Share

Bab 6

Author: Mango
Pada hari keluar dari rumah sakit, beberapa teman sekamar Cesya datang menjenguknya, sekalian membawanya ikut kumpul-kumpul kelas.

Acara kumpul-kumpul itu diadakan di sebuah restoran yang sedang viral. Begitu dia masuk ke dalam, dia langsung merasakan beberapa tatapan mata yang tidak ramah.

"Wah, ini 'kan juara satu orang sibuk angkatan kita? Bukannya udah lama pindah dari kampus dan nggak kumpul sama teman-teman, kok ada waktu buat ikut kumpul-kumpul? Hari ini nggak temani sugar daddy kamu itu?"

"Jangan-jangan udah dibuang sama sugar daddynya. Ada orang yang kelihatannya polos, tapi sebenarnya kehidupan pribadinya nggak tahu seberantakan apa. Demi uang, pria tua umur 50-an aja diembat."

"Ckckck, kelakuan gila harta kayak gini mana bisa kita tiru!"

Beberapa wanita yang sedari dulu tidak menyukai Cesya berkumpul dan nyinyir. Beberapa teman sekamarnya sangat marah mendengarnya, lalu tidak tahan untuk membalas ucapan mereka.

"Kalian ngomong sembarangan apa, sih? Cesya pindah itu buat tinggal bareng pacarnya! Bukan pria tua umur 50 tahun kayak yang kalian bilang!"

"Lucu banget, pacar? Aku udah mergokin berkali-kali Cesya naik mobil mewah tengah malam. Kalau bukan dipelihara, terus apa? Daripada kalian habisin waktu buat bohong di sini, mending kalian bujuk dia biar nggak jual badan demi uang, benar-benar ngerusak nama baik Universitas Siamra!"

Hinaan tanpa batas ini benar-benar menyulut amarah di hati beberapa teman sekamarnya.

Mereka baru saja hendak berbalik untuk memberi pelajaran pada orang-orang ini, ujung mata mereka melihat sesosok bayangan yang tidak asing di luar jendela, lalu berteriak dengan penuh semangat.

"Kalian tukang gosip yang mulutnya nggak disaring, lihat baik-baik, itu pacar Cesya!"

Sesaat, semua orang di dalam ruangan mengikuti suara mereka dan melihat ke arah sana.

Begitu melihat Rian, sekelompok orang itu membelalakkan mata dengan wajah tidak percaya.

"Rian? Kalian lagi bercanda, ya? Rian itu orang kayak gimana, mana mungkin dia lirik Cesya? Cesya bawain sepatunya aja nggak pantas!"

"Pantas atau nggak bukan kalian yang nentuin, sekarang juga aku bawa kalian buat buktiin!"

Begitu Rian muncul, beberapa teman sekamar ini langsung memiliki rasa percaya diri saat berbicara. Mereka menarik Cesya untuk menghampiri pria itu.

Di tengah tatapan mata yang penuh rasa terkejut, mereka baru saja berbalik dan melihat Rian berjalan ke kursi penumpang depan, lalu membimbing seorang wanita turun dari mobil.

Keduanya berdiri sangat dekat dengan postur yang intim, tidak terlihat seperti teman biasa.

Seorang wanita yang sedang menonton keramaian di samping melihat wajah Lisa, lalu langsung mengenalinya.

"Itu 'kan mantan pacar Rian, Lisa? Mereka senior di kampus kakakku, dulu kisah cinta mereka berdua heboh banget. Foto mereka berdua waktu dapat penghargaan olimpiade aja masih dipajang di mading kampus!"

"Pantesan, Rian secinta itu, mana mungkin jadian sama Cesya. Kalau kata aku sih, ada orang yang mau manjat ke Rian, padahal yang pelihara dia itu pria tua 50 atau 60-an, tapi nggak mau ngaku."

Begitu kalimat ini keluar, situasi di sana seketika berbalik. Semua orang menatap Cesya dengan pandangan meremehkan.

Di tengah keributan itu, Rian mendongak melihat ke arah restoran, menoleh lalu mengatakan sesuatu kepada asistennya.

Tidak lama kemudian, asisten itu melangkah cepat ke arah sini.

Melihat adegan ini, beberapa teman sekamarnya mengira masih ada titik terang. Mereka menggandeng tangan Cesya dengan tegang, berharap asisten itu datang untuk mencarinya.

Asisten itu memang berjalan ke depan mereka berempat, tapi dia hanya lewat, tidak berhenti selangkah pun dan langsung pergi mencari pemilik restoran.

"Pak Rian dan Nona Lisa hari ini mau makan siang di tempat Anda. Tolong kosongkan area ini, Pak Rian suka ketenangan."

Mendapatkan pelanggan besar seperti ini, pemilik restoran merasa sangat kegirangan, lalu cepat-cepat mengatur pelayan untuk memberikan makan gratis sebagai kompensasi pengosongan tempat kepada pelanggan.

Meja Cesya tentu saja juga ikut dipersilakan keluar. Ketika sekelompok orang ini berbondong-bondong keluar dari pintu, Rian kebetulan membawa Lisa mendekat.

Cesya tidak ingin berpapasan dengan mereka, lalu menundukkan kepala untuk menghindari tatapan mata mereka.

Namun, beberapa wanita itu memanfaatkan kesempatan, berteriak dengan suara keras mumpung sedang banyak orang.

"Pak Rian, kami dari Fakultas Desain Universitas Siamra, apa Bapak kenal mahasiswi di jurusan kami yang namanya Cesya?"

Mendengar nama ini, langkah kaki Rian terhenti sejenak, tatapannya menyapu berkeliling kerumunan orang.

Lisa langsung melihat Cesya di sudut. Matanya berputar sebentar, lalu menyela untuk menjawab sebelum pria itu membuka mulut.

"Emangnya kenapa?"

"Nggak apa-apa, dia cuma halu tiap hari, koar-koar ke mana-mana kalau punya hubungan sama Pak Rian. Dia udah jelek-jelekin nama baik Pak Rian, makanya kami mau mastiin aja."

Mendengar kalimat ini, genggaman tangan Lisa pada Rian sedikit mengendur, lalu menatap pria itu lekat-lekat.

"Rian, kamu sama Cesya, ada hubungan?"

Mendengar kalimat ini, Rian sedikit mendongak.

Lisa bukannya tidak tahu hubungan Cesya dengan pria itu.

Pria itu juga melihat dengan jelas, sekelompok orang di depan matanya ini sedang mempermalukan Cesya.

Tapi, Lisa tetap menanyakan pertanyaan yang sebenarnya mereka berdua sudah sama-sama tahu.

Mungkin, dia sedang menguji, seberapa penting sebenarnya Cesya di dalam hatinya.

Kalau pria itu mengakuinya pada saat ini, itu hanya akan menambah masalah untuk proses balikannya dengan Lisa.

Oleh karena itu pria itu membantahnya dengan nada datar, "Nggak kenal."

Mendengar nada bicara Rian yang kelewat santai, sekelompok mahasiswa tertawa terbahak-bahak, lalu menatap Cesya dengan pandangan mengejek.

Menghadapi niat jahat yang tidak ditutup-tutupi ini, Cesya memejamkan mata.

Di tengah cemoohan yang datang bertubi-tubi, ponselnya bergetar beberapa kali. Begitu membukanya, dia melihat pesan yang dikirim oleh Lisa.

[Rian sama sekali nggak cinta sama kamu, makanya dia nggak bakal kasih kamu status, nggak bakal peduliin perasaan kamu. Temanan kamu selama empat tahun itu, di matanya bukan apa-apa. Seberapa dimanja pun wanita simpanan, ujung-ujungnya cuma perhiasan yang bisa dibuang kapan aja. Nggak akan pernah bisa jadi istri terhormat!]

Cesya melihat pesan ini dalam diam, lalu teringat saat beberapa teman sekamarnya memergokinya berciuman dengan Rian di depan gerbang kampus dua tahun yang lalu.

Waktu itu, beberapa teman sekamarnya sampai histeris, dengan penuh rasa penasaran menanyakan hubungan pria itu dengannya.

Dia belum membuka mulut, tetapi Rian langsung merangkulnya, bibir tipis pria itu perlahan mengucapkan kalimat pendek, "Pacaran."

Sejak saat itu pula, Cesya menganggap kalau mereka berdua sudah resmi memiliki hubungan sebagai sepasang kekasih.

Tapi sampai sekarang, Cesya baru mengerti, semua ini hanyalah khayalan sepihaknya saja.

Pria itu selalu menunggu Lisa untuk berbalik kembali, posisi kekasih itu, selamanya juga hanya disimpan untuk Lisa.

Dia, tidak lebih dari sebuah alat yang digunakan pria itu untuk menyembuhkan luka hatinya dan mengalihkan perhatian.

Juga ditakdirkan hanya sebagai seorang pejalan lewat tidak penting yang sekadar berpapasan dengannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 22

    Hari kompetisi Kevin makin mendekat.Entah kenapa, Cesya justru merasa lebih cemas darinya. Dia duduk di studio, pensilnya menggores dengan cepat di atas kertas.Dia membulatkan tekad untuk merancangkan jas pertunjukan yang tiada dua khusus untuk pria itu.Seluruh rancangan jas itu sudah selesai dirancang sepenuhnya, tapi Cesya ingin menambahkan sebuah desain kecil yang unik lagi, agar gaun ini menjadi keberadaan yang paling tampil beda."Gimana kalau di sini pakai benang perak buat menyulam satu kalimat ya?"Dia bergumam sendiri, jemarinya membelai pelan bagian kerah pada draf gambar rancangan, sama sekali tidak menyadari kalau ada seseorang di belakangnya yang sudah mendekat secara diam-diam."Lagi gambar apa?"Kevin membungkukkan badan, hembusan napasnya mengenai ujung telinganya.Cesya kaget seketika, tergesa-gesa menutupi draf gambarnya."Rahasia! Kamu nggak boleh lihat!"Tingkah Cesya yang menggemaskan seperti kelinci membuat Kevin tertawa pelan.Dia mendaratkan sebuah ciuman den

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 21

    "Cari tahu! Lisa sebenarnya kabur ke mana! Harus lebih awal kontak sama pihak kepolisian, sama sekali nggak boleh biarkan dia melapor ke polisi!!"Selesai menelpon, Rian membanting ponselnya kencang ke dinding.Kenapa semalam dia begitu ceroboh, sampai membiarkan wanita itu kabur ke luar!Rian merokok batang demi batang di ruang kerja, asbak rokok dengan cepat terisi penuh bertumpuk tinggi.Tepat saat dia menunggu dengan cemas, panggilan dari asistennya masuk."Pak Rian, udah ada kabar!""Polisi air kita di wilayah laut arah Vietnam mendapati sebuah jas luar berdarah, itu adalah pakaian yang dipakai Lisa saat kabur! Dia nggak punya dokumen identitas, harusnya dia kabur secara ilegal ke luar negeri.""Pak Rian tenang aja, orang kayak dia yang nggak punya identitas resmi kayak gini, mati juga nggak bakal ada yang mengusutnya."Rian mendengar laporan itu, dengan raut wajah tanpa ekspresi menghapus video CCTV yang memperlihatkan Lisa kabur dengan luka di sekujur tubuhnya.Karena wanita itu

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 20

    Pesawat mendarat tepat waktu, Rian naik ke mobil asisten yang menjemputnya.Mobil melaju tenang kembali ke jalanan yang familier, tapi dia sama sekali tidak bisa merasa gembira.Setiap sudut kota ini menyimpan jejak-jejak Cesya.Restoran Barat kelas atas di sudut jalan itu adalah tempat Rian menemaninya merayakan ulang tahun pada suatu tahun, di sana mereka berciuman mesra di bawah ucapan selamat dari grup musik.Jembatan besar di tepi sungai itu sering mereka lalui saat jalan-jalan santai, ketika musim dingin Rian akan memasukkan tangan Cesya ke dalam saku bajunya untuk menghangatkan, sementara Cesya tersenyum mencium pipinya.Tiap adegan saat mereka berpacaran terukir dalam di dalam hati Rian, tidak peduli bagaimana cara menghapusnya tetap tidak bakal hilang.Mengenang masa lalu, Rian akhirnya sampai di depan pintu rumah.Sudah lama dia tidak kembali ke sini, karena di sini jejak-jejak kehidupan Cesya sudah lama menghilang.Dia sudah lama tidak mendorong pintu gudang bawah tanah, bau

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 19

    Sejak bertemu Rian di kampus tadi pagi, Cesya menjadi sangat linglung sepanjang hari.Kondisinya seharian ini tidak baik, saat menggambar draf desain pensilnya patah tiga kali, garis gambar yang dibuatnya pun miring dan berantakan.Bahkan saat menyeduh kopi di mesin kopi kampus, tangannya hampir tersiram air panas, untung Kevin menyadarinya tepat waktu sehingga tidak terluka."Cesya, nanti kita mau makan di mana?"Kevin berbicara di sampingnya, tapi Cesya hanya tertegun tanpa memberikan respons."Cesya?"Sampai Kevin melambaikan tangan di depan matanya, Cesya baru mendadak tersadar."Maaf ya, aku tadi melamun."Raut wajah Cesya yang murung terlihat sangat jelas, membuat Kevin merasa tidak tenang."Cesya, siang ini kita nggak usah ikut kuliah lagi deh, ayo pergi ke taman bermain bareng.""Taman bermain?"Meskipun Cesya tidak paham kenapa Kevin melakukan hal ini, dia tetap mengikutinya pergi ke taman bermain yang jauh dari pusat kota.Mobil berhenti dengan tenang di depan gerbang taman b

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 18

    Suara Cesya sama sekali tidak menunjukkan rasa terkejut ataupun bahagia, yang ada hanya rasa takut dan jijik atas kemunculan Rian secara mendadak.Raut wajah Cesya membuat Rian merasa sangat kesakitan, tanpa sadar cengkeraman tangannya makin mengencang."Ikut aku balik! Sekarang!"Cesya menahan napas kesakitan, berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri."Ssh ... lepasin aku Rian, sakit!"Mendengarnya kesakitan, Kevin yang berdiri di sampingnya mendadak mendorong Rian dengan kencang, tatapan matanya seketika berubah menjadi dingin dan tajam."Lepasin! Kamu nggak dengar dia ngomong apa?"Tapi, Rian sama sekali tidak meliriknya, tatapannya menatap Cesya lekat-lekat, memaksakan dirinya untuk tenang."Cesya ... kita bicara dulu ...."Pada detik ini, emosi Cesya akhirnya meledak. Dengan mata memerah dia menghempaskan tangan Rian, lalu berteriak histeris padanya."Rian, sadar dong! Kita udah nggak ada hal yang perlu dibicarakan lagi! Aku udah nggak cinta lagi sama kamu!"Begitu kalimat ini

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 17

    Rian menatap layar komputer lekat-lekat, jemarinya hampir meremukkan tetikus di tangannya.Melihat petunjuk yang dikumpulkannya, pikirannya justru terasa makin tidak menentu.Sampai pada hari ini, melalui perkataan Lisa, dia sudah paham sepenuhnya kalau Cesya sama sekali tidak selingkuh.Kata "selingkuh" di dalam pesan teks itu, mungkin hanyalah alasan yang dicari Cesya demi bisa benar-benar pergi meninggalkannya!Kepala Rian terasa pusing dan berat, dia memijat pelipisnya.Pada saat itulah, asistennya mendadak mendorong pintu ruang kerja, berlari masuk dengan tergesa-gesa lalu menyerahkan dokumen terbaru yang baru diperiksa."Pak Rian, udah ketemu! Cesya terakhir kali muncul di rekaman CCTV itu saat menyeret koper pergi ke bandara!""Apa?"Rian mendadak beranjak berdiri, gerakan tubuhnya begitu kencang hingga membuat kursi kerjanya terguling roboh.Dia menerima rekaman gambar CCTV di tangan asistennya, isi video itu benar-benar Cesya sendiri!"Udah ketemu dia mau pergi ke mana belum?"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status