ログインKilla menyentuh kepala Naomi dan mengusapnya. "Baiklah. Katakan. Ngidam apa kamu sekarang? Aku akan memenuhi permintaanmu."
Naomi menoleh ke arah Killa. Terlihat sekali matanya merah menahan air mata meskipun bibirnya terlihat tertawa.
"Aku nggak salah denger?" tanya Naomi.
"Nggak. Aku sungguh-sungguh." jawab Killa tanpa keraguan. "Asal bukan sesuatu yang mahal."
Naomi diam sebentar dan memikirkan sesuatu. Dia terpikirkan sesuatu. Killa adalah campuran Betawi dan S
Killa menyentuh kepala Naomi dan mengusapnya. "Baiklah. Katakan. Ngidam apa kamu sekarang? Aku akan memenuhi permintaanmu."Naomi menoleh ke arah Killa. Terlihat sekali matanya merah menahan air mata meskipun bibirnya terlihat tertawa."Aku nggak salah denger?" tanya Naomi."Nggak. Aku sungguh-sungguh." jawab Killa tanpa keraguan. "Asal bukan sesuatu yang mahal."Naomi diam sebentar dan memikirkan sesuatu. Dia terpikirkan sesuatu. Killa adalah campuran Betawi dan Sunda. Akan terasa lucu jika dia berbicara dengan bahasa Jawa.Naomi melihat sekeliling dan mencari seseuatu. Dia melihat kearah jalanan. Di kejauhan, seorang bapak tua tampak berjalan perlahan sambil memikul dua keranjang bambu di kedua ujung pikulannya. Di dalam keranjang itu tersusun berbagai buah, tetapi yang paling banyak adalah salak."Itu." tunjuk Naomi.Killa mengikuti arah telunjuk Naomi. "Salak?""Iya."Killa terkekeh. "Oke."Ia hendak mel
Naomi membelalakkan matanya. Dia menatap ke arah Killa. Dia tidak menyangka Killa akan mengatakan hal ini. Hanya sedetik dia mampu menatap mata pria di sampingnya itu."Aku tidak ingin dia melakukan itu.""Jangan melakukan setengah-setengah." ujar Killa "Karena apa pun yang kamu lakukan akan terlihat buruk. Jadi, pilih saja yang lebih menguntungkan dan membahagiakanmu.""Apakah aku bisa melakukan itu?" tanya Naomi menatap ke arah Killa."Cinta bisa mengalahkan segalanya bukan?""Cinta ya..." gumam Naomi menghela napas."Kamu masih ragu mencintai Mareeq?""Aku berharap ini obsesi saja. Kau tahu seperti otak dan pikiranku tahu itu salah, tapi hati nggak mau menuruti otakku."Killa mengangguk kecil. "Setidaknya pikiranmu masih normal."Naomi menoleh ke arah Killa dan tersenyum. "Beruntunglah orang yang kisah cintanya mudah dan lancar."Naomi berusaha mengangkat cerita hubungan Killa dengan tunangannya."Kapan
"Oh." Vino langsung mengangguk.Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil memasuki kawasan yang lebih tenang. Pepohonan rindang mengelilingi sebuah taman kecil yang berada tak jauh dari rumah nenek Naomi.Di sebuah bangku taman, seorang pria dengan kaus putih dan celana jeans sedang duduk sambil memainkan ponselnya.Begitu melihat mobil Vino berhenti, ia langsung berdiri seolah menunjukkan kehadirannya."Nah, itu dia." Naomi tersenyum.Vino menghentikan mobil di pinggir jalan. "Jangan pulang kemaleman.""Iya."Naomi turun sambil membawa kotak cheesecake. Setelah itu mobil pergi meninggalkan mereka berdua. Mobil Vino pun perlahan menghilang di tikungan.Naomi menoleh ke arah Killa dan tersenyum. "Urusan apa di sekitar sini?""Ada sama kenalan."Keduanya mulai berjalan menuju bangku taman. Naomi meletakkan kotak kuenya di sampingnya. Keheningan sementara menyelimuti mereka.Tak jauh dari sana, Killa melihat ada
"Bagaimana bisa kamu bersama mama?" tanya Vino."Mama jemput Nona di kantor. Katanya proyeknya di Legacy sudah selesai dan perlu menyelesaikan beberapa urusan di London."Vino mengangguk mengerti. "Mungkin menemui pacarnya." gurau Vino.Vino melirik ke arah adiknya. Tidak ada reaksi dari Naomi. Beberapa detik benar-benar tidak ada tanggapan."Mama tidak punya pacar. Mama masih cinta papa." ujar Naomi kemudian."Hmm.." gumam Vino.Adiknya itu masih beranggapan bahwa mama masih mencintai papa. Dan pasti dia juga berpikir papa mereka masih mencintai mama. Tapi, tidak ada cara untuk mereka bisa kembali bersama.Mereka lalu keluar menuju area parkir. Angin siang berembus pelan ketika keduanya berjalan. Benar-benar cuaca yang cerah."Kenapa nggak ikut Mama ke London beberapa hari?"Naomi menoleh. "Hm?""Liburan sebentar. Hitung-hitung refreshing."Naomi menggeleng tanpa berpikir lama. "Nggak.""Kenapa?"
Malam semakin larut. Setelah membereskan beberapa barang ke koper, Renata mengajak Naomi masuk ke kamar."Ayo tidur. Besok Mama harus berangkat pagi."Naomi mengangguk. Lampu utama dipadamkan. Hanya lampu tidur di sudut ruangan yang memancarkan cahaya kekuningan.Begitu Renata berbaring, Naomi langsung bergeser mendekat. Tanpa banyak bicara, ia memeluk pinggang ibunya seperti kebiasaan yang dulu sering dilakukannya saat kecil. Renata sempat tertawa pelan."Kamu benar-benar masih sama."Naomi memejamkan mata. "Nyaman."Tangan Renata perlahan mengusap rambut putrinya. Gerakannya lembut dan teratur. Seolah semua kegelisahan Naomi ikut tersapu setiap kali jemarinya menyisir helaian rambut itu.Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar. Tiba-tiba Naomi bergumam pelan."Aku suka bau Mama."Renata terkekeh. "Bagaimana baunya?""Bikin tenang."Renata tidak mampu men
Mobil berhenti di depan sebuah restoran bergaya Eropa yang tidak terlalu ramai. Renata memang sengaja memilih tempat yang tenang agar mereka bisa berbincang tanpa terganggu. Pelayan mengantar keduanya ke meja di dekat jendela.Setelah memesan makanan, suasana sempat diisi obrolan ringan mengenai pekerjaan Renata di London dan perkembangan perusahaan. Tak lama kemudian, minuman mereka datang lebih dulu. Naomi mengaduk perlahan teh hangat di depannya. Tatapannya jatuh pada permukaan cangkir. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi masih ragu.Renata yang mengenal putrinya sejak kecil langsung menyadarinya. "Ada yang kamu pikrikan?"Naomi mengangkat kepala. "Hm..." Ia tersenyum kecil, sedikit canggung."Mama...""Iya?""Waktu Mama hamil Kak Vino, perasaan Mama gimana?"Renata meletakkan cangkir kopinya. Pertanyaan itu membuat Renata terdiam beberapa detik. Ia tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia justru tersenyum lembut, seolah seda
Beberapa menit kemudian, penjaga tadi kembali.“Maaf, Kak,” katanya. “Stoknya memang habis. Belum datang lagi.”Naomi terdiam sebentar. “Oh… ya sudah,” jawabnya pelan.Penjaga itu mengangguk dan pergi lagi. Hening. Naomi masih menata
Undangan ramah itu muncul lancar dari mulut Naomi. Naomi ingin menunjukkan bahwa jika ada hal yang harus dibicarakan, itu harus dilakukan di tempat terbuka di mana siapa pun bisa melihat. Tidak perlu tempat tersembunyi seperti parkiran lagi. Mareeq mengangguk pelan, tampak sedikit terkejut dengan
Angin di rooftop berembus cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Naomi yang tampak kusut, seiring dengan pikirannya yang kalut. Di sini, jauh dari aroma sushi dan tatapan tajam di ruang kantor. Naomi akhirnya bisa menarik napas panjang, meski dadanya masih terasa sesak.Flora du
Naomi melangkah masuk ke ruangan, atmosfer berat menyergapnya. Aroma cuka beras yang tajam bercampur dengan kesegaran ikan mentah langsung memenuhi indra penciumannya. Di meja tengah, dokumen-dokumen yang biasanya berserakan telah disingkirkan, digantikan oleh parade sushi mewah yang tertata sang