/ Young Adult / Bilur Bulir Bertaut / Tantangan Pertama

공유

Bilur Bulir Bertaut
Bilur Bulir Bertaut
작가: NaoMiura

Tantangan Pertama

작가: NaoMiura
last update 게시일: 2025-11-06 19:13:17

"Siapa ayah anak itu?"

Naomi tidak menatap pria di hadapannya. Dia membuang muka ke arah lain dan menggigit bibirnya sendiri menahan mengatakan sepatah kata pun. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia sangat bingung. Ini di luar kendalinya.

"Tolong jawab jujur." Pintanya dengan lembut.

"Ini anakmu." Naomi mengambil nafas dan menatap lelaki itu. "Yang kita lakukan waktu itu adalah kesalahan."

"Aku akan bertanggung jawab." Dia mengatakan itu tanpa penuh keraguan sedikit pun.

"Bagaimana kamu akan bertanggung jawab? Menceraikan istrimu dan menyakiti puterimu?" Nada Naomi meninggi dan terdengar tegas. "Kamu memiliki keluarga, aku memiliki Leon," Naomi mengingatkan.

"Yang kita lakukan memang kesalahan, tapi aku tidak menyesalinya"

Naomi menghela nafas begitu keras hingga mungkin lelaki itu mendengarnya. Naomi tidak menyangka akan mendengar itu darinya. Naomi tahu bahwa lelaki di hadapannya ini sangat mencintainya begitu pula dirinya. Tapi, mereka masing memiliki pasangan. 

***

Naomi melangkahkan kaki ke dalam lobi. Jantungnya berdegup kencang. Hari ini adalah hari pertama bekerja di perusahaan impiannya. Aroma kopi dan kertas baru menyambutnya, berpadu dengan bisikan-bisikan samar yang membuatnya merasa gugup.

Keluar dari ruang HRD, Naomi diminta untuk mengikuti seorang yang sebelumnya disebut Team Leader. Mereka menyusuri lorong dan masuk ke ruangan yang bagian depannya tertulis DIVISI PENJUALAN. Naomi melangkah masuk, seketika ia merasa ditarik ke pusaran energi yang berbeda.

Dinding-dindingnya seperti kanvas hidup, dihiasi sticky notes warna-warni membentuk mozaik tak beraturan. Mind maps yang digambar dengan panah-panah tak terduga. Ada potongan-potongan mood board yang ditempel beberapa produk, diagram entah apa itu, bahkan coretan pena yang terkesan tak sengaja. Dia akan mengetahui maksud semua ini nanti ketika dia sudah terjun ke dalamnya.

Meja-meja tidak beraturan, mencerminkan kepribadian para penghuninya. Ada yang mengiasnya dengan cantik, ada yang menatanya dengan rapi, ada pula yang berantakan dengan tumpukan lembaran-lembaran kertas.

"Baik, semuanya! Perkenalkan ini anggota kita yang baru namanya Naomi. Mulai hari ini menjadi bagian dari kita. Jadi, bantu dia jika ada kendala." ujar pria yang di tanda pengenalnya tertulis Herman.

Naomi melemparkan senyumnya kepada para penghuni ruangan.

"Halo, perkenalkan saya Naomi. Mohon bimbingannya."

"Selamat bergabung" ujar seorang wanita.

"Kamu tidak tepat bergabung sekarang, tapi semoga beruntung" celetuk salah seorang pria yang tampak sibuk dengan kertas-kertasnya.

Naomi mengangkat alisnya heran, tanpa mengubah senyumnya. Mengapa dia bicara seperti itu? Tanya Naomi dalam hati.

"Naomi, di situ meja kamu" Herman menunjukkan salah satu meja yang bersih. Hanya ada set komputer terlihat.

Naomi menoleh pada Herman dan memberikan senyumnya, "Terima kasih".

Naomi melangkah ke mejanya dengan semangat. Ini miliknya, dia bisa menghias meja ini semaunya. Naomi lalu duduk di kursinya lalu meraba meja untuk mengagumi.

"Aku Killa." Suaranya membuat Naomi menoleh.

"Meski keadaan sekarang nggak bagus, tapi kita tetap harus berusaha," ujarnya.

"Sepertinya sesuatu yang buruk sedang terjadi. Ada apa?" Tanya Naomi.

"Pemimpin kantor terkena kasus korupsi. Ada perpecahan kubu dalam penunjukkan pengganti pemimpin."

"Ahh.." Naomi menganggukkan kepala. Dia akhirnya mengerti sekarang apa yang terjadi.

"Tapi itu biarlah menjadi urusan para petinggi. Kita fokus saja bekerja. Bilang saja padaku kalau kamu butuh bantuan."

"Terima kasih"

***

Ketika jam makan istirahat, Killa mengajak Naomi untuk makan di kantin kantor. Tapi, dia menolak halus karena dia ingin melihat sekeliling kantor. Putri yang mendengar itu pun menghampiri dan menawarkan diri untuk mengajak berkeliling. Tia yang menedengar pun ikut bergabung. Tentu saja Naomi menyambut mereka.

Mereka pergi ke luar kantor dan berbelok ke kiri bagian luar kantor.

"Kita ke sini sebentar untuk membeli minum dan camilan. Aku sarankan kamu membeli cheese cake di sini. Soalnya enak banget," ujar Tia menekankan kata enak dengan penuh semangat.

"Oh ya? Kebetulan aku suka cheese cake" mata Naomi mulai membelalak karena dia mendengar sesuatu yang disuka.

"Tapi siap-siap kantongmu jebol kalau beli setiap hari." Ujar Putri sambil terkikih.

Mereka melewati pintu kaca. Aroma manis menyeruak, perpaduan aroma kopi dan kue. Suara alunan lagu pun terdengar ke penjuru ruangan. 

Putri menarik lengan Naomi ke arah konter, membuat tubuhnya sedikit tersentak. Tia sudah memesan apa yang dia inginkan. Putri memandang papan menu di belakang barista. Naomi pun ikut menyapukan pandangan ke arah menu.

Dia selalu melewatkan menu bagian kopi. Naomi tidak kuat meminum kopi. Kepalanya akan menjadi pusing ketika dia mengkonsumsi kafein yang tinggi. Untuk itu, dia selalu memilih teh atau matcha.

"Matcha Frappuccino satu" Pesan Naomi.

"Kamu ingin membeli cheese cake juga?" Tanya Tia yang telah bergeser ke etalase kue.

"Ya, aku ingin mencobanya." 

"Cheese cake tiga" pinta Tia.

Lonceng di pintu berbunyi. Hampir setiap orang di sana menoleh ke arah sumber suara. Seorang pria memegang ponsel di telinga. Entah apa yang dia bicarakan, tapi terdengar sangat marah. Dia melangkah kearah Naomi dan yang lain. Naomi pun bergeser agar pria tersebut bisa memesan.

Naomi memandangi pria itu dari samping. Cukup tinggi karena Naomi yang memakai heels hanya sebahunya. Brewok tipisnya terkesan seperti campuran Arab. Muka asing tapi familiar. Apakah pernah bertemu sebelumnya? Tanyanya dalam hati.

"Ingin makan di sini atau di kantor?" Tanya Tia.

"Di sini saja. Kita ke situ sambil gosip." Tunjuk Putri ke arah salah satu kursi di dekat kaca.

"Ayo Naomi!" Ajak Tia.

Pria tersebut sempat menoleh ketika nama Naomi dipanggil.

"Ya!"

Putri sedikit menyeret Naomi, permintaan segera duduk. Mereka berdua mendekatkan kepala seolah ada yang ingin dikatakan secara rahasia. Naomi pun bergerak melakukan hal yang sama.

"Pria itu, aku dengar dia baru naik pangkat di divisi lain. Gosipnya, dia anak titipan." Putri sedikit berbisik.

Naomi pun melihat ke arah pria itu lagi.

"Siapa namanya?" Tanya Naomi penasaran.

"Rahaal. Nama belakangnya Rianon."

Naomi terlihat mengangguk sambil menyuap cheese cake. Sebenarnya itu bukan nama asing di dunia bisnis. Beberapa perusahaan besar dipimpin seseorang bernama Rianon.

Ponsel Naomi bergetar. Dia melirik sedikit ke layar ponsel. Sebuah pesan yang menautkan link. Naomi menyentuh link itu lalu diarahkan ke sebuah web. Undangan konferensi dan seminar. Tertulis Sabtu siang. Dia pun keluar dari web itu dan kembali ke pesan.

Acara ini cocok untukmu belajar. Aku sudah mendaftarkan namamu. Jadi, berangkatlah.

Naomi lalu menatap kepada dua temannya.

"Ada seminar dari perusahaan Eco Flavor. Apakah kalian ikut?"

"Kami tidak pernah ikut acara seperti itu. Lebih baik istirahat di rumah." Ujar Putri.

"Aku juga. Hari libur itu untuk healing." Tambah Tia.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Bilur Bulir Bertaut   Kemarahan yang Mereda

    Mobil Mareeq akhirnya kembali memasuki area apartemen. Naomi merasa napasnya sudah jauh lebih stabil. Tidak tenang sepenuhnya, tapi cukup untuk menghadapi apa pun yang menunggu di atas.“Naiklah,” kata Mareeq saat mobil berhenti.Naomi membuka sabuk pengaman. “Terima kasih.”Mareeq menoleh singkat. “Kalau kamu butuh kabur lagi, turun saja ke parkiran.”Naomi tersenyum tipis. “Aku tidak akan kabur.”"Naomi.."Tatapan mereka masih bertautan."Kamu tahu aku akan selalu ada untukmu."Naomi hanya membalas dengan senyuman, lalu menutup pintu.Apartemen gelap sebagian ketika ia masuk. Hanya lampu dapur yang menyala. Leon berdiri di dekat dapur, menuang air minum ke gelas. Ia menoleh saat mendengar pintu terbuka.“Kamu ke mana?” tanyanya santai. “Aku pikir kamu sudah tidur.”Naomi melepas sepatu perlahan, lalu meletakkan tas plastik berisi mie

  • Bilur Bulir Bertaut   Hening yang Menghibur

    “Pertanyaan yang sama.” ujar Mareeq bercanda.“Aku tinggal di sini.” jawab Naomi.“Aku tahu.” Mareeq mengatakan dengan nada datar.“Lalu kamu?”Mareeq mengangkat bahu kecil. “Kebetulan lewat.”Naomi menatapnya datar. “Tidak ada orang yang parkir di apartemen orang lain hanya karena kebetulan lewat.”Naomi tahu ia bohong. Dan Mareeq tahu Naomi tahu. Keheningan menggantung beberapa saat di parkiran yang sepi.Mareeq tidak ingin menjawab. Dia tersenyum, lalu Mareeq membuka kunci pintu penumpang dari dalam. Klik."Masuklah." pintanya.Naomi menatap Mareeq beberapa detik sebelum akhirnya membuka pintu penumpang dan masuk ke dalam mobil. Kantong plastik ia letakkan di pangkuan dengan gerakan sedikit kesal.Pintu tertutup. Suasana di dalam mobil langsung berbeda dari parkiran yang dingin dan sunyi. Kabin itu hangat, samar beraroma parfum Mareeq dan k

  • Bilur Bulir Bertaut   Hari Libur yang Gerah

    Hari Sabtu datang dengan suasana yang lebih pelan. Naomi masih mengenakan pakaian rumah ketika Leon bersiap keluar dari apartemen. Pria itu berdiri di depan cermin sambil merapikan rambut dan menyemprotkan parfum secukupnya.“Kamu mau keluar?” tanya Naomi dari sofa sambil membalik halaman majalah yang sebenarnya tidak ia baca.Leon menoleh. “Iya. Ada janji dengan teman kantor satu tim.”Naomi mengangguk singkat. “Maya?”Leon tertawa kecil. “Interogasi?”“Pertanyaan biasa.”“Ada. Bersama anak-anak lain dari timku.”Naomi menatapnya sebentar, lalu kembali ke majalah. “Oh.”Leon mengambil dompet dan kunci mobil. “Aku mungkin pulang agak malam.”“Hmm.”Ia berjalan mendekat, menunduk sedikit untuk mencium puncak kepala Naomi sebelum pergi.“Jangan lupa makan siang.”Naomi hanya bergumam.

  • Bilur Bulir Bertaut   Kebiasaan

    Naomi menatap Mareeq. Dadanya sesak oleh hal yang bahkan tidak boleh ia akui. Ia menyukai cara pria itu bicara padanya. Menyukai rumah yang baru saja dibangun dari kata-kata. Menyukai kenyamanan yang seharusnya tidak ada. Tapi semuanya berbahaya.“Kita seharusnya pulang,” katanya pelan.Mareeq masih menatapnya beberapa saat sebelum mengangguk. “Baik.”Ia menyalakan mesin mobil. Suara mesin memenuhi ruang yang terlalu sunyi. Namun sebelum mulai menjalankan mobil, Mareeq berkata tanpa menoleh.“Kalau suatu hari hidup berubah…”Naomi menegang.“…aku tetap ingin tahu apa yang akan kamu tambahkan di rumah itu.”Naomi tidak menjawab. Ia hanya menatap keluar jendela sepanjang perjalanan pulang. Sementara di kepalanya, sebuah rumah di Turki perlahan berdiri, lengkap dengan ruang kosong yang tadi sengaja ia tolak isi.Perjalanan pulang dipenuhi keheningan yang tidak nyaman, t

  • Bilur Bulir Bertaut   Rumah Impian

    Setelah pesanan selesai, mereka kembali ke mobil. Mareeq meletakkan kedua gelas di cup holder tengah lalu menyalakan mesin pendingin. Di luar, jalanan sore mulai ramai. Di dalam mobil, suasananya tenang dan tertutup dari hiruk-pikuk kota.Naomi menatap dua gelas itu lama. Americano hitam dengan aroma pahit yang akrab. Matcha latte berwarna hijau lembut.Mareeq mengambil cup americano, lalu mendorongnya sedikit ke arah Naomi.“Cobalah.”Naomi menatapnya ragu. Dia tahu Mareeq suka americano, tapi dia ingin mencoba menyukai americano juga. Naomi mengambil cup itu ragu.Setelah menerima cup americano itu, Mareeq mengambil matcha dari dasbor. Dia tanpa ragu menyeruputnya tanpa ekspresi.Naomi memperhatikan dengan seksama. “Bagaimana?”“Seperti minum rumput.”Naomi tertawa kecil tanpa bisa ditahan. Kemudian dia menatap gelas americano itu seperti sedang menantang musuh lama. Kini gilirannya mencoba

  • Bilur Bulir Bertaut   Selera yang Sama

    Suasana kantor berjalan seperti biasa. Cepat, rapi, dan penuh suara notifikasi yang datang bergantian. Naomi baru saja meregangkan badannya setelah fokus pada pekerjaan. Pandangannya tanpa sadar bergeser ke arah ruangan kecil di sudut area kerja mereka. Ruangan Mareeq.Pintunya tertutup. Naomi sudah tahu tidak akan ada orang di dalamnya. Kemarin dia mengatakan Freya dan Raya akan kembali ke Turki hari ini, jadi sudah pasti Mareeq akan mengantarnya ke bandara.Naomi menatap beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, lalu memalingkan wajah dan melanjutkan fokus pada komputernya. Claudia datang sambil membawa map dan secangkir kopi. Ia berhenti di dekat meja Naomi, lalu mengikuti arah pandangan Naomi yang sempat kembali melirik ke sudut ruangan.“Kamu mencari Mareeq?” tanyanya santai.Naomi langsung menatap layar. “Tidak.”Claudia tersenyum kecil, seolah jawaban itu tidak penting. “Dia cuti hari ini.”Ja

  • Bilur Bulir Bertaut   Tumbler

    Pagi berikutnya, udara masih dingin setelah hujan semalam. Naomi berjalan menyusuri trotoar dengan tas kerja di bahunya. Ia tidak berniat datang ke kantor terlalu cepat hari ini. Ada satu tempat yang ingin ia datangi lebih dulu. Sebuah kafe kecil di sudut jalan yang sering ia lewati.Di de

  • Bilur Bulir Bertaut   Hadiah dari Santa

    Tiba-tiba Mareeq menyalakan lampu sein dan membelokkan mobil ke sebuah pom bensin yang masih terang di tengah malam.Naomi menoleh sedikit. “Kamu ingin beli bensin?”Mareeq menggeleng. “Kamu ingin cuci muka agar lebih segar?” Mareeq menawari.Naomi mel

  • Bilur Bulir Bertaut   Keheningan dalam Mobil

    Tak banyak percakapan di dalam mobil. Raya mengamati mata Mareeq yang terus melirik ke arah Naomi. Naomi sendiri berusaha tetap memandang ke luar jendela.Mobil akhirnya memasuki kompleks perumahan Mareeq dan Raya. Gerbang terbuka, lalu mobil berhenti di depan rumah. Mareeq mematikan mesin

  • Bilur Bulir Bertaut   Hari Penutupan

    Sore mulai turun perlahan di taman hiburan. Matahari tidak lagi seterang siang tadi, dan cahaya hangatnya membuat seluruh tempat itu terlihat lebih lembut. Lampu-lampu kecil yang tergantung di sepanjang jalan setapak satu per satu mulai menyala.Freya masih menggandeng tangan Mareeq, tanga

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status