Share

Bab 4

Author: Penacely
last update publish date: 2026-10-29 21:38:20

“Rosalyn… kenapa aku harus melakukan hal-hal seperti ini lagi untuk orang sepertimu?”

Rosalyn semakin tertekan mendengar bisikan itu tepat di telinganya. Tatapan sang pangeran yang dipenuhi kebencian membuatnya semakin takut hingga dia memilih menundukkan pandangan dan memejamkan mata, seolah ingin menghindari tatapan mengerikan pria itu.

“Apa kau tahu betapa seringnya aku mendengar namamu?” Bisikan itu kembali terdengar. “Aku sampai membenci nama itu.”

Damian semakin mendekatkan dirinya ke samping leher Rosalyn. “Jika perlu…

“Aku tidak ingin mendengarnya lagi.”

Wajah Rosalyn tertunduk kaku. Dia begitu merinding mendengar bisikan -bisikan yang menujukkan rasa ketidaksukaan. Dia tahu mungkin kehadirannya di dekat istri sang pangeran adalah sesuatu yang tidak dia sukai.

Namun…

Rosalyn tidak tahu alasan kenapa dia begitu dibenci. Jika disukai pangeran adalah ketidakmungkinan yang bisa dia terima. Tapi dibenci? Apakah dia bahkan pantas dibenci oleh seseorang seperti Pangeran?

Sreeet…

Tirai tersibak dengan cepat. Rosalyn bisa merasakan langkah kaki pria itu yang menjauh. Namun meskipun telah pergi, dia masih merasa takut.

“Rosalyn?”

“Apa pangeran membuatmu menangis di dalam sana?”

Rosalyn langsung tersentak, kemudian dia keluar dari balik tirai. Meskipun berusaha terlihat baik-baik saja dengan memasang senyuman, bisikan-bisikan Damian masih terngiang di telinganya, membuat bulu kuduknya meremang setiap kali mengingatnya.

“Saya tidak apa-apa, Putri,” jawab Rosalyn. “Tapi kenapa pangeran yang–“

“Aku yang memintanya,” potong Rania cepat. “Suamiku itu begitu mencintaiku, dia menuruti semua yang aku katakan.”

Rosalyn bingung harus menanggapinya bagaimana. Meskipun di dalam hati dia merasa aneh karena seorang pangeran diperintahkan untuk membantu hal-hal seperti itu oleh istrinya sendiri.

“Jangan dipikirkan,” ucap Rania.

Wanita itu tersenyum semakin lebar, lalu memutar roda kursi rodanya untuk mendekati Rosalyn. Dia memeriksa penampilan balerina itu, memastikan kalung yang dikenakannya telah terpasang dengan benar. Setelah semuanya dirasa sempurna, Rania mengajaknya untuk mulai dilukis.

“Bisa bantu aku mendorong kursi rodaku?” pinta Rania.

Rosalyn segera mengangguk. “Baik, Putri.”

Dengan hati-hati, Rosalyn mendorong kursi roda itu keluar. Penampilannya tampak sempurna dengan riasan dan gaun rancangan Rania yang begitu pas di tubuhnya. Kekaguman para pelayan dan sang pelukis menjadi bukti betapa memukaunya dia saat itu.

“Bagaimana? Gaun rancanganku sempurna, kan?” tanya Rania dengan bangga.

Kini Rosalyn merasa seperti manekin yang dipajang untuk dilihat banyak orang. Dia diminta berputar dan berpose demi memuaskan mata orang-orang yang memandanginya.

“Rosalyn, tolong ambil kipas itu dan duduk di kursi sana. Pelukisnya akan segera melakukan pekerjaannya,” ucap Rania.

Rosalyn mengangguk patuh. Dua orang penata gaya kemudian membantunya duduk di tempat yang telah dihias sedemikian rupa agar hasil lukisannya terlihat semakin indah, dengan dirinya sebagai objek utama. Rosalyn duduk dalam pose yang sedikit membuatnya tidak nyaman. Bahkan, ketidaknyamanan itu terlihat jelas dari wajahnya.

“Putri… tapi ini terlalu–“

“Jangan khawatir,” potong Rania cepat. “Semuanya akan cepat selesai kalau kau tidak banyak protes.”

Deg!

Rosalyn seketika membeku.

Pada akhirnya, dia hanyalah balerina biasa yang hidupnya masih bergantung pada belas kasih para bangsawan. Dia tidak memiliki kedudukan untuk menolak keinginan orang-orang yang jauh lebih berkuasa darinya.

“Posenya seperti ini,” ujar salah seorang penata gaya sambil mengarahkan Rosalyn untuk sedikit menegakkan bahunya.

“Pegang kipasnya seperti ini, lalu angkat kepalamu agar lehermu terlihat semakin indah.”

Rosalyn benar-benar tidak nyaman. Pose yang diminta darinya terasa begitu menggoda, terlebih dengan potongan bagian atas gaunnya yang cukup rendah.

“Rosalyn!” panggil Rania. “Tersenyumlah!”

“Tersenyum!”

Nada suara itu adalah nada seseorang yang terbiasa memerintah dan mengharapkan semua orang mengikuti keinginannya tanpa membantah.

Meskipun Rosalyn sama sekali tidak menginginkannya, dia tidak punya pilihan lain selain menuruti perkataan Rania.

________

Langit berubah gelap, Rosalyn yang mengenakan gaun dengan potongan bahu rendah sesekali memeluk dirinya sendiri.

“Jangan bergerak!” perintah pelukis yang terlihat arogan.

Rosalyn terpaksa menuruti perintah agar semuanya cepat selesai. Karena, setelah Putri Rania dan pelayannya pergi, kini hanya tersisa dirinya dan pelukis itu.

“Apa masih lama, Tuan?” tanya Rosalyn dengan ramah.

“Sebentar lagi! Bersabarlah!” jawabnya dengan angkuh.

Rosalyn tetap berusaha sabar, menahan hawa dingin yang begitu menusuk kulitnya. Hingga satu jam berlalu, akhirnya dia mulai melihat sang pelukis bangkit dari duduknya dan berjalan mendekatinya.

Awalnya, Rosalyn tidak merasakan apa pun. Namun, saat melihat tatapan mata dan senyuman pria itu, dia langsung waspada dan refleks menutupi tubuhnya. Buru-buru dia bangkit dari kursi dan berjalan mundur untuk sedikit menjauh.

“Saya akan pergi berganti pakaian. Karena gaun ini merupakan rancangan Putri Rania yang berharga, saya tidak mungkin membuatnya kotor.”

Rosalyn sengaja menekankan hal itu, lalu memasuki ruang ganti. Setelah selesai, dia membuka pintu untuk langsung pergi.

KLEK!

Namun…

“Ahkh!”

Begitu pintu terbuka, pelukis itu langsung menerobos masuk sambil mendorong Rosalyn hingga terjatuh dan membentur lantai yang dingin. Dalam keadaan panik, dia berusaha bangkit untuk menyelamatkan diri.

“Mau ke mana, hah?” Pelukis itu mengunci pintu dari dalam dan menatap Rosalyn dengan tatapan menjijikkan.

“Jangan macam-macam!” teriak Rosalyn sambil mundur beberapa langkah.

“Ini adalah kediaman pangeran! Dia akan menghukummu jika berani macam-macam denganku!”

“Hahaha…” Pelukis itu tertawa. “Memangnya kau siapa sampai pangeran rela menghukumku demi wanita yang bukan siapa-siapa ini?” Pelukis itu memandang rendah Rosalyn.

“Rakyat jelata, bukankah kau terlalu memandang tinggi dirimu?”

Benar…

Rosalyn merasa benar dengan kata-kata itu. Memangnya siapa dirinya sampai begitu mengharapkan sang pangeran menghukum seorang pelukis demi dirinya? Namun tetap saja, ketakutan membuatnya mengharapkan sesuatu yang bahkan mustahil.

“Jangan mendekat!”

Rosalyn semakin ketakutan, apalagi saat tubuhnya membentur dinding, yang berarti dia sudah terpojok. Air matanya mulai menetes. Dia menyesal karena telah datang ke tempat ini. Sejatinya, dia tidak perlu datang. Seharusnya, sekarang dia sedang beristirahat di kamarnya yang nyaman. Jika sesuatu yang sangat berarti baginya direnggut dengan cara seperti ini, Rosalyn tidak akan pernah memaafkannya.

“Akhhh!!” Rosalyn menjerit saat tangan pria itu mulai mendorongnya sampai dia terjatuh, lalu perlahan tangan itu menyentuh blusnya.

Tangan Rosalyn mulai mencakar untuk melindungi diri. Dia ingin semua ini berakhir sesuai dengan keinginannya, lalu kembali menjalani hidup yang tenang dan mengejar tujuan hidupnya sejak awal.

“Tolong!!”

“Siapapun tolong aku!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 6

    DORR!!Peluru itu melesat, memecah keheningan. Telinga Rosalyn berdenging sementara tubuhnya semakin gemetar saat melihat cairan merah mengalir menodai lantai. Pria yang beberapa saat lalu mencoba melecehkannya kini tergeletak setelah Pangeran Damian melepaskan satu tembakan dari pistolnya.Pada saat itu, Rosalyn akhirnya menyadari betapa jauhnya kehidupan sederhana yang dijalaninya dari kehidupan orang-orang kalangan atas. Pangeran Damian tidak segan menembak seseorang yang melakukan tindakan menjijikkan di wilayah kekuasaannya.“P-Pangeran….” Rosalyn yang masih ketakutan akhirnya memberanikan diri untuk membuka mulut.Dengan kaki dan tangan yang gemetar, Rosalyn berusaha bangkit meskipun berkali-kali dia mencoba dan jatuh. Tubuhnya terasa begitu lemah, sementara rasa takut yang masih menguasai dirinya membuatnya kesulitan untuk berdiri tegak.“M-Maafkan saya,” ucap Rosalyn setelah akhirnya berhasil berdiri dengan berpegangan pada meja di sampingnya.Satu tangannya berusaha menutupi

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 5

    Malam itu di balkon istana, sepeda usang terlihat masih terparkir di halaman istana. Pekerjaan sebagai model pakaian belum juga usai.Damian berdiri di balkon, memandangi sepeda itu. Sebenarnya, dia tidak begitu terganggu dengan keberadaan sepeda itu. Hanya saja, dia tahu bahwa istrinya telah membuat wanita itu bekerja hingga larut malam.“Oscar,” panggil Damian.Ajudannya segera melangkah mendekat. “Ya, Pangeran.”“Apa pelukis dan balerina itu masih lama?” tanyanya tanpa menoleh.“Sepertinya masih cukup lama, mengingat Putri Rania menginginkan hasil yang sempurna dengan detail yang cukup memakan waktu,” jawab Oscar berdasarkan pengamatannya.Damian kembali mengembuskan asap cerutunya. Kali ini, dia menatap langit seolah sedang menikmati pemandangan indah di hadapannya. Namun, sebenarnya dia hanya sedang memikirkan betapa liciknya cara Rania memperlakukan seseorang yang tidak berdaya.“Apa istriku masih di sana? Apa dia terus mengawasi sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 4

    “Rosalyn… kenapa aku harus melakukan hal-hal seperti ini lagi untuk orang sepertimu?”Rosalyn semakin tertekan mendengar bisikan itu tepat di telinganya. Tatapan sang pangeran yang dipenuhi kebencian membuatnya semakin takut hingga dia memilih menundukkan pandangan dan memejamkan mata, seolah ingin menghindari tatapan mengerikan pria itu.“Apa kau tahu betapa seringnya aku mendengar namamu?” Bisikan itu kembali terdengar. “Aku sampai membenci nama itu.”Damian semakin mendekatkan dirinya ke samping leher Rosalyn. “Jika perlu…“Aku tidak ingin mendengarnya lagi.”Wajah Rosalyn tertunduk kaku. Dia begitu merinding mendengar bisikan -bisikan yang menujukkan rasa ketidaksukaan. Dia tahu mungkin kehadirannya di dekat istri sang pangeran adalah sesuatu yang tidak dia sukai.Namun…Rosalyn tidak tahu alasan kenapa dia begitu dibenci. Jika disukai pangeran adalah ketidakmungkinan yang bisa dia terima. Tapi dibenci? Apakah dia bahkan pantas dibenci oleh seseorang seperti Pangeran?Sreeet…Tira

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 3

    Pagi itu, Rosalyn pergi bekerja sebagai pelatih balet bagi anak-anak kecil. Setiap hari Senin dan Selasa dia berangkat dengan senyum ceria, mengayuh sepeda keranjangnya yang tampak usang dan jauh dari kata layak dipandang.“Rosalyn!”Rosalyn menoleh saat namanya dipanggil dengan begitu keras. Dia tersenyum sambil melambaikan tangan ketika melihat Thomas, petugas kebersihan yang berlari ke arahnya dengan wajah cemas.“Ada apa?” tanya Rosalyn.Thomas terlihat gelisah dan langsung menyerahkan selembar kertas kepada Rosalyn, lalu menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.“Putri Rania memanggilmu ke istana,” ucap pria itu.Rosalyn membeku. Dia membaca kata demi kata surat itu berulang kali untuk memastikan bahwa yang dibacanya benar. Namun, begitu melihat tanda tangan Putri Rania, tubuhnya langsung lemas hingga dia terhuyung ke belakang.“Kenapa putri memanggilku?” tanyanya cemas. “Apa aku melakukan kesalahan?”Pikiran Rosalyn langsung mencari-cari kemungkinan yang membuatnya harus

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 2

    “Bagus, bagus sekali, Rosalyn!”Rosalyn membungkuk ke arah Putri Rania yang memberikan tepuk tangan paling meriah untuknya saat musik selesai. Suara gemuruh tepuk tangan menggelegar di seluruh penjuru gedung opera itu.Berkat mendiang neneknya yang sudah menyekolahkannya dalam tarian balet, kini Rosalyn menjadi balerina yang paling mencuri perhatian dan dikagumi banyak bangsawan. Bahkan mereka rela membayar mahal untuk melihat pertunjukannya.Rosalyn pun tersenyum kepada orang yang sering memberinya imbalan berupa kepingan emas. Dia begitu disukai oleh Putri Rania, dan Rosalyn begitu menyukai uangnya.“Rosalyn, kemarilah!”Rosalyn berjalan mendekati sang putri. “Salam, Putri. Saya memberi hormat.”“Aku sungguh menyukai penampilanmu malam ini.”Rosalyn juga menyukai pujian itu. Dia menyukai bahwa kemungkinan besar dirinya akan kembali mendapatkan imbalan yang bisa dia pakai untuk melunasi utang.“Namun kali ini suamiku yang akan memberikan imbalan untukmu. Dia akan menemuimu di belakan

  • Biarkan Aku Pergi, Pangeran!   Bab 1

    “Rosalyn! Menikahlah denganku. Jika kita menikah, aku janji akan mencintaimu seumur hidupku dan setia. Aku bahkan akan membuatmu tidak perlu bekerja lagi!“Tidak! Berhenti mengejarku dan pergi!”Wanita muda bernama Rosalyn itu menatap pemuda berseragam militer di hadapannya dengan kesal. Sementara tangannya sibuk memilih tomat yang masih layak dikonsumsi meskipun dibeli dengan harga murah di pasar yang terletak di pinggiran kota Docia.“Aku bisa membiayai hidupmu. Aku seorang prajurit dan gajiku cukup untuk memenuhi kebutuhan kita,” ucap pria itu lagi.Rosalyn berkacak pinggang. “Bahkan jika kau seorang jenderal atau pangeran, aku tidak akan menikah denganmu!”“Jangan bercanda, tidak ada jenderal atau pangeran yang bisa menikah denganmu!” Pemuda itu mulai kehabisan kesabaran.Rosalyn hanya mendengus kesal. Dia memilih mengabaikan pemuda yang bahkan namanya sudah dia lupakan itu. Pria itu terus mengejarnya sejak dia tiba di pasar.“Oh, ayolah, Rosalyn. Aku bisa membuatmu bahagia. Terle

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status