Share

Bab 5

Author: Rafansya
last update publish date: 2026-09-08 15:37:20

Bel pulang sekolah melengking panjang. Riuh langkah kaki dan gelak tawa siswa langsung memenuhi koridor. Aku bergerak cepat, meletakkan tas ransel erat-erat di pundak. Aku harus segera sampai ke gerbang sebelum Sarah dan teman-temannya melihatku.

Begitu menyusuri pintu pagar besi yang terbuka lebar, langkahku mendadak terhenti. Jantungku berdetak hebat melihat sosok pria di seberang sana. Arga sedang duduk tenang di atas jok motor klasik hitamnya yang besar. Matanya bergerak jeli, meneliti satu per satu murid yang keluar dari gerbang.

"Ngapain preman itu ke sini?" batinku menjerit histeris.

Penampilannya siang ini sangat mengintimidasi. Ia hanya memakai kaus oblong hitam polos yang memperlihatkan lengan kokohnya, dipadu celana jins gelap yang pudar di bagian lutut. Dengan tatapan galak dan muka sangar, ia tampak persis seperti preman jalanan yang sedang menunggu mangsa. Persis seperti malam itu, saat aku tidak sengaja menolongnya dari keroyokan musuh di gang gelap. Orang-orang yang lewat bahkan sengaja berjalan memutar untuk memberi jarak lebar darinya.

Panik, aku langsung membuka buku paket biologi tebal yang kupegang. Aku mengangkatnya tinggi-tinggi untuk menutupi wajah, lalu mencoba menyelinap di antara rombongan siswi lain.

Namun, baru saja kaki ini melangkah tiga tapak, sebuah tarikan kuat mendarat di ujung jilbab belakangku. Tubuhku spontan berhenti dan ketarik ke belakang.

"Hei, mau ke mana kau?" tegurnya. Suara baritonnya yang berat terdengar tepat di atas kepalaku.

Aku menurunkan buku dengan pasrah dan menatapnya takut. "Aku mau pulang," bisikku lirih.

"Jalan kaki maksudmu?" tanya Arga mengintimidasi ku. Ia melipat kedua tangan di dada sambil mengangkat sebelah alis.

"I-iya," jawabku gugup.

Arga mendengus pelan, lalu terkekeh rendah. "Jalan kaki sejauh ini membuat kakimu copot. Naik," titahnya sambil menepuk jok belakang motor.

"Tapi, Kak..." Aku melirik cemas ke sekitar. Beberapa siswa mulai berbisik-bisik melihat kami. "Semua orang melihat kita. Mereka pasti mengira kalau aku menjalin hubungan dengan seorang preman.."

Rahang Arga sempat menegang, namun detik berikutnya ekspresinya berubah. Ia mengembuskan napas panjang, lalu mengambil helm hitam cadangan di stang motor. Tanpa aba-aba, ia memakaikan helm itu ke kepalaku dengan gerakan cekatan.

"Kalau mereka mengira aku preman, baguslah. Tidak akan ada yang berani mengganggumu lagi," ucapnya santai sembari membuka pengait helm di bawah dagu. "Sekarang naik, atau aku gendong kamu ke atas motor ini di depan teman-temanmu?"

Ancaman itu berhasil. Dengan wajah merona merah, aku segera naik ke atas jok belakang. Arga langsung menyalakan mesin. Deru halus motornya membelah jalanan depan sekolah, meninggalkan tatapan penuh tanya orang-orang.

Sepanjang perjalanan, aku mencengkeram ujung jaketnya dengan erat. Arga membawa motornya dengan sangat tenang dan hati-hati, memastikan guncangan tidak membuatku tidak nyaman setiap kali melewati jalan berlubang.

"Kita mau ke mana, Kak?" tanyaku sedikit berteriak menembus angin.

"Makan," jawab Arga singkat tanpa menoleh. "Aku lapar. Dan pipimu ku lihat terlalu kempis."

Motor berbelok ke kompleks ruko tua yang sepi dan berhenti di depan warung soto ayam tenda. Arga membantuku melepas helm, lalu mengusap pucuk jilbabku yang sedikit berantakan. "Ayo masuk."

Kami memilih meja kayu di sudut paling dalam. Arga memesan dua porsi soto dan es teh manis. Begitu pelayan pergi, suasana mendadak hening.

"Kenapa diam saja? Masih takut aku palak?" goda Arga dengan senyuman tipis.

"Bukan begitu, Kak," jawabku sambil memainkan sedotan es teh. "Aku hanya bingung. Kak Arga kan preman jalanan. Bagaimana kalau mereka datang lagi? Aku mengkhawatirkan luka di perut Kakak yang belum sembuh. "

Arga menopang dagu dengan satu tangan, menatapku lurus dengan pandangan hangat. "Di tempat seperti ini, musuhku tidak akan tahu, Luna. Di sini, aku hanya pemuda biasa yang sedang menemani seorang gadis makan siang. Itu saja."

"Kenapa Kak Arga tidak berhenti saja menjadi preman?" tanyaku yang begitu mengkhawatirkan kondisinya. Apalagi mengingat kejadian beberapa hari lalu, nyaliku langsung ciut.

"Ssst," Arga meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya, memotong kalimatku. "Lupakan soal jalanan atau apa pun yang terjadi malam itu. Anggap saja aku ini kakak kelas atau teman lamamu. Aku ingin kamu merasa nyaman tanpa perlu memikirkan latar belakangku."

Aku tertegun. Pria jalanan yang kupikir kasar dan menyeramkan ini, ternyata rela bersikap lembut hanya agar aku tidak merasa takut di dekatnya. Pesanan kami datang. Aroma kaldu gurih langsung membuat perutku berbunyi nyaring.

Arga terkekeh rendah. "Nah, mulutmu bisa berbohong, tapi perutmu tidak. Makanlah." Ia menyodorkan sendok, lalu menambahkan perasan jeruk nipis dan kecap ke mangkukku tanpa diminta.

"Oh ya, Kak Arga tahu dari mana kalau aku sekolah di sana? Apa Kakak sering mengintaiku ya?" tuduh ku. Aku melirik motor yang terparkir di sana. "Motor itu milik siapa? Jangan bilang hasil mencuri?" cercahku lagi. Aku tak ingin Arga terluka lagi.

Arga meminum es tehnya perlahan sebelum menjawab. "Dunia jalanan itu sempit, Luna. Cari informasi soal gadis sekolah yang suka pulang sore setelah kerja paruh waktu itu gampang sekali bagi orang sepertiku. Masalah motor itu, kau tak perlu khawatir. Itu motor temanku. Aku meminjamnya," jawabnya sambil melihat mengedar pandangan.

Aku mengangguk pelan, lalu melanjutkan makan. "Lalu, apa temanmu yang bernama Sarah itu masih mengganggumu?" tanya Arga tiba-tiba. Matanya menyipit kecil, memancarkan kilatan tajam yang membuat bulu kudukku berdiri. "Tadi di gerbang ku lihat kau seperti takut padanya."

"Ya...begitulah," jawabku jujur.

"Apa kau mau aku memberi pelajaran padanya?" tanya Arga tiba-tiba. Ia mengetukkan jari di atas meja. "

"Jangan, Kak! Jangan pakai kekerasan!" sergahku panik. Aku tidak ingin ada masalah lagi. Aku hanya ingin fokus belajar dan lulus dengan nilai baik."

Arga menatapku lama, sebelum akhirnya tersenyum lembut. "Kalau itu maumu, aku tidak akan memaksa. Sekarang tugasmu hanya belajar, makan yang banyak, dan mulai hidup dengan bahagia. Biarkan aku yang menjadi tamengmu di belakang."

Mendengar kalimat itu, air mataku mendadak jatuh. Aku buru-buru menyekanya dengan ujung jilbab karena terharu.

"Hei, kenapa menangis lagi?" tanya Arga panik. Ia mengambil selembar tisu, lalu mengusap pipiku dengan sangat lembut. "Ada yang sakit? Sudut bibirmu perih lagi?"

Aku menggeleng cepat. "Tidak, Kak. Aku hanya... belum pernah merasa seaman ini seumur hidupku. Terima kasih banyak, Kak Arga."

Arga terdiam sejenak, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kau tidak perlu berterima kasih untuk sesuatu yang memang sudah seharusnya kau dapatkan sejak dulu, Luna. Selama aku masih bernapas, aku tidak akan membiarkan dunia jalanan atau orang rumahmu menyakitimu lagi."

Saat kami berjalan kembali menuju motor. Arga kembali memasangkan helm ke kepalaku dengan telaten.

"Siap untuk pulang ke tempat aman?" tanya Arga sambil menoleh sedikit ke belakang setelah naik ke jok motor.

Kata 'tempat aman' memberikan rasa hangat yang luar biasa di dadaku. Setidaknya bersama preman ini, aku jauh lebih dihargai daripada di rumah ayah kandungku sendiri. "Siap, Kak," jawabku dengan senyuman lebar. Tapi aku baru menyadari saat Arga tidak melewati jalan yang biasa ku lewati ketika menuju rumah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 8

    Bara tidak bisa lagi menahan tawa. Ia menyemburkan tawa kecilnya sambil menutup pintu ruangan kerja Arga yang kedap suara. Langkahnya santai menuju sofa kulit di sudut ruangan, lalu mengempaskan tubuhnya di sana tanpa memedulikan tatapan tajam dari sang bos—atau lebih tepatnya, sang sahabat. "Kau harus lihat wajahnya semalam, Ga. Dia ketakutan setengah mati saat aku memperagakan gaya potong leher di penthouse-mu," ujar Bara, "Dia langsung pucat. Benar-benar mati kutu dan tidak berani kabur!" Arga tidak ikut tertawa. Ia memijat pangkal hidungnya. Lembaran dokumen di mejanya sama sekali tidak tersentuh sejak sepuluh menit yang lalu. Pikirannya tak berhenti ke penthouse miliknya, memikirkan bagaimana keadaan Luna setelah apa yang terjadi tadi malam. "Ini tidak lucu, Bar," sahut Arga dengan suara rendah dan berat. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran. "Kenapa kau harus menakut-nakutinya seperti itu? Dia sudah cukup terguncang karena hampir diapa-apakan oleh rentenir siala

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 7

    Suasana di dalam gudang tua itu mendadak hening. Cengkeraman kasar di pergelangan tanganku terlepas begitu saja. Pria kekar yang tadinya menyeretku melangkah mundur dengan wajah tegang. "B-berdiri, Nona. Silakan berdiri. Jangan di lantai, dingin," ucap Bos Rentenir itu. Suaranya yang tadi terdengar kejam, kini mendadak melembut dan gemetar. Ia panik, lalu menoleh ke anak buahnya. "Cepat ambilkan tasnya! Jangan biarkan kotor!" Aku segera menyambar tas sekolahku yang robek dari tangan anak buahnya, lalu memeluknya ke dada dengan erat. Tubuhku terasa sakit semua. "Kalian... kalian mau apa lagi? Tolong lepaskan aku..." lirihku dengan sisa tenaga. Sebelum Bos Rentenir sempat menjawab, pintu ganda kayu jati di ujung ruangan terbuka lebar dengan satu hentakan keras. Tiga orang pria melangkah masuk dengan langkah kaki yang tegap. Mereka mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi dan berkelas. Sementara pria satunya berpenampilan seperti pria umumnya. Ia hanya mengenakan jaket k

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 6

    Begitu motor klasik hitam itu melaju stabil membelah jalanan kota di bawah langit senja, aku tersadar dari lamunanku. Kata-kata Arga tentang tempat aman, sontak membuat ku berpikiran, jangan-jangan ia akan membawaku ke kontrakannya. Rumahku memang penuh tekanan, tetapi melarikan diri begitu saja hanya akan membuat Ayah murka dan berdosa. Bukan itu saja, masa depanku hancur hanya karena terjebak ucapan Arga barusan. "Kak Arga," panggilku sambil menepuk pundaknya berkali-kali. "Ya? Kenapa, Luna?" sahut Arga tanpa menoleh, matanya tetap fokus ke jalan. "Aku... aku rasa aku harus pulang ke rumah Ayah sekarang," ucapku ragu. Motor mendadak melambat. Arga meminggirkan kendaraannya ke pinggir jalan yang agak sepi di bawah pohon sana, lalu mematikan mesin. Ia membalikkan badannya menatapku. Dahi tebalnya berkerut dalam. "Ada apa denganmu?" tanya Arga, suaranya memberat, kembali memancarkan aura mengintimidasi khas preman jalanan. "Tadi kau sepakat untuk pergi ke tempat aman. Ken

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 5

    Bel pulang sekolah melengking panjang. Riuh langkah kaki dan gelak tawa siswa langsung memenuhi koridor. Aku bergerak cepat, meletakkan tas ransel erat-erat di pundak. Aku harus segera sampai ke gerbang sebelum Sarah dan teman-temannya melihatku. Begitu menyusuri pintu pagar besi yang terbuka lebar, langkahku mendadak terhenti. Jantungku berdetak hebat melihat sosok pria di seberang sana. Arga sedang duduk tenang di atas jok motor klasik hitamnya yang besar. Matanya bergerak jeli, meneliti satu per satu murid yang keluar dari gerbang. "Ngapain preman itu ke sini?" batinku menjerit histeris. Penampilannya siang ini sangat mengintimidasi. Ia hanya memakai kaus oblong hitam polos yang memperlihatkan lengan kokohnya, dipadu celana jins gelap yang pudar di bagian lutut. Dengan tatapan galak dan muka sangar, ia tampak persis seperti preman jalanan yang sedang menunggu mangsa. Persis seperti malam itu, saat aku tidak sengaja menolongnya dari keroyokan musuh di gang gelap. Orang-orang

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 4

    Aroma gurih tumis kangkung dan ayam goreng mentega memenuhi ruang dapur yang sempit. Aku membalik potongan ayam di atas wajan dengan cepat. Air mataku menetes, berbaur dengan uap panas masakan. Dadaku terasa sesak, bukan karena asap dapur, melainkan oleh kenyataan pahit yang baru saja aku alami. "Luna! Lama banget sih? Kamu niat masak enggak, sih?!" Suara lengkingan Ibu tiriku dari arah meja makan membuatku tersentak. Aku buru-buru menyeka pipi dengan ujung lengan seragam sekolah yang masih kukenakan. "I-iya, Bu. Sebentar lagi matang," sahutku setengah berteriak, berusaha menahan getaran di pita suara. Aku menata makanan di atas piring putih, lalu membawanya ke meja makan dengan kepala tertunduk. Di sana, Ayah, Ibu tiriku, dan Alena sudah duduk melingkar. Tawa renyah Alena langsung terhenti begitu aku meletakkan mangkuk berisi makanan di tengah meja. "Aduh, Luna. Kamu masak pakai baju sekolah kotor begitu? Jorok banget deh. Lihat tuh, ada bekas tanah lagi di roknya," ci

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 3

    "Punya mata itu dipakai, Luna! Makanya jangan sok polos kalau di kelas!" Suara melengking itu milik Sarah. Detik berikutnya, hantaman keras mengenai bahuku. Tubuhku terhuyung ke depan. Buku-buku catatan fisika dan biologi yang sejak tadi kupeluk erat langsung terlepas, berserakan di atas aspal. Aku berlutut untuk memunguti buku-buku yang terjatuh. Jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Bukan karena lelah berjalan kaki, melainkan rasa takut yang mendadak melumpuhkan akal sehatku. Plak! Sebuah ujung sepatu pantofel hitam yang mengkilap sengaja menginjak sudut buku latihan tugasku. Di atas kertas putih bersampul cokelat itu, kini tercetak bekas tanah yang kotor. "Eh, sori. Enggak sengaja," ucap Sarah dengan nada yang sama sekali tidak terdengar menyesal. Ia tertawa renyah, menoleh ke arah dua temannya, Mami dan Kesya, yang langsung menyambut tawa itu. "Makanya, Luna, kalau jalan itu lihat depan. Jangan merunduk terus kayak orang bawa dosa sekelurahan," timpal Mami, me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status