LOGINMaddox Ventura fell in love with her sister’s best friend. The first moment he saw Sariel Dixon, he told himself that she’d be the woman he would tie the knot with and cherish with all of his heart. They became in close proximity since his sister dragged him along on every bit of their adventures of all kinds, and he’s even more attached to her, despite the fact that she tends to be stubborn all the time. However, Maddox was very delusional in that moment, considering that he believed Sariel was the one he had been looking for, but it turns out she is the one who would destroy and betray him. Maddox is a seductive but merciless. He’s both deadly and lovely to look at, he poured out his revenge on Sariel. He tormented her, he blamed her for killing his parents deaths for the betrayal that she used him for, and for playing his love for her. Sariel Dixon, on the other hand, was taken up in the retribution that was never intended for her. But then she accepted Maddox’s rage toward her, since she’s In love with him. The big day comes. There was an event where they were completely wasted on alcohol consumption because of her bestfriend. They were unable to resist the temptation, and something happened between the two of them one night. Following their heated exchange, Sariel won’t be able to do anything if Maddox sees her as an enemy. But she is also human, with emotions. Maddox’s tormenting of her is getting too much, leaving her with just one option: run away in Maddox’s rage. Will Sariel be able to find peace while running away? Will the revenge tale end with Maddox seeking vengeance?
View More"Sebentar lagi aku akan tahu, apa yang sebenarnya Mas Reza sembunyikan dariku selama ini. Ya Allah semoga dugaan burukku nggak benar."
Dengan rasa penasaran, Nazwa terus menatapi mobil suaminya yang dia iringi dengan taksi pesanannya. Jantungnya berdegup kencang sejak tadi. Di tengah kegelisahannya dia masih berusaha berpikir positif tentang kecurigaannya terhadap suaminya.
"Apa pun itu semoga aku siap menerimanya Ya Allah." Nazwa meremas jemarinya. Pikiran buruk terus berkelabat di kepala. Namun, dia juga berusaha terus menepisnya. Sayang, sepertinya pikiran buruknya yang benar karena dia melihat mobil suaminya justru memasuki pelataran hotel mewah.
"Kok Mas Reza ke hotel? Bukannya tadi izin ke rumah sakit. Ya Allah Mas Reza udah bohong sama aku." Pikiran buruk Nazwa menjadi.
Nazwa meminta si supir berhenti agak jauh di seberang jalan hotel. Lalu dia turun seorang diri, dan membuntuti suaminya dengan berjalan kaki. Wanita berpakaian syar'i itu terus mengiringi langkah suaminya yang memasuki hotel dari kejauhan.
Dan dia terkejut tatkala melihat seorang perempuan yang tidak asing tiba-tiba muncul, menyambut kedatangan suaminya dengan memeluk pria itu. Suaminya balas memeluk wanita itu dan menciumi keningnya.
Nazwa seketika terhuyung. Kakinya mendadak lemas hingga rasanya tak kuat menopang tubuhnya berdiri. Dadanya mendadak nyilu seakan ditikam ribuan sembilu. Namun, dia masih berusaha untuk bisa berdiri. Kakinya begitu berat melangkah, mengiringi dua sejoli itu diam-diam.
Ya Allah ini terlalu menyakitkan untuk menjadi nyata. Nazwa berharap ini mimpi, tapi ini nyata.
Walau sakit, Nazwa masih diam memperhatikan kemesraan itu sampai dua sejoli itu berhenti di depan kamar. Perempuan itu tengah membuka pintu, sedangkan tangan Reza terus merangkul pundaknya yang terekspos sambil menciumi kepalanya berkali-kali.
"Astagfirullahal'adzim, Mas!" Nazwa sudah tidak tahan lagi melihatnya. Tanpa sadar dia berteriak parau. Air mata sontak meleleh di pipi. Kedua pasangan yang sibuk bermesraan itu sontak menoleh dengan raut wajah terkejut luar biasa.
Reza melotot tak percaya. "Nazwa! Nazwa kenapa kamu bisa ada--"
"Ternyata kamu selingkuh sama dia?!" Nazwa menunjuk perempuan tidak asing itu yang kini terlihat panik. "Aku bener-bener nggak nyangka!" Nazwa menggeleng. "Aku kecewa sama kamu!" Nazwa lalu berbalik badan dan berlari menyusuri lorong hotel secepat yang dia bisa.
Reza lantas mengejarnya dan mengabaikan perempuan itu. "Nazwa, tunggu aku! Aku bisa jelasin!"
Reza tidak menyangka, Nazwa bisa mendapatinya bersama perempuan lain seperti ini. Situasinya benar-benar tidak tepat. Pikiran buruk mulai menyerang kepala. Reza sungguh tidak ingin Nazwa terluka.
Mereka berlarian sampai ke pelataran hotel. Di tengah pelataran, Reza berhasil memegang tangan Nazwa yang langsung ditepis oleh si empunya.
"Jangan sentuh aku!" Mereka berdiri berhadap-hadapan. Nazwa menatap tajam suaminya yang memasang tampang merasa bersalah.
"Aku bisa jelasin semuanya, Sayang."
"Kamu bilang sama aku mau ke rumah sakit." Telunjuk Nazwa teracung di depan wajah Reza. "Ada pekerjaan mendadak. Tapi kamu malah ke hotel, bertemu dan bermesraan dengan perempuan itu. Lalu apa lagi yang mau kamu jelasin?!" Nazwa berteriak-teriak, tak peduli dengan tatapan heran dan ingin tahu orang-orang yang lalu-lalang di pelataran tersebut. Dia tak dapat mengontrol emosinya.
Reza menoleh kiri-kanan, merasa tidak nyaman dengan pandangan orang-orang itu. "Kita bisa bicarakan ini baik-baik, Nazwa. Tapi nggak teriak-teriak di sini. Malu dengerin orang." Reza sedikit berbisik dan berusaha menggapai tubuh istrinya, tapi Nazwa terus menghindar.
Nazwa melirik orang-orang itu. Dalam hatinya membenarkan suaminya. Biar bagaimana pun dia tak seharusnya menampakkan masalah rumah tangganya di khalayak umum.
Reza memanfaatkan itu dengan memegang kedua pundak istrinya. "Kita bicarakan baik-baik. Kamu tenang dulu, ya."
Nazwa serta-merta menepisnya. "Nggak ada yang perlu dijelasin, Mas. Akui aja kalau kamu memang selingkuh sama dia. Aku nggak nyangka kamu masih mau berhubungan sama mantanmu itu." Nazwa lalu menangis terisak-isak.
"Makanya dengerin dulu. Aku sama dia sebenarnya--"
"Selama ini kamu pintar menyembunyikan rahasia ini. Tapi Allah lebih pintar untuk membongkar semuanya. Selama ini kamu berlagak menjadi suami yang sempurna, tapi diam-diam di belakang kamu main perempuan lain. Aku muak sama kamu. Aku benci!" Nazwa mendorong dada Reza sebelum akhirnya berbalik badan dan berlari sampai ke jalan raya. Reza pun mengejarnya sambil terus meneriaki namanya.
Nazwa menangis di sepanjang jalan. Ini semua seperti mimpi. Seandainya dia tak melihat sendiri suaminya berselingkuh, mungkin dia tak akan percaya.
Nazwa melambaikan tangan ke arah kendaraan-kendaraan yang memenuhi jalan. Ketika jalan sedikit lengang, wanita berpakaian syar'i itu menyebrang, berlari-lari kecil menuju tempat taksi online-nya berhenti.
"Nazwa!" Reza ikut menyebrang. Namun, nahas, karena saking terburu-burunya, tanpa melihat-lihat lagi, dari arah kanan, sebuah sedan melaju kencang, menghantam tubuh Reza telak.
Demi mendengar suara kecelakaan, Nazwa spontan menoleh dan memekik histeris melihat suaminya bergelimang darah di atas jalan.
Apa yang harus dia lakukan? Apa dia harus membawa suaminya ke rumah sakit? Atau membiarkan saja lelaki itu yang sudah tega menyakiti hatinya?
***
Sariel's point of view The closure that I've been looking for has come to an end, and Maddox and I are no longer in any danger. It's been a long time. Now we are in the city of Amsterdam. It was at the narrow bridge that Maddox made his second proposal to me. Wala ng mas makakapagpigil sa kanya, e. Tinotoo talaga 'yung biro na mag-propose 'ulit. As for my mother, she has decided to remain in this wonderful place permanently. She has found a Dutch partner here, and I will always be there to support her. She has earned the right to have a life with the man she loves now and to take care of each other, but I will never forget about my father. Gusto ko lang ulit sumaya si mommy gayong siya nalang mag-isa. Ayaw din naman niyang sumama sa amin ni Maddox. I am currently six months pregnant, and Maddox is such a sharp shooter. My second baby, and it's a girl. Minsan nga pinaparinig ko, na sana siya nalang ang nagbuntis kasi ang hirap naman 'yun. Well, I set aside those thoughts. For
Sariel's point of view Everything is going smoothly fine, but when Maddox stormed into my house one day, It feels like we are back again at our storming bekering. "Wow? Akala ko ba nakapag-usap na tayo? Hindi pa pala sapat 'yun. Ano pa bang gusto mo?" "Yeah, I thought so. But you know what? I'm waiting for you to tell me that Mason is my son, but you didn't. So when are you going to tell me that? When he's old and not really knowing me as his father?" He spat. Napatahimik naman ako sa sinabi niya. Hindi ko naman akalain na mas mauuna pa niyang malaman, 'to na dapat ay ako ang nagsasabi sa kanya. It's just that naghahanap lang ako ng timing. Ngayon sana kaso 'yung timing ng pagpunta niya rito sa bahay parang kidlat, ang bilis. Huminga ulit ako ng malalim at tinitigan siya. Buti nalang wala rito ang anak ko, kasama niya si mommy gumala. "So? Can we talk in a calm manner?" I ask, tilting my head. "I'm calm!" He yelled, and I raised my brows at him. "Why are you yelling now?"
Sariel's point of view Well, every day feels different now. Maddox's comments don't intimidate me. Instead, I'm moving forward with what's going to happen. Nakakapagod ng takbuhan ang mga pangyayari, parang lumalala lang nga, e. Palagi nalang kami nagsisisihan. Parang walang katapusan. My phone buzzed. Nang tingnan ko kung ano ay ganun nalang ang pagkunot ng noo ko. Talaga lang ha. Pinaalala pa talaga. Wala na nga atang pakiramdam ang lalaking 'yun. What if nandoon pala ang asawa at anak niya? Tsk. Bahala na nga. 'Meet me at the Jungle K; I know you remember where it is. The place you're held captive with' That was his text message. If he wasn't my son's father, maybe I'd kill him already. Kill him with my love then; I don't want to be brutal anymore. Shame on me. There's a lot of memories in there, Jungle K, that poured out of my heart, expressing my regret and my desire for something or longing. I'm sitting in our modest living room, the moonlight filtering through th
Third person's point of view As Lowe, Mason, and Sariel finished their food, Sariel's son excused himself to go to the bathroom. Lowe and Sariel volunteer to accompany him, but Mason says that he can handle himself. See? Sariel's baby boy is kind of an independent na talaga. Hinayaan nalang siya ni Sariel, masisilayan naman niya ito papunta kung nasaan man ang bathroom. Tsaka, this is a luxurious resto, so Sariel is expecting that there's no bad, evil people lurking there. Lowe, on the other hand, has already seen his brother and is concealing his expression to prevent Sariel from noticing it. Baka mahambalos na talaga siya nito. Initially, Lowe had stated that he would not interfere in their relationship. However, upon witnessing his brother and Sariel's intense longing for each other, despite their denial, Lowe decided to intervene. As for Mason, he's already in the bathroom, one of the cubicles, and once he's done. He got out jumping a little bit; he just was hyper about the f
Sariel's point of view After those incidents happened, I've been contemplating what to do. I didn't answer well to my son's question, and I don't like to lie to him either. I need to talk to Lowe. I know he's here because he followed me back to the Philippines after my flight. I'm about to call Lo
Sariel's point of view After six years, my son has grown up, and I and my mother raised him in the United States for those six years. I was called to the company that my uncle had previously run when it was brought back with us when he was arrested 6 years ago. We'd like to thank our lawyer for th
Sariel's point of view In order to get away from all that was going on in the Philippines, my mother and I settled down in Amsterdam and purchased property there. And now we live in Amsterdam, where we are able to repair the scars that have been in my heart. I was able to kill time by creating wh
Sariel's point of view I dialed my mother's number, the second ring, when she picked up. "Hello, dear? You already decided what to do?" She greeted. "Yup? Ready to kidnap me?" I playfully chuckle to myself. "Right away. Wait for me." She chirps, then the call ends. I make sure to leave the less












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviewsMore