Share

bab 06

last update Last Updated: 2025-10-24 16:23:18

Langit sudah mulai gelap ketika mobil yang dikendarai Reihan akhirnya berhenti di pelataran rumah besar itu. Lampu-lampu halaman memantulkan cahaya lembut pada bangunan megah tersebut, menciptakan bayangan tenang yang kontras dengan gejolak di hati Alya.

Malam kian larut, namun Alya masih duduk termenung di tepi ranjang kamarnya. Pikirannya melayang jauh, mencoba mencerna apa yang baru saja mengguncang hidupnya. Semuanya terjadi begitu cepat, terlalu cepat, hingga kini ia bahkan masih sulit percaya bahwa statusnya telah berubah menjadi istri dari pria yang dulu hanya ia panggil “Pak Reihan” di ruang kelas.

Di tengah lamunannya, suara ketukan terdengar pelan dari balik pintu.

“Alya, saya boleh masuk?” suara Rehan terdengar dari luar, tenang namun penuh kehati-hatian.

Alya tersentak kecil. Ia menarik napas panjang sebelum menjawab pelan,

“Iya… silakan.”

Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan Reihan yang sudah berganti memakai pakaian santai. Rambutnya masih sedikit basah, beberapa helai menempel di dahinya, jelas ia baru selesai mandi. Aroma sabun segar dan wangi tubuh pria itu samar-samar mengisi ruangan.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Reihan dengan nada lembut dan penuh perhatian sambil melangkah mendekat, kemudian duduk di samping Alya.

Tubuh Alya langsung menegang. Jarak mereka terlalu dekat. Begitu dekat hingga kulit tangan mereka nyaris bersentuhan.

Alya hanya mampu mengangguk kecil. “S-saya baik-baik saja,” ucapnya gugup. Ini pertama kalinya ia berada berdua saja dengan seorang pria dewasa dalam satu ruangan, terlebih pria itu sekarang adalah suaminya.

Aroma maskulin dari tubuh Reihan menyapa indra penciumannya, membuat jantung Alya berdegup kencang. Begitu kencang hingga ia merasa detaknya hampir terdengar keluar.

Rehan menatapnya sejenak, seakan mencoba membaca kegelisahannya.

“Kalau ada yang kamu butuhkan, kasih tahu saya,” ujar Rehan lembut. “Kamu tidak perlu merasa sungkan di sini. Anggap saja rumah sendiri.”

Alya mengangguk kecil tanpa berani menatapnya.

“Baik, Pak…”

Suasana hening menyelimuti kamar sejenak. Alya menelan ludah, mencoba menenangkan debar jantung yang terus memukul dari dalam dadanya.

“Pak… Reihan…” panggilnya ragu, hampir tak terdengar.

Rehan menoleh, menatapnya langsung. “Iya?”

Alya menunduk semakin dalam, menatap jemarinya yang saling meremas gelisah.

“Saya… saya berpikir… bagaimana kalau saya bekerja di rumah Bapak,” ucapnya terbata. “Sebagai bisa bersih-bersih, memasak, dan mengurus keperluan lain… untuk mengganti uang yang sudah Bapak berikan kepada orang tua saya.”

Rehan terdiam beberapa detik sebelum menghela napas panjang.

“Alya, kamu tidak perlu sampai melakukan hal itu.”

“Tapi saya tidak enak, Pak,” Alya buru-buru menyahut. Rasa bersalah begitu jelas terasa pada nada suaranya. “Orang tua saya, mereka meminta terlalu banyak. Uang itu sangat besar. Saya tidak tenang kalau tidak membalasnya.”

Rehan menatapnya lama, seakan menimbang sesuatu dalam pikirannya. Akhirnya ia berkata pelan, “Kalau itu yang kamu inginkan, ya sudah. Tapi, jangan memaksakan dirimu kalau tidak bisa. Saya tidak mau kamu kenapa-napa di rumah ini.”

Alya menunduk dalam. “Saya mengerti, Pak…”

Rehan berdiri, hendak meninggalkan kamar. “Sekarang istirahat. Kamu sudah terlalu lelah hari ini.”

Ia baru berjalan dua langkah ketika suara Alya lembut kembali memanggilnya.

“Pak Reihan…”

Reihan menoleh. Sorot matanya menunjukkan campuran antara bingung, dan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Alya menatapnya dengan mata yang tampak lelah namun tulus.

“Terima kasih… untuk semuanya.”

Reihan terdiam sejenak, seolah ucapan itu menyentuhnya lebih dalam dari yang ia perlihatkan.Sudut bibir Reihan terangkat sedikit, membentuk senyum yang jarang ia berikan pada siapa pun.

Tanpa berkata apa pun lagi, ia mengangguk, kemudian menutup pintu perlahan, membiarkan Alya beristirahat, sementara pikirannya sendiri masih dipenuhi rasa cemas terhadap gadis itu.

***

Keesokan paginya, Alya bangun jauh lebih awal dari biasanya. Meski masih lelah secara emosional, ia memaksa dirinya bergerak. Hari ini ia harus mulai bekerja, sebagai pelayan di rumah pria yang kini sah menjadi suaminya.

Dengan cekatan ia menyapu, mengepel, merapikan ruang tamu, lalu bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan.

Ia baru saja menata hidangan di meja makan ketika suara langkah kaki terdengar.

“Sedang apa?” suara Reihan membuat Alya menoleh spontan.

Pria itu baru saja keluar dari kamarnya, sudah rapi dengan setelan kerja. kemeja biru yang disetrika sempurna, rambut tersisir rapi, dan wangi parfum maskulin menyertai setiap langkahnya. Sejenak, sorot mata Alya terperangah, Reihan selalu terlihat tampan tanpa usaha.

Reihan berjalan mendekat, menarik kursi dan duduk. Matanya menyapu hidangan yang disajikan Alya.

“Kelihatannya enak,” pujinya, tulus.

Alya menggenggam jemarinya gugup.

“Apa… apa Pak Reihan ingin saya buatkan kopi?"

Reihan tersenyum tipis.

“Boleh. Jika tidak merepotkan.”

Alya segera berbalik dan menuju kompor. Tangannya cekatan memanaskan air, berusaha menyembunyikan degup jantungnya yang tak karuan. Beberapa menit kemudian, secangkir kopi hitam mengepulkan uap hangat siap di tangannya.

“Ini kopinya, Pak...”

Namun langkahnya mendadak tersandung kaki meja. Alya terhuyung, dan kopi panas itu tumpah mengenai celana bagian paha Reihan.

“Astaga!” ucap Alya panik.

Ia segera mengambil tisu dari meja, kemudian tanpa pikir panjang langsung menunduk dan mencoba membersihkan noda kopi itu dari kaki Rehan.

“M-maaf, Pak… saya tidak hati-hati… saya benar-benar minta maaf…” ucapnya gugup sambil terus mengusap-usap celana Reihan, tak menyadari area yang sedang ia sentuh.

“Sudah, Alya. Tidak apa-apa,” ucap Reihan mencoba menghentikannya.

Namun Alya tidak mendengar. Rasa bersalah membuatnya fokus menggosok noda, tanpa sadar sentuhan tangannya mulai meluncur ke area yang tidak seharusnya.

Tubuh Reihan menegang seketika. Wajahnya memanas, rahangnya mengeras, nafasnya teratur namun terdengar berat, jelas berusaha menahan sesuatu yang tidak boleh muncul di saat seperti ini. Hingga akhirnya ia cepat-cepat mencekal pergelangan tangan Alya.

“Alya… hentikan,” suara Reihan rendah dan berat.

“Tanganmu… menyentuh sesuatu.”

Alya membeku. Nafasnya tercekat. Perlahan ia mendongak, dan mata mereka bertemu dari jarak yang sangat dekat. Hingga Alya bisa merasakan nafas hangat Reihan menyapu pipinya, membuat tubuhnya kaku seketika.

“M-men… menyentuh apa?” bisiknya gugup, hampir tak terdengar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku    bab 110

    Alya hanya terisak, membenamkan wajahnya pada bantal sofa yang sudah lembap. Kalimat Dina memang kejam, tapi Alya tahu itu benar. Mencintai Reihan adalah bentuk kesakitan yang ia pilih sendiri secara sadar."Aku tahu aku bodoh, Din," gumam Alya di balik bantal. "Tapi aku tidak bisa membencinya. Dia punya sisi lembut yang hanya aku yang tahu, meski itu jarang sekali muncul."Dina memijat pelipisnya, merasa kepalanya ikut berdenyut. Ia menyerah menghadapi keras kepalanya sahabatnya itu."Ya sudah... terserah kamu saja, Al. Capek aku kasih tahu kamu kalau ujung-ujungnya kamu balik lagi ke lubang yang sama."Di tempat lain, suasana rumah yang megah itu terasa sunyi. Reihan tiba di rumah tepat pukul setengah enam sore. Wajahnya tampak sangat lelah, guratan stres tercetak jelas di keningnya."Di mana Alya?" tanya Reihan pada Siti yang baru saja membukakan pintu untuknya.Siti tertegun menatap majikannya itu dengan alis berkerut heran. "Nyonya belum pulang, Tuan," ucap Siti jujur."Belum pul

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku    bab 109

    "Tentu saja," sahut Karin sambil menyandarkan punggung ke kursi, memutar garpunya dengan anggun."Kami tumbuh besar bersama. Aku tahu apa yang dia suka, apa yang dia benci, dan... apa yang pantas untuknya. Hubungan kami jauh lebih dalam dari sekadar apa yang bisa dipahami orang asing sepertimu."Alya merasakan denyut nyeri di kepalanya kembali hadir. Ia melirik Reihan melalui sudut matanya. Pria itu masih diam, tangannya bergerak tenang memotong daging steak di piringnya. Tidak ada bantahan, tidak ada pembelaan. Diamnya Reihan seolah membenarkan setiap kata yang keluar dari mulut Karin."Begitu ya," ucap Alya lirih, hampir seperti bisikan pada diri sendiri.Hening sejenak menyelimuti ruangan itu. Alya menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-isa harga dirinya yang tercecer. Dengan gerakan perlahan namun pasti, ia bangkit dari sofa."Kalau begitu, sebaiknya saya permisi," ucap Alya. Suaranya bergetar, namun ia berusaha sekuat tenaga agar tidak terdengar cengeng.Karin menatap A

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku    bab 108

    Alya tertidur cukup lama di sofa ruang kerja itu. Tubuhnya benar-benar kelelahan setelah semua yang terjadi hari ini.Perlahan kelopak matanya bergerak, lalu terbuka sedikit demi sedikit. Hal pertama yang ia sadari bukanlah ruangan di sekelilingnya, melainkan aroma parfum yang sangat ia kenal.Aroma itu lembut namun kuat, memenuhi indra penciumannya hingga membuat Alya sejenak terdiam. Rasanya aneh, seolah pria itu sedang berada sangat dekat dengannya. Bahkan seperti sedang memeluknya.Alya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya bangun dan duduk perlahan di sofa. Saat itulah ia menyadari sesuatu yang membuatnya tertegun.Sebuah jas abu-abu menyelimuti tubuhnya. Alya menunduk dan memegang kain jas itu dengan pelan. Ia tentu mengenali jas itu, jas milik Reihan.Entah sejak kapan pria itu menyelimutinya. Dadanya seketika terasa hangat sekaligus sedikit sesak.Alya kemudian mengangkat wajahnya dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, berharap menemukan sosok suaminya di sana. Namun

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku    bab 107

    Tiba-tiba suasana kelas yang tadinya bising oleh para mahasiswa lain mendadak senyap saat pintu ruangan terbuka dan Reihan melangkah masuk. Rahangnya masih mengeras dan aura mencekam masih menyelimutinya. Tatapan matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan dan berhenti tepat di tempat Alya duduk. Tatapan mereka sempat bertemu sesaat, namun Alya cepat-cepat memalingkan wajahnya.Selama menjelaskan materi, pikiran Reihan bercabang. Fokusnya buyar, matanya terus-menerus mencuri pandang ke arah Alya, namun wanita itu bersikap seolah suaminya tak ada di sana. Di sela-sela penjelasan, Reihan tampak sibuk dengan ponselnya, mencoba menjangkau Alya melalaui pesan singkat.Namun dari podium, ia bisa melihat Alya hanya membaca pesan-pesan itu tanpa niat sedikit pun untuk membalas.Merasa diabaikan membuat hati Reihan terasa panas. Amarah dan kecemburuan yang tadi sempat tertahan kini mendidih kembali. Ia mengetikkan pesan terakhir dengan jemari yang menegang.[Setelah ini datang ke ruanganku. Kal

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku    bab 106

    Alya mendongak dengan napas tersenggal. Di sana, Bima sudah berdiri dengan tatapan menghunus tajam ke arah mahasiswa itu.Mahasiswa itu mendecak kesal, menatap Alya sekilas sebelum akhirnya pergi tanpa berkata apa-apa, meninggalkan Alya yang masih terduduk kesakitan."Alya! Kamu nggak apa-apa?" tanya Bima dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan.Dengan sigap, Bima berlutut dan membantu Alya untuk kembali berdiri. Tangan Bima menyangga lengan Alya dengan hati-hati."Aku... aku nggak apa-apa, Kak," bisik Alya lirih, meski keringat dingin mulai tampak di dahinya.Bima tidak percaya begitu saja. Ia menatap Alya penuh selidik, menyadari ada yang salah dengan cara wanita itu mendekap perutnya.Bima mengernyit, tangannya refleks menahan Alya agar tidak kembali limbung. “Kamu yakin?” tanyanya lebih pelan, namun nadanya sarat akan kekhawatiran. “Wajah kamu pucat banget, Al. Kita ke klinik kampus sekarang, ya?"Alya mengangguk kecil, Ia mencoba menarik napas dalam-dalam untuk mengusir r

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku    bab 105

    Alya mendongak perlahan, lalu menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis. “Terima kasih,” ucapnya lirih.Namun justru senyum itu yang membuat dada Reihan terasa mencelos. Senyumnya masih sama, manis dan lembut, tapi tidak ada lagi kehangatan yang dulu selalu ia temukan di sana.Reihan melirik jam di pergelangan tangannya, lalu berkata dengan nada datar, “Habiskan makananmu. Lima menit lagi kita berangkat.”"Mas..." panggil Alya pelan, menghentikan gerakan Reihan yang hendak beranjak."Hmm?" sahut Reihan tanpa menoleh."Sebaiknya Mas tidak perlu lagi melakukan itu," lanjut Alya. Kalimatnya yang tenang justru membuat suasana di meja makan mendadak mendingin.Reihan kembali menatap wajah istrinya dengan kening berkerut dalam. "Kenapa?" tanyanya pendek."Karena Mas sudah mengatakan pada semua orang bahwa kita tidak memiliki hubungan apa pun," ucap Alya, suaranya bergetar namun matanya menatap lurus."Bukankah akan terlihat aneh jika Mas tetap mengantarku ke kampus? Jika ada yang meliha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status