LOGINAlya sempat terdiam, matanya sedikit melebar karena terkejut mendengar ucapan Reihan barusan. Ia tidak menyangka pria itu akan mengusulkan hal seperti itu.
Namun selang beberapa detik, keterkejutannya perlahan mereda. Ia mulai memikirkan ucapannya dan memang, apa yang Reihan katakan ada benarnya. Jika pernikahan itu tersebar di kampus, apalagi dengan alasan yang memalukan, hidup mereka akan semakin sulit. Alya menghela napas pelan, lalu mengangguk. “Baik… saya mengerti,” jawabnya lirih. Akhirnya, Alya kembali melangkah masuk ke kamar. Malam itu, rasanya pikirannya sangat campur aduk. Shock perkara dibegal dan hampir dilecehkan belum sepenuhnya pulih, tapi sudah harus menerima masalah baru. Alya merebahkan tubuhnya yang masih lemah di ranjang sederhana itu. Sekarang, statusnya sudah berubah menjadi istri dosennya sendiri. Apa jadinya kalau orang-orang tahu ini. Tak mau semakin pusing, Alya mulai memejamkan matanya. Berharap esok hari semua bisa lebih normal untuknya. *** Pagi itu, Alya sudah rapi dan siap untuk pulang. Lagi-lagi, ia dipinjami baju oleh Reihan. Saat ia keluar dari kamar, ia mendapati Reihan berdiri di ruang tamu, seolah sudah menunggunya. “Alya,” ucap Reihan pelan saat melihat Alya yang berjalan mendekat. “Maaf, sepertinya saya tidak bisa mengantarkanmu pulang. Saya baru saja mendapat panggilan dari kampus.” Alya terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. “Tidak apa-apa, Pak. Saya bisa pulang sendiri,” ujarnya sopan. “Saya pesankan kamu taksi,” balas Reihan cepat. Alya segera menggeleng. “Tidak usah repot-repot, Pak. Saya sudah cukup merepotkan Bapak dari kemarin.” Namun Reihan menghela napas kecil dan berkata, “Tidak apa-apa. Saya hanya khawatir kejadian semalam terulang lagi.” Alya tidak bisa membantah lagi saat Reihan memesan taksi untuknya. Setelah memastikan Alya berangkat dan aman menuju rumah, barulah Reihan bergegas pergi ke kampus. *** Usai pulang, Alya bergegas kembali ke kampus hampir setengah berlari karena hari itu dia ada beberapa mata kuliah. Begitu sampai di ruang kelas, ia memilih duduk di pojok dengan wajah tertunduk, berharap tidak ada yang memperhatikan lebam kecil di sudut bibirnya. Namun, ternyata Dina, teman Alya menyadari luka itu. “Alya … muka kamu kenapa? Kamu dipukul orang?” bisik Dina pelan, sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Alya. Alya menggelengkan kepalanya, tersenyum tipis dan berpura-pura santai. “Nggak, tadi aku jatuh terus kepentok.” “Beneran? Udah diobati belum?” tanya Dina lagi. “Udah kok,” jawab Alya singkat, meski jelas nada suaranya tidak meyakinkan. Namun, untungnya Dina percaya dengan ucapannya. Sementara itu, Reihan yang sedang mengajar beberapa kali menghentikan penjelasannya hanya karena tanpa sadar melirik ke arah Alya. Sampai Dina pun menyadari hal itu dan kembali berbisik pada Alya. “Al, Pak Reihan kok dari tadi liatin ke arah kamu ya. Ada apa sih?” bisik Dina penasaran. Alya cukup terkejut dengan ucapan itu. Ia langsung mengangkat wajahnya dan mendapati Raihan yang memang sedang memperhatikannya. Alya langsung mengalihkan pandangannya, pura-pura fokus pada catatannya. “Hmm … kayaknya karena tugasku kemarin, Din,” alibi Alya setengah berbisik. Beberapa hari yang lalu, memang ada tugas yang diberikan oleh Reihan pada kelas Alya. tentu saja ini bisa dipakai untuk beralasan. “Eh? Kamu salah kah ngerjainnya? Atau belum kamu kumpulin?” Alya menggeleng pelan. “Itu … aku telat ngumpulin. Udah ah, fokus, Din, takut Pak Reihan marah.” Dina tampak masih ingin bersuara, tapi segera mengurungkan niatnya dan kembali fokus pada penjelasan Reihan. Begitu kelas usai, Reihan melirik Alya sekilas. Sebelum ia meninggalkan kelas, ia berkata dengan tegas, “Alya, tolong ke ruangan saya.” Alya yang sedang membereskan laptopnya sempat berhenti sejenak. Ia mengerjap bingung, tak mengerti alasan dosennya memanggilnya. Namun akhirnya ia mengangguk pelan. “Baik, Pak.” Saat itu, jelas Dina yang ada di samping Alya juga terkejut dan langsung berbisik, “Al, kayaknya dia bakal marah deh karena kamu telat kumpulin. Semoga aja gak ada yang salah sih sama tugasmu biar gak makin marah.” Alya tersenyum tipis dan mengangguk pelan. “Aku pergi dulu ya.” Alya langsung bergegas berjalan ke ruang dosen, tepatnya di ruang Kepala Program Studi. Sesampainya di ruang kerja Reihan, suasana menjadi hening. Hanya suara AC yang terdengar samar. Reihan yang telah duduk di kursinya langsung menatap Alya begitu gadis itu masuk. “Kenapa wajahmu?” tanyanya langsung. Alya tersentak kecil. Nafasnya tercekat di tenggorokan. Refleks, ia menutup wajahnya dengan satu tangan. “Tidak apa-apa, Pak…” jawabnya lirih, hampir tidak terdengar. Reihan tidak puas dengan jawaban itu. Tatapannya lebih menelisik. “Semalam tidak ada luka di sudut bibirmu. Apa tadi ada yang memukulmu?” Alya terdiam. Ia menunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuan. Bibirnya bergetar namun tidak ada suara yang keluar. Ia bingung harus menjawab apa. “Orang tuamu marah?” tanya Raihan lagi, seolah tak sabar melihat diamnya Alya. Alya langsung mengangkat pandangannya. Namun, bibirnya masih tertutup rapat, hanya saja matanya menunjukkan keterkejutan. Memang benar, tadi Alya sempat berdebat kecil dengan ayahnya hingga membuatnya mendapat pukulan itu. Reihan menghela napas panjang, lalu bangkit dari kursinya. “Saya antar kamu pulang,” ucapnya mantap. “Sekalian saya akan menjelaskan semuanya pada orang tuamu.” “Tapi, Pak saya masih ada satu kelas lagi setelah ini,” cegah Alya langsung. Bagaimanapun juga, ia masih belum siap jika Reihan bertemu orang tuanya dan mengungkap status pernikahan mereka. “Kelas siapa? Nanti saya yang izinkan,” jawab Reihan cepat. “Tapi, Pak …” “Kamu bantah kepala prodi sekaligus suamimu, Alya?”Alya terdiam sejenak. Jemarinya memainkan ujung serbet di pangkuannya, tampak menimbang-nimbang sesuatu sebelum akhirnya seulas senyum tipis terbit di bibirnya. Ia mendongak dan mengangguk pelan."Baiklah, Mas. Aku setuju," ucap Alya, membuat binar lega langsung terpancar dari sepasang mata suaminya.Namun, sebelum Reihan sempat merasa lega, Alya buru-buru menambahkan, "Tapi, Mas... kalau boleh, aku punya satu permintaan. Bagaimana kalau acara pernikahan kita nanti sekalian dibarengi dengan acara syukuran tujuh bulanan anak kita?"Mendengar ide cerdas dari istrinya, senyum di wajah tampan Reihan langsung mengembang lebar."Ok... itu ide yang jauh lebih baik, Sayang. Kita buat acaranya sekalian."Setelah suasana kembali tenang, Reihan merapikan posisi duduknya lalu menunjuk makanan di atas meja.“Sekarang, mari kita lanjut makan malam kita sebelum semuanya dingin.”Alya mengangguk kecil sambil tersenyum manis.“Iya, Mas.”Dan malam itu kembali dipenuhi obrolan ringan, tawa hangat, sert
"Terima kasih, Mas," ucap Alya lirih, suaranya masih terdengar serak. "Terima kasih karena selalu membuatku merasa berharga."Reihan tersenyum hangat, mengusap sisa ujung matanya yang basah. "Iya, Sayang. Karena ini memang sudah menjadi tugasku sebagai suamimu."Pria itu kemudian bangkit dari posisi berlututnya. "Sekarang, jangan menangis lagi, ya. Mas menyiapkan semua ini untuk membuatmu bahagia, bukan untuk membuatmu menangis," bujuk Reihan lembut.Tanpa banyak bicara lagi, Reihan mengambil kalung berlian itu dari dalam kotak beludru, lalu berdiri di belakang Alya. Dengan gerakan hati-hati, ia memasangkan kalung tersebut di leher sang istri."Kalung ini terlihat jauh lebih indah karena kamu yang memakainya." ucap Reihan.Pipi Alya langsung memerah. Meski bekas air matanya masih terlihat, senyum manis kini tak lagi lepas dari bibirnya.“Terima kasih, Mas,” bisiknya pelan."Sama-sama, Sayang. Sekarang, ayo kita makan," ajak Reihan sambil berjalan kembali dan duduk di kursinya yang ber
Tak lama kemudian, mobil mewah itu berbelok mulus memasuki pekarangan rumah mereka. Begitu mesin mati, Reihan langsung turun dengan sigap. Seperti biasa, ia membukakan pintu untuk Alya.Namun, saat Alya hendak melangkah menuju pintu utama, Reihan menahan lengannya pelan."Tunggu sebentar, Sayang," ucap Reihan. Dari dalam saku kemeja hitamnya, ia mengeluarkan selembar kain pita berwarna gelap yang terlipat rapi.Alya mengernyit heran. "Eh? Buat apa, Mas?""Kamu pakai ini dulu, ya," ujar Reihan tanpa menjawab pertanyaan istrinya.Dengan gerakan lembut, ia mulai memosisikan kain itu untuk menutup kedua mata Alya, lalu mengikatnya perlahan di bagian belakang kepala."Mas, kita mau ngapain sih? Kenapa harus pakai tutup mata segala?" tanya Alya beruntun. Langkah kakinya mendadak ragu karena pandangannya kini menjadi gelap gulita."Ada sesuatu yang mau Mas tunjukkan ke kamu." bisik Reihan lembut di dekat telinganya."Ayo," ucapnya lagi.Reihan kemudian menuntun Alya dengan sangat hati-hati.
Reihan yang baru saja turun dari mobil langsung tersenyum tipis melihat wajah terkejut istrinya."Mas sudah mendingan, Sayang," ucap Reihan sambil berjalan mendekat ke arah Alya, lalu mengecup kening wanita itu singkat.Ditatapnya wajah sang istri dengan lekat, menyadari semburat letih yang samar di sana."Kamu pasti capek kan, seharian di kampus?" tanya Reihan lagi, suaranya melembut, mengikis habis sisa-sisa wibawa kaku seorang dosen yang biasa ia pasang di depan mahasiswa lain.Alya mengangguk pelan, menyandarkan sedikit berat tubuhnya pada lengan kekar suaminya.“Lumayan... badan rasanya pegal semua.” ucap Alya.Reihan tersenyum hangat, lalu mengacak pelan puncak kepala Alya. "Ya sudah, ayo kita pulang. Ada sesuatu yang menunggu mu di rumah," ucap Reihan.Alya mendongak menatap wajah suaminya itu dengan tatapan bingung. Keningnya mengernyit kecil, mencoba menebak-nebak."Sesuatu? Apa itu? Mas." tanya Alya penasaran."Nanti kamu juga tahu sendiri," ucap Reihan sambil terkekeh pelan
Siska berjalan cepat menghampiri teman-temannya yang sedang berkumpul tak jauh dari sana. Wajahnya merah padam menahan amarah, sementara kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih."Sialan!" gerutunya tertahan, langsung menghempaskan tubuhnya ke bangku koridor. "Apa sih hebatnya perempuan sok suci itu?! Heran gue!" omel Siska berapi-api.Beberapa temannya saling pandang sebelum akhirnya salah satu dari mereka menghela napas panjang.“Sis... lo tuh bener-bener nggak ada kapoknya, ya,” ucap temannya malas.“Kalau sampai Pak Reihan tahu lo gangguin istrinya lagi, habislah lo.”“Iya,” sambung yang lain cepat. “Kemarin aja lo udah hampir kena masalah. Kalau keterusan bisa-bisa langsung dikeluarin dari kampus.”“Gue sih ogah ikut campur,” celetuk yang lain sambil mengangkat tangan. “Mending cari aman.”Bukannya sadar, Siska malah makin naik darah karena tidak ada satu pun temannya yang membela dirinya."Diam lo semua!" sentak Siska tajam, membuat teman-temannya langsun
Reihan menatap Alya beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan.“Iya, Mas nggak apa-apa,” jawabnya lembut sambil mengusap puncak kepala istrinya. “Kamu hati-hati di jalan.”"Tapi janji, ya? Kalau sakitnya tambah parah, cepat hubungi aku," desak Alya lagi, nadanya sama sekali tidak menerima bantahan.Reihan hanya mengangguk patuh sebagai jawaban. Detik berikutnya, perhatian pria itu langsung beralih sepenuhnya pada sopir taksi online yang duduk di kemudi depan. Dalam sekejap, sorot mata hangat Reihan berubah menjadi tatapan yang begitu tajam dan mengintimidasi."Tolong antarkan istri saya ke kampus dengan selamat. Jangan terlalu ngebut, karena istri saya sedang hamil," ucap Reihan dengan nada suara yang rendah, dingin, dan penuh penekanan.Melihat ekspresi wajah Reihan yang menyeramkan dari kaca spion, sopir taksi itu langsung meremang. Ia menelan ludahnya dengan susah payah, lalu mengangguk kaku."B-baik, Pak," jawab sang sopir dengan suara yang agak bergetar.Alya yang melihat t
Alya tidak berani lagi untuk membantah. Dengan kepala menunduk, ia melangkah cepat menuju mobil. Di dalam kabin, ia tidak bisa mendengar pembicaraan antara Reihan dengan Bima.Ia hanya bisa melihat dari balik kaca depan, raut wajah Bima yang mengeras, lalu berbalik pergi meninggalkan Reihan. Tak la
Waktu berlalu dengan cepat. Alya menghabiskan sisa pagi itu dengan mata yang terpaku pada layar laptop. Ketakutannya perlahan berganti dengan adrenalin ketika satu demi satu notifikasi masuk ke akun anonimnya. Ternyata, banyak mahasiswa yang rela membayar mahal demi kemudahan."Satu draf bab pendah
Sebuah langkah kaki yang berat dan berirama tegas terdengar mendekat. Alya dan Dina refleks melepaskan pelukan mereka. Di ujung lorong, sosok Reihan berdiri dengan ekspresi yang sulit dibaca, dingin, namun ada kilat kelelahan di matanya."Bisa tinggalkan kami sebentar?" suara Reihan terdengar renda
Alya mematung di depan pintu kayu yang kokoh itu. Kepalanya menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang kini basah kuyup. Bahunya berguncang hebat, beradu dengan napas yang tersengal karena tangis yang berusaha ia redam agar tidak pecah menjadi raungan.Ia benar-benar tidak menyangka Reihan akan s







