Share

Awal Pertemuan

Author: NaoMiura
last update publish date: 2025-11-07 20:00:41

Usai dari kafe. Naomi berpisah dengan kedua rekannya karena ingin ke toilet terdekat. Begitu melewati lorong, Naomi melihat vending mechine berisi produk minuman dari perusahaan. Dia melihat ada beberapa varian baru. Naomi mengamati dengan serius beberapa varian baru itu.

"Aku suka matcha, tapi baru saja minum matcha. Mau coba caramel macchiatto tapi aku tidak bisa minum kopi yang strong. Apa yang harus kupilih?" Gumamnya.

Naomi menyadari seseorang berdiri di sebelahnya. Dia pun bergeser selangkah agar orang itu bisa menggunakan vending mechine. Karena Naomi tidak bisa memutuskan dengan cepat. Sebuah lengan lelaki terlihat memasukkan uang dan tanpa ragu memilih latte

"Caramel macchiato memiliki jumlah kafein yang lebih tinggi. Kamu bisa memilih latte jika ingin kafein yang lebih rendah," ujarnya sambil membuka kaleng minuman.

Naomi menatap pada pria tersebut. Dia butuh sedikit mendongak. Tanpa sengaja Naomi membuka mulutnya karena terkejut. Itu Rahaal. Tapi, kemudian dia menyadari apa yang telah dilakukannya.

"Ah..." Ujar Naomi setelah mengetahui fakta. "Terima kasih"

Pria itu pergi meninggalkan Naomi. Dia menghampiri seorang pria.

"Produk baru ini apakah sudah didistribusikan? Bisakah kita mengubah sedikit kemasan?" ujarnya pada orang di sampingnya.

Naomi mengamati mereka hingga menghilang dari balik tembok. "Dia cukup ramah. Beda kesan ketika pertama kali aku melihatnya." gumam Naomi sambil memilih latte.

Ketika menuju ke ruangannya, Naomi melihat teman-temannya buru-buru keluar.

"Ada apa?" Tanya Naomi.

"Kita ada meeting mendadak. Ayo cepat! Ruangan sudah dikirim ke pesan ya. Kita tunggu di sana karena kita harus persiapan dulu." Ujar Bina.

Naomi segera mengambil barangnya dari meja dan bergegas menyusul. Beruntung sekali pintu lift dalam keadaan terbuka. Dia pun segera masuk. Beberapa orang di dalam lift terlihat membawa map yang sama. Sepertinya akan ke ruang meeting yang sama.

Naomi ingat bahwa ruangan meeting akan dikirim melalui pesan. Dia pun membuka ponselnya dan melihat isi pesan. Ketika semua orang dalam lift keluar, dia bergerak ikut keluar. Tapi, ketika membaca dengan seksama, rupanya ruangan meeting ada di lantai enam. Dia menyadari bahwa dia salah mengikuti orang-orang ini.

"Naomi!" Teriak seseorang. Naomi mengenalnya, seorang teman SMA, Andre.

"Kenapa kamu di sini?" Tanyanya.

"Aku ingin ke ruang meeting tapi aku salah lantai." Jawab Naomi menahan malu.

"Oh, kami juga akan meeting sama divisi lain. Kita ke sana bareng." Andre mengajak.

Naomi melihat di belakang Andre ada seorang pria. Apakah dia rekan setim Andre? Akan ikut meeting juga? Tanyanya dalam hati. Mereka masuk ke lift yang sama. 

"Aku baru tahu kita ada di perusahaan yang sama." Andre mencoba membuka topik.

"Ini hari pertamaku. Dan aku nggak nyangka kita bertemu di sini," tukas Naomi.

"Oh, benarkah? Sebetulnya aku juga belum ada sebulan dimutasi ke sini. Kenapa kamu tidak bekerja dengan kakakmu?"

"Aku lebih suka mencari pengalaman berbeda."

"Kamu takut diawasi kakakmu yang dingin itu ya?" Goda Andre.

Naomi hanya membalas dengan senyuman. Begitu pintu lift terbuka mereka langsung menuju ke ruang meeting. Terlihat persiapan sudah selesai. Putri melambai pada Naomi agar segera duduk di dekat mereka.

Rapat dimulai dan Naomi melihat materi di depannya. Produk minuman yang ada di vending mechine tadi. Kenapa dengan produknya? Apakah ada masalah?

"Baiklah!" Rupanya rapat dipimpin oleh pria yang ada di belakang Andre tadi. Dari papan namanya tertulis, Mareeq.

Siapa dia? Manajer? Naomi melihat ke belakang pria itu, ada Rahaal. Sejak kapan Rahaal ada di situ? Batin Naomi.

"Meeting akan singkat. Aku ingin pihak R&D mengecek segera berapa gram dan berapa persen kandungan kafein dalam tiap varian minuman yang baru." Pintanya.

"Kami sudah memiliki data itu. Nanti laporan akan kami berikan." Ujar salah satu dari pihak divisi Research & Development.

"Berikan laporan ke pihak pemasaran. Aku mau mereka menambahkan informasi itu ke kemasan produk."

"Tapi, produk sudah beredar dan lebih banyak lagi yang siap untuk didistribusikan. Kita tidak bisa menarik semua produk dan menggantinya. Itu akan merugikan. Apalagi kita memberikan harga perkenalan." Protes seseorang wanita dari pihak Pemasaran yang diketahui bernama Claudia.

"Kalian harus cari cara karena tidak semua orang bisa meminum minuman yang mengandung kafein tinggi. Dengan adanya info ini pelanggan akan tahu dia bisa meminum produk kita atau tidak."

Naomi teringat kejadian di vending mechine yang tadi. Apakah rapat ini diadakan karena kejadian itu?Naomi pun melihat ke arah Rahaal. Dia melihat kebingungan Naomi yang tidak bisa meminum minunaman dengan kadar kafein tinggi. Wow, dia sangat jeli dengan hal kecil.

"Bagian produksi akan segera mengganti kemasan yang baru. Tapi, bagaimana jika produk yang sudah dan siap edar tetap didistribusikan menggunakan kemasan lama?" Usul Claudia.

"Bagaimana jika yang sudah beredar kita biarkan. Dan yang siap edar kita repacking?" Usul Rahaal.

"Tidak bisa!" Sela seorang pria dari pihak R&D. "Repacking akan berisiko merusak produk. Jika sampai ke pelanggan dalam keadaan rusak itu akan merugikan kita." Imbuhnya.

Naomi mengangkat tangannya untuk memberi pendapat.

"Dari divisi mana?" Tanya Mareeq.

"Dia bagian dari divisi penjualan. Baru saja bergabung dengan kami," ujar Herman.

"Apa yang mau disampaikan?"

"Bagaimana jika produk yang siap edar diberi stiker tambahan. Jadi, tidak perlu repacking. Hanya saja akan sedikit merepotkan dan menambah biaya." Naomi menatap ke semua orang meminta tanggapan.

Tidak ada menyetujui ataupun menyanggah. Semua orang terlihat sedang berpikir. Rahaal yang justru menatap ke arah Naomi. Membuat Naomi gugup dan segera menghindari tatapan mata itu.

"Hmm... Itu tidak buruk." Ujar Mareeq. "Biaya juga tidak semahal jika kita pilih menarik semua produk. Kita pakai cara itu!" ujarnya dengan nada mantap.

"R&D tidak keberatan dengan solusi ini."

"Yang lain bagaimana?" Tanya Mareeq. Karena semua orang setuju maka rapat ditutup.

Tim Naomi keluar paling akhir. Semua orang terlihat lemas namun lega karena masalah telah teratasi.

"Rapat mendadak hanya karena informasi kandungan kafein," keluh Putri.

"Naomi, kamu hebat bisa berani menyampaikan pendapat. Aku bahkan nggak kepikiran mau cari solusi," kikih Tia.

"Aku dengar Rahaal itu dulunya suka kopi. Tapi sejak sakit dia membatasi minum kopi dengan kafein tinggi. Jadi, mungkin itu alasannya ada rapat ini." Tebak Putri.

"Itu pak Rahaal. Ini yang ngotot pak Mareeq. Harusnya mereka sejak awal mengatakannya. Bukan setelah produk didistribusikan," ucap Herman dengan nada kesal.

Oh, itu karena dia yang tidak bisa minum kopi. Bukan karena kejadian di vending mechine. Hampir saja dia kegeeran. Batin Naomi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bilur Bulir Bertaut   Menghindar

    “Kamu bisa menginap di rumahku.” Mareeq menawarkan.Naomi langsung menoleh. “Tidak.”“Naomi.”“Aku tidak mau merepotkanmu.” ujar Naomi kemudian.“Kamu tidak merepotkan.”Naomi menggeleng lagi. Naomi terlihat sangat kacau. Mareeq tidak memaksanya. Naomi terdiam cukup lama.“Ke apartemen kakakku saja.” ujar Naomi kemudian.Rupanya diam Naomi sedang berpikir. Untung saja dia memutuskan akan tinggal di mana. Jika tidak ada pilihan, Mareeq sebenarnya ingin menyarankan ke hotel untuk sementara.Mareeq mengangguk. “Oke.”Tidak ada pertanyaan lebih lanjut. Sepanjang perjalanan, Naomi lebih banyak diam. Ia menyandarkan kepala ke jendela sambil memandangi jalan yang perlahan berubah menjadi ramai.Ponselnya beberapa kali bergetar. Rentetan pesan dan telepon dari Leon. Pesan dari beberapa orang kantor. Namun Naomi tidak membuka satu pun.

  • Bilur Bulir Bertaut   Emotional Apnea

    Naomi tidak berhenti. Beberapa detik kemudian, ia menyadari sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan. Naomi bahkan tidak menangis, bahkan tidak marah.Mareeq masih menunggu di tempat parkir. Ia sempat melihat jam di dashboard. Tidak sampai lama. Masih sepuluh menit menunggu, tapi baginya terasa lama.Naomi muncul dari lobi, Mareeq langsung menyadari ada sesuatu yang salah. Dia berjalan cepat. Terlalu cepat. Wajahnya pucat. Langkahnya sedikit tidak stabil.Naomi langsung membuka pintu penumpang dan masuk. Dia tidak mengatakan apa pun. Bahkan ekspresinya berbeda, tidak seperti sebelum dia masuk ke apartemen. Mareeq menatapnya dengan khawatir.“Naomi, ada apa?” tanya Mareeq yang khawatir.Naomi masih diam. Napasnya pendek. Ia menatap lurus ke depan, tetapi tatapannya seperti tidak benar-benar melihat apa pun. Mareeq mengulurkan tangannya menyentuh bahunya.“Naomi.”Baru saat itu Naomi menoleh. Matanya

  • Bilur Bulir Bertaut   Kejutan

    “Dan bilang pada dia, saya berharap dia tidak mengecewakan saya.”Naomi tersenyum. “Saya yakin dia tidak akan mengecewakan Bapak.”Pak Rino kemudian pamit karena harus menemui seseorang di tempat lain. Naomi menundukkan kepala sedikit.“Terima kasih banyak, Pak Rino.”“Ya. Saya tunggu kabarnya dari Leon.”Setelah Pak Rino pergi, Naomi berdiri beberapa detik sambil melihat ke arahnya. Mareeq akhirnya berjalan mendekat.“Kamu baru saja menyelamatkan proyek Leon.”Naomi menoleh. “Aku hanya menyampaikan apa yang aku tahu.”Mareeq tersenyum tipis. “Kamu sangat yakin padanya.”Naomi terdiam sebentar."Aku juga ingin melihat Leon berhasil."Mareeq memperhatikan wajah Naomi. Ada rasa aneh dalam diri Mareeq melihat Naomi berusaha untuk orang lain. Padahal sudah sewajarnya memang Naomi membantu Leon, pacarnya.Setelah makan sia

  • Bilur Bulir Bertaut   Bantu

    Keesokan harinya, suasana kantor kembali dipenuhi kesibukan. Sejak pagi, Naomi sudah duduk di depan komputernya. Beberapa dokumen terbuka di layar, sementara tangannya sibuk mencatat poin-poin penting dari laporan yang harus diselesaikannya hari itu. Sesekali ia memeriksa email masuk, kemudian kembali fokus pada pekerjaannya.Pagi itu berjalan cukup tenang sampai sebuah pesan dari Leon masuk ke ponselnya.Leon: Hari ini aku mungkin kerja dari apartemen dulu. Ada beberapa hal yang harus diselesaikan bareng Maya.Naomi membaca pesan itu sebentar.Naomi: Oke. Jangan lupa makan.Tidak sampai satu menit, balasan masuk.Leon: Oke, Sayang. Kamu juga jangan terlalu capek.Naomi tersenyum kecil melihat jawabannya. Ia kemudian kembali bekerja.Menjelang siang setelah meeting di luar, Naomi keluar bersama Mareeq untuk makan. Mereka berjalan menuju restoran yang tidak terlalu jauh dari kantor. Mareeq membawa ponselnya sambil sesekali membi

  • Bilur Bulir Bertaut   Dokumen dan Nasi Goreng

    "Sudah." Naomi menggenggam tangan Leon. "Kamu mandi dulu." pintanya.Leon menatapnya. "Aku harus selesaikan ini. Besok harus bertemu klien lagi.""Kamu sudah terlalu lama duduk di sini." Naomi mengambil beberapa lembar dokumen dari hadapannya. "Aku akan bantu."Leon tampak ragu. Naomi tersenyum kecil, meyakinkan kekasihnya bahwa semuanya tidak harus diselesaikan malam ini. Dia tahu Leon sedang bersemangat, tapi tubuhnya butuh istirahat."Pergi mandi. Setelah itu kita lanjutkan." bujuk Naomi.Leon menatap Naomi beberapa detik. Akhirnya ia menyerah. Leon berdiri. Kemudian dia masuk ke kamar mandi.Begitu suara air terdengar, Naomi mulai memperhatikan dokumen-dokumen yang berserakan. Ia membaca satu per satu. Tidak butuh waktu lama sampai Naomi menyadari masalahnya.Bukan pekerjaannya yang terlalu sulit. Dokumen-dokumen itu hanya bercampur. Ada data klien, permintaan revisi, catatan internal, serta dokumen yang sebenarnya sudah sel

  • Bilur Bulir Bertaut   Semangat Leon

    Keesokan harinya, Naomi kembali menjalani rutinitas seperti biasa. Pagi itu, dia baru saja keluar dari ruang meeting ketika melihat dua sosok yang sudah tidak asing lagi. Leon dan Maya.Keduanya berdiri di dekat area lounge kantor sambil melihat beberapa dokumen. beberapa map terbuka di hadapan mereka, sementara beberapa lembar kertas penuh catatan tersebar di atas meja. Dari ekspresi mereka, keduanya terlihat sangat sibuk. Naomi yang awalnya hendak menghampiri akhirnya mengurungkan niat. Ia tidak ingin mengganggu.Naomi baru saja berbalik ketika Leon mengangkat wajah dan melihatnya. Tatapan mereka bertemu. Leon langsung tersenyum."Sayang." panggil Leon dengan lantang.Naomi tersenyum balik. "Hai."Leon menutup mapnya sebentar dan berjalan menghampiri Naomi. Begitu sampai di hadapannya, Leon seperti biasa mencium kening Naomi dengan lembut."Kamu terlihat sibuk." ujar Naomi.Leon mengangguk. "Kami lagi buru-buru. Kliennya mau k

  • Bilur Bulir Bertaut   Samar

    Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat."Baga

  • Bilur Bulir Bertaut   Semakin Dekat

    Naomi menghampiri teman-temannya, meninggalkan Mareeq sendirian di tempatnya. Ah! Dia lupa untuk berpamitan. Dia pun berbalik.Oh! Dia melihat ke arah Naomi. Naomi menunjukkan senyumnya, lalu menganggukkan kepala pelan dan bermakna. Sebuah ucapan tak langsung "Aku pergi dulu". Lalu segera berlalu.

  • Bilur Bulir Bertaut   Mendekat

    Naomi pergi ke acara konferensi sesuai dengan undangan yang dia terima. Sebenarnya dia malas ketika weekend harus menghadari acara kantor. Tapi, karena di rumah tidak ada siapapun, jadi dia memilih pergi.Naomi masuk ke ruangan dan menyapu pandangan ke dalam ruangan. Dia ingin tahu apakah ada orang

  • Bilur Bulir Bertaut   Tantangan Pertama

    "Siapa ayah anak itu?"Naomi tidak menatap pria di hadapannya. Dia membuang muka ke arah lain dan menggigit bibirnya sendiri menahan mengatakan sepatah kata pun. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia sangat bingung. Ini di luar kendalinya."Tolong jawab jujur." Pintanya dengan lembut."Ini anakmu.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status