Share

Bab 7

last update Huling Na-update: 2025-11-20 14:42:02

“M-men… menyentuh apa?” bisik Alya, rasa gugup membuat suaranya tercekat. Ia benar-benar tidak paham kenapa Reihan tiba-tiba menghentikannya dengan cara seperti itu.

Reihan menatapnya dengan intensitas yang membakar. Matanya menyiratkan perjuangan batin yang dalam. Rahangnya masih mengeras, dan napasnya terdengar semakin berat. Lalu menggenggam kedua tangan Alya dan menariknya untuk menjauh dari area yang sudah Alya sentuh.

“Kamu tidak perlu menggosoknya lagi,” kata Reihan, suaranya serak menahan gejolak. “Sudah saya bilang, tidak apa-apa.”

Alya menggeleng cepat, rasa bersalah membuatnya keras kepala. “Tapi, nodanya, Pak. Saya tidak mau celana Bapak kotor. Kalau tidak dibersihkan sekarang, nanti… nanti nodanya susah hilang…”

Tanpa sadar, ia kembali menunduk, dan tangannya sudah meluncur lagi ke area yang sama. Ia mengusapnya lagi, kali ini lebih fokus, berniat menghilangkan jejak kopi yang baru tumpah.

Reihan memejamkan mata, menahan erangan yang hampir lolos dari bibirnya. Gadis ini, benar-benar polos atau sengaja mengujinya.

“Alya, berhenti!” Reihan berseru pelan, tapi tegas. Ia menggenggam kembali tangan Alya, tapi kali ini ia tidak menariknya menjauh. Ia menekan telapak tangan gadis itu tepat di tengah bagian yang tadi Alya sentuh.

“Kamu ini nggak paham-paham, ya?” suara Reihan berubah parau, sangat rendah, terdengar seperti bisikan di telinga Alya. "Lihatlah ini!"

Alya sontak membeku. Matanya melebar sempurna, rasa panas menjalar dari ujung jari hingga ke seluruh wajahnya. Ia merasakan sesuatu yang keras, tegang, dan membesar di bawah telapak tangannya.

"Sekarang kamu mengerti, Alya?" tanyanya dengan suara serak.

Alya hanya mampu menatapnya dengan tatapan bingung, lalu menggeleng pelan, karena otaknya masih berusaha mencerna.

Reihan kehilangan kesabaran yang ia tahan-tahan. Gadis itu tidak tahu bahwa tindakannya yang polos itu justru seperti bensin yang disiramkan ke kobaran api.

Reihan refleks merangkul pinggang Alya dengan satu tangan, sementara tangan yang satu lagi menjangkau belakang kepala gadis itu. Ia menarik Alya semakin dekat, memutus jarak di antara mereka.

"Kalau begitu, saya akan memberitahumu." desisnya, napas hangatnya berbaur dengan napas Alya yang memburu.

Alya tidak sempat menjawab. Sebelum ia sempat memproses perkataan itu, Reihan sudah memajukan wajahnya.

Bibir Reihan langsung menyentuh bibir Alya.

Ciuman itu lembut, namun tegas. Reihan menahan Alya di tempatnya, menuntut sebuah respons yang tidak bisa diberikan oleh Alya yang masih membeku. Mata Alya terbelalak kaget. Ini adalah ciuman pertamanya, dicuri oleh pria yang baru saja resmi menjadi suaminya.

Raihan membuka mulutnya membiarkan Alya merasakan lidah hangat Reihan menyentuh bibirnya, lalu dengan lembut memintanya untuk membuka mulut.

Reihan mengencangkan rangkulan tangannya di punggung gadis itu, memeluk Alya semakin erat, mendesaknya ke dada Reihan.

Alya mulai merasa sesak, bukan karena ia tidak bisa bernapas, tapi karena sensasi yang terlalu intens. Kepalanya pening, lututnya terasa lemas. Ia tidak membalas ciuman itu, namun sentuhan lembut lidah Reihan membuatnya perlahan terbuai.

Ciuman itu berlangsung lama, hingga akhirnya Reihan melepaskan tautan bibir mereka.

Napas Alya terengah-engah, wajahnya memerah sempurna, matanya linglung, menatap Reihan tanpa berkedip. Jantungnya berdebar kencang, menabuh genderang yang membingungkan di dalam dadanya.

Reihan kembali menatapnya, bibirnya sedikit bengkak dan basah. Ia menyentuh bibir Alya yang sama-sama bengkak dengan ibu jarinya, mengusapnya perlahan, kemudian berbisik,

“Sekarang kamu sudah tahu, kan?” Reihan menatap mata Alya yang basah oleh air mata. “Kamu membangkitkan sesuatu yang tidak seharusnya kamu bangkitkan, Alya.”

Alya tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah seperti tomat matang.

Reihan menarik napas panjang, kemudian melepaskan pelukannya. Ia berdiri, lalu merapikan setelan kerjanya yang kini tampak sedikit kusut.

"Saya akan ganti celana dulu," katanya, suaranya kini kembali tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

"Dan kamu, jangan coba-coba untuk melakukan hal seperti itu lagi, Alya,” ancam Reihan, senyum tipis, penuh kuasa, terukir di sudut bibirnya.

“Kecuali kalau kamu siap bertanggung jawab penuh atas apa yang kamu lakukan di ranjang kamarmu setiap malam.”

Reihan kemudian melangkah menuju kamarnya, membiarkan Alya duduk sendiri di meja makan, dengan bibir yang masih terasa perih dan sensasi ciuman Reihan yang membekas kuat di seluruh tubuhnya. Gadis itu menunduk, menyentuh bibirnya sendiri. Entah bagaimana, sentuhan itu terasa aneh, namun, tidak sepenuhnya tidak menyenangkan.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku    bab 110

    Alya hanya terisak, membenamkan wajahnya pada bantal sofa yang sudah lembap. Kalimat Dina memang kejam, tapi Alya tahu itu benar. Mencintai Reihan adalah bentuk kesakitan yang ia pilih sendiri secara sadar."Aku tahu aku bodoh, Din," gumam Alya di balik bantal. "Tapi aku tidak bisa membencinya. Dia punya sisi lembut yang hanya aku yang tahu, meski itu jarang sekali muncul."Dina memijat pelipisnya, merasa kepalanya ikut berdenyut. Ia menyerah menghadapi keras kepalanya sahabatnya itu."Ya sudah... terserah kamu saja, Al. Capek aku kasih tahu kamu kalau ujung-ujungnya kamu balik lagi ke lubang yang sama."Di tempat lain, suasana rumah yang megah itu terasa sunyi. Reihan tiba di rumah tepat pukul setengah enam sore. Wajahnya tampak sangat lelah, guratan stres tercetak jelas di keningnya."Di mana Alya?" tanya Reihan pada Siti yang baru saja membukakan pintu untuknya.Siti tertegun menatap majikannya itu dengan alis berkerut heran. "Nyonya belum pulang, Tuan," ucap Siti jujur."Belum pul

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku    bab 109

    "Tentu saja," sahut Karin sambil menyandarkan punggung ke kursi, memutar garpunya dengan anggun."Kami tumbuh besar bersama. Aku tahu apa yang dia suka, apa yang dia benci, dan... apa yang pantas untuknya. Hubungan kami jauh lebih dalam dari sekadar apa yang bisa dipahami orang asing sepertimu."Alya merasakan denyut nyeri di kepalanya kembali hadir. Ia melirik Reihan melalui sudut matanya. Pria itu masih diam, tangannya bergerak tenang memotong daging steak di piringnya. Tidak ada bantahan, tidak ada pembelaan. Diamnya Reihan seolah membenarkan setiap kata yang keluar dari mulut Karin."Begitu ya," ucap Alya lirih, hampir seperti bisikan pada diri sendiri.Hening sejenak menyelimuti ruangan itu. Alya menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-isa harga dirinya yang tercecer. Dengan gerakan perlahan namun pasti, ia bangkit dari sofa."Kalau begitu, sebaiknya saya permisi," ucap Alya. Suaranya bergetar, namun ia berusaha sekuat tenaga agar tidak terdengar cengeng.Karin menatap A

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku    bab 108

    Alya tertidur cukup lama di sofa ruang kerja itu. Tubuhnya benar-benar kelelahan setelah semua yang terjadi hari ini.Perlahan kelopak matanya bergerak, lalu terbuka sedikit demi sedikit. Hal pertama yang ia sadari bukanlah ruangan di sekelilingnya, melainkan aroma parfum yang sangat ia kenal.Aroma itu lembut namun kuat, memenuhi indra penciumannya hingga membuat Alya sejenak terdiam. Rasanya aneh, seolah pria itu sedang berada sangat dekat dengannya. Bahkan seperti sedang memeluknya.Alya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya bangun dan duduk perlahan di sofa. Saat itulah ia menyadari sesuatu yang membuatnya tertegun.Sebuah jas abu-abu menyelimuti tubuhnya. Alya menunduk dan memegang kain jas itu dengan pelan. Ia tentu mengenali jas itu, jas milik Reihan.Entah sejak kapan pria itu menyelimutinya. Dadanya seketika terasa hangat sekaligus sedikit sesak.Alya kemudian mengangkat wajahnya dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, berharap menemukan sosok suaminya di sana. Namun

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku    bab 107

    Tiba-tiba suasana kelas yang tadinya bising oleh para mahasiswa lain mendadak senyap saat pintu ruangan terbuka dan Reihan melangkah masuk. Rahangnya masih mengeras dan aura mencekam masih menyelimutinya. Tatapan matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan dan berhenti tepat di tempat Alya duduk. Tatapan mereka sempat bertemu sesaat, namun Alya cepat-cepat memalingkan wajahnya.Selama menjelaskan materi, pikiran Reihan bercabang. Fokusnya buyar, matanya terus-menerus mencuri pandang ke arah Alya, namun wanita itu bersikap seolah suaminya tak ada di sana. Di sela-sela penjelasan, Reihan tampak sibuk dengan ponselnya, mencoba menjangkau Alya melalaui pesan singkat.Namun dari podium, ia bisa melihat Alya hanya membaca pesan-pesan itu tanpa niat sedikit pun untuk membalas.Merasa diabaikan membuat hati Reihan terasa panas. Amarah dan kecemburuan yang tadi sempat tertahan kini mendidih kembali. Ia mengetikkan pesan terakhir dengan jemari yang menegang.[Setelah ini datang ke ruanganku. Kal

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku    bab 106

    Alya mendongak dengan napas tersenggal. Di sana, Bima sudah berdiri dengan tatapan menghunus tajam ke arah mahasiswa itu.Mahasiswa itu mendecak kesal, menatap Alya sekilas sebelum akhirnya pergi tanpa berkata apa-apa, meninggalkan Alya yang masih terduduk kesakitan."Alya! Kamu nggak apa-apa?" tanya Bima dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan.Dengan sigap, Bima berlutut dan membantu Alya untuk kembali berdiri. Tangan Bima menyangga lengan Alya dengan hati-hati."Aku... aku nggak apa-apa, Kak," bisik Alya lirih, meski keringat dingin mulai tampak di dahinya.Bima tidak percaya begitu saja. Ia menatap Alya penuh selidik, menyadari ada yang salah dengan cara wanita itu mendekap perutnya.Bima mengernyit, tangannya refleks menahan Alya agar tidak kembali limbung. “Kamu yakin?” tanyanya lebih pelan, namun nadanya sarat akan kekhawatiran. “Wajah kamu pucat banget, Al. Kita ke klinik kampus sekarang, ya?"Alya mengangguk kecil, Ia mencoba menarik napas dalam-dalam untuk mengusir r

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku    bab 105

    Alya mendongak perlahan, lalu menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis. “Terima kasih,” ucapnya lirih.Namun justru senyum itu yang membuat dada Reihan terasa mencelos. Senyumnya masih sama, manis dan lembut, tapi tidak ada lagi kehangatan yang dulu selalu ia temukan di sana.Reihan melirik jam di pergelangan tangannya, lalu berkata dengan nada datar, “Habiskan makananmu. Lima menit lagi kita berangkat.”"Mas..." panggil Alya pelan, menghentikan gerakan Reihan yang hendak beranjak."Hmm?" sahut Reihan tanpa menoleh."Sebaiknya Mas tidak perlu lagi melakukan itu," lanjut Alya. Kalimatnya yang tenang justru membuat suasana di meja makan mendadak mendingin.Reihan kembali menatap wajah istrinya dengan kening berkerut dalam. "Kenapa?" tanyanya pendek."Karena Mas sudah mengatakan pada semua orang bahwa kita tidak memiliki hubungan apa pun," ucap Alya, suaranya bergetar namun matanya menatap lurus."Bukankah akan terlihat aneh jika Mas tetap mengantarku ke kampus? Jika ada yang meliha

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status