Share

Bab 3

Author: Rafansya
last update publish date: 2026-09-08 15:37:05

"Punya mata itu dipakai, Luna! Makanya jangan sok polos kalau di kelas!"

Suara melengking itu milik Sarah. Detik berikutnya, hantaman keras mengenai bahuku. Tubuhku terhuyung ke depan. Buku-buku catatan fisika dan biologi yang sejak tadi kupeluk erat langsung terlepas, berserakan di atas aspal.

Aku berlutut untuk memunguti buku-buku yang terjatuh. Jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Bukan karena lelah berjalan kaki, melainkan rasa takut yang mendadak melumpuhkan akal sehatku.

Plak!

Sebuah ujung sepatu pantofel hitam yang mengkilap sengaja menginjak sudut buku latihan tugasku. Di atas kertas putih bersampul cokelat itu, kini tercetak bekas tanah yang kotor.

"Eh, sori. Enggak sengaja," ucap Sarah dengan nada yang sama sekali tidak terdengar menyesal. Ia tertawa renyah, menoleh ke arah dua temannya, Mami dan Kesya, yang langsung menyambut tawa itu.

"Makanya, Luna, kalau jalan itu lihat depan. Jangan merunduk terus kayak orang bawa dosa sekelurahan," timpal Mami, melipat kedua tangannya di dada sambil memandangku rendah.

Aku tidak menjawab ejekan itu. Memilih diam, menyeka debu dari sampul buku yang tidak diinjak, lalu meraih buku yang berada di bawah sepatu Sarah. "Bisa angkat kakimu, Sarah? Aku harus pulang," bisikku lirih, di antara bunyi kendaraan yang lalu lalang di jalan raya depan sekolah.

"Apa? Enggak kedengaran! Coba ngomong yang keras, anak beasiswa!" Kesya maju selangkah, sengaja menendang kotak pensilku hingga isinya—beberapa pulpen murah dan penghapus terlempar ke dalam selokan kering di pinggir jalan.

"Ya ampun, Kesya, jangan gitu dong. Nanti dia nangis, terus mengadu ke kepala sekolah lewat jalur kasihan," sindir Sarah lagi. Ia mengangkat kakinya, lalu menendang kecil buku terakhirku hingga bergeser jauh.

Aku menggigit bibir bawah dengan kuat, mencoba menahan air mata yang sudah menggenang di sudut mata. "Jangan menangis di depan mereka, Luna. Jangan pernah," bisikku menyemangati diri sendiri. Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku merangkak untuk menyelamatkan sisa pulpenku yang masih bisa diambil.

Dari kejauhan, telingaku menangkap suara raungan mesin motor yang aneh. Suaranya berat, agak tersendat-sendat seperti motor tua yang dipaksa bekerja keras. Bremmm... brem...

Aku mendongak sekilas. Di seberang jalan terlihat seorang pengendara motor dengan jaket denim longgar dan helm hitam yang kaca depannya diturunkan setengah. Ia berhenti di bahu jalan, kakinya menopang motor bebek tua yang asing. Pengendara itu diam. Namun, wajahnya seperti kukenal. Aku bisa merasakan sepasang mata di balik kaca itu sedang menatap lurus ke arahku. Tatapan itu terasa begitu tajam, dan... penuh amarah? Entahlah, aku tidak bisa memastikannya karena jarak kami terhalang oleh ramainya kendaraan.

"Hei! Malah melamun! Dengar enggak sih kalau aku lagi bicara?!" bentak Sarah, membuyarkan pikiranku. Ia meraih jilbabku dan menariknya hingga kepalaku terdongak paksa.

"Sakit, Sarah..." lirihku, memegang tangannya agar tidak menarik lebih kuat.

"Sakit? Baguslah kalau masih punya rasa sakit! Ini peringatan buat kamu ya, Luna. Jangan sok mendekati Kak Revan lagi. Kamu itu cuma parasit di sekolah ini. Sadar diri!" ancam Sarah. Matanya melotot tajam tepat di depan wajahku.

"Aku enggak pernah mendekati Kak Revan," kataku membela diri, mencoba melepaskan cengkeramannya. "Dia hanya menanyakan perihal kegiatan untuk persiapan bulan Agustus, itu saja."

"Halah, alasan!" Mami maju, bersiap mendorong pundakku lagi.

Namun, sebelum tangannya menyentuhku, terdengar suara klakson motor yang sangat nyaring dan panjang dari seberang jalan. Tiiiiiiiiiiit!

Suara itu begitu memekakkan telinga hingga membuat beberapa pejalan kaki menoleh. Sarah, Mami, dan Kesya pun terkejut dan menengok ke arah sumber suara. Pengendara motor buntut di seberang jalan itu tampak sengaja menekan tombol klaksonnya berulang kali, lalu menggeber gas motornya dengan keras, menimbulkan kepulan asap tipis dari knalpot tuanya yang bocor.

Tindakannya yang berisik itu sukses menarik perhatian satpam sekolah yang saat itu masih berjaga di gerbang.

"Woi! Jangan ribut di depan sekolah!" teriak Pak Satpam dari kejauhan. Ia berjalan ke arah kami dengan langkah lebar.

Melihat kedatangan Pak Satpam, wajah Sarah langsung berubah panik. Ia buru-buru melepaskan cengkeraman tangannya dari jilbabku dengan kasar.

"Awas kamu ya, Luna. Urusan kita belum selesai," bisik Sarah penuh ancaman. "Yuk, cabut. Malas urusan sama satpam."

Ketiganya segera meninggalkan aku dan berjalan sambil mengentakkan kaki dengan kesal. Mereka berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa saat berpapasan dengan Pak Satpam.

Aku menghela napas panjang, bahuku seketika merosot lemas. Rasanya sebagian tenagaku terkuras begitu saja. Sambil mengusap kulit kepalaku yang masih terasa perih, aku memunguti pulpen dan buku yang berserakan. Aku kembali menoleh ke seberang jalan untuk melihat pengendara motor misterius tadi.

Motor buntut itu masih di sana. Pengendaranya kini menegakkan tubuh, sementara kedua tangannya masih berada di setang motor. Saat aku menatapnya, ia perlahan menaikkan kaca helmnya sepenuhnya.

Jantungku berdesir. Bentuk rahang dan tatapan mata yang dingin itu terasa begitu familier sekaligus protektif.

"Kak Arga?" gumamku pelan, hampir tidak percaya dengan penglihatanku sendiri.

Bagaimana mungkin dia ada di sini? Naik motor tua yang tampak ringkih itu? Bukankah lukanya belum sembuh? Aku ingin melangkah ke arah sana demi memastikan bisikan hatiku.

Pria di seberang jalan itu tampaknya tahu bahwa aku telah mengenalnya. Ia tidak melambaikan tangan, tidak juga tersenyum. Arga hanya menganggukkan kepalanya sekali—sebuah isyarat kecil yang seolah-olah bertanya, 'Kamu enggak apa-apa?' Sebelum akhirnya ia menarik gas motornya, berbelok tajam, dan membaur di antara kepadatan arus lalu lintas.

Aku mencoba melupakan kejadian di sekolah tadi. Namun, begitu melangkahi ambang pintu rumah, aku langsung disambut keriuhan di dalam. Seisi rumah seolah sedang menyambut tamu agung.

"Akhirnya kita bisa ngumpul, sayang," ucap Lisa, ibu tiriku, sambil memeluk erat putrinya, Alena, yang baru saja menyelesaikan pendidikan di luar kota. Perlakuannya begitu lembut. Melihat hal itu, ada rasa iri yang menyelinap di hatiku. Alena selalu beruntung karena selalu disayangi oleh Ayah dan Ibu kandungnya, sementara aku tidak.

"Hei, Luna! Kenapa melamun di situ? Cepat ke dapur, masak sana buat Alena!" ketus Lisa memerintah tanpa memikirkan perasaanku.

"Tapi aku baru saja sampai, Bu. Aku capek, butuh istirahat sebentar," ucapku menolak pelan. Tubuhku rasanya sakit semua akibat kejadian tadi.

"Bukan urusanku! Sekarang ke dapur dan masak yang enak buat kami! Apa kamu mau kutelpon Ayahmu agar kamu dipukul lagi, hah?" gertaknya sambil berpura-pura meraih ponsel dari saku.

Mendengar ancaman itu, nyaliku langsung menciut. Aku berlari menuju kamar hanya untuk meletakkan tas sekolah. Sejenak kupandang wajahku di cermin. Pipiku memerah dan ada perasaan sakit yang belum bisa kumaafkan.

Tak lama kemudian, terdengar suara deru mobil memasuki pekarangan. Aku mengintip pelan dari celah jendela. Ternyata Ayah sudah pulang.

"Ayah!" batinku kegirangan saat melihat Ayah melangkah masuk membawa banyak kantong belanjaan mahal. Aku segera keluar kamar dan menghampirinya yang kala itu sedang duduk untuk membuka sepatu. Kantong-kantong belanjaan itu digeletakkannya begitu saja di atas meja.

"Apa itu, Yah?" tanyaku penuh harap, mencoba menyentuh salah satu kantong tersebut.

"Jangan sentuh itu!" bentak Ayah, membuatku terpaku sesaat.

"Lho, kenapa memangnya? Aku hanya ingin melihat saja," jawabku pelan sambil menarik kembali tanganku dengan kecewa.

"Itu semua buat Alena." Ayah langsung berdiri dan meninggalkanku begitu saja.

Aku terpaku menatap punggungnya. Dadaku sesak. Di rumah ini, semua orang seolah tak menganggap kehadiranku. Mereka semua hanya menyayangi Alena.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 8

    Bara tidak bisa lagi menahan tawa. Ia menyemburkan tawa kecilnya sambil menutup pintu ruangan kerja Arga yang kedap suara. Langkahnya santai menuju sofa kulit di sudut ruangan, lalu mengempaskan tubuhnya di sana tanpa memedulikan tatapan tajam dari sang bos—atau lebih tepatnya, sang sahabat. "Kau harus lihat wajahnya semalam, Ga. Dia ketakutan setengah mati saat aku memperagakan gaya potong leher di penthouse-mu," ujar Bara, "Dia langsung pucat. Benar-benar mati kutu dan tidak berani kabur!" Arga tidak ikut tertawa. Ia memijat pangkal hidungnya. Lembaran dokumen di mejanya sama sekali tidak tersentuh sejak sepuluh menit yang lalu. Pikirannya tak berhenti ke penthouse miliknya, memikirkan bagaimana keadaan Luna setelah apa yang terjadi tadi malam. "Ini tidak lucu, Bar," sahut Arga dengan suara rendah dan berat. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran. "Kenapa kau harus menakut-nakutinya seperti itu? Dia sudah cukup terguncang karena hampir diapa-apakan oleh rentenir siala

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 7

    Suasana di dalam gudang tua itu mendadak hening. Cengkeraman kasar di pergelangan tanganku terlepas begitu saja. Pria kekar yang tadinya menyeretku melangkah mundur dengan wajah tegang. "B-berdiri, Nona. Silakan berdiri. Jangan di lantai, dingin," ucap Bos Rentenir itu. Suaranya yang tadi terdengar kejam, kini mendadak melembut dan gemetar. Ia panik, lalu menoleh ke anak buahnya. "Cepat ambilkan tasnya! Jangan biarkan kotor!" Aku segera menyambar tas sekolahku yang robek dari tangan anak buahnya, lalu memeluknya ke dada dengan erat. Tubuhku terasa sakit semua. "Kalian... kalian mau apa lagi? Tolong lepaskan aku..." lirihku dengan sisa tenaga. Sebelum Bos Rentenir sempat menjawab, pintu ganda kayu jati di ujung ruangan terbuka lebar dengan satu hentakan keras. Tiga orang pria melangkah masuk dengan langkah kaki yang tegap. Mereka mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi dan berkelas. Sementara pria satunya berpenampilan seperti pria umumnya. Ia hanya mengenakan jaket k

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 6

    Begitu motor klasik hitam itu melaju stabil membelah jalanan kota di bawah langit senja, aku tersadar dari lamunanku. Kata-kata Arga tentang tempat aman, sontak membuat ku berpikiran, jangan-jangan ia akan membawaku ke kontrakannya. Rumahku memang penuh tekanan, tetapi melarikan diri begitu saja hanya akan membuat Ayah murka dan berdosa. Bukan itu saja, masa depanku hancur hanya karena terjebak ucapan Arga barusan. "Kak Arga," panggilku sambil menepuk pundaknya berkali-kali. "Ya? Kenapa, Luna?" sahut Arga tanpa menoleh, matanya tetap fokus ke jalan. "Aku... aku rasa aku harus pulang ke rumah Ayah sekarang," ucapku ragu. Motor mendadak melambat. Arga meminggirkan kendaraannya ke pinggir jalan yang agak sepi di bawah pohon sana, lalu mematikan mesin. Ia membalikkan badannya menatapku. Dahi tebalnya berkerut dalam. "Ada apa denganmu?" tanya Arga, suaranya memberat, kembali memancarkan aura mengintimidasi khas preman jalanan. "Tadi kau sepakat untuk pergi ke tempat aman. Ken

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 5

    Bel pulang sekolah melengking panjang. Riuh langkah kaki dan gelak tawa siswa langsung memenuhi koridor. Aku bergerak cepat, meletakkan tas ransel erat-erat di pundak. Aku harus segera sampai ke gerbang sebelum Sarah dan teman-temannya melihatku. Begitu menyusuri pintu pagar besi yang terbuka lebar, langkahku mendadak terhenti. Jantungku berdetak hebat melihat sosok pria di seberang sana. Arga sedang duduk tenang di atas jok motor klasik hitamnya yang besar. Matanya bergerak jeli, meneliti satu per satu murid yang keluar dari gerbang. "Ngapain preman itu ke sini?" batinku menjerit histeris. Penampilannya siang ini sangat mengintimidasi. Ia hanya memakai kaus oblong hitam polos yang memperlihatkan lengan kokohnya, dipadu celana jins gelap yang pudar di bagian lutut. Dengan tatapan galak dan muka sangar, ia tampak persis seperti preman jalanan yang sedang menunggu mangsa. Persis seperti malam itu, saat aku tidak sengaja menolongnya dari keroyokan musuh di gang gelap. Orang-orang

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 4

    Aroma gurih tumis kangkung dan ayam goreng mentega memenuhi ruang dapur yang sempit. Aku membalik potongan ayam di atas wajan dengan cepat. Air mataku menetes, berbaur dengan uap panas masakan. Dadaku terasa sesak, bukan karena asap dapur, melainkan oleh kenyataan pahit yang baru saja aku alami. "Luna! Lama banget sih? Kamu niat masak enggak, sih?!" Suara lengkingan Ibu tiriku dari arah meja makan membuatku tersentak. Aku buru-buru menyeka pipi dengan ujung lengan seragam sekolah yang masih kukenakan. "I-iya, Bu. Sebentar lagi matang," sahutku setengah berteriak, berusaha menahan getaran di pita suara. Aku menata makanan di atas piring putih, lalu membawanya ke meja makan dengan kepala tertunduk. Di sana, Ayah, Ibu tiriku, dan Alena sudah duduk melingkar. Tawa renyah Alena langsung terhenti begitu aku meletakkan mangkuk berisi makanan di tengah meja. "Aduh, Luna. Kamu masak pakai baju sekolah kotor begitu? Jorok banget deh. Lihat tuh, ada bekas tanah lagi di roknya," ci

  • Bidadari Milik Gangster Kejam   Bab 3

    "Punya mata itu dipakai, Luna! Makanya jangan sok polos kalau di kelas!" Suara melengking itu milik Sarah. Detik berikutnya, hantaman keras mengenai bahuku. Tubuhku terhuyung ke depan. Buku-buku catatan fisika dan biologi yang sejak tadi kupeluk erat langsung terlepas, berserakan di atas aspal. Aku berlutut untuk memunguti buku-buku yang terjatuh. Jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Bukan karena lelah berjalan kaki, melainkan rasa takut yang mendadak melumpuhkan akal sehatku. Plak! Sebuah ujung sepatu pantofel hitam yang mengkilap sengaja menginjak sudut buku latihan tugasku. Di atas kertas putih bersampul cokelat itu, kini tercetak bekas tanah yang kotor. "Eh, sori. Enggak sengaja," ucap Sarah dengan nada yang sama sekali tidak terdengar menyesal. Ia tertawa renyah, menoleh ke arah dua temannya, Mami dan Kesya, yang langsung menyambut tawa itu. "Makanya, Luna, kalau jalan itu lihat depan. Jangan merunduk terus kayak orang bawa dosa sekelurahan," timpal Mami, me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status