamkan mata, merasa kesal karena ternyata semua ini berasal dari ibunya yang dengan seenaknya membicarakan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.

“Berhenti mengejarku,” ucap Rosalyn sambil menyerahkan tomat pilihannya kepada pedagang. “Dan jangan pernah membahas utang keluargaku lagi!”

“Aku tidak akan menikah denganmu, bahkan jika pria itu jenderal atau pangeran. Jadi pergilah!”

Pemuda itu langsung lari terbirit-birit, sementara Rosalyn masih memberinya tatapan tajam. Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa banyak pemuda mengejarnya dan ingin menjadikannya sebagai istri dan menawarkan kesejahteraan. Tapi tak satu pun yang bisa membuatnya luluh.

“Apa kau dengar kabar tentang pasukan yang pulang membawa kemenangan dari perang?”

Rosalyn menoleh ketika mendengar sekelompok ibu-ibu sedang bergosip di belakangnya. Meskipun tidak berniat mendengarkan, jarak mereka yang begitu dekat membuat Rosalyn bisa mendengar semuanya.

“Aku dengar Putra Mahkota pulang tanpa luka sedikit pun,” ucap salah seorang dari mereka.

“Sudah pasti. Bukankah anjing penjaganya selalu menjadi tameng?”

“Maksudmu Pangeran Kedua? Damian?”

“Iya, Damian Alexan. Dia justru pulang dengan luka lebar di punggungnya.”

Rosalyn mulai tertarik. Dia mundur sambil berpura-pura memilih sayuran agar bisa mendengar lebih banyak.

“Kita semua tahu siapa yang paling berjasa dalam setiap peperangan.”

“Tentu saja Pangeran kedua! Tapi sayang sekali, dia lahir dari seorang selir, jika saja dia lahir dari perut ratu, dia adalah calon raja yang paling cocok!”

Rosalyn menghela napas saat mendengar cerita itu. Sebenarnya, hal seperti pembahasan perang, atau siapa raja yang pantas, sama sekali bukan urusannya.

Namun, sebagai rakyat Kerajaan Docia, dia ikut prihatin mendengar ketidakadilan yang begitu kejam. Putra Mahkota seolah hanya duduk manis, sementara adiknya harus melindunginya dengan mempertaruhkan nyawa.

“Tidak perlu bayar!”

Rosalyn tersadar dari lamunannya dan tersentak. “Tidak, saya akan membayarnya. Katakan berapa harganya?”

Pedagang itu menggeleng pelan. “Tidak perlu. Lagipula, itu hanya tomat sisa.”

Rosalyn pun akhirnya melepaskan tasnya. “Terima kasih kalau begitu.”

“Ya, santai saja,” ucap pedagang yang memang sering memberinya barang secara cuma-cuma.

Dengan sepedanya yang sudah usang, Rosalyn mulai mengayuh melewati jalanan yang ramai dilalui orang-orang dan beberapa kereta mewah milik bangsawan. Saat sampai di belokan menuju rumahnya, dia berhenti karena berpapasan dengan kereta kuda hitam yang begitu menarik perhatiannya.

“Pangeran Kedua!”

“Pangeran, selamat atas kemenangan perang!”

“Semoga Pangeran selalu sehat!”

Rosalyn melihat dari kejauhan. Dia memperhatikan bagaimana pangeran berwajah tampan itu memaksakan diri membuka tirai kereta dan memperlihatkan tangannya untuk menyapa orang-orang.

Sementara di hadapannya, sang istri pangeran tersenyum lebih lebar dan menyapa dengan ramah. Putri Rania, orang yang selalu memberikan imbalan setiap pertunjukkan baletnya.

“Cantik sekali,” batinnya.

Rosalyn tersenyum mengagumi pasangan yang tampak serasi. Di dalam hati dia berdoa agar pasangan itu selalu diberkahi cinta dan kasih sayang.

“Pangeran begitu setia kepada istrinya, meskipun istrinya adalah orang yang cacat.”

Rosalyn yang mendengar itu langsung menoleh ke sumber suara. Dan lagi, dia menemukan orang-orang yang suka bergosip tentang keluarga kerajaan.

“Putra mahkota baru saja mengangkat selir, tapi pangeran kedua? Dia sepertinya tidak tertarik karena sangat setia dengan Putri Rania.”

Rosalyn yang mendengar gosip tentang kesetiaan pangeran, tanpa sadar tersenyum karena mengagumi sosok luar biasa yang setia pada istrinya di saat banyak para pria bangsawan yang mengangkat selir.

Dia kembali mengayuh sepedanya, lalu berbelok memasuki sebuah gang sempit dengan tanah basah dan penuh lumpur. Sesekali, dia memperlambat laju sepedanya untuk menjaga keseimbangan agar tidak terpeleset.

“Pagi, Rosalyn!”

“Pagi,” balas Rosalyn sambil memasang senyuman ramah kepada tetangganya yang sedang membawa rumput untuk pakan ternak.

Ada begitu banyak jenis orang yang tinggal di kawasan ini, termasuk dirinya, seorang rakyat biasa yang beruntung bisa menjadi balerina dan tampil di gedung opera pusat kota. Lebih dari itu, Rosalyn juga bekerja sebagai guru tari balet di sebuah sekolah seni.

“Ibu!”

Sepedanya berhenti saat melihat ibunya sedang mengangkat sebuah porselen peninggalan neneknya. Rosalyn langsung panik melihat barang berharga itu dikeluarkan begitu saja oleh ibunya.

“Kenapa dipindahkan?” tanya Rosalyn setelah memarkirkan sepedanya di depan rumah. “Ibu mau menjualnya? Lagi?”

Rose, ibu kandung Rosalyn, tampak putus asa. “Ibu harus menjualnya untuk melunasi utang!”

“Jangan,” ucap Rosalyn cepat sambil mengelus benda itu. “Ini satu-satunya peninggalan Nenek.”

“Mau bagaimana lagi?” Rose berkacak pinggang. “Bukankah kita harus membayar utang?”

Rosalyn seketika terdiam. Namun, dia segera menghela napas kesal. “Aku akan membayarnya begitu mendapatkan koin emas dari pertunjukan baletku nanti.”

“Apa menurutmu itu cukup?” Rose terkekeh saat mengatakannya.

“Aku akan melunasinya sedikit demi sedikit, karena bayaranku tidak seberapa aku harus mengandalkan imbalan dari Putri Rania,” jawab Rosalyn.

“Mengandalkan wanita bangsawan itu?” Rose mulai mendekati Rosalyn dengan senyum tipis. “Jika kau mau menikah dengan bangsawan sejak lama, kita tidak akan pernah hidup seperti ini!”

Rose semakin lepas kendali. “Dan kau! Tidak perlu mengandalkan belas kasih istri pangeran itu.”

Rosalyn kembali menghela napas panjang. “Lagi-lagi tentang pernikahan.“

“Ibu pikir kenapa aku sampai tidak mau menikah?”

Rose seketika membeku.

“Ibu kira aku tidak tahu siapa ayah kandungku, yang bahkan tidak pernah kukenal sejak lahir?” Mata Rosalyn mulai berkaca-kaca.

“Jenderal Arthur, bukankah dia ayahku?”

Rose sama sekali tidak bisa menjawabnya. Semuanya adalah kebenaran yang entah bagaimana bisa sampai ke telinga putrinya.

Padahal, dia ingin menyembunyikan semua itu selamanya, tentang betapa menyedihkannya kisah cinta yang terhalang perbedaan kasta di masa lalu, hingga akhirnya dia harus hidup dalam kemiskinan bersama putrinya, yang bahkan tidak pernah diakui sebagai anak kandung sang jenderal.

“Jangan pernah membahas masalah ini lagi,” ucap Rose. “Jangan pernah mencari tahu tentangnya!”

“Aku akan melakukannya,” Rosalyn berhenti sejenak. “Tapi Ibu juga harus berhenti memaksaku menikah dengan bangsawan.”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 7

    Hari-hari bergulir begitu saja.Sejak kejadian malam itu, Rosalyn terus mengurung diri di kamarnya. Untuk pertama kalinya, dia terbangun karena suara bising yang semakin lama semakin mengganggu.“Sebenarnya, apa yang sedang dilakukan Ibu?” gumamnya kesal.Dia menuruni tangga kayu sambil mengucek matanya yang masih terasa berat. Namun, langkahnya seketika terhenti saat melihat keadaan rumahnya yang berantakan. Matanya membulat, menatap barang-barang yang berserakan.“Ibu!” serunya.“Ibu!”“Ada apa ini, Bu?”Rosalyn segera menghampiri ibunya yang terduduk di lantai kayu sambil menangis. Rose langsung memegangi bahu putrinya dengan erat, sementara air mata terus mengalir membasahi wajahnya.“Kenapa kau baru keluar sekarang?” tanya Rose di sela-sela tangisannya. “Kenapa?!”“Kenapa kau mengurung diri di kamar sampai mengabaikan ibumu sendiri, hah?!” Rose berteriak begitu keras hingga Rosalyn tertegun.“Penagih utang datang, Rosalyn! Mereka membuat rumah kita berantakan dan menghancurkan ba

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 6

    DORR!!Peluru itu melesat, memecah keheningan. Telinga Rosalyn berdenging sementara tubuhnya semakin gemetar saat melihat cairan merah mengalir menodai lantai. Pria yang beberapa saat lalu mencoba melecehkannya kini tergeletak setelah Pangeran Damian melepaskan satu tembakan dari pistolnya.Pada saat itu, Rosalyn akhirnya menyadari betapa jauhnya kehidupan sederhana yang dijalaninya dari kehidupan orang-orang kalangan atas. Pangeran Damian tidak segan menembak seseorang yang melakukan tindakan menjijikkan di wilayah kekuasaannya.“P-Pangeran….” Rosalyn yang masih ketakutan akhirnya memberanikan diri untuk membuka mulut.Dengan kaki dan tangan yang gemetar, Rosalyn berusaha bangkit meskipun berkali-kali dia mencoba dan jatuh. Tubuhnya terasa begitu lemah, sementara rasa takut yang masih menguasai dirinya membuatnya kesulitan untuk berdiri tegak.“M-Maafkan saya,” ucap Rosalyn setelah akhirnya berhasil berdiri dengan berpegangan pada meja di sampingnya.Satu tangannya berusaha menutupi

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 5

    Malam itu di balkon istana, sepeda usang terlihat masih terparkir di halaman istana. Pekerjaan sebagai model pakaian belum juga usai.Damian berdiri di balkon, memandangi sepeda itu. Sebenarnya, dia tidak begitu terganggu dengan keberadaan sepeda itu. Hanya saja, dia tahu bahwa istrinya telah membuat wanita itu bekerja hingga larut malam.“Oscar,” panggil Damian.Ajudannya segera melangkah mendekat. “Ya, Pangeran.”“Apa pelukis dan balerina itu masih lama?” tanyanya tanpa menoleh.“Sepertinya masih cukup lama, mengingat Putri Rania menginginkan hasil yang sempurna dengan detail yang cukup memakan waktu,” jawab Oscar berdasarkan pengamatannya.Damian kembali mengembuskan asap cerutunya. Kali ini, dia menatap langit seolah sedang menikmati pemandangan indah di hadapannya. Namun, sebenarnya dia hanya sedang memikirkan betapa liciknya cara Rania memperlakukan seseorang yang tidak berdaya.“Apa istriku masih di sana? Apa dia terus mengawasi sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 4

    “Rosalyn… kenapa aku harus melakukan hal-hal seperti ini lagi untuk orang sepertimu?”Rosalyn semakin tertekan mendengar bisikan itu tepat di telinganya. Tatapan sang pangeran yang dipenuhi kebencian membuatnya semakin takut hingga dia memilih menundukkan pandangan dan memejamkan mata, seolah ingin menghindari tatapan mengerikan pria itu.“Apa kau tahu betapa seringnya aku mendengar namamu?” Bisikan itu kembali terdengar. “Aku sampai membenci nama itu.”Damian semakin mendekatkan dirinya ke samping leher Rosalyn. “Jika perlu…“Aku tidak ingin mendengarnya lagi.”Wajah Rosalyn tertunduk kaku. Dia begitu merinding mendengar bisikan -bisikan yang menujukkan rasa ketidaksukaan. Dia tahu mungkin kehadirannya di dekat istri sang pangeran adalah sesuatu yang tidak dia sukai.Namun…Rosalyn tidak tahu alasan kenapa dia begitu dibenci. Jika disukai pangeran adalah ketidakmungkinan yang bisa dia terima. Tapi dibenci? Apakah dia bahkan pantas dibenci oleh seseorang seperti Pangeran?Sreeet…Tira

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 3

    Pagi itu, Rosalyn pergi bekerja sebagai pelatih balet bagi anak-anak kecil. Setiap hari Senin dan Selasa dia berangkat dengan senyum ceria, mengayuh sepeda keranjangnya yang tampak usang dan jauh dari kata layak dipandang.“Rosalyn!”Rosalyn menoleh saat namanya dipanggil dengan begitu keras. Dia tersenyum sambil melambaikan tangan ketika melihat Thomas, petugas kebersihan yang berlari ke arahnya dengan wajah cemas.“Ada apa?” tanya Rosalyn.Thomas terlihat gelisah dan langsung menyerahkan selembar kertas kepada Rosalyn, lalu menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.“Putri Rania memanggilmu ke istana,” ucap pria itu.Rosalyn membeku. Dia membaca kata demi kata surat itu berulang kali untuk memastikan bahwa yang dibacanya benar. Namun, begitu melihat tanda tangan Putri Rania, tubuhnya langsung lemas hingga dia terhuyung ke belakang.“Kenapa putri memanggilku?” tanyanya cemas. “Apa aku melakukan kesalahan?”Pikiran Rosalyn langsung mencari-cari kemungkinan yang membuatnya harus

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 2

    “Bagus, bagus sekali, Rosalyn!”Rosalyn membungkuk ke arah Putri Rania yang memberikan tepuk tangan paling meriah untuknya saat musik selesai. Suara gemuruh tepuk tangan menggelegar di seluruh penjuru gedung opera itu.Berkat mendiang neneknya yang sudah menyekolahkannya dalam tarian balet, kini Rosalyn menjadi balerina yang paling mencuri perhatian dan dikagumi banyak bangsawan. Bahkan mereka rela membayar mahal untuk melihat pertunjukannya.Rosalyn pun tersenyum kepada orang yang sering memberinya imbalan berupa kepingan emas. Dia begitu disukai oleh Putri Rania, dan Rosalyn begitu menyukai uangnya.“Rosalyn, kemarilah!”Rosalyn berjalan mendekati sang putri. “Salam, Putri. Saya memberi hormat.”“Aku sungguh menyukai penampilanmu malam ini.”Rosalyn juga menyukai pujian itu. Dia menyukai bahwa kemungkinan besar dirinya akan kembali mendapatkan imbalan yang bisa dia pakai untuk melunasi utang.“Namun kali ini suamiku yang akan memberikan imbalan untukmu. Dia akan menemuimu di belakan

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status