로그인Pertanyaan itu terdengar seperti pujian, namun bagi Naomi, itu adalah ujian paling berat. Ia bisa merasakan keringat dingin mulai muncul di tengkuknya.
Naomi hanya menanggapi dengan senyuman. Naomi melirik ke arah Mareeq. Pria itu hanya diam dan fokus pada makanannya. Tapi tak berapa lama, Mareeq melihat tatapan Naomi yang seolah meminta bantuan.
Mareeq berdehem keras, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Aku sudah memesan dessert untuk kalian."
"Benarkah? Apakah kamu memesa
Pukul sembilan pagi, divisi pemasaran sudah seperti pasar pagi yang dikasih WiFi . Rame, berisik, dan semua orang pura-pura sibuk saat atasan lewat. Naomi melihat sebuah undangan di atas mejanya. Dia membaca sekilas. Undangan pernikahan Fadlan.Naomi baru saja duduk sambil menyalakan komputer ketika Claudia berdiri dramatis di tengah ruangan.“Teman-teman!” katanya sambil tepuk tangan sekali. “Kita harus kasih hadiah nikahan yang bagus buat Fadlan.”Fadlan yang duduk di pojok langsung nyengir malu-malu sambil memeluk map presentasi seperti pengantin pria versi korporat.“Iya dong,” sahut Rio. “Masa cuma kasih amplop isi doa.”“Doa juga penting,” bela Fadlan.“Kalau doa doang, nikahnya di grup WhatsApp aja,” jawab Claudia cepat.Ruangan pecah ketawa. Claudia lalu menoleh ke arah Naomi.“Karena Naomi paling ngerti barang lucu dan estetik, kita transfer
Malam itu apartemen terasa sangat sunyi. Pintu kamar tertutup rapat sejak Naomi masuk tanpa mengatakan apa pun lagi. Sementara di ruang tengah, Leon duduk diam di sofa sambil menatap layar ponselnya yang gelap.Pertengkaran mereka masih terngiang jelas di kepalanya.“Kakakmu lagi! Keluargamu lagi!”Leon mengusap wajahnya pelan. Ia tahu kata-katanya keterlaluan. Tapi setiap kali emosi menguasainya, ia selalu mengatakan hal-hal paling tajam kepada Naomi. Dan anehnya, setelah semua itu selesai, rasa bersalah selalu datang terlambat.Sekitar satu jam kemudian, Leon akhirnya berdiri dan berjalan ke dapur. Ia membuka kulkas, mengambil beberapa bahan makanan, lalu mulai memasak dalam diam.Ini selalu seperti siklus yang berulang. Mereka bertengkar. Leon melukai Naomi dengan kata-kata. Naomi menangis atau menghindar. Lalu Leon berubah menjadi lembut seolah ingin menghapus semuanya. Dan Naomi… selalu luluh pada sisi lembut itu.Sua
Naomi akhirnya tersenyum kecil meski matanya terlihat lelah. “Aku berencana memeras kakakku hari ini.”Kalimat itu terdengar seperti candaan yang meyakinkan Mareeq untuk tidak khawatir."Aku akan mengantarmu." ujar Mareeq.Naomi menahan lengan Mareeq. Naomi langsung menggeleng. “Nggak usah.”“Aku cuma antar sampai depan.”“Mareeq.”Nada suara Naomi melembut, tapi justru terdengar lebih serius. Naomi lalu menatap Mareeq lembut.“Tidak ada yang tahu kakakku.”Mareeq sedikit mengernyit sebelum akhirnya memahami maksud Naomi. Di luar sana masih ada Flora dan Claudia. Dan jika Vino datang menjemput sekarang, kemungkinan besar mereka akan melihat Naomi pergi bersama kakaknya.“Bisakah kamu memastikan mereka tidak melihat kakakku?” pinta Naomi pelan.Mareeq diam. Sebentulnya Naomi tidak peduli Flora atau pun Claudia melihat kakaknya. Itu hanya alasan.
"Kita bisa memesan makanan ke sini." ujar Mareeq.Mareeq melihat ke arah pantai. Claudia dan Flora mendapatkan teman bermain voli dan terlihat lebih bersemangat bermain."Sepertinya mereka masih lama bermain."Naomi melihat ke arah yang dimaksud Mareeq. Ada beberapa orang yang bergabung dan terlihat menyenangkan."Aku setuju." jawab Naomi. "Kalau begitu aku akan pesan makanan."Mareeq refleks. “Aku ikut.”Naomi menoleh sebentar. “Kamu tidak akan membiarkanku sendiri?”"Aku akan memastikan kamu tidak memesan udang."Jawaban dari Mareeq membuat Naomi hanya menggeleng kecil. Mereka lalu berjalan menuju restoran. Berjalan beriringan melewati pasir yang masih lembut dan sedikit basah. Angin pantai meniup rambut Naomi berulang kali hingga menutupi wajahnya.Gadis itu sibuk menyingkirkan rambutnya saat kakinya tiba-tiba tersangkut sedikit pada permukaan pasir yang tidak rata. Tubuhnya limbung ke depan. B
Claudia bicara lebih pelan. “Terima kasih sudah datang semalam.”Mareeq tidak langsung menjawab. Ada jeda sebentar seolah dia lebih fokus ke arah lain.“Kamu tidak perlu memikirkan itu.”Claudia tersenyum kecil hambar. “Aku sangat lega kamu tetap datang.”Tatapannya turun ke dress yang ia pakai pagi itu. Dress santai berwarna lembut yang nyaman dan jauh berbeda dari pakaian pestanya semalam.“Dan… terima kasih untuk ini juga.”Mareeq mengikuti arah pandangnya. Lalu berkata tenang, “Naomi yang membelinya.”Claudia terdiam.“Dia yang ingin membelikan untukmu. Aku cuma bayar.”Kalimat itu sederhana. Namun Claudia langsung menangkap maksudnya. Mareeq sengaja. Sengaja ingin Claudia tahu bahwa perhatian itu datang dari Naomi. Anehnya itu membuat dada Claudia terasa sesak.Claudia tersenyum kecil, tapi senyumnya tidak benar-benar sampai ke mat
"Tunggu, tunggu ..." sela Flora. "Jangan bilang Leon pergi dengan Maya?" tebak FLora."Aku menduga seperti itu." ujar Naomi lesu."Aku sudah bilang kan?" ujar Flora dengan suara sedikit gemas dan kesal bercampur. "Baiklah, kamu dan Mareeq bertemu. Lalu?""Claudia menghubungi Mareeq. Lalu sampailah kami di sini." Naomi menggidikkan bahu."Aku tidak bisa bayangkan jika tidak ada kamu apa yang akan dilakukan Claudia.""Mareeq bilang ini bukan pertama kalinya.""Sudah sering?" Flora terbelalak."Aku tidak tahu.""Kalian berdua menghubungi Mareeq ketika sedang ada masalah?" gumam Flora. "Kalian seharusnya sadar bahwa Mareeq sudah memiliki anak dan istri."Flora hanya melihat Naomi terdiam."Ya, baiklah. Aku tahu kalian sangat dekat. Tapi, kamu harus hati-hati.""Kenapa?""Aku merasa perasaan Mareeq padamu lebih dari seorang sahabat." ujar Flora mengambil makanan di meja."Kalau pun itu benar. Aku b
Suasana di ruang rapat terasa dingin, meskipun pendingin ruangan sudah disetel ke suhu normal. Di ujung meja, Rahaal duduk dengan wibawa yang tak tergoyahkan, sementara kursi di sampingnya, yang seharusnya ditempati Mareeq, kosong melompong karena yang bersangkutan masih berada di luar negeri.
Setelah pertemuan yang memalukan di ruangan itu, Naomi sebisa mungkin menarik diri. Selama Mareeq masih cuti dan tidak ada di kantor, Naomi seolah memiliki misi rahasia: menghindari Rahaal. Ia selalu mencari jalan memutar jika melihat sosok Rahaal dari kejauhan, melewatkan jam makan siang yang bi
Sebuah kabar sampai ke telinga Naomi seperti bisikan beracun. Seorang teman setim Leon menghampirinya. Dia mengatakan bahwa Leon baru saja didepak secara sepihak dari proyek yang dipimpin oleh Rahaal.Sepanjang jalan pulang, pikiran Naomi berkecamuk. Ia tahu ada ketegangan dingin antara Ra
"Aku pikir Rahaal hanya berusaha melindungi rumah tangga saudaranya. Dia tidak sedang menjahatimu, dia hanya melakukan apa yang harus dilakukan." ucap Killa, suaranya tenang namun tajam.Kata-kata Killa menghujam tepat di titik yang selama ini Naomi coba abaikan. Di hadapan kejujuran Killa







