เข้าสู่ระบบKini, di ruang yang luas itu, Reihan dan Alya duduk bersebelahan. Di hadapan mereka, seorang penghulu yang dipanggil secara mendadak oleh warga sudah bersiap memulai prosesi. Beberapa warga lain berdiri di sekitar mereka, menjadi saksi dari kejadian yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Sebelumnya, penghulu telah meminta Alya dan Reihan menyerahkan kartu identitas sebagai syarat pernikahan. Alya hanya bisa duduk kaku. Kedua tangannya saling meremas erat, mencoba menahan ketakutan yang terus mengguncang hatinya. Ia baru saja mengalami nasib buruk, nyaris diperkosa oleh begal, dan kini ia malah dituduh berzina oleh dosennya sendiri. Semua terasa begitu tidak adil. “Apa… harus sampai seperti ini?” tanya Alya lirih pada Reihan yang duduk di sampingnya. Suara nya bergetar, hampir tak terdengar. Reihan menarik napas panjang sebelum menjawab, “Mau bagaimana lagi? Kita tidak punya pilihan lain. Percuma membela diri mereka tetap tidak akan percaya.” Penghulu itu kemudian menatap mereka. “Baiklah, kalau begitu, mari kita mulai ijab kabulnya,” ucapnya tenang. Reihan mengangguk pelan, lalu menjabat tangan penghulu. Ia mengikuti setiap kata yang diucapkan, dan dalam satu tarikan nafas mantap, ia melafalkan ijab qabul tersebut. Seketika para warga yang hadir serempak mengucapkan kata “sah”. Air mata Alya jatuh tanpa bisa ia tahan. Ia tidak sanggup membayangkan kemungkinan buruk apa lagi yang mungkin menantinya setelah ini. Setelah menandatangani surat pernyataan bahwa mereka telah resmi menikah secara siri, warga pun mulai meninggalkan rumah Reihan satu per satu hingga suasana perlahan menjadi tenang. Reihan menatap Alya, lalu berkata dengan hati-hati. “Ini sudah malam, kamu bisa bermalam di sini dulu, mereka tidak akan ribut lagi.” Alya menggelengkan kepalanya berat. “Tapi, Pak … saya harus pulang. Orang tua saya nanti bisa marah.” “Hubungi orang tuamu, bilang saja sedang menginap di rumah teman karena ada tugas. Besok pagi, saya antar kamu pulang,” ujar Reihan sambil menyerahkan ponselnya. Dengan ragu, Alya menerima ponsel itu. Meskipun tidak yakin orang tuanya akan mengizinkannya, setidaknya dia ingin mencoba. “Kalau orang tuamu tidak percaya, biar saya yang bicara, pura-pura sebagai orang tua temanmu,” tambah Reihan saat melihat keraguan Alya. Alya hanya mengangguk, lalu segera menekan nomor ayahnya dan menghubunginya. “Halo, Bapak. Ini Alya,” ucap Alya begitu telepon tersambung, suaranya masih lemah. “Kemana aja kamu, Alya? Sudah jam segini kenapa belum pulang?” tanya Pak Salim, ayah Alya, dengan suara meninggi. “Mau jadi apa kamu, hah? Apa kamu mau jadi liar seperti ibumu?” Kata-kata itu menghantam hati Alya hingga rasanya seperti diremas keras. Ia tahu ayahnya masih menyimpan dendam pada ibunya, wanita yang memilih pergi bersama pria lain saat usianya baru menginjak tujuh tahun. Dan sejak Alya beranjak dewasa, ayahnya semakin sering menuduhnya melakukan hal yang sama seperti yang pernah dilakukan ibunya dulu. Mendengar nada marah ayahnya, membuat napas Alya tercekat. Tubuhnya menegang sebelum akhirnya ia kembali bersuara. “Ponsel Alya mati, Pak… dan Alya ingin minta izin untuk bermalam di rumah teman karena ada tugas kampus,” ucap Alya. Suaranya bergetar jelas karena takut. “Jangan banyak alasan, Alya! Dari dulu kerjamu hanya bisa menyusahkan orang tua saja!” hardik Pak Salim tanpa memberi ruang untuk berkilah. “Tapi… Pak—” Alya mencoba menjelaskan, namun belum sempat kata-katanya selesai, Reihan lebih dulu mengambil ponsel itu. “Halo, Pak. Saya orang tua temannya Alya, karena ini sudah malam, sebaiknya Alya diizinkan saja untuk menginap di sini. Bahaya kalau maksa pulang,” ucap Reihan dengan suara tegas. Kalimat itu membuat Pak Salim tidak bisa berkata-kata. Hanya ada helaan napas sebelum akhirnya sambungan telepon terputus. Jelas, meski Pak Salim marah pada Alya, tidak mungkin ia marah pada orang asing juga karena anaknya. “Sudah, kamu bisa istirahat di kamar itu,” ujar Reihan sambil menunjuk satu kamar di dekat ruang tamu. Alya terdiam, merasa tidak enak pada dosennya ini. Namun, karena tak ingin membuat masalah semakin runyam, Alya akhirnya hanya mengangguk patuh. “Terima kasih, Pak. Maaf jadi banyak merepotkan,” kata Alya lirih, kepalanya menunduk malu. “Tidak apa, istirahatlah.” Reihan mengangguk. “Besok saya antar kamu pulang. Alya mengangguk sekali lagi, lalu melangkah menuju kamar itu dengan langkah gontai, membawa seluruh kegelisahan yang masih membayangi hatinya. Namun, belum sempat Alya masuk ke kamar, suara Reihan kembali menghentikannya. “Oh iya, Alya,” panggil Reihan, tatapannya menatap lurus ke arah Alya dengan cukup serius. “Iya, Pak?” “Sebaiknya pernikahan ini kita rahasiakan saja dulu. Kalau semua orang di kampus tahu kita menikah karena dituduh berzina… bukankah itu memalukan?”Alya baru saja hendak membuka mulut untuk menengahi perdebatan yang kembali memanas itu, namun tepat di saat itu, pintu utama terbuka. "Papa pulang...!" ucap Reihan dengan suara baritonnya yang khas sembari melangkah masuk ke dalam rumah. Namun seketika langkahnya terhenti saat melihat pemandangan di ruang tengah. Kedua putranya tampak kacau, duduk berjauhan dengan wajah sembab dan masih sesenggukan, sementara istrinya tampak sangat lelah berdiri di antara mereka. "Ada apa?" tanya Reihan pelan, menatap tiga orang kesayangannya bergantian. Menyadari kehadiran sang ayah, kedua bocah itu langsung menghapus air mata mereka. Bak menemukan pahlawan, Leon dan Liam langsung berlari menghampiri Reihan sembari berebut untuk mengadu. "Abang nakal, Papa!" ucap Liam dengan bibir mengerucut. "Tidak... Aku kan cuma mau pinjam!" bela Leon. Reihan menatap kedua putranya lalu beralih menatap wajah Alya. Mendapat tatapan dari suaminya, Alya hanya bisa menghela napas panjang dan memijat peli
Gunawan mengangguk puas mendengar jawaban putranya."Itu yang harus selalu kamu ingat," ucapnya pelan.Reihan mengangguk mantap. Ia kembali menatap Alya yang sedang tersenyum manis sembari memperhatikan kedua putra kembar mereka. Rasa lega dan bahagia membuncah di rongga dadanya."Rei... Kemari sebentar," panggil Mirna, memecah keheningan di antara mereka."Ada apa, Mah?" ucap Reihan sambil melangkah mendekat."Lihat kedua putra tampanmu ini," ucap Mirna dengan mata berbinar memandangi bayi mungil di gendongannya."Mereka akan kamu beri nama siapa?" lanjutnya.Reihan terdiam sejenak. Ia memandangi kedua wajah mungil yang masih memerah itu, menimbang-nimbang nama terbaik yang sudah lama ia simpan di kepala untuk kedua putranya."Leon dan Liam," ucap Reihan mantap."Yang berarti kuat, sama seperti ibunya," lanjut Reihan, memberikan arti mendalam di balik nama singkat nan gagah itu.Ia lalu menoleh, menatap wajah Alya dengan tatapan yang begitu teduh dan penuh cinta. Di ranjangnya, Alya
"Arghhh...!"Rintihan Alya kembali memenuhi ruang persalinan.Dokter yang melihat tanda-tanda persalinan sudah memasuki tahap akhir segera bersiap."Baik, Bu Alya. Bayinya sudah mau keluar," ucap sang dokter dengan tenang."Tarik napas dalam-dalam, lalu dorong perlahan saat saya hitung, ya."Alya mengangguk lemah. Keringat membasahi seluruh wajahnya. Rambut yang sejak tadi rapi kini sudah berantakan menempel di dahi dan pelipis.Di samping ranjang, Reihan masih setia menggenggam tangannya."Ayo, Sayang. Sedikit lagi," bisiknya penuh semangat.Alya menarik napas panjang, lalu mengejan sekuat tenaga mengikuti arahan dokter."Bagus... sedikit lagi... dorong terus!"Rasa sakit yang luar biasa membuat Alya hampir menjerit. Namun ia terus berusaha mengumpulkan sisa tenaganya.Hingga beberapa saat kemudian...Tangisan nyaring seorang bayi akhirnya terdengar memenuhi ruangan. Alya langsung terkulai lemas di atas ranjang. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat.Air mata haru mengali
"Apa... Kenapa di saat seperti ini?" ucap Reihan panik setengah mati. Matanya melebar menatap genangan air di lantai, lalu beralih ke wajah Alya yang sudah berubah pias. "Sakit banget, Mas..." rintih Alya sambil memegangi pinggangnya yang mulai terasa nyeri. "Tahan... Tahan sebentar ya, Sayang," ucap Reihan gelagapan. Saking paniknya, pria bertubuh tegap itu malah mematung, Otaknya mendadak kosong. Ia bahkan tidak tahu harus melakukan apa terlebih dahulu. "Reihan!" Suara Mirna membuatnya tersentak. "Tunggu apa lagi?! Cepat ambil mobil!" seru Mirna. "A-ah, iya, Ma!" Reihan langsung tersadar, mengambil langkah seribu dan berlari sekencang mungkin menuju area parkiran. Tak butuh waktu lama, mobil sedan hitam milik Reihan sudah berhenti tepat di lobi barat aula. Mirna dengan sigap membantu Alya masuk ke dalam mobil. Setelah Alya duduk di kursi penumpang ditemani oleh Mirna di sampingnya, Reihan langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, memacu kendaraannya membelah jalanan menuju r
Tawa Alya langsung pecah melihat tingkah kocak suaminya. "Mas... kamu ini kenapa sih? Kok malah jadi lebay begini?" ucap Alya di sela tawanya. Reihan tidak langsung menjawab. Pria itu mengembuskan napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih meronta. Ia kemudian bergeser mendekat, membawa jemari tangannya untuk mengelus lembut perut buncit Alya. "Kamu tahu nggak?" ucapnya lembut. "Waktu dengar kamu manggil Mas pakai sebutan Papa, jantung Mas langsung berdebar-debar." Alya tersenyum geli. "Segitunya?" "Iya. Mas jadi nggak sabar nunggu mereka lahir." Tatapan Reihan melembut saat mengelus perut Alya. "Pasti rasanya menyenangkan sekali saat nanti mereka memanggil Mas dengan sebutan Papa." Perlahan ia menundukkan kepala, lalu mengecup perut sang istri dengan penuh kasih sayang. Namun, momen manis itu mendadak terputus saat suara keroncongan perut terdengar cukup jelas di antara mereka. Reihan langsung terdiam seketika di posisinya dengan kening bert
Ia meraih paper bag tersebut, mengeluarkan isinya, dan seketika sebuah lukisan berukuran sedang terbentang di tangannya.Alya melirik sekilas dari sudut matanya."Itu kado pernikahan dari Arlan," ucap Alya santai, mencoba tetap fokus pada ketikannya."Cantik, kan?" lanjutnya."Istriku memang cantik," sahut Reihan spontan, matanya masih menatap lekat guratan kuas di atas kanvas tersebut.Senyum Alya langsung melebar mendengar pujian tersebut.Namun beberapa saat kemudian, ekspresi Reihan perlahan berubah datar. Alisnya berkerut tipis saat kembali mengamati lukisan itu dari atas hingga bawah."Tapi kenapa cuma ada kamu? Ini kan kado pernikahan, harusnya Mas juga dilukis dong di sini," protes Reihan, nadanya mendadak berubah ketus."Sepertinya dia memberikan ini karena ada maksud lain," gumam Reihan kemudian.Alya menghentikan ketikannya lalu menoleh, menatap suaminya dengan sebelah alis terangkat."Maksud lain gimana?" tanya Alya bingung."Jangan mulai deh, Mas," lanjut Alya cepat sebel







