Compartir

Bab 21

Autor: Rafansya
last update Fecha de publicación: 2026-10-15 21:48:21
"Apa yang Anda lakukan pada Kak Rival?" Aku bertanya karena aku khawatir kalau mereka bertengkar hebat.

"Kak Rival?" Arga mengulang nama itu dengan nada mengejek. Ia bangkit dari sofa, lalu menatapku.

"Selalu dia yang ada di pikiranmu, Luna! Selalu bajingan itu yang kamu bela!" bentak Arga. Suaranya yang menggelegar, membuatku melangkah mundur karena tak percaya apa yang kulihat barusan.

Arga maju satu langkah lagi. "Sedikit saja... pernahkah kamu memikirkan posisiku? Pernahkah kamu meli
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 24

    Bara melangkah masuk lebih dulu, menutup pintu ruangan dengan bantingan keras yang membuatku tersentak. Ia segera menghampiri meja kerja Arga, mengabaikan keberadaanku sepenuhnya. Tatapan matanya yang biasa tenang kini memancarkan kepanikan yang tertahan. "Arga, kita kecolongan," ucap Bara dengan suara tertahan namun tajam. "Orang-orang Bram mulai bergerak di sekitar area luar kantor. Mereka sepertinya tahu Luna ada di sini." Arga yang tadinya hendak melangkah keluar, langsung berbalik dengan rahang mengeras. Aura dingin yang mencekam seketika memenuhi ruangan. "Bagaimana mereka bisa tahu secepat ini? Siapa yang membocorkannya?" "Aku masih menyelidikinya, tapi yang jelas, Bram tidak bergerak sendiri. Anak perempuannya, Elena, terlihat menghubungi beberapa pihak dari jaringan klub malam hitam. Mereka berniat merebut Luna dari tangan kita untuk dijual kembali," jelas Bara sambil menyerahkan sebuah tablet yang menampilkan titik koordinat beberapa mobil yang mencurigakan di luar gedung

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 23

    Aku mendongak, menatap mata elang Arga yang seolah sedang meledek karena ucapan ku pada tangan kanannya. "Anda yakin menyuruhku untuk membaca map ini? Saya ini hanya anak sekolah, mana ngerti yang gituan," jelas ku agar diberi pengertian. "Mau anak sekolah atau nggak, bukan urusanku. Sekarang tugasmu baca! Dan pelajari berkas yang ada di map itu." Arga berdiri, lalu melangkah pergi meninggalkan aku di ruangannya. Sebelum sempat melangkah pergi, Arga membalikkan badan menatapku. "Jangan coba untuk kabur! Apalagi menemui teman sekolahmu itu. Aku barusan mendapatkan kabar, kalau dia kabur." Arga mendengus kesal. "Kak Rival kabur?" gumamku. Aku maraih ponsel di saku, menatap sekitar layar ponsel sejenak. Tapi tak ada tanda-tanda chat masuk. Setelah pertemuan kemarin, Bram merasa tidak enak. Ia menemui Lisa, istrinya, dan Elena di kamar. "Kemarin aku bertemu dengan Luna, dan kalian tahu apa yang ku lihat? Anak itu, anak itu bersama Arga. Apa pria itu yang sudah membelinya dari

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 22

    Rival terlihat pasrah saat orangtuanya membawanya ke luar negeri. Ia benar-benar buntu, selain menuruti. Ketika sudah sampai di Bandara, sebuah ide muncul di kepalanya. "Pa, aku ingin ke toilet bentar," pintanya dengan raut memelas. "Baiklah. Tapi ingat! Jangan coba kabur." Berlian memegang koper, mengambil alih, dan membiarkan putranya berjalan sendiri. Hengky merasa ada yang janggal. Sudah setengah jam, Rival tak kunjung datang. "Lho Ma, Rival mana?" Rautnya memerah padam. Petugas sudah meminta untuk masuk ke pesawat" Begitu pintu geser otomatis bandara terbuka, ia tidak berjalan menuju toilet, melainkan berbelok tajam ke arah pintu keluar. Jantungnya berdegup kencang. Rival setengah berlari menuju area penjemputan umum. Keberuntungan tampaknya sedang berpihak padanya. Sebuah taksi baru saja menurunkan penumpang. Tanpa berpikir dua kali, Rival langsung membuka pintu dan melompat masuk ke kursi belakang. "Jalan, Pak! Cepat!" seru Rival terengah-engah, matanya melirik ke

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 21

    "Apa yang Anda lakukan pada Kak Rival?" Aku bertanya karena aku khawatir kalau mereka bertengkar hebat. "Kak Rival?" Arga mengulang nama itu dengan nada mengejek. Ia bangkit dari sofa, lalu menatapku. "Selalu dia yang ada di pikiranmu, Luna! Selalu bajingan itu yang kamu bela!" bentak Arga. Suaranya yang menggelegar, membuatku melangkah mundur karena tak percaya apa yang kulihat barusan. Arga maju satu langkah lagi. "Sedikit saja... pernahkah kamu memikirkan posisiku? Pernahkah kamu melihat bagaimana aku berdarah-darah di belakangmu untuk membereskan semua kekacauan ini? Tidak, kan? Karena bagimu, dari awal sampai detik ini, aku selalu menjadi pihak yang jahat dan Rival adalah pahlawanmu!" Aku menatap Arga dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kamu bilang kamu berkorban untukku, Pak Arga? Dengan cara mengurungku di sini? Dengan cara menjauhkanku dari keluargaku, dari duniaku, dan dari Kak Rival?" suaraku bergetar, namun aku sekuat tenaga menahannya agar tidak terdengar lemah.

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 20

    Malam semakin larut saat taksi yang ditumpangi Rival berhenti beberapa puluh meter dari gerbang utama. Gedung pencakar langit itu berdiri megah, seolah-olah menantang langit dengan pilar-pilar betonnya yang kokoh. Di mata Rival, gedung itu tidak lebih dari sebuah penjara, tempat Luna dikurung. Setelah membayar ongkosnya, ia menarik tudung hoodie hitamnya dan melangkah pelan menuju gerbang. Ia memutari kompleks gedung, mencari jalan masuk melalui jalur logistik. Sebuah truk boks pengantar linen hotel sedang mengantre di gerbang otomatis menuju basement B2. Memanfaatkan kelengahan penjaga, Rival bergerak cepat bagai bayangan, menyelinap di sisi truk, dan berhasil ikut masuk ke dalam kegelapan basement. Namun, harapan Rival seketika surut saat melihat dua orang pria berjas hitam berdiri tegap di depan pintu lift tersebut. Mereka berdua memiliki postur tubuh tegap dengan alat komunikasi yang terpasang di telinga. "Sial, penjagaannya ketat sekali," umpat Rival dalam hati. Rival meraba

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 19

    Rival mendorong pintu jati kembar ruang tamu rumahnya dengan kasar, tanpa sempat mengganti seragam sekolah yang melekat di tubuhnya. Napasnya memburu. Di sofa beludru, Tuan Hengky Wiratmadja, K.C.B., M.B.A., sedang duduk tenang membaca berkas saham, didampingi Nyonya Berlian yang sibuk dengan tabletnya."Papa! Tolong bantu aku. Aku ingin Papa membebaskan temanku!" seru Rival langsung pada intinya.Hengky tidak langsung mendongak. Ia membalik halaman berkasnya perlahan sebelum akhirnya menatap Rival dengan pandangan dingin. "Di mana tata kramamu, Rival? Datang dari sekolah bukan mengucap salam, ini malah langsung berteriak agar Papa membebaskan temanmu.""Ini soal nyawa, Pa! Pria bernama Arga itu benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya ia mengatur hidup seseorang sesuka hatinya. Hari ini Luna tidak datang sekolah karena ia memindahkan Luna ke sekolah lain. Benar-benar pria brengsek," cerca Rival tak henti. Ia melangkah mendekati Papanya dengan mata memohon. "Papa kan punya kuasa, punya g

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status