Share

bab 04

Penulis: Bachtiar putri
last update Tanggal publikasi: 2025-10-24 15:50:50

Mendengar ucapan itu, Alya cukup terkejut. Status kepala prodi mungkin sudah tidak asing di telinga Alya. Tapi menyebut Reihan sebagai suaminya, jelas ini masih menjadi sesuatu yang aneh baginya.

Namun, akhirnya Alya hanya bisa mengangguk pasrah. “Baik, Pak.”

“Kamu tunggu di gang samping kampus ya, nanti saya lewat sana,” ujar Reihan lagi.

Alya paham dengan arah ucapan itu. Kalau ia langsung naik ke mobil Reihan di parkiran, pasti akan banyak orang yang melihat. Itu jelas akan menimbulkan gosip.

Alya mengangguk lagi dan langsung meninggalkan ruangan Reihan. Ia berjalan ke arah gang samping kampus untuk menunggu Reihan.

Sambil menunggu Reihan, Alya meremas tali tasnya erat-erat. Angin siang itu memang terasa panas, tapi kedua telapak tangannya justru dingin.

Perasaan Alya campur aduk antara takut dan khawatir. Ia takut saat ayahnya bertemu dengan Reihan dan tahu fakta soal pernikahan mereka, amarah ayahnya akan lebih besar dari pagi tadi. Selain itu, ia juga tidak siap menyeret Reihan lebih dalam ke masalah pribadinya.

Tak lama, mobil Reihan telah muncul, Alya segera masuk. Perjalanan itu terasa sangat hening, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

Hingga tanpa sadar, kini mereka telah tiba di rumah orang tua Alya.

Namun, Alya justru tidak segera turun dari mobil. Ia hanya menatap rumah itu dengan tatapan kosong. Tangannya bergetar saat menyentuh pegangan pintu, seakan tubuhnya menolak untuk kembali ke tempat itu.

Melihat tingkah Alya, Reihan diam sejenak. Ia tahu mungkin Alya belum siap, tapi bagaimanapun juga, masalah ini harus segera diperjelas.

“Tidak usah takut, biar saya yang bicara pada ayahmu,” ujar Reihan langsung, ia segera membuka pintu mobilnya.

Reihan turun lebih dulu dan menunggu di samping mobil. Saat Alya keluar, ia langsung menggenggam tangan gadis itu.

Alya sempat kaget, tapi hangatnya genggaman itu membuatnya merasa sedikit lebih berani, seolah tidak sendirian menghadapi apa pun yang menunggu di dalam rumah.

Saat kaki mereka menyentuh halaman rumah, Alya menunduk sesaat, seolah sedang mengumpulkan keberanian.

Alya menarik napas dalam-dalam, menggenggam tangan Reihan lebih erat, sebelum akhirnya membuka pintu dan melangkah masuk.

“Silahkan masuk, pak.”

Begitu mereka masuk ruang tamu, Salim yang mendengar suara pintu langsung keluar dari arah dalam. Dahinya mengernyit begitu melihat Alya datang menggandeng seorang pria. Pandangannya menyapu sosok Reihan dari atas hingga bawah, seolah sedang menilai sesuatu.

“Siapa laki-laki yang kamu bawa ini, Alya?” tanya Salim dengan suara tajam.

Belum sempat Alya bersuara, Reihan justru lebih dulu melangkah maju dengan wajah tenang.

“Perkenalkan, Pak. Saya Reihan, dosen Alya di kampus,” ucapnya sambil mengulurkan tangan, mencoba untuk tidak terprovokasi.

Namun Salim hanya diam, masih menatap dengan tajam, hingga akhirnya meraih tangan Reihan dengan enggan.

Melihat respon itu, Reihan sedikit tersenyum. “Sebelumnya saya mohon maaf karena kehadiran saya yang mendadak ini. Ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan dengan Bapak selaku orang tua Alya.”

Salim melirik putrinya sekilas, seolah mencari jawaban atas apa yang terjadi. Pagi tadi, Alya memang sama sekali tidak membahas masalah ini. Ia hanya mengatakan menginap di rumah temannya karena tugas, sama seperti ucapannya di telepon. Selain karena takut, ia juga harus buru-buru karena ada kelas.

“Ada tamu rupanya. Kok gak disuruh duduk sih, Pak?” sahut Sari, ibu tiri Alya, yang baru saja keluar dari arah dapur. “Ayo duduk dulu.”

Melihat itu, Alya langsung mengarahkan Reihan untuk duduk di kursi sederhana yang ada di ruang tamu rumahnya.

“Saya Sari, ibunya Alya,” ujar Sari lagi, memperkenalkan diri dengan senyum ramah.

Namun, Salim justru langsung memotong dengan tegas, “Sudah, langsung saja ke intinya. Masalah apa yang ingin kalian bicarakan? Alya gak buat masalah di kampus, kan?”

Alya menatap Reihan sekilas. Jantungnya terasa berdetak lebih cepat, keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Namun, Reihan justru tampak masih tenang, dan itu membuat Alya semakin cemas.

“Sebenarnya, semalam Alya menginap di rumah saya,” kata Reihan tanpa basa-basi.

Mendengar itu, mata Salim langsung memerah, rahangnya mengeras menahan amarah. Namun, belum sempat ia bicara, Reihan telah bersuara kembali.

“Semalam Alya dibegal dan saya menolongnya,” lanjut Reihan lagi, kali ini wajahnya lebih serius. “Karena sudah terlalu malam dan kondisi Alya terlalu syok karena hampir dilecehkan, jadi saya terpaksa bawa Alya ke rumah saya yang dekat dari sana.”

Tatapan Salim beralih ke arah Alya, bukan menunjukkan rasa khawatir atau terkejut, tetapi mencari justru mencari celah kebohongan.

“Menyusahkan kamu ini!” bentaknya sambil menatap Alya penuh kemarahan.

Reihan tampak sedikit terkejut mendengar respon itu. Namun, ia berusaha menahan diri. Sementara Alya, matanya tampak telah berkaca-kaca.

“Benar itu, Alya? Kenapa kamu gak ke kantor polisis aja? Kan jadi menyusahkan orang kalau begini,” sahut Sari dengan nada memojokkan Alya.

Reihan menarik napas sebelum melanjutkan, suaranya tetap terkontrol.

“Pak… Bu… selain kejadian begal itu, ada satu hal lagi. Karena saya membawa Alya pulang dalam kondisi malam dan warga sekitar salah paham, mereka menuntut saya untuk menikahi Alya saat itu juga.” Ia menatap Salim tanpa menghindar. “Dan… kami sudah menikah, Pak.”

Hening sejenak. Salim terbelalak, napasnya tertahan. Wajahnya memerah, tapi bukan langsung meledak, matanya sekali lagi turun menilai Reihan dari atas ke bawah.

Dengan penampilan rapi Reihan, bahkan mobil yang terparkir di depan pekarangan rumah mereka dan status dosen. Emosinya yang tadinya hendak meluap jadi tertahan setengah.

Namun, kemarahannya justru dialihkan pada Alya.

“Kamu ini… bikin malu keluarga saja!” bentaknya sambil menatap putrinya penuh jijik.

Alya mengecil, menunduk, tubuhnya bergetar.

Sementara itu, Sari mengerutkan kening, tatapannya penuh prasangka ke arah Reihan.

“Jadi warga sampai paksa kalian menikah? Berarti ada yang nggak bener,” gumamnya sinis. Lalu ia menatap Reihan dengan mata menyipit. “Jangan-jangan kamu yang macam-macam sama Alya sampai orang salah paham.”

Alya langsung menggeleng keras. “Nggak, Bu! Pak Reihan nggak ngapa-ngapain. Dia nolong Alya, bukan—”

Nada suaranya penuh tuduhan. Alya tersentak, sementara Reihan tetap berusaha tenang.

Sari mendengus, kini lebih agresif. “Kalau memang begitu, keluarga kami jelas dirugikan. Jadi seharusnya kami minta ganti rugi atas apa yang sudah kamu lakukan pada Alya.”

Reihan menoleh, alis berkerut. Ia menatap keduanya, tak percaya dengan permintaan itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku   Bab 291

    Alya baru saja hendak membuka mulut untuk menengahi perdebatan yang kembali memanas itu, namun tepat di saat itu, pintu utama terbuka. "Papa pulang...!" ucap Reihan dengan suara baritonnya yang khas sembari melangkah masuk ke dalam rumah. Namun seketika langkahnya terhenti saat melihat pemandangan di ruang tengah. Kedua putranya tampak kacau, duduk berjauhan dengan wajah sembab dan masih sesenggukan, sementara istrinya tampak sangat lelah berdiri di antara mereka. "Ada apa?" tanya Reihan pelan, menatap tiga orang kesayangannya bergantian. Menyadari kehadiran sang ayah, kedua bocah itu langsung menghapus air mata mereka. Bak menemukan pahlawan, Leon dan Liam langsung berlari menghampiri Reihan sembari berebut untuk mengadu. "Abang nakal, Papa!" ucap Liam dengan bibir mengerucut. "Tidak... Aku kan cuma mau pinjam!" bela Leon. Reihan menatap kedua putranya lalu beralih menatap wajah Alya. Mendapat tatapan dari suaminya, Alya hanya bisa menghela napas panjang dan memijat peli

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku   290

    Gunawan mengangguk puas mendengar jawaban putranya."Itu yang harus selalu kamu ingat," ucapnya pelan.Reihan mengangguk mantap. Ia kembali menatap Alya yang sedang tersenyum manis sembari memperhatikan kedua putra kembar mereka. Rasa lega dan bahagia membuncah di rongga dadanya."Rei... Kemari sebentar," panggil Mirna, memecah keheningan di antara mereka."Ada apa, Mah?" ucap Reihan sambil melangkah mendekat."Lihat kedua putra tampanmu ini," ucap Mirna dengan mata berbinar memandangi bayi mungil di gendongannya."Mereka akan kamu beri nama siapa?" lanjutnya.Reihan terdiam sejenak. Ia memandangi kedua wajah mungil yang masih memerah itu, menimbang-nimbang nama terbaik yang sudah lama ia simpan di kepala untuk kedua putranya."Leon dan Liam," ucap Reihan mantap."Yang berarti kuat, sama seperti ibunya," lanjut Reihan, memberikan arti mendalam di balik nama singkat nan gagah itu.Ia lalu menoleh, menatap wajah Alya dengan tatapan yang begitu teduh dan penuh cinta. Di ranjangnya, Alya

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku   Bab 289

    "Arghhh...!"Rintihan Alya kembali memenuhi ruang persalinan.Dokter yang melihat tanda-tanda persalinan sudah memasuki tahap akhir segera bersiap."Baik, Bu Alya. Bayinya sudah mau keluar," ucap sang dokter dengan tenang."Tarik napas dalam-dalam, lalu dorong perlahan saat saya hitung, ya."Alya mengangguk lemah. Keringat membasahi seluruh wajahnya. Rambut yang sejak tadi rapi kini sudah berantakan menempel di dahi dan pelipis.Di samping ranjang, Reihan masih setia menggenggam tangannya."Ayo, Sayang. Sedikit lagi," bisiknya penuh semangat.Alya menarik napas panjang, lalu mengejan sekuat tenaga mengikuti arahan dokter."Bagus... sedikit lagi... dorong terus!"Rasa sakit yang luar biasa membuat Alya hampir menjerit. Namun ia terus berusaha mengumpulkan sisa tenaganya.Hingga beberapa saat kemudian...Tangisan nyaring seorang bayi akhirnya terdengar memenuhi ruangan. Alya langsung terkulai lemas di atas ranjang. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat.Air mata haru mengali

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku   Bab 288

    "Apa... Kenapa di saat seperti ini?" ucap Reihan panik setengah mati. Matanya melebar menatap genangan air di lantai, lalu beralih ke wajah Alya yang sudah berubah pias. "Sakit banget, Mas..." rintih Alya sambil memegangi pinggangnya yang mulai terasa nyeri. "Tahan... Tahan sebentar ya, Sayang," ucap Reihan gelagapan. Saking paniknya, pria bertubuh tegap itu malah mematung, Otaknya mendadak kosong. Ia bahkan tidak tahu harus melakukan apa terlebih dahulu. "Reihan!" Suara Mirna membuatnya tersentak. "Tunggu apa lagi?! Cepat ambil mobil!" seru Mirna. "A-ah, iya, Ma!" Reihan langsung tersadar, mengambil langkah seribu dan berlari sekencang mungkin menuju area parkiran. Tak butuh waktu lama, mobil sedan hitam milik Reihan sudah berhenti tepat di lobi barat aula. Mirna dengan sigap membantu Alya masuk ke dalam mobil. Setelah Alya duduk di kursi penumpang ditemani oleh Mirna di sampingnya, Reihan langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, memacu kendaraannya membelah jalanan menuju r

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku   Bab 287

    Tawa Alya langsung pecah melihat tingkah kocak suaminya. "Mas... kamu ini kenapa sih? Kok malah jadi lebay begini?" ucap Alya di sela tawanya. Reihan tidak langsung menjawab. Pria itu mengembuskan napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih meronta. Ia kemudian bergeser mendekat, membawa jemari tangannya untuk mengelus lembut perut buncit Alya. "Kamu tahu nggak?" ucapnya lembut. "Waktu dengar kamu manggil Mas pakai sebutan Papa, jantung Mas langsung berdebar-debar." Alya tersenyum geli. "Segitunya?" "Iya. Mas jadi nggak sabar nunggu mereka lahir." Tatapan Reihan melembut saat mengelus perut Alya. "Pasti rasanya menyenangkan sekali saat nanti mereka memanggil Mas dengan sebutan Papa." Perlahan ia menundukkan kepala, lalu mengecup perut sang istri dengan penuh kasih sayang. Namun, momen manis itu mendadak terputus saat suara keroncongan perut terdengar cukup jelas di antara mereka. Reihan langsung terdiam seketika di posisinya dengan kening bert

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku   Bab 286

    Ia meraih paper bag tersebut, mengeluarkan isinya, dan seketika sebuah lukisan berukuran sedang terbentang di tangannya.Alya melirik sekilas dari sudut matanya."Itu kado pernikahan dari Arlan," ucap Alya santai, mencoba tetap fokus pada ketikannya."Cantik, kan?" lanjutnya."Istriku memang cantik," sahut Reihan spontan, matanya masih menatap lekat guratan kuas di atas kanvas tersebut.Senyum Alya langsung melebar mendengar pujian tersebut.Namun beberapa saat kemudian, ekspresi Reihan perlahan berubah datar. Alisnya berkerut tipis saat kembali mengamati lukisan itu dari atas hingga bawah."Tapi kenapa cuma ada kamu? Ini kan kado pernikahan, harusnya Mas juga dilukis dong di sini," protes Reihan, nadanya mendadak berubah ketus."Sepertinya dia memberikan ini karena ada maksud lain," gumam Reihan kemudian.Alya menghentikan ketikannya lalu menoleh, menatap suaminya dengan sebelah alis terangkat."Maksud lain gimana?" tanya Alya bingung."Jangan mulai deh, Mas," lanjut Alya cepat sebel

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status