Share

Bab 7

Author: Mango
Setelah pulang, Cesya baru menyadari kalau kejadian saat kumpul-kumpul itu diunggah seseorang ke forum kampus. Semua orang di Universitas Siamra sedang membicarakannya.

[Dapat dari mana sih si pengikut yang nggak tahu diri ini? Ngarang cerita sampai bawa-bawa nama Pak Rian. Nggak ngaca apa dia itu siapa, bawain sepatunya aja kayaknya nggak pantas!]

[Pak Rian itu tuan muda kaya raya di ibu kota, cewek yang dia suka itu putri dari keluarga kaya di kota. Cintanya tulus bertahun-tahun nggak pernah berubah, mana mungkin bisa ada hubungan sama cewek miskin? Halusinasi ya!]

[Aku dengar nih ya, dia itu dipelihara sama pria tua umur 50-an. Pas ketahuan sama teman-temannya, dia baru bohong kayak gitu. Udah gila harta, nggak punya malu pula. Punya teman kayak gini benar-benar bikin malu Universitas Siamra!]

Melihat sindiran dan makian yang terus bermunculan di internet, hati Cesya terasa seperti tertutup awan hitam, sangat kelam.

Beberapa teman sekamarnya mencoba segala cara untuk menyuarakan kebenaran demi dirinya, tapi penjelasan itu dengan cepat tenggelam di tengah amukan massa yang begitu besar, tidak ada yang peduli.

Dia tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa mematikan semua media sosial, lalu berkali-kali menenangkan dirinya sendiri kalau semua ini akan segera berakhir.

Hari demi hari berlalu, Cesya mengurus proses kelulusannya, lalu pulang untuk memberi tahu ibunya yang sudah sembuh dari sakit soal rencana pertukaran mahasiswa.

Dia sibuk dengan urusannya sendiri sampai beberapa hari tidak bertemu Rian. Begitu kembali ke vila, dia melihat pria itu sedang duduk di sofa menunggunya.

"Beberapa hari ini kamu ke mana aja, kok nggak kelihatan sama sekali?"

"Ada urusan di kampus."

Cesya menundukkan mata, asal mencari alasan.

"Kampus? Kamu 'kan sebentar lagi lulus, emangnya bisa ada urusan apa?"

Cesya tidak ingin pria itu tahu lebih awal kalau dirinya mau ke luar negeri, jadi dia hanya menjawab seadanya, "Cuma sibuk urusan kelulusan aja."

Rian mengerutkan dahi, sadar betul merasa ada yang tidak beres.

Baru saja hendak membuka mulut, telepon Cesya berdering. Dia menekan tombol angkat lalu berbalik keluar rumah.

Tatapan mata Rian seketika suram saat mendengar suara pria secara samar-samar. Dia mematikan ponselnya lalu mengikutinya dari belakang.

Pria itu diminta tolong oleh Bu Arni untuk sekalian mengantarkan visa yang sudah diurus kampus, beserta beberapa dokumen lainnya.

Setelah berterima kasih dengan sopan kepada temannya, dia berbalik memegang dokumen itu, lalu langsung berpapasan dengan tatapan mata Rian yang dalam.

"Dia siapa? Kenapa datang cari kamu?"

Cesya menggenggam kantong itu erat-erat di belakang tubuhnya, senyuman di wajahnya memudar, lalu dia menjelaskan secara singkat.

"Teman kampus, bantuin antar ijazah kelulusan."

Melihat tatapan matanya yang menghindar, wajah Rian makin dingin.

"Teman kampus mana yang baik banget sampai nganterin sendiri ke sini? Dia suka sama kamu?"

Mendengar itu, Cesya agak tersentak, tidak tahu kenapa pria itu bisa berprasangka seperti itu.

"Cuma sekadar bantuin karena searah aja, aku sama dia cuma teman biasa. Soal siapa yang dia suka aku nggak tahu, yang jelas bukan aku."

Setelah mendengar penjelasannya, Rian menatapnya lama, nada suaranya sangat dingin.

"Nggak peduli apa hubungan kalian, ke depannya kamu nggak boleh berhubungan lagi sama dia."

"Pak Rian, ini kebebasan aku dalam berteman ...."

Cesya refleks ingin membantah, tapi sebelum selesai berbicara, kalimatnya sudah dipotong oleh pria itu.

"Sejak hari pertama kamu setuju buat bikin kesepakatan sama aku, kamu udah nggak punya kebebasan berteman. Aku nggak bisa toleransi hal kayak gini. Kalau kamu masih berhubungan nggak jelas sama cowok kayak gini, kamu nggak usah ada di samping aku lagi."

Begitu kalimat itu diucapkan, Lisa keluar dengan riasan yang rapi, lalu tersenyum sambil merangkul tangannya dan masuk ke dalam mobil.

"Rian, aku udah siap-siap, ayo berangkat."

Cesya memejamkan mata melihat mobil sport yang melaju kencang meninggalkan tempat itu.

Dirinya yang sekarang sama sekali tidak ingin berada di samping pria itu lagi, dia hanya menginginkan kebebasan.

Kesepakatan di antara mereka sebentar lagi akan berakhir.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 22

    Hari kompetisi Kevin makin mendekat.Entah kenapa, Cesya justru merasa lebih cemas darinya. Dia duduk di studio, pensilnya menggores dengan cepat di atas kertas.Dia membulatkan tekad untuk merancangkan jas pertunjukan yang tiada dua khusus untuk pria itu.Seluruh rancangan jas itu sudah selesai dirancang sepenuhnya, tapi Cesya ingin menambahkan sebuah desain kecil yang unik lagi, agar gaun ini menjadi keberadaan yang paling tampil beda."Gimana kalau di sini pakai benang perak buat menyulam satu kalimat ya?"Dia bergumam sendiri, jemarinya membelai pelan bagian kerah pada draf gambar rancangan, sama sekali tidak menyadari kalau ada seseorang di belakangnya yang sudah mendekat secara diam-diam."Lagi gambar apa?"Kevin membungkukkan badan, hembusan napasnya mengenai ujung telinganya.Cesya kaget seketika, tergesa-gesa menutupi draf gambarnya."Rahasia! Kamu nggak boleh lihat!"Tingkah Cesya yang menggemaskan seperti kelinci membuat Kevin tertawa pelan.Dia mendaratkan sebuah ciuman den

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 21

    "Cari tahu! Lisa sebenarnya kabur ke mana! Harus lebih awal kontak sama pihak kepolisian, sama sekali nggak boleh biarkan dia melapor ke polisi!!"Selesai menelpon, Rian membanting ponselnya kencang ke dinding.Kenapa semalam dia begitu ceroboh, sampai membiarkan wanita itu kabur ke luar!Rian merokok batang demi batang di ruang kerja, asbak rokok dengan cepat terisi penuh bertumpuk tinggi.Tepat saat dia menunggu dengan cemas, panggilan dari asistennya masuk."Pak Rian, udah ada kabar!""Polisi air kita di wilayah laut arah Vietnam mendapati sebuah jas luar berdarah, itu adalah pakaian yang dipakai Lisa saat kabur! Dia nggak punya dokumen identitas, harusnya dia kabur secara ilegal ke luar negeri.""Pak Rian tenang aja, orang kayak dia yang nggak punya identitas resmi kayak gini, mati juga nggak bakal ada yang mengusutnya."Rian mendengar laporan itu, dengan raut wajah tanpa ekspresi menghapus video CCTV yang memperlihatkan Lisa kabur dengan luka di sekujur tubuhnya.Karena wanita itu

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 20

    Pesawat mendarat tepat waktu, Rian naik ke mobil asisten yang menjemputnya.Mobil melaju tenang kembali ke jalanan yang familier, tapi dia sama sekali tidak bisa merasa gembira.Setiap sudut kota ini menyimpan jejak-jejak Cesya.Restoran Barat kelas atas di sudut jalan itu adalah tempat Rian menemaninya merayakan ulang tahun pada suatu tahun, di sana mereka berciuman mesra di bawah ucapan selamat dari grup musik.Jembatan besar di tepi sungai itu sering mereka lalui saat jalan-jalan santai, ketika musim dingin Rian akan memasukkan tangan Cesya ke dalam saku bajunya untuk menghangatkan, sementara Cesya tersenyum mencium pipinya.Tiap adegan saat mereka berpacaran terukir dalam di dalam hati Rian, tidak peduli bagaimana cara menghapusnya tetap tidak bakal hilang.Mengenang masa lalu, Rian akhirnya sampai di depan pintu rumah.Sudah lama dia tidak kembali ke sini, karena di sini jejak-jejak kehidupan Cesya sudah lama menghilang.Dia sudah lama tidak mendorong pintu gudang bawah tanah, bau

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 19

    Sejak bertemu Rian di kampus tadi pagi, Cesya menjadi sangat linglung sepanjang hari.Kondisinya seharian ini tidak baik, saat menggambar draf desain pensilnya patah tiga kali, garis gambar yang dibuatnya pun miring dan berantakan.Bahkan saat menyeduh kopi di mesin kopi kampus, tangannya hampir tersiram air panas, untung Kevin menyadarinya tepat waktu sehingga tidak terluka."Cesya, nanti kita mau makan di mana?"Kevin berbicara di sampingnya, tapi Cesya hanya tertegun tanpa memberikan respons."Cesya?"Sampai Kevin melambaikan tangan di depan matanya, Cesya baru mendadak tersadar."Maaf ya, aku tadi melamun."Raut wajah Cesya yang murung terlihat sangat jelas, membuat Kevin merasa tidak tenang."Cesya, siang ini kita nggak usah ikut kuliah lagi deh, ayo pergi ke taman bermain bareng.""Taman bermain?"Meskipun Cesya tidak paham kenapa Kevin melakukan hal ini, dia tetap mengikutinya pergi ke taman bermain yang jauh dari pusat kota.Mobil berhenti dengan tenang di depan gerbang taman b

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 18

    Suara Cesya sama sekali tidak menunjukkan rasa terkejut ataupun bahagia, yang ada hanya rasa takut dan jijik atas kemunculan Rian secara mendadak.Raut wajah Cesya membuat Rian merasa sangat kesakitan, tanpa sadar cengkeraman tangannya makin mengencang."Ikut aku balik! Sekarang!"Cesya menahan napas kesakitan, berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri."Ssh ... lepasin aku Rian, sakit!"Mendengarnya kesakitan, Kevin yang berdiri di sampingnya mendadak mendorong Rian dengan kencang, tatapan matanya seketika berubah menjadi dingin dan tajam."Lepasin! Kamu nggak dengar dia ngomong apa?"Tapi, Rian sama sekali tidak meliriknya, tatapannya menatap Cesya lekat-lekat, memaksakan dirinya untuk tenang."Cesya ... kita bicara dulu ...."Pada detik ini, emosi Cesya akhirnya meledak. Dengan mata memerah dia menghempaskan tangan Rian, lalu berteriak histeris padanya."Rian, sadar dong! Kita udah nggak ada hal yang perlu dibicarakan lagi! Aku udah nggak cinta lagi sama kamu!"Begitu kalimat ini

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 17

    Rian menatap layar komputer lekat-lekat, jemarinya hampir meremukkan tetikus di tangannya.Melihat petunjuk yang dikumpulkannya, pikirannya justru terasa makin tidak menentu.Sampai pada hari ini, melalui perkataan Lisa, dia sudah paham sepenuhnya kalau Cesya sama sekali tidak selingkuh.Kata "selingkuh" di dalam pesan teks itu, mungkin hanyalah alasan yang dicari Cesya demi bisa benar-benar pergi meninggalkannya!Kepala Rian terasa pusing dan berat, dia memijat pelipisnya.Pada saat itulah, asistennya mendadak mendorong pintu ruang kerja, berlari masuk dengan tergesa-gesa lalu menyerahkan dokumen terbaru yang baru diperiksa."Pak Rian, udah ketemu! Cesya terakhir kali muncul di rekaman CCTV itu saat menyeret koper pergi ke bandara!""Apa?"Rian mendadak beranjak berdiri, gerakan tubuhnya begitu kencang hingga membuat kursi kerjanya terguling roboh.Dia menerima rekaman gambar CCTV di tangan asistennya, isi video itu benar-benar Cesya sendiri!"Udah ketemu dia mau pergi ke mana belum?"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status