Share

bab 49

Penulis: Bachtiar putri
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-10 16:01:42

Begitu mobil terparkir sempurna di garasi, Alya bergegas turun. Ia merasa perlu menjauh sejenak dari atmosfer intens yang diciptakan Reihan selama di perjalanan.

"Mas, aku mandi dulu ya. Gerah banget," pamit Alya tanpa berani menatap mata suaminya.

Reihan mengangguk tenang sambil melepas sabuk pengamannya. "Ya. Dan yang tadi aku kirim... jangan lupa dipakai, ya?"

Langkah Alya terhenti di ambang pintu. Ia menoleh dengan wajah sangsi. "Tapi, Mas... masa dipakai sekarang? Ini kan masih sore," protesnya halus, berharap Reihan sedang bercanda.

"Memang apa salahnya?" tanya Reihan datar, namun tatapannya mengunci Alya.

"T-tapi Mas..."

"Nggak ada tapi-tapian, Alya." Kalimat itu terdengar final, membuat nyali Alya menciut seketika.

Alya hanya bisa mengangguk pasrah dan melarikan diri ke kamar mandi. Dinginnya air pancuran ternyata tidak cukup untuk mendinginkan wajahnya yang mulai merona hebat.

Setelah selesai mandi, Alya berdiri mematung di sisi ranjang. Di atas sprei yang rapi, kini terhampa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku    bab 53

    Sari, yang mendengar janji pelunasan biaya, seketika matanya berbinar meski masih ada rasa takut. Baginya, uang ganti rugi itu jauh lebih berharga daripada ponsel yang belum tentu tahu cara menjualnya. Dengan gerakan kaku, ia mengeluarkan ponsel itu dari balik punggungnya."I-ini... Ibu tadi cuma mau mengamankan saja, Nak Reihan. Takut hilang karena di sini bangsal umum," kilah Sari mencari alasan sambil menyerahkan benda pipih itu ke tangan Reihan.Reihan mengambil ponsel tersebut, lalu beralih menatap istrinya. Ia baru saja akan mengusap rambut Alya saat jemarinya menyentuh helai rambut yang menempel di pipi gadis itu. Dengan gerakan perlahan namun pasti, Reihan menyelipkan rambut Alya ke belakang telinga. Detik itu juga, rahang Reihan mengeras.Bekas tamparan merah padam di kulit putih Alya dan sudut bibir yang pecah terpampang nyata. "Siapa yang melakukannya?" tanya Reihan.Sari mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. "Itu... itu tadi Alya tidak sengaja jatuh, Nak Reihan! Dia menab

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku    bab 53

    Bau karbol yang menyengat menyambut Alya saat ia melangkah masuk ke bangsal kelas tiga. Ruangan itu penuh sesak, hanya dibatasi tirai tipis antar ranjang. Begitu kakinya melewati ambang pintu, sebuah suara melengking langsung menusuk pendengarannya."Bagus kamu, ya... Mentang-mentang sudah jadi istri orang kaya, sudah tinggal di rumah mewah, kamu lupa sama orang tua yang melarat di sini," sembur Sari, ibu tirinya, bahkan sebelum Alya sempat mengucap salam.Kata-katanya yang tajam seketika membuat suasana bangsal yang tadinya bising menjadi sunyi. Pasien di ranjang sebelah dan para penjaga menoleh serentak, menatap Alya dengan pandangan menghakimi seolah ia adalah anak durhaka yang tega menelantarkan keluarga.Alya hanya menunduk, meremas tali tasnya kuat-kuat. Ia tidak membalas. Dengan langkah berat, ia mendekati ranjang ayahnya. Beruntung, luka ayahnya tidak separah yang ia bayangkan, hanya ada beberapa perban di lengan dan lecet di pelipis."Kenapa bisa sampai begini, Yah?" tanya Al

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku    bab 52

    Cahaya matahari pagi perlahan menyeruak masuk melalui celah gorden, menyentuh kelopak mata Reihan. Ia mengerjap, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Secara naluriah, tangannya meraba sisi ranjang di sebelahnya, namun yang ia rasakan hanyalah sprei yang dingin dan kosong. Sambil mengusap wajah, ia bangkit dan melangkah keluar kamar dengan harapan menemukan sosok yang semalam membuatnya tidak bisa berhenti tersenyum.Reihan menuruni anak tangga satu per satu, langkahnya tertuju langsung ke dapur. Biasanya, di jam-jam seperti ini, ia akan melihat punggung Alya yang sibuk di balik kompor, bergelut dengan wajan untuk menyiapkan sarapan. Namun, dapur itu tampak mati. Tidak ada suara denting sudip, tidak ada suara air mengalir."Alya?" panggil Reihan, suaranya menggema di lorong rumah yang sunyi.Hening. Tidak ada sahutan. Reihan berjalan menuju ruang tengah, lalu kembali memanggil nama istrinya, namun rumah itu tetap terasa kosong. Hanya ada keheningan yang menyambutnya.Langkahnya terhenti

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku    bab 51

    "Membuatmu seperti apa, Alya?" Reihan kembali bertanya, dengan nada polos yang dibuat-buat, seolah ia benar-benar tidak mengerti kekacauan yang sedang terjadi di dalam dada istrinya.Alya tampak semakin gelisah. Ia meremas ujung taplak meja, mencoba mencari kekuatan untuk bersuara. "Me... membuatku gugup," ucap Alya akhirnya, suaranya sangat lirih, nyaris tenggelam oleh detak jantungnya sendiri.Reihan tersenyum tipis. Alih-alih menjauh, ia justru mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya pada wajah Alya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Tatapan matanya yang gelap mengunci pandangan Alya, membuat napas wanita itu terasa tertahan di kerongkongan."Kamu gugup?" Reihan mengulang kalimat itu dengan suara rendah yang serak, terdengar sangat intim di telinga Alya. "Katakan padaku, bagian mana yang paling membuatmu gugup, hm?"Alya tidak bisa berkata-kata lagi. Ia merasa wajahnya kian memanas, bahkan mungkin sudah semerah warna kepiting rebus. Pikirannya bena

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku    bab 50

    Alya tertegun di kursinya, merasa benar-benar terjebak. Dinginnya kursi kayu itu kontras dengan rasa panas yang masih menjalar di pipinya. Ia melirik slip dress putih gading yang dikenakannya, lalu beralih pada Reihan yang kini sudah duduk dengan tenang, seolah-olah suasana baru saja tidak dipenuhi ketegangan yang menyesakkan napas."Tapi Mas, ini benar-benar..." Alya menggantung kalimatnya, kehilangan kata-kata untuk menggambarkan betapa merasa tidak pantasnya ia duduk di meja makan dengan pakaian sesedikit itu."Sangat cantik," potong Reihan cepat. Ia mengambil piring, lalu menyodorkannya pada Alya. "Isikan nasinya, Sayang."Alya melakukan perintah itu dengan gerakan mekanis. Tangannya masih sedikit gemetar saat menyendokkan nasi dan sup ayam ke piring Reihan. Setiap kali ia bergerak, tali tipis gaunnya terasa merosot di bahunya, memaksanya untuk terus-menerus membetulkan posisi pakaiannya dengan risih.Suasana makan malam itu terasa sunyi, hanya terdengar denting sendok yang beradu

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku    bab 49

    Begitu mobil terparkir sempurna di garasi, Alya bergegas turun. Ia merasa perlu menjauh sejenak dari atmosfer intens yang diciptakan Reihan selama di perjalanan."Mas, aku mandi dulu ya. Gerah banget," pamit Alya tanpa berani menatap mata suaminya.Reihan mengangguk tenang sambil melepas sabuk pengamannya. "Ya. Dan yang tadi aku kirim... jangan lupa dipakai, ya?"Langkah Alya terhenti di ambang pintu. Ia menoleh dengan wajah sangsi. "Tapi, Mas... masa dipakai sekarang? Ini kan masih sore," protesnya halus, berharap Reihan sedang bercanda."Memang apa salahnya?" tanya Reihan datar, namun tatapannya mengunci Alya."T-tapi Mas...""Nggak ada tapi-tapian, Alya." Kalimat itu terdengar final, membuat nyali Alya menciut seketika.Alya hanya bisa mengangguk pasrah dan melarikan diri ke kamar mandi. Dinginnya air pancuran ternyata tidak cukup untuk mendinginkan wajahnya yang mulai merona hebat.Setelah selesai mandi, Alya berdiri mematung di sisi ranjang. Di atas sprei yang rapi, kini terhampa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status