Share

72~BC

Author: Kanietha
last update Last Updated: 2025-10-13 11:24:16

Altaf mempersilakan Ciara masuk ke ruang inap, tempat Briana ditangani setelah mendapat perawatan intensif. Ruangan tersebut dijaga ketat dan tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang.

“Mamamu belum sadar,” ucap Altaf setelah menutup pintu, “kondisinya masih lemah, tapi sudah membaik.”

Ciara langsung meraih tangan Briana, menggenggam telapak tangan sang mama lalu duduk di kursi yang ada di samping ranjang pasien.

“Ma …” Ciara mulai terisak, menempelkan punggung tangan Briana di pipinya, “ini aku, Cia. Bangun, yaaa …”

“Karena kamu sudah di sini, aku tinggal ke kantor dulu,” ujar Altaf berdiri di sudut ranjang pasien.

Ciara menghapus air mata di pipinya. “Apa harus dijaga seketat ini? Mamaku bukan orang jahat.”

“Bukti yang bicara, Cia.”

“Mama pasti difitnah, Mas,” ucap Ciara penuh keyakinan, “mamaku itu orang baik. Nggak mungkin sam–”

“Mamamu pernah ngurung Cinta di kamar mandi semalaman,” ujar Altaf kembali mengingatkan, “dan dia sudah mengakuinya.”

Ciara terdiam, tidak bisa membantah A
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (15)
goodnovel comment avatar
Dinie Youli
ah bullshit althaf mash perhatian ma cia kl gitu lo ga kan bisa dket ma cinta..adil tai...ma cinta ja lo ga adil
goodnovel comment avatar
Desty Novia
ko update dikit2....?.........
goodnovel comment avatar
virna putri
Cintakuuu.. pas banget nih jam maksi, enak kayaknya ikutan makan nasi goreng kambing.. hehe.. pak kiano tekanan batin..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bias Cinta   167~BC

    Senyum Dinda langsung tersemat sambil melambai kecil pada Felix yang duduk di sofa lobi. Malam ini, sang suami sekalian menjemputnya karena Felix baru selesai menemui klien.“Senengnya dijemput suami,” ucap Dinda langsung menggandeng lengan Felix yang berdiri di sebelahnya.“Tapi aku nggak senang jemput kamu jam segini.”Bibir Dinda mengerucut seketika. Suaminya itu memang suka bercanda, tetapi tidak bisa menutupi perasaan tidak sukanya. Meski agak membuat kesal, tetapi Dinda justru lebih menyukai keterbukaan tersebut. Daripada dipendam di dada dan suatu saat akan meledak tiba-tiba.“Kalau sekali-kali kamu pulang malam karena lembur, aku masih bisa maklum,” lanjut Felix sambil membawa istrinya menuju pintu keluar, “tapi kalau tiap hari pulang malam, itu nggak sehat. Lama-lama kamu sendiri yang ambruk.”“Apa aku mau dihukum lagi?”Langkah Felix seketika berhenti dan geleng-geleng. “Kamu ini, kenapa suka sekali dihukum?”Dinda terkikik dan kembali mengajak suaminya melangkah. “Maaf, ya,

  • Bias Cinta   166~BC

    “Ketuk pintu dulu, Cinta,” tegur Altaf saat adiknya nyelonong masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu. “Kamu juga gitu, kalau masuk ke ruanganku nggak pake ketuk pintu.”Altaf menarik napas. Tidak mau memperpanjang perdebatan dengan Cinta yang tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan sebelumnya.“Kamu sendiri? Cibi mana?” tanya Altaf beranjak dari kursi kerjanya dan menghampiri Cinta yang baru duduk di sofa.“Aku sendiri. Cibi di ruanganku sama mbak Denok.” Cinta menegakkan tubuh. Wajah santainya berubah serius. “Rumah Dinda mau dibayar cash. Aku minta hitungkan berapa sisanya. Dan skenarionya begini, waktu itu Dinda beli lewat aku. Tapi karena aku punya bayi dan nggak bisa carikan rumah, jadinya aku minta tolong sama kamu. Kita samakan cerita, karena ada perasaan yang harus dijaga.”Altaf kembali menarik napas. Kali ini lebih panjang dan diakhiri dengan anggukan. “Oke.”“Sip!” Cinta langsung bangkit karena masalah sudah selesai. “Aku minta totalan secepatnya. Dan nggak usah bahas furni

  • Bias Cinta   165~BC

    “Ikut Onti atau ikut Om?” tanya Dinda mengulurkan kedua tangan pada Cibi. Tidak hanya dirinya, tetapi Felix juga ikut mengulurkan kedua tangannya. Tinggal menunggu Cibi akan mencondongkan tubuh ke arah mana. Cibi mengedipkan mata. Menatap Dinda dan Felix bergantian dengan mata polosnya. Sejurus itu, kedua tangannya tertuju pada Felix dan tubuhnya pun condong ke arah pria itu. Hal tersebut membuat tawa semua orang di sekitar mereka pecah. “Harusnya kamu milih sama Onti Dinda,” ucap Cinta hanya bisa pasrah dan menyerahkan putrinya ke gendongan Felix. “Duh, nggak bisa lihat cowok cakep dia ini,” timpal Dinda dengan kekehannya. “Asal jangan nurun seperti papanya.” Alma langsung melirik pada Bias. “Besar dikit, harus dikasih bodyguard. Biar nggak meleng ke mana-mana.”Tatapan datar Bias langsung tertuju pada mamanya. “Aku lagi yang kena.”Alma tetap cuek dan kembali fokus pada pasangan pengantin baru yang mengunjungi mereka. Ia mengajak suami istri itu masuk ke dalam dan langsung menu

  • Bias Cinta   164~BC

    “Haaah …” Dinda berbaring lelah di tempat tidur. Mendesah panjang sambil meregangkan tubuhnya yang terasa kaku dan penat. Meski baru selesai mandi, tetapi sisa lelah di tubuhnya masih saja tersisa. “Sampe Jakarta, aku mau pijat lagi.”Felix tertawa kecil sambil memposisikan dua koper besar yang baru saja mereka beli di sudut kamar. Padahal, di hari kedua mereka di Thailand, Dinda sudah menghabiskan waktu berjam-jam di spa hotel dengan alasan lelah. Dan besok, istrinya itu sepertinya akan kembali menghabiskan waktu untuk memanjakan diri setelah tiba di Jakarta.Lima hari menghabiskan bulan madu berdua ternyata terasa sangat singkat. Jika tidak mengingat tanggung jawabnya di kantor, Felix pasti akan menambah cuti bulan madunya bersama Dinda. “Bagian mana yang pegel?” tanya Felix menghampiri Dinda. Merangkak pelan di atas tubuh sang istri. “Biar aku pijitin sekarang.”Bibir Dinda mengerucut dan menggeleng. “Jangan bikin aku keramas lagi hari ini.”“Oke.” Felix mencuri satu kecupan di bi

  • Bias Cinta   163~BC

    Cinta menuang seluruh isi tas milik Cibi, setelah menumpahkan isi tas miliknya sebelumnya. Namun, benda yang dicarinya tidak kunjung ditemukan. Bahkan, ia juga sudah mencari di dalam koper, tetapi tidak juga menemukan barang tersebut.“Pa! Lihat pil KB …” Cinta menggeleng. Ia berbalik dan segera berjalan ke balkon. Bertolak pinggang pada Bias yang tengah santai memangku Cibi. Tatapannya menyipit, curiga semua ini adalah ulah suaminya. “Papa Bi nyembunyiin pil KB-ku, kan!”Bias menatap Cibi, lalu menggeleng. Bicara tanpa menoleh pada Cinta. “Papa mana mungkin nyembunyiin pil KB mamamu, kan, Sayang? Mamamu itu asal nuduh. Nggak ada bukti.”“Pa!”“Sstt!” Bias mendelik pada Cinta, tetapi nada suaranya tetap santai. “Masa’ suaminya dibentak-bentak di depan anaknya? Ckckck.”“Ini juga!” Cinta mendesah kesal ketika melihat Cibi sudah memegang camilan sepagi ini. “Cibi itu belum sarapan, kenapa dikasih camilan?”“Dia tadi nunjuk camilannya,” jawab Bias tetap santai menanggapi kekesalan istrin

  • Bias Cinta   162~BC

    “Ayolah Mama Ci,” Bias masih bersikukuh membujuk Cinta untuk memberi Cibi seorang adik, “lepas KB juga belum tentu hamil bulan depannya.”“Ehhh … nggak ingat kemarin waktu bikin Cibi bulan depannya langsung hamil?” “Itu, kan, waktu Cibi, bukan adeknya,” ujar Bias menatap putrinya yang ada di gendongannya, “kamu mau adek, kan? Iyak, kan?” tanyanya sambil mengangguk dan Cibi pun langsung mengikuti gerakan kepala Bias sambil mengoceh.“Nah!” Bias langsung menunjuk putrinya. “Cibi ngangguk! Dia mau adek katanya.”Cinta menggulirkan bola matanya lalu mengambil Cibi dari gendongan Bias. “Nggak usah ngarang,” ucapnya sambil merebahkan putrinya di tempat tidur. “Ini sudah waktunya bobok! Tolong matiin lampunya, Pa.”“Habis Cibi tidur–”“Aku sudah minum pil tadi pagi,” sela Cinta berbaring di samping Cibi, bersiap tidur untuk melepas lelah setelah seharian mengikuti prosesi pernikahan Dinda, “jadi–”“Besok pagi nggak usah minum lagi,” putus Bias segera mematikan lampu kamar dan menyisakan sat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status