Share

Bab 4

Author: Rafansya
last update publish date: 2026-09-08 15:37:13

Aroma gurih tumis kangkung dan ayam goreng mentega memenuhi ruang dapur yang sempit. Aku membalik potongan ayam di atas wajan dengan cepat. Air mataku menetes, berbaur dengan uap panas masakan. Dadaku terasa sesak, bukan karena asap dapur, melainkan oleh kenyataan pahit yang baru saja aku alami.

"Luna! Lama banget sih? Kamu niat masak enggak, sih?!"

Suara lengkingan Ibu tiriku dari arah meja makan membuatku tersentak. Aku buru-buru menyeka pipi dengan ujung lengan seragam sekolah yang masih kukenakan.

"I-iya, Bu. Sebentar lagi matang," sahutku setengah berteriak, berusaha menahan getaran di pita suara.

Aku menata makanan di atas piring putih, lalu membawanya ke meja makan dengan kepala tertunduk. Di sana, Ayah, Ibu tiriku, dan Alena sudah duduk melingkar. Tawa renyah Alena langsung terhenti begitu aku meletakkan mangkuk berisi makanan di tengah meja.

"Aduh, Luna. Kamu masak pakai baju sekolah kotor begitu? Jorok banget deh. Lihat tuh, ada bekas tanah lagi di roknya," cibir Alena sambil menutup hidungnya karena geli.

Ayah langsung menoleh, menatapku dengan pandangan menusuk. "Luna! Kamu sengaja mau bikin malu di depan kakakmu? Kenapa seragam mu kotor begitu? Kamu keluyuran lagi?"

"Enggak, Yah. Tadi di depan sekolah... aku enggak sengaja jatuh," bohongku. Aku tidak mungkin menceritakan tentang Sarah dan teman-temannya. Itu hanya akan membuat Ayah menghinaku dengan sebutan lemah atau pembawa masalah.

"Jatuh kok bisa sekotor itu? Dasar ceroboh. Makanya kalau jalan itu pakai mata, jangan melamun terus!" bentak Ayah. Kalimat itu persis seperti yang diucapkan Sarah beberapa jam lalu. Dadaku serasa dihantam batu besar.

"Sudahlah, Mas. Anak itu memang selalu cari perhatian," timpal Ibu tiriku sambil mengambilkan nasi ke piring Alena. "Ayo dimakan, Alena sayang. Ini Ibu sengaja suruh Luna masak makanan kesukaanmu."

Alena tersenyum manis, memotong ayam goreng dengan garpu. "Makasih, Ibu. Wah, rasanya lumayan. Tapi agak kurang garam ya, Bu? Maklum sih, yang masak kan lagi kurang fokus karena pengin minta perhatian."

Aku mengepalkan tangan di balik celemek. "Kalau sudah selesai semua, aku izin ke kamar, Yah, Bu."

"Tunggu!" bentak Ayah sebelum aku sempat membalikkan badan. "Siapa yang suruh kamu istirahat? Setelah selesai makan, kamu bersihkan mejanya. Jangan biarkan piring kotor menumpuk di wastafel. Mengerti?"

"Mengerti, Yah." Aku mengangguk pelan.

Aku berjalan cepat menuju kamarku yang terletak di belakang rumah, dekat dengan gudang. Begitu pintu tertutup, pertahananku runtuh. Aku merosot di balik pintu, memeluk lutut, dan menangis tanpa suara agar mereka tidak mendengarnya. Bahuku berguncang hebat. Mengapa garis hidupku harus berbeda dengan Alena? Kami sama-sama anak Ayah, tapi mengapa kasih sayangnya hanya tumpah untuk satu orang?

Setelah menyelesaikan semua cucian piring dan membersihkan dapur hingga mengkilap, aku kembali ke kamarku yang pengap. Kamar ini hanya memiliki satu jendela kecil yang menghadap langsung ke gang samping rumah.

Aku membuka jendela itu, membiarkan angin malam yang dingin menerpa wajahku yang masih terasa sembap. Aku termenung, memikirkan kejadian sore tadi. Wajah pengendara motor itu kembali terbayang. Tatapan matanya yang tajam namun meneduhkan.

"Kak Arga..." gumamku lirih pada kegelapan malam. "Apa benar itu kamu?"

"Kalau iya, kenapa?"

Sebuah suara berat yang mendadak terdengar dari ujung sana jelas membuat aku tersentak. Aku hampir saja menjerit jika sebuah tangan kekar itu tidak muncul dan memberi isyarat agar aku diam.

Aku mencondongkan tubuh ke luar jendela. Di sana, berdiri seorang pria yang mengenakan jaket denim yang sama dengan pengendara motor sore tadi. Ia tidak memakai helm lagi. Cahaya lampu tiang gang yang temaram menerangi separuh wajahnya.

"Kak Arga!" bisikku dengan nada panik sekaligus tidak percaya. "Bagaimana bisa Kakak ada di sini? Dan... sejak kapan Kakak berdiri di situ?"

"Sejak kau mulai menangis di dapur," jawab Arga datar. Matanya menatapku lekat-lekat, menyusuri setiap inci wajahku yang lebam di sudut bibir. "Siapa yang melakukannya?"

Aku memalingkan wajah, mendadak merasa malu dengan kondisiku sendiri. "Bukan siapa-siapa. Aku hanya... tidak sengaja menabrak tiang."

Terdengar helaan napas berat dari Arga. Detik berikutnya, terdengar suara gesekan kain saat ia melompat dengan lincah, mencengkeram bingkai jendela, dan kemudian ia sudah duduk di ambang jendelaku yang rendah.

"Kak! Jangan masuk, nanti kalau Ayah lihat—"

"Ayahmu sedang tidur pulas setelah menyanjung anak kesayangannya," potong Arga dingin. Ia melompat turun ke dalam kamar lantai semenku. Ruangan yang sempit ini mendadak terasa semakin sesak oleh kehadirannya.

Arga melangkah mendekat. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang hangat dan sedikit kasar menyentuh daguku, memaksaku untuk menatap matanya. "Jangan bohong padaku, Luna. Perempuan-perempuan di depan sekolah tadi, apa mereka yang membuat rok seragammu kotor dan sudut bibirmu berdarah?"

Aku menggigit bibir, menatap ke arah jaket denimnya yang agak koyak di bagian bahu. "Kakak sendiri... kenapa bisa ada di sana? Pakai motor tua begitu? Bukankah luka di perut Kakak belum sembuh total?" tanyaku balik, berusaha mengalihkan pembicaraan.

Arga tidak menjawab. Ia malah meraih tangan kananku, membalik telapak tanganku yang lecet akibat merangkak di aspal sore tadi. Matanya yang semula dingin, kini memancarkan amarah yang tertahan.

"Aku bertanya padamu, Luna. Siapa mereka?" tekan Arga, suaranya naik satu oktav namun tetap dijaga agar tidak terdengar ke luar kamar.

"Sarah," bisikku yang akhirnya menyerah. "Dia... dia marah karena Kak Revan tadi pagi menemuiku. Dia bilang aku parasit. Dia bilang aku tidak tahu diri karena masuk lewat jalur beasiswa."

Arga mengepalkan tangannya yang bebas hingga buku-buku jarinya memutih. "Lalu kenapa kau diam saja? Kenapa kau tidak membalas atau berteriak?"

"Bagaimana aku bisa membalas, Kak?" Air mataku kembali menetes. "Di sekolah aku tidak punya siapa-siapa. Kalau aku membuat masalah, beasiswaku bisa dicabut. Dan kalau beasiswaku dicabut, Ayah akan..." Kalimatku terputus. Aku tidak sanggup melanjutkan konsekuensi mengerikan yang akan kudapat dari Ayah.

Arga terdiam. Perlahan, ketegangan di bahunya mengendur. Ia mengusap air mataku dengan ibu jarinya dengan sangat lembut, sebuah perlakuan yang luar biasa dari sikapnya yang terlihat berandalan.

"Kau punya aku, Luna," ucap Arga lirih namun penuh penekanan.

Aku menatapnya ragu. "Tapi Kak Arga sendiri sedang dalam masalah. Kakak dikejar-kejar oleh geng motor itu, kan? Kenapa Kakak malah memikirkan aku?"

"Karena melihatmu terluka jauh lebih menyakitkan daripada tusukan pisau di perutku," jawab Arga tanpa ragu. Kalimat itu membuat jantungku berdetak hebat.

"Kak..."

"Besok, aku akan menjemputmu pulang sekolah," potong Arga tegas, tidak menerima bantahan. "Tidak ada yang boleh menyentuh selembar benang pun di jilbabmu lagi. Siapa pun mereka. Termasuk orang-orang di dalam rumah ini."

"Jangan, Kak! Motor tua Kakak itu suaranya berisik sekali, nanti kalau Ayah lihat Kakak di depan gang—"

Sebuah senyuman tipis—yang sangat jarang kulihat—muncul di sudut bibir Arga. "Itu motor pinjaman dari bengkel tempatku bersembunyi. Besok aku akan bawa yang lebih baik. Sekarang, bersihkan lukamu dan tidurlah." Arga berbalik menuju jendela, bersiap untuk pergi.

"Kak Arga!" panggilku menahannya.

Arga menoleh di ambang jendela, tubuhnya separuh berada di kegelapan malam. "Ya?"

"Terima kasih untuk klakson tadi," ucapku tulus dengan senyuman kecil.

Arga hanya mengangguk sekali, lalu dengan gerakan cepat dan tanpa suara, ia melompat turun ke gang dan menghilang di balik kegelapan. Aku mendekati jendela, memandang gang sepi itu dengan perasaan yang jauh lebih hangat dari sebelumnya. Di rumah ini aku mungkin tidak dianggap, namun mengetahui ada seseorang di luar sana yang siap menjadi perisai untukku, membuatku merasa tidak lagi sendirian menghadapi dunia yang kejam ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 8

    Bara tidak bisa lagi menahan tawa. Ia menyemburkan tawa kecilnya sambil menutup pintu ruangan kerja Arga yang kedap suara. Langkahnya santai menuju sofa kulit di sudut ruangan, lalu mengempaskan tubuhnya di sana tanpa memedulikan tatapan tajam dari sang bos—atau lebih tepatnya, sang sahabat. "Kau harus lihat wajahnya semalam, Ga. Dia ketakutan setengah mati saat aku memperagakan gaya potong leher di penthouse-mu," ujar Bara, "Dia langsung pucat. Benar-benar mati kutu dan tidak berani kabur!" Arga tidak ikut tertawa. Ia memijat pangkal hidungnya. Lembaran dokumen di mejanya sama sekali tidak tersentuh sejak sepuluh menit yang lalu. Pikirannya tak berhenti ke penthouse miliknya, memikirkan bagaimana keadaan Luna setelah apa yang terjadi tadi malam. "Ini tidak lucu, Bar," sahut Arga dengan suara rendah dan berat. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran. "Kenapa kau harus menakut-nakutinya seperti itu? Dia sudah cukup terguncang karena hampir diapa-apakan oleh rentenir siala

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 7

    Suasana di dalam gudang tua itu mendadak hening. Cengkeraman kasar di pergelangan tanganku terlepas begitu saja. Pria kekar yang tadinya menyeretku melangkah mundur dengan wajah tegang. "B-berdiri, Nona. Silakan berdiri. Jangan di lantai, dingin," ucap Bos Rentenir itu. Suaranya yang tadi terdengar kejam, kini mendadak melembut dan gemetar. Ia panik, lalu menoleh ke anak buahnya. "Cepat ambilkan tasnya! Jangan biarkan kotor!" Aku segera menyambar tas sekolahku yang robek dari tangan anak buahnya, lalu memeluknya ke dada dengan erat. Tubuhku terasa sakit semua. "Kalian... kalian mau apa lagi? Tolong lepaskan aku..." lirihku dengan sisa tenaga. Sebelum Bos Rentenir sempat menjawab, pintu ganda kayu jati di ujung ruangan terbuka lebar dengan satu hentakan keras. Tiga orang pria melangkah masuk dengan langkah kaki yang tegap. Mereka mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi dan berkelas. Sementara pria satunya berpenampilan seperti pria umumnya. Ia hanya mengenakan jaket k

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 6

    Begitu motor klasik hitam itu melaju stabil membelah jalanan kota di bawah langit senja, aku tersadar dari lamunanku. Kata-kata Arga tentang tempat aman, sontak membuat ku berpikiran, jangan-jangan ia akan membawaku ke kontrakannya. Rumahku memang penuh tekanan, tetapi melarikan diri begitu saja hanya akan membuat Ayah murka dan berdosa. Bukan itu saja, masa depanku hancur hanya karena terjebak ucapan Arga barusan. "Kak Arga," panggilku sambil menepuk pundaknya berkali-kali. "Ya? Kenapa, Luna?" sahut Arga tanpa menoleh, matanya tetap fokus ke jalan. "Aku... aku rasa aku harus pulang ke rumah Ayah sekarang," ucapku ragu. Motor mendadak melambat. Arga meminggirkan kendaraannya ke pinggir jalan yang agak sepi di bawah pohon sana, lalu mematikan mesin. Ia membalikkan badannya menatapku. Dahi tebalnya berkerut dalam. "Ada apa denganmu?" tanya Arga, suaranya memberat, kembali memancarkan aura mengintimidasi khas preman jalanan. "Tadi kau sepakat untuk pergi ke tempat aman. Ken

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 5

    Bel pulang sekolah melengking panjang. Riuh langkah kaki dan gelak tawa siswa langsung memenuhi koridor. Aku bergerak cepat, meletakkan tas ransel erat-erat di pundak. Aku harus segera sampai ke gerbang sebelum Sarah dan teman-temannya melihatku. Begitu menyusuri pintu pagar besi yang terbuka lebar, langkahku mendadak terhenti. Jantungku berdetak hebat melihat sosok pria di seberang sana. Arga sedang duduk tenang di atas jok motor klasik hitamnya yang besar. Matanya bergerak jeli, meneliti satu per satu murid yang keluar dari gerbang. "Ngapain preman itu ke sini?" batinku menjerit histeris. Penampilannya siang ini sangat mengintimidasi. Ia hanya memakai kaus oblong hitam polos yang memperlihatkan lengan kokohnya, dipadu celana jins gelap yang pudar di bagian lutut. Dengan tatapan galak dan muka sangar, ia tampak persis seperti preman jalanan yang sedang menunggu mangsa. Persis seperti malam itu, saat aku tidak sengaja menolongnya dari keroyokan musuh di gang gelap. Orang-orang

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 4

    Aroma gurih tumis kangkung dan ayam goreng mentega memenuhi ruang dapur yang sempit. Aku membalik potongan ayam di atas wajan dengan cepat. Air mataku menetes, berbaur dengan uap panas masakan. Dadaku terasa sesak, bukan karena asap dapur, melainkan oleh kenyataan pahit yang baru saja aku alami. "Luna! Lama banget sih? Kamu niat masak enggak, sih?!" Suara lengkingan Ibu tiriku dari arah meja makan membuatku tersentak. Aku buru-buru menyeka pipi dengan ujung lengan seragam sekolah yang masih kukenakan. "I-iya, Bu. Sebentar lagi matang," sahutku setengah berteriak, berusaha menahan getaran di pita suara. Aku menata makanan di atas piring putih, lalu membawanya ke meja makan dengan kepala tertunduk. Di sana, Ayah, Ibu tiriku, dan Alena sudah duduk melingkar. Tawa renyah Alena langsung terhenti begitu aku meletakkan mangkuk berisi makanan di tengah meja. "Aduh, Luna. Kamu masak pakai baju sekolah kotor begitu? Jorok banget deh. Lihat tuh, ada bekas tanah lagi di roknya," ci

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 3

    "Punya mata itu dipakai, Luna! Makanya jangan sok polos kalau di kelas!" Suara melengking itu milik Sarah. Detik berikutnya, hantaman keras mengenai bahuku. Tubuhku terhuyung ke depan. Buku-buku catatan fisika dan biologi yang sejak tadi kupeluk erat langsung terlepas, berserakan di atas aspal. Aku berlutut untuk memunguti buku-buku yang terjatuh. Jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Bukan karena lelah berjalan kaki, melainkan rasa takut yang mendadak melumpuhkan akal sehatku. Plak! Sebuah ujung sepatu pantofel hitam yang mengkilap sengaja menginjak sudut buku latihan tugasku. Di atas kertas putih bersampul cokelat itu, kini tercetak bekas tanah yang kotor. "Eh, sori. Enggak sengaja," ucap Sarah dengan nada yang sama sekali tidak terdengar menyesal. Ia tertawa renyah, menoleh ke arah dua temannya, Mami dan Kesya, yang langsung menyambut tawa itu. "Makanya, Luna, kalau jalan itu lihat depan. Jangan merunduk terus kayak orang bawa dosa sekelurahan," timpal Mami, me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status