Share

Mutasi

Author: NaoMiura
last update publish date: 2025-11-27 20:00:52

"Coba nanti tanyakan pada Claudia. Dia yang mengurusnya."

"Baik. Terima kasih untuk informasinya," jawab Naomi.

Mereka pun berpisah. Naomi berjalan masih dengan kebingungannya. Ada apa ini. Mareeq tidak memberi tahu soal ini. Apakah mereka benar-benar akan mutasi kekantor pusat?

Naomi kembali ke ruangan. Dia melihat ke arah meja Claudia. Kosong. Apakah dia di ruangan Mareeq? Atau di ruangan Rahaal? Naomi ingin bertanya, tapi dia terlalu malas karena Claudia menjadi lebih

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bilur Bulir Bertaut   Tidak Bisa Menghindar

    Pagi hari Jumat datang dengan langit yang mendung. Seolah cuaca ikut menyimpan beban yang sama dengan isi hati Naomi. Begitu tiba di kantor, ia langsung duduk di mejanya dan menyalakan komputer.Sepanjang pagi. Setiap kali melihat Mareeq keluar dari ruangannya, Naomi segera mencari alasan untuk berpindah tempat. Saat Mareeq datang ke area marketing, Naomi berpura-pura mengantar dokumen ke divisi lain. Bahkan ketika rapat singkat selesai, ia sengaja keluar bersama rombongan agar tidak pernah berada berdua dengan pria itu.Semua itu tidak luput dari perhatian Mareeq. Ia tidak memanggil. Tidak mengejar. Namun matanya selalu mengikuti ke mana Naomi pergi.Menjelang sore. Naomi sengaja menyelesaikan semua pekerjaan lebih cepat. Dia ingin menghindari Mareeq. Dia sangat yakin Mareeq akan berusaha untuk bicara.Naomi membeli sekaleng matcha. Dia turun ke lantai bawah. Bukan berencana pulang karena masih belum waktunya. Dia mencari tempat tenang untuknya menikmati

  • Bilur Bulir Bertaut   Bersembunyi

    Naomi mendorong pintu toilet wanita dan segera masuk ke salah satu bilik. Begitu pintu terkunci, tubuhnya langsung merosot ke lantai. Tangannya menutup mulutnya sendiri agar isaknya tidak terdengar keluar.Naomi mengurung diri di dalam bilik toilet cukup lama. Isaknya perlahan mereda. Yang tersisa hanyalah rasa lelah yang luar biasa. Ia keluar dari bilik berjalan menuju wastafel. Tidak ada orang, dia merasa lega. Ia pun membasuh wajahnya dengan air dingin.Namun pantulan dirinya di cermin tetap tampak sama. Mata sembap. Wajah pucat. Tatapan yang kehilangan arah. Dia bahkan membenci tampilannya saat ini."Aku harus kembali." Bisiknya pelan kepada dirinya sendiri.Dia tidak bisa terus menghindar. Masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Dia bergegas melangkah ke ruang kerjanya.Ketika melewati ruang hibernasi, kedua kakinya justru melangkah ke arah sana. Bukan kembali ke meja kerjanya. Melainkan menuju ke sebuah ruangan kecil yang disediakan ka

  • Bilur Bulir Bertaut   Siapa Ayah Anak Itu?

    Naomi kembali ke kantor sekitar pukul satu siang. Suasana divisi marketing sudah kembali sibuk. Suara ketikan keyboard dan dering telepon saling bersahutan. Ia menarik napas panjang sebelum melangkah masuk.Senyum tipis yang dipaksakannya saat makan siang bersama Leon sudah menghilang. Begitu duduk di kursinya, ia langsung membuka komputer. Dia berharap pekerjaan mampu mengalihkan pikirannya.Namun baru beberapa menit berlalu. Mareeq datang dari luar ruangan. Mata mereka sempat bertemu sebentar. Tapi, Naomi sangat jelas menghindarinya."Naomi, ke ruanganku sebentar." ujar Mareeq lalu masuk ke ruangannya.Mareeq tidak membiarkan Naomi memberikan alasan. Dia sangat ingin tahu kebenaran itu dari mulut Naomi sendiri. Dengan sangat terpaksa Naomi pun pergi.Jalan menuju ruang kerja Mareeq terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Setiap langkah membuat napasnya semakin berat. Ia mencoba menenangkan diri.Naomi membuka pintu perlahan. Mareeq berdir

  • Bilur Bulir Bertaut   Kabar

    Claudia baru tiba di kantor setelah menghadiri meeting dengan klien. Begitu memasuki ruangan, ia mendapati beberapa orang masih membahas Leon dan Naomi."Eh, ada apa?" tanyanya.Salah seorang staf hanya menjawab singkat, "Itu. Leon katanya melamar Naomi, tapi masih ditolak."Claudia mengangkat sebelah alis. "Kenapa ditolak?"Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Matanya kemudian menemukan Flora yang sedang berdiri di dekat pantry."Flora.""Hm?""Itu benar?" tanya Claudia. "Katanya Leon melamar Naomi?"Flora melirik kanan dan kiri memastikan tidak ada orang lain yang mendengar."Kamu serius mau tahu?"Claudia mengangguk.Flora mendekat sedikit. "Ini masih rahasia."Claudia mulai penasaran.Flora menatap mata Claudia beberapa detik sebelum akhirnya berbisik, "Naomi hamil."Mata Claudia langsung membesar. "Apa?"Flora mengangguk pelan. "Hanya aku yang tahu di sini. Jadi, jangan

  • Bilur Bulir Bertaut   Sorakan

    Suasana kantor dipenuhi suara keyboard, dering telepon, dan percakapan antarpegawai yang mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing.Naomi melangkah masuk dengan membawa tas kerjanya. Biasanya ia akan menyapa beberapa rekan di divisi marketing. Pagi itu, ia hanya tersenyum tipis lalu langsung menuju mejanya.Ia menyalakan komputer, membuka beberapa berkas pekerjaan, tetapi tatapannya kosong. Huruf-huruf di layar seolah tidak mampu ia cerna. Pikirannya masih dipenuhi hasil USG yang kemarin disimpan Leon dengan begitu hati-hati."Enam minggu."Angka itu terus terngiang.Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari lorong. Naomi refleks mengangkat kepala. Mareeq. Pria itu baru saja tiba di kantor dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku. Seperti biasa, beberapa rekan menyapanya.Tatapannya tanpa sengaja bertemu dengan Naomi. Hanya beberapa detik. Naomi segera menundukkan kepala, berpura-pura sibuk membuka file di kom

  • Bilur Bulir Bertaut   Perayaan

    Keluar dari klinik, Leon masih beberapa kali membuka map berisi hasil pemeriksaan. Senyum di wajahnya tak kunjung hilang. Leon mengangkat lembar foto USG kecil itu sekali lagi."Sayang. Aku masih nggak percaya ini."Naomi hanya tersenyum tipis."Kalau bukan karena dokter yang bilang langsung, mungkin aku bakal mengira ini mimpi."Ia tertawa kecil seorang diri.Naomi memperhatikan wajah Leon. Sudah lama ia tidak melihat pria itu tersenyum selepas ini.Begitu mereka masuk ke dalam mobil, Leon tidak langsung menyalakan mesin. Ia justru menoleh ke arah Naomi. Leon melirik tanggal yang terpampang di layar mobil."Hari ini valentine lho."Naomi ikut melihat. Karena sejak pagi pikirannya dipenuhi hasil test pack dan pemeriksaan dokter, ia bahkan lupa hari itu adalah Hari Valentine.Leon mengembuskan napas pelan sambil tersenyum. "Setiap tahun orang-orang sibuk kasih hadiah cokelat atau bunga."Ia menatap map hasil USG di

  • Bilur Bulir Bertaut   Saling Percaya

    Naomi langsung melepas sendok yang masih digigitnya. Naomi akhirnya menarik sendok itu keluar, menatapnya sebentar, lalu mengangkat bahu kecil.“Kebiasaan jelek.”Tersenyum malu karena dimarahi Mareeq seperti itu. Dia serasa menjadi Freya. Perhatian kecil dari Mareeq yan

  • Bilur Bulir Bertaut   Ruang yang Masih Ada

    Beberapa menit kemudian, penjaga tadi kembali.“Maaf, Kak,” katanya. “Stoknya memang habis. Belum datang lagi.”Naomi terdiam sebentar. “Oh… ya sudah,” jawabnya pelan.Penjaga itu mengangguk dan pergi lagi. Hening. Naomi masih menata

  • Bilur Bulir Bertaut   Meja di Sudut Kafe

    Setelah pelayan pergi, hening sebentar turun di antara mereka. Tidak canggung. Tapi tidak sepenuhnya ringan juga. Raya menatap Naomi. Lebih lama dari sebelumnya.“Kamu pasti mikir aku aneh ya,” katanya tiba-tiba.Naomi mengangkat alis sedikit. “Kenapa?”

  • Bilur Bulir Bertaut   Tumbler Baru

    Mareeq tidak langsung menyalakan mobil. Tangannya masih berada di setir, tapi tidak bergerak. Pandangannya lurus ke depan, pada jalan yang terbuka, tapi pikirannya jelas tidak di sana.Naomi di sampingnya juga diam. Bukan karena tidak ada yang bisa dikatakan, justru mungkin karena terlalu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status