Share

Bab 8

Author: Mango
Cesya bangun sangat pagi di hari ulang tahun Rian. Dia membuka jendela untuk mencari udara segar, lalu melihat Rian dan beberapa temannya sedang mengobrol santai di taman.

"Rian, aku dengar acara ulang tahun kamu kali ini disiapin langsung sama Lisa. Dia belakangan ini nempel terus sama kamu, kalau di pesta ulang tahun nanti dia inisiatif ngajak balikan, kamu bakal terima nggak?"

"Pake nanya lagi, ya jelas diterimalah!"

Menghadapi godaan dari teman-temannya, Rian tetap menunjukkan ekspresi tenang dan santai, "Lihat nanti aja."

"Ckckck, lihat muka kamu yang yakin banget gitu, kayaknya udah dapat bocoran ya kalau Lisa bakal nembak kamu hari ini!"

"Tapi, kalau kamu udah balikan sama Lisa, terus Cesya gimana? Gimana kalau dia dikasih ke aku aja, aku lihat dia lumayan cakep juga. Biar aku yang mainin beberapa hari terus aku beresin buat kamu."

"Gara-gara kamu ngomong gitu, aku jadi mau bagian juga. Dari dulu aku udah naksir cewek itu, kalau dia mau manggil aku kakak di ranjang, bayanginnya aja udah bikin lemas."

Cesya merinding mendengar gelak tawa mereka yang penuh niat jahat.

Dia menggigit bibirnya erat-erat tanpa bersuara, refleks menatap ke arah Rian.

Sudut bibir pria itu sedikit terangkat, tapi matanya sama sekali tidak menunjukkan rasa humor, "Udah ikut aku bertahun-tahun, masih nggak paham aturan? Barang yang udah aku lirik, meskipun aku udah nggak mau lagi, aku nggak bakal biarin orang lain usik. Nanti aku bakal atur dia di bagian asisten buat pegang jabatan santai, siapa yang berani macam-macam, coba aja kalau berani."

Melihat raut wajahnya yang memburuk, hati teman-temannya agak tersentak, lalu cepat-cepat mencairkan suasana.

"Cuma bercanda doang kok. Cesya 'kan udah ikut kamu empat tahun, terus cinta banget sama kamu. Walaupun kamu cuma jadiin dia pajangan di kantor, dia juga pasti ikhlas."

"Tapi, pas kamu udah balikan sama Lisa, kalau Lisa nggak suka lihat Cesya terus maksa kamu buat ngusir dia gimana? Biar gimanapun udah dipelihara empat tahun, ntar kamu nggak tega lagi?"

Rian mengangkat cangkir kopi lalu meminumnya sedikit, suaranya kembali dingin.

"Melihara dia 'kan dari awal cuma buat ngisi waktu luang doang, apanya yang nggak tega?"

Mendengar nada bicaranya yang sama sekali tidak peduli itu, hati Cesya sudah tidak terasa sakit lagi.

Setelah selesai cuci muka dan sikat gigi, dia baru hendak turun ke lantai bawah untuk minum air, lalu langsung berpapasan dengan Lisa.

Saat tatapan mata mereka bertemu, selapis rasa tidak sabar terlintas di mata Lisa.

"Kamu udah ambil uang aku, sebenarnya kapan kamu mau pergi? Kesabaranku ada batasnya ya!"

Cesya membuka ponselnya, melihat pemberitahuan berkumpul dari dosennya, lalu menjawabnya dengan sangat tenang.

"Tenang aja, setelah hari ini, aku bakal hilang tanpa jejak, nggak bakal muncul lagi."

"Apaan yang nggak bakal muncul lagi?"

Tiba-tiba mendengar suara yang tidak asing, keduanya kompak menoleh, lalu melihat Rian muncul di pintu.

Jantung Lisa berdegup kencang, dia bergegas menyambut pria itu untuk mengalihkan topik.

"Nggak ada apa-apa, cuma ngobrol santai aja. Dari sini ke vila peristirahatan lumayan jauh 'kan, apa nggak sebaiknya berangkat sekarang?"

Rian tidak berpikir panjang, melihat jam lalu mengangguk.

"Mesti berangkat sekarang."

Selesai berbicara, dia mengambil kunci mobil. Lisa juga sudah memakai sepatu hak tingginya, hanya Cesya yang tidak bergerak sama sekali.

Melihat Cesya tidak merespons, Rian mengingatkannya sekali lagi.

"Ngapain bengong? Nggak ganti gaun pesta?"

Mereka mau pergi ke lokasi pesta ulang tahun, tapi Cesya sama sekali tidak berencana untuk datang ke pesta itu.

"Kalian berangkat duluan aja, nggak usah peduliin aku."

Menghadapi sikapnya yang dingin dan acuh tak acuh ini, tatapan mata Rian makin menggelap.

"Kalau nggak jalan bareng kita, ntar terlambat ke pesta, jangan nangis-nangis telepon aku ya."

"Nggak bakal."

Nada bicaranya terlalu yakin, membuat Rian merasa panik tanpa alasan, seolah-olah ada sesuatu yang mulai lepas dari kendalinya.

Dia mengerutkan dahi, baru saja hendak bertanya lagi, Lisa sudah menarik tangannya dan mendesaknya untuk pergi.

"Mumpung dia lagi ada urusan sibuk, ya udah kita nggak usah nungguin lagi. Nanti kalau kemalaman terus nelantarin tamu 'kan nggak sopan. Aku juga udah siapin kejutan, udah nggak sabar mau kasih lihat kamu!"

Beberapa kalimat itu langsung mengalihkan perhatian Rian. Dia menatap Cesya untuk terakhir kalinya, lalu pergi membawa Lisa.

Cesya membereskan barang-barangnya perlahan, lalu menatap sekeliling vila yang sudah ditinggalinya selama lima tahun ini untuk terakhir kalinya.

Semua yang ada di sini pernah membuatnya salah paham kalau dirinya dicintai.

Sifat Rian yang membelikan piano untuknya, lilin aroma terapi favoritnya, bahkan kucing yang diizinkan pria itu untuk dipelihara di kamarnya.

Tapi sekarang, dia akhirnya mengerti kalau kelembutan ini tidak pernah ditujukan untuk dirinya.

Melainkan untuk wanita bernama Lisa itu.

Pria itu sudah punya wanita yang disukainya, dirinya juga harus menyambut kehidupan barunya sendiri.

Tanpa ada rasa berat hati sedikit pun, dia menyeret koper dan langsung menuju bandara.

Sebelum lepas landas, pramugari berkali-kali mengingatkan untuk mematikan ponsel.

Sebelum mematikan ponselnya, Cesya mengingat sesuatu. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu membuka kolom obrolan dengan Rian dan mengirimkan pesan perpisahan.

[Pak Rian, aku nggak datang ke pesta ulang tahunmu hari ini ya, semoga acaramu menyenangkan. Terima kasih atas kebaikanmu selama bertahun-tahun ini, aku mau selingkuh, selamat tinggal.]

Dia tidak menyadari kalau kata "ke luar negeri" salah diketik menjadi "selingkuh". Dia langsung mematikan ponselnya lalu menatap ke luar jendela.

Hari ini cuaca cerah, tanpa awan sedikit pun.

Hari-hari ke depannya tanpa pria itu juga akan selalu cerah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 22

    Hari kompetisi Kevin makin mendekat.Entah kenapa, Cesya justru merasa lebih cemas darinya. Dia duduk di studio, pensilnya menggores dengan cepat di atas kertas.Dia membulatkan tekad untuk merancangkan jas pertunjukan yang tiada dua khusus untuk pria itu.Seluruh rancangan jas itu sudah selesai dirancang sepenuhnya, tapi Cesya ingin menambahkan sebuah desain kecil yang unik lagi, agar gaun ini menjadi keberadaan yang paling tampil beda."Gimana kalau di sini pakai benang perak buat menyulam satu kalimat ya?"Dia bergumam sendiri, jemarinya membelai pelan bagian kerah pada draf gambar rancangan, sama sekali tidak menyadari kalau ada seseorang di belakangnya yang sudah mendekat secara diam-diam."Lagi gambar apa?"Kevin membungkukkan badan, hembusan napasnya mengenai ujung telinganya.Cesya kaget seketika, tergesa-gesa menutupi draf gambarnya."Rahasia! Kamu nggak boleh lihat!"Tingkah Cesya yang menggemaskan seperti kelinci membuat Kevin tertawa pelan.Dia mendaratkan sebuah ciuman den

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 21

    "Cari tahu! Lisa sebenarnya kabur ke mana! Harus lebih awal kontak sama pihak kepolisian, sama sekali nggak boleh biarkan dia melapor ke polisi!!"Selesai menelpon, Rian membanting ponselnya kencang ke dinding.Kenapa semalam dia begitu ceroboh, sampai membiarkan wanita itu kabur ke luar!Rian merokok batang demi batang di ruang kerja, asbak rokok dengan cepat terisi penuh bertumpuk tinggi.Tepat saat dia menunggu dengan cemas, panggilan dari asistennya masuk."Pak Rian, udah ada kabar!""Polisi air kita di wilayah laut arah Vietnam mendapati sebuah jas luar berdarah, itu adalah pakaian yang dipakai Lisa saat kabur! Dia nggak punya dokumen identitas, harusnya dia kabur secara ilegal ke luar negeri.""Pak Rian tenang aja, orang kayak dia yang nggak punya identitas resmi kayak gini, mati juga nggak bakal ada yang mengusutnya."Rian mendengar laporan itu, dengan raut wajah tanpa ekspresi menghapus video CCTV yang memperlihatkan Lisa kabur dengan luka di sekujur tubuhnya.Karena wanita itu

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 20

    Pesawat mendarat tepat waktu, Rian naik ke mobil asisten yang menjemputnya.Mobil melaju tenang kembali ke jalanan yang familier, tapi dia sama sekali tidak bisa merasa gembira.Setiap sudut kota ini menyimpan jejak-jejak Cesya.Restoran Barat kelas atas di sudut jalan itu adalah tempat Rian menemaninya merayakan ulang tahun pada suatu tahun, di sana mereka berciuman mesra di bawah ucapan selamat dari grup musik.Jembatan besar di tepi sungai itu sering mereka lalui saat jalan-jalan santai, ketika musim dingin Rian akan memasukkan tangan Cesya ke dalam saku bajunya untuk menghangatkan, sementara Cesya tersenyum mencium pipinya.Tiap adegan saat mereka berpacaran terukir dalam di dalam hati Rian, tidak peduli bagaimana cara menghapusnya tetap tidak bakal hilang.Mengenang masa lalu, Rian akhirnya sampai di depan pintu rumah.Sudah lama dia tidak kembali ke sini, karena di sini jejak-jejak kehidupan Cesya sudah lama menghilang.Dia sudah lama tidak mendorong pintu gudang bawah tanah, bau

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 19

    Sejak bertemu Rian di kampus tadi pagi, Cesya menjadi sangat linglung sepanjang hari.Kondisinya seharian ini tidak baik, saat menggambar draf desain pensilnya patah tiga kali, garis gambar yang dibuatnya pun miring dan berantakan.Bahkan saat menyeduh kopi di mesin kopi kampus, tangannya hampir tersiram air panas, untung Kevin menyadarinya tepat waktu sehingga tidak terluka."Cesya, nanti kita mau makan di mana?"Kevin berbicara di sampingnya, tapi Cesya hanya tertegun tanpa memberikan respons."Cesya?"Sampai Kevin melambaikan tangan di depan matanya, Cesya baru mendadak tersadar."Maaf ya, aku tadi melamun."Raut wajah Cesya yang murung terlihat sangat jelas, membuat Kevin merasa tidak tenang."Cesya, siang ini kita nggak usah ikut kuliah lagi deh, ayo pergi ke taman bermain bareng.""Taman bermain?"Meskipun Cesya tidak paham kenapa Kevin melakukan hal ini, dia tetap mengikutinya pergi ke taman bermain yang jauh dari pusat kota.Mobil berhenti dengan tenang di depan gerbang taman b

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 18

    Suara Cesya sama sekali tidak menunjukkan rasa terkejut ataupun bahagia, yang ada hanya rasa takut dan jijik atas kemunculan Rian secara mendadak.Raut wajah Cesya membuat Rian merasa sangat kesakitan, tanpa sadar cengkeraman tangannya makin mengencang."Ikut aku balik! Sekarang!"Cesya menahan napas kesakitan, berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri."Ssh ... lepasin aku Rian, sakit!"Mendengarnya kesakitan, Kevin yang berdiri di sampingnya mendadak mendorong Rian dengan kencang, tatapan matanya seketika berubah menjadi dingin dan tajam."Lepasin! Kamu nggak dengar dia ngomong apa?"Tapi, Rian sama sekali tidak meliriknya, tatapannya menatap Cesya lekat-lekat, memaksakan dirinya untuk tenang."Cesya ... kita bicara dulu ...."Pada detik ini, emosi Cesya akhirnya meledak. Dengan mata memerah dia menghempaskan tangan Rian, lalu berteriak histeris padanya."Rian, sadar dong! Kita udah nggak ada hal yang perlu dibicarakan lagi! Aku udah nggak cinta lagi sama kamu!"Begitu kalimat ini

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 17

    Rian menatap layar komputer lekat-lekat, jemarinya hampir meremukkan tetikus di tangannya.Melihat petunjuk yang dikumpulkannya, pikirannya justru terasa makin tidak menentu.Sampai pada hari ini, melalui perkataan Lisa, dia sudah paham sepenuhnya kalau Cesya sama sekali tidak selingkuh.Kata "selingkuh" di dalam pesan teks itu, mungkin hanyalah alasan yang dicari Cesya demi bisa benar-benar pergi meninggalkannya!Kepala Rian terasa pusing dan berat, dia memijat pelipisnya.Pada saat itulah, asistennya mendadak mendorong pintu ruang kerja, berlari masuk dengan tergesa-gesa lalu menyerahkan dokumen terbaru yang baru diperiksa."Pak Rian, udah ketemu! Cesya terakhir kali muncul di rekaman CCTV itu saat menyeret koper pergi ke bandara!""Apa?"Rian mendadak beranjak berdiri, gerakan tubuhnya begitu kencang hingga membuat kursi kerjanya terguling roboh.Dia menerima rekaman gambar CCTV di tangan asistennya, isi video itu benar-benar Cesya sendiri!"Udah ketemu dia mau pergi ke mana belum?"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status