LOGIN
"Siapa ayah anak itu?"
Naomi tidak menatap pria di hadapannya. Dia membuang muka ke arah lain dan menggigit bibirnya sendiri menahan mengatakan sepatah kata pun. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia sangat bingung. Ini di luar kendalinya.
"Tolong jawab jujur." Pintanya dengan lembut.
"Ini anakmu." Naomi mengambil nafas dan menatap lelaki itu. "Yang kita lakukan waktu itu adalah kesalahan."
"Aku akan bertanggung jawab." Dia mengatakan itu tanpa penuh keraguan sedikit pun.
"Bagaimana kamu akan bertanggung jawab? Menceraikan istrimu dan menyakiti puterimu?" Nada Naomi meninggi dan terdengar tegas. "Kamu memiliki keluarga, aku memiliki Leon," Naomi mengingatkan.
"Yang kita lakukan memang kesalahan, tapi aku tidak menyesalinya"
Naomi menghela nafas begitu keras hingga mungkin lelaki itu mendengarnya. Naomi tidak menyangka akan mendengar itu darinya. Naomi tahu bahwa lelaki di hadapannya ini sangat mencintainya begitu pula dirinya. Tapi, mereka masing memiliki pasangan.
***
Naomi melangkahkan kaki ke dalam lobi. Jantungnya berdegup kencang. Hari ini adalah hari pertama bekerja di perusahaan impiannya. Aroma kopi dan kertas baru menyambutnya, berpadu dengan bisikan-bisikan samar yang membuatnya merasa gugup.
Keluar dari ruang HRD, Naomi diminta untuk mengikuti seorang yang sebelumnya disebut Team Leader. Mereka menyusuri lorong dan masuk ke ruangan yang bagian depannya tertulis DIVISI PENJUALAN. Naomi melangkah masuk, seketika ia merasa ditarik ke pusaran energi yang berbeda.
Dinding-dindingnya seperti kanvas hidup, dihiasi sticky notes warna-warni membentuk mozaik tak beraturan. Mind maps yang digambar dengan panah-panah tak terduga. Ada potongan-potongan mood board yang ditempel beberapa produk, diagram entah apa itu, bahkan coretan pena yang terkesan tak sengaja. Dia akan mengetahui maksud semua ini nanti ketika dia sudah terjun ke dalamnya.
Meja-meja tidak beraturan, mencerminkan kepribadian para penghuninya. Ada yang mengiasnya dengan cantik, ada yang menatanya dengan rapi, ada pula yang berantakan dengan tumpukan lembaran-lembaran kertas.
"Baik, semuanya! Perkenalkan ini anggota kita yang baru namanya Naomi. Mulai hari ini menjadi bagian dari kita. Jadi, bantu dia jika ada kendala." ujar pria yang di tanda pengenalnya tertulis Herman.
Naomi melemparkan senyumnya kepada para penghuni ruangan.
"Halo, perkenalkan saya Naomi. Mohon bimbingannya."
"Selamat bergabung" ujar seorang wanita.
"Kamu tidak tepat bergabung sekarang, tapi semoga beruntung" celetuk salah seorang pria yang tampak sibuk dengan kertas-kertasnya.
Naomi mengangkat alisnya heran, tanpa mengubah senyumnya. Mengapa dia bicara seperti itu? Tanya Naomi dalam hati.
"Naomi, di situ meja kamu" Herman menunjukkan salah satu meja yang bersih. Hanya ada set komputer terlihat.
Naomi menoleh pada Herman dan memberikan senyumnya, "Terima kasih".
Naomi melangkah ke mejanya dengan semangat. Ini miliknya, dia bisa menghias meja ini semaunya. Naomi lalu duduk di kursinya lalu meraba meja untuk mengagumi.
"Aku Killa." Suaranya membuat Naomi menoleh.
"Meski keadaan sekarang nggak bagus, tapi kita tetap harus berusaha," ujarnya.
"Sepertinya sesuatu yang buruk sedang terjadi. Ada apa?" Tanya Naomi.
"Pemimpin kantor terkena kasus korupsi. Ada perpecahan kubu dalam penunjukkan pengganti pemimpin."
"Ahh.." Naomi menganggukkan kepala. Dia akhirnya mengerti sekarang apa yang terjadi.
"Tapi itu biarlah menjadi urusan para petinggi. Kita fokus saja bekerja. Bilang saja padaku kalau kamu butuh bantuan."
"Terima kasih"
***
Ketika jam makan istirahat, Killa mengajak Naomi untuk makan di kantin kantor. Tapi, dia menolak halus karena dia ingin melihat sekeliling kantor. Putri yang mendengar itu pun menghampiri dan menawarkan diri untuk mengajak berkeliling. Tia yang menedengar pun ikut bergabung. Tentu saja Naomi menyambut mereka.
Mereka pergi ke luar kantor dan berbelok ke kiri bagian luar kantor.
"Kita ke sini sebentar untuk membeli minum dan camilan. Aku sarankan kamu membeli cheese cake di sini. Soalnya enak banget," ujar Tia menekankan kata enak dengan penuh semangat.
"Oh ya? Kebetulan aku suka cheese cake" mata Naomi mulai membelalak karena dia mendengar sesuatu yang disuka.
"Tapi siap-siap kantongmu jebol kalau beli setiap hari." Ujar Putri sambil terkikih.
Mereka melewati pintu kaca. Aroma manis menyeruak, perpaduan aroma kopi dan kue. Suara alunan lagu pun terdengar ke penjuru ruangan.
Putri menarik lengan Naomi ke arah konter, membuat tubuhnya sedikit tersentak. Tia sudah memesan apa yang dia inginkan. Putri memandang papan menu di belakang barista. Naomi pun ikut menyapukan pandangan ke arah menu.
Dia selalu melewatkan menu bagian kopi. Naomi tidak kuat meminum kopi. Kepalanya akan menjadi pusing ketika dia mengkonsumsi kafein yang tinggi. Untuk itu, dia selalu memilih teh atau matcha.
"Matcha Frappuccino satu" Pesan Naomi.
"Kamu ingin membeli cheese cake juga?" Tanya Tia yang telah bergeser ke etalase kue.
"Ya, aku ingin mencobanya."
"Cheese cake tiga" pinta Tia.
Lonceng di pintu berbunyi. Hampir setiap orang di sana menoleh ke arah sumber suara. Seorang pria memegang ponsel di telinga. Entah apa yang dia bicarakan, tapi terdengar sangat marah. Dia melangkah kearah Naomi dan yang lain. Naomi pun bergeser agar pria tersebut bisa memesan.
Naomi memandangi pria itu dari samping. Cukup tinggi karena Naomi yang memakai heels hanya sebahunya. Brewok tipisnya terkesan seperti campuran Arab. Muka asing tapi familiar. Apakah pernah bertemu sebelumnya? Tanyanya dalam hati.
"Ingin makan di sini atau di kantor?" Tanya Tia.
"Di sini saja. Kita ke situ sambil gosip." Tunjuk Putri ke arah salah satu kursi di dekat kaca.
"Ayo Naomi!" Ajak Tia.
Pria tersebut sempat menoleh ketika nama Naomi dipanggil.
"Ya!"
Putri sedikit menyeret Naomi, permintaan segera duduk. Mereka berdua mendekatkan kepala seolah ada yang ingin dikatakan secara rahasia. Naomi pun bergerak melakukan hal yang sama.
"Pria itu, aku dengar dia baru naik pangkat di divisi lain. Gosipnya, dia anak titipan." Putri sedikit berbisik.
Naomi pun melihat ke arah pria itu lagi.
"Siapa namanya?" Tanya Naomi penasaran.
"Rahaal. Nama belakangnya Rianon."
Naomi terlihat mengangguk sambil menyuap cheese cake. Sebenarnya itu bukan nama asing di dunia bisnis. Beberapa perusahaan besar dipimpin seseorang bernama Rianon.
Ponsel Naomi bergetar. Dia melirik sedikit ke layar ponsel. Sebuah pesan yang menautkan link. Naomi menyentuh link itu lalu diarahkan ke sebuah web. Undangan konferensi dan seminar. Tertulis Sabtu siang. Dia pun keluar dari web itu dan kembali ke pesan.
Acara ini cocok untukmu belajar. Aku sudah mendaftarkan namamu. Jadi, berangkatlah.
Naomi lalu menatap kepada dua temannya.
"Ada seminar dari perusahaan Eco Flavor. Apakah kalian ikut?"
"Kami tidak pernah ikut acara seperti itu. Lebih baik istirahat di rumah." Ujar Putri.
"Aku juga. Hari libur itu untuk healing." Tambah Tia.
Beberapa detik berlalu, akhirnya Mareeq menghela napas panjang dan menyerah. Dia meminggirkan mobilnya di tepi jalan. Dia benar-benar gila menuruti kata-kata istrinya yang tidak masuk akal.Raya menatap ke luar jendela. Sebuah taksi berhenti di depan mobil mereka. Raya lalu menoleh pada Mareeq."Taksi sudah datang. Kamu bisa mengantar Naomi pulang." ujar Raya kemudian.Mareeq masih duduk di tempatnya beberapa detik, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata itu tidak pernah benar-benar keluar. “Aku akan menghubungimu nanti,” katanya akhirnya.Raya hanya mengangguk kecil. Dia lalu keluar dari mobil dan berjalan menuju taksinya. Mareeq masih terdiam di sana, memastikan bahwa itu benar-benar taksi yang Raya pesan.Raya masuk ke taksi dan duduk. Dia tertegun dengan apa yang dilakukannya. Dia menatap ke belakang, ke arah mobil Mareeq."Sesuai dengan aplikasi?" tanya sopir."Iya, pak.""Kita berangkat." ujarnya.
"Kalau begitu, hati-hati, Naomi. Aku harap kamu datang besok." ujar Raya, lalu melangkah ke tempat mobil meninggalkan Mareeq dan Naomi. Raya tahu Mareeq akan berbicara sebentar sebelum berpisah."Sampai jumpa." Naomi tersenyum, memerhatikan Raya yang menjauh."Apa kamu baik-baik saja?" tanya Mareeq.Naomi menatap Mareeq. Dia memberikan senyuman paling tulus. "Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir.""Kamu akan datang besok?" Mareeq masih tidak bisa melepaskan rasa khawatirnya."Kamu bertanya lagi?"Mareeq terdiam, menatap Naomi dengan tatapan yang sarat akan rasa bersalah sekaligus kekaguman. Di bawah sinar matahari yang masih terik, senyum tulus Naomi justru terasa seperti sembilu yang mengiris hatinya. Ia tahu, di balik kata "tidak apa-apa" itu, ada beban mental yang luar biasa berat yang baru saja dipikul Naomi sendirian di depan istrinya.Naomi tertawa kecil, sebuah tawa hambar yang tidak mencapai matanya. "Jangan merasa khawatir. Sem
"Aku juga banyak dengar tentang kalian dari Claudia," ujar Naomi."Ya. Kami menjadi berteman ketika Mareeq mengenalkan kami ketika perjalanan bisnis ke Turki. Dia sangat ramah dan menyenangkan. Hampir setiap hari kami berkirim pesan. Dia sudah seperti CCTV yang menyanpaikan apapun yang Mareeq lakukan." puji Raya.Nama Turki yang disebut Raya seketika memicu dentum di dada Naomi. Ada sedikit rasa cemburu di dalam hati Naomi. Dulu memang Mareeq lebih sering membawa Claudia dalam perjalanan bisnis. Naomi selalu mengira itu murni urusan pekerjaan, namun mendengar Mareeq mengajaknya bertemu dengan keluarganya membuat Naomi selangkah di belakang Claudia.Naomi mengalihkan pembicaraan ke arah lain. Dia tidak ingin suasana semakin canggung. Naomi memeras otaknya untuk mencari pembicaraan yang lebih hangat dan ceria.Tawa di meja makan itu berhenti ketika Raya mendapatkan sebuah panggilan. Dia melihat ke layar ponselnya sambil tersenyum. Kemudian dia menatap ke ar
"Mareeq mungkin juga sama. Dia tidak akan mengingat hal kecil," jawab Naomi, mencoba memberikan senyum paling profesional yang ia miliki. "Cheese cake dan matcha, Mareeq ingat karena aku sering memesannya setiap hari. Tidak lebih dari itu."Raya manggut-manggut. Namun kilatan di matanya mengatakan bahwa ia tidak mempercayai sepenuhnya penjelasan Naomi. "Ahh... tentu saja."Raya mengambil tiramisu dan menikmati suapan pertama. Dia memejamkan mata sejenak seolah sedang menikmati kemenangan kecil."Aku dengar kamu sudah punya pacar, Naomi?" ujar Raya tiba-tiba.Denting sendok perak Raya yang menyentuh piring porselen terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan Naomi. Pertanyaan itu meluncur begitu mulus, hampir tanpa beban. Namun dampaknya membuat Naomi merasa seolah gravitasi di ruangan itu mendadak hilang.Naomi melirik Mareeq. Pria itu nyaris tersedak air putihnya sendiri. Wajah Mareeq berubah dari kaku menjadi pucat pasi. Sebuah reaksi yang
Pertanyaan itu terdengar seperti pujian, namun bagi Naomi, itu adalah ujian paling berat. Ia bisa merasakan keringat dingin mulai muncul di tengkuknya.Naomi hanya menanggapi dengan senyuman. Naomi melirik ke arah Mareeq. Pria itu hanya diam dan fokus pada makanannya. Tapi tak berapa lama, Mareeq melihat tatapan Naomi yang seolah meminta bantuan.Mareeq berdehem keras, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Aku sudah memesan dessert untuk kalian.""Benarkah? Apakah kamu memesan kesukaanku?" tanya Raya pada Mareq."Hmm." gumam Mareeq sambil mengangguk."Apa yang kamu pesan? Kamu sering lupa apa yang aku suka." gerutu Raya dengan canda. "Dia hanya mengingat segala hal tentang Freya." ujarnya menatap ke arah Naomi.Nama anak itu disebut, dan seketika atmosfir di ruangan itu berubah bagi Naomi. Freya. Nama yang selama ini hanya ia dengar sekilas dari keluhan Mareeq tentang rindu, kini mewujud dalam kalimat santai seorang istri yang sedang mengolok su
Cahaya matahari Sabtu pagi yang biasanya menenangkan kini terasa menyengat di mata Naomi. Ia masih bergelung di bawah selimut, menikmati aroma kopi yang sedang diseduh Leon di dapur, sampai getaran ponsel di atas nakas menghancurkan ketenangannya. Nama Mareeq berkedip di layar."Ya, Mareeq?" jawab Naomi dengan suara serak khas bangun tidur."Naomi..." Suara Mareeq terdengar ragu, ada kebisingan latar belakang yang terdengar seperti suara tawa anak kecil dan seorang wanita yang bercanda. "Raya bilang ingin bertemu dengamu. Dia ingin mengajakmu makan siang hari ini."Naomi terduduk tegak seketika. Jantungnya berdegup kencang. "Bertemu aku? Untuk apa?""Dia ingin tahu siapa orang yang aku cinta," Mareeq menghela napas panjang. "Jika kamu menolak, aku akan mencarikan alasan. Aku tidak ingin membebanimu."Naomi terdiam, lidahnya kelu. Bagaimana bisa Mareeq dengan mudah mengatakan bahwa dirinya orang yang dia cinta pada istrinya. Bertemu Raya adalah hal







