MasukSejak pagi, suasana kantor kembali dipenuhi kesibukan. Lift tak pernah sepi, mesin kopi di pantry bekerja tanpa henti, dan hampir setiap meja dipenuhi tumpukan dokumen yang menunggu diselesaikan.
Naomi baru saja meletakkan berkas di mejanya ketika Mareeq muncul di depan meja Naomi sambil membawa map hitam.
"Naomi, ikut aku meeting sebenter di luar."
Naomi kemudian melirik ke arah meja Claudia. Dia ada di sana, tapi tampaknya tidak memperhatikan Mareeq yang memintanya ikut
Beberapa saat kemudian, tanpa menghentikan bacaannya, Mareeq melirik ke arah kaca jendela di sisi penumpang. Dari pantulan samar di kaca, ia melihat sepasang mata yang kini sudah terbuka. Sudut bibir Mareeq terangkat membentuk senyum kecil. Mareeq menyelesaikan ayat yang sedang dibacanya terlebih dahulu. Baru setelah itu ia menutup aplikasi di ponselnya dan menoleh langsung ke arah Naomi."Sudah bangun?"Naomi tersenyum tipis, masih memeluk jaket yang menyelimutinya. "Maaf... aku nggak sengaja ketiduran.""Tidurmu nyenyak."Naomi mengangguk pelan."Lama?" tanya Naomi."Hampir setengah jam."Naomi tampak sedikit malu. Dia pun menyadari jaket yang menyelimutinya. Dia teringat dengan jaket Mareeq yang masih dia bawa dan belum sempat dikembalikan.Naomi mengangkat jaket itu untuk menunjukkan pada Mareeq. "Baunya bikin nyaman.""Mau dibawa?" Mareeq menawari."Aku sudah membawa satu.""Bawa satu lagi tidak masala
Mareeq menatapnya tenang. "Kalau semua pekerjaan di kantor selesai hari ini. Apa masalahmu juga selesai hari ini?"Naomi tidak mampu menjawab."Kalau kamu menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Besok pagi kamu tetap bangun dengan kenyataan yang sama. Akan ada pekerjaan lain yang menanti"Keheningan memenuhi mobil. Naomi tetap diam di tempatnya. Mareeq kembali berkata dengan nada yang jauh lebih lembut."Menyibukkan diri itu bukan solusi. Itu cuma pelarian. Dan pelarian tidak pernah menyelesaikan masalah. Belum tentu badanmu sanggup meski otakmu mengatakan sanggup."Naomi menutup mata sesaat. Ucapan itu terasa menohok. Karena jauh di dalam hatinya ia tahu Mareeq benar.Selama beberapa minggu terakhir, ia memang sengaja memenuhi harinya dengan pekerjaan. Bukan karena pekerjaannya bertambah. Melainkan karena ia tidak ingin memiliki waktu untuk berpikir. Ya, Naomi memang sedang berusaha lari.Mareeq melanjutkan, "Aku sudah berjanj
Lampu-lampu jalan mulai menyala, memenuhi jalanan kota yang perlahan dipadati kendaraan pulang kerja. Beberapa menit berlalu. Baru setelah mobil memasuki jalan utama, Mareeq memecah keheningan."Lapar?"Naomi menoleh. "Hm?""Aku belum sempat makan." ujar Mareeq.Naomi menghela napas kecil. "Aku sedang tidak ingin makan.""Bicara bisa sambil makan. Hari ini pengin makan apa?" tanya Mareeq tidak peduli apa yang dikatakan Naomi.Naomi berpikir beberapa detik. Ia menatap keluar jendela. Mareeq mengetukkan jarinya pelan di setir. Ia kembali melirik Naomi."Kalau aku yang pilih, nanti nggak boleh protes."Naomi menoleh. Dia langsung bisa menebak. Pilihan yang dimaksud Mareeq pasti bukan tempat makan biasa. Selama mengenalnya, pria itu selalu memilih restoran yang tenang, pelayanannya bagus, dan tentu saja mahal.Naomi menggeleng pelan. "Jangan.""Kenapa?" tanya Mareeq."Aku lagi nggak pengin masuk restoran."
Naomi berjalan melangkah ke ruang HR. Dia berdiri beberapa saat di depan pintu ruang HR. Tangannya terangkat, lalu mengetuk pelan."Silakan masuk." ujar ibu Sinta dari dalam ruangan.Naomi membuka pintu. Di dalam, Manajer HR sedang memeriksa beberapa berkas. Begitu melihat Naomi, wanita itu tersenyum ramah."Silakan duduk, Naomi. Ada yang bisa saya bantu?" Ibu Sinta mempersilakan Naomi.Naomi duduk perlahan. "Saya ingin menanyakan alasan kenapa saya dikeluarkan dari proyek Gigantic."Manajer HR menutup map di hadapannya. "Saya sudah menduga kamu akan datang."Naomi menunggu dengan sabar."Keputusan itu bukan karena performamu."Naomi sedikit lega mendengarnya."Justru hasil evaluasimu sangat baik." pujinya."Lalu kenapa?" tanya Naomi.Manajer HR menyandarkan punggungnya ke kursi."Beberapa hari lalu, Pak Mareeq menyampaikan bahwa beban kerja kamu sudah terlalu tinggi. Dan kamu dalam keadaan yang tida
Suasana kantor kembali ramai setelah akhir pekan. Para karyawan berlalu-lalang membawa dokumen dan secangkir kopi. Sementara layar besar di area kerja menampilkan jadwal rapat hari itu.Naomi datang lebih awal. Ia mengenakan blazer krem dengan kemeja putih, rambutnya diurai rapi. Begitu meletakkan tas di mejanya, ia langsung menyalakan komputer dan memeriksa kembali pekerjaan untuk hari ini. Pekerjaan utama hari ini adalah meeting dengan Gigantic.naomi datang pagi agar dia bisa mempelajari materi meeting dan menyempurnakan laporan. Setidaknya bekerja membuat pikirannya tidak terus memutar persoalan yang sedang dihadapinya. Dia sangat butuh pelarian.Tak lama kemudian, pintu ruangan milik Rahaal terbuka. Rahaal melangkah keluar sambil membawa dokumen. Ia menatap ke arah beberapa anggota tim. Lagi-lagi pria itu melewati pandangan Naomi."Meeting Gigantic sekarang."Beberapa karyawan langsung berdiri, mengambil laptop dan buku catatan masing-masing.
Killa menyentuh kepala Naomi dan mengusapnya. "Baiklah. Katakan. Ngidam apa kamu sekarang? Aku akan memenuhi permintaanmu."Naomi menoleh ke arah Killa. Terlihat sekali matanya merah menahan air mata meskipun bibirnya terlihat tertawa."Aku nggak salah denger?" tanya Naomi."Nggak. Aku sungguh-sungguh." jawab Killa tanpa keraguan. "Asal bukan sesuatu yang mahal."Naomi diam sebentar dan memikirkan sesuatu. Dia terpikirkan sesuatu. Killa adalah campuran Betawi dan Sunda. Akan terasa lucu jika dia berbicara dengan bahasa Jawa.Naomi melihat sekeliling dan mencari seseuatu. Dia melihat kearah jalanan. Di kejauhan, seorang bapak tua tampak berjalan perlahan sambil memikul dua keranjang bambu di kedua ujung pikulannya. Di dalam keranjang itu tersusun berbagai buah, tetapi yang paling banyak adalah salak."Itu." tunjuk Naomi.Killa mengikuti arah telunjuk Naomi. "Salak?""Iya."Killa terkekeh. "Oke."Ia hendak mel
“Seseorang yang aku kenal,” jawab Naomi, nadanya dibuat seringan mungkin. “Kebetulan dia ada urusan di kantor, jadi kami bicara sebentar.”Ia segera mengalihkan topik, cepat, dan tanpa jeda. “Mau makan di mana kita? Aku sudah lapar.”Leon menatapn
Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat."Baga
Naomi menghampiri teman-temannya, meninggalkan Mareeq sendirian di tempatnya. Ah! Dia lupa untuk berpamitan. Dia pun berbalik.Oh! Dia melihat ke arah Naomi. Naomi menunjukkan senyumnya, lalu menganggukkan kepala pelan dan bermakna. Sebuah ucapan tak langsung "Aku pergi dulu". Lalu segera berlalu.
Naomi pergi ke acara konferensi sesuai dengan undangan yang dia terima. Sebenarnya dia malas ketika weekend harus menghadari acara kantor. Tapi, karena di rumah tidak ada siapapun, jadi dia memilih pergi.Naomi masuk ke ruangan dan menyapu pandangan ke dalam ruangan. Dia ingin tahu apakah ada orang







