登入"Pegel juga dibonceng naik motor lo," keluh Vino begitu turun dari vespa tua milik Martin.
Martin yang baru saja mematikan mesin motornya menoleh. Dilihatnya Vino sedang meregangkan badan seolah baru menempuh perjalanan berjam-jam. Sontak ia mendecak. "Salah siapa gue suruh naik motor lo sendiri kagak mau?" Vino mengangkat bahu santai. "Nggak ah. Hemat. BBM lagi naik."Setelah dipersilakan masuk, Bita melangkah melewati pintu ballroom. Langkahnya seketika melambat.Ruangan luas itu dipenuhi cahaya lampu kristal yang memantul lembut dari langit-langit tinggi. Meja-meja bundar berlapis taplak putih tersusun rapi mengelilingi panggung utama yang dihiasi rangkaian bunga segar bernuansa putih dan biru. Di sudut ruangan, alunan musik dari live band mengalun pelan, bercampur dengan suara obrolan para tamu yang memenuhi ballroom.Sebagian besar tamu datang dengan setelan jas dan gaun malam. Pelayan hotel berlalu-lalang membawa nampan berisi minuman dan hidangan pembuka.Bita mengedarkan pandangannya perlahan. Rasanya seperti sedang masuk ke adegan pesta di dalam film. Matanya masih terpaku pada kemegahan ballroom sampai nada dering ponselnya membuatnya tersadar.Gadis itu buru-buru meraih clutch bag, lalu mengeluarkan ponselnya. Nama Fero terpampang di layar. Ia segera mengangkat panggilan itu. "Halo, Fer?"
"Makasih." Bita tersenyum pada Vino yang membukakan pintu untuknya sebelum masuk ke dalam mobilVino hanya menggumam kecil dan segera menutup pintu, lalu memutari sedan Toyota hitam milik Aksa dan duduk di balik kemudi.Sebelum berangkat, Vino membunyikan klakson pelan sekali pada Anggun yang berdiri di teras. Sementara Bita buru-buru menurunkan kaca jendela. "Dadah, Mama!"Di teras, Anggun langsung melambaikan tangan. "Hati-hati!"Mobil perlahan meninggalkan halaman rumah.Bita melirik ke samping. Vino tampak begitu mahir mengemudikan mobilnya. Sesekali jemarinya memutar kemudi dengan gerakan yang sudah sangat luwes, sama sekali tidak terlihat seperti orang yang baru belajar menyetir.Bita tersenyum kecil. "Kamu baru belajar seminggu, tapi udah jago banget nyetirnya.""Iya.""Ini mobil Mas Aksa kamu pinjam?""Iya.""Berarti Mas Aksa di rumah?""Iya.""Oh ya, nanti kita l
"Ma? Berlebihan banget nggak, sih?"Bita mengembuskan napas panjang sambil menatap bayangannya di cermin.Anggun yang masih berdiri di belakangnya langsung menggeleng tak setuju."Berlebihan apanya? Ini justru pas buat acara formal." Ia merapikan sedikit helaian rambut putrinya. "Kamu bilang ulang tahun mama teman kamu di hotel, kan? Berarti tamunya pasti banyak orang penting. Masa kamu datang kayak habis beli cilok depan kampus?"Bita mendesah pelan.Memang sejak tadi sore ia sengaja tidak menjelaskan siapa Fero sebenarnya. Yang Mama tahu, ia hanya diundang menghadiri ulang tahun ibu seorang teman sejurusan.Dan sejak mendengar kata hotel, Anggun langsung berubah menjadi sangat bersemangat. Menyadari lemari pakaian Bita tak banyak membantu, karena hampir seluruh isinya hanya kaos, hoodie, dan celana jeans, Anggun langsung membongkar lemari pakaiannya sendiri. "Untung ukuran badan kita masih mirip," gumamnya cukup lega.Satu
Melihat wajah Bita yang mendadak berkali-kali lipat lebih tegang, Vino mengernyit. "Kenapa, Ta? Ada masalah?"Bita tidak langsung menjawab. Gadis itu menggigit pelan bibir bawahnya sebelum akhirnya berucap lirih, nyaris seperti berbisik. "Fero... dia ngundang aku ke ulang tahun Mamahnya."Vino terdiam.Nama itu kembali mengingatkannya pada hari ketika laki-laki itu terang-terangan mengatakan tak akan berhenti mendekati Bita.Jadi, inikah langkah berikutnya?Tanpa sadar, jemari Vino mengencang menggenggam sumpit. Rahangnya pun ikut mengeras. Namun hanya sesaat. Sebelum Vino kembali memasang wajah setenang sebelumnya."Katanya Mamanya yang pengen aku datang," lanjut Bita hati-hati. Tatapannya terus mencari reaksi Vino. Semakin lama tak mendapat jawaban, wajahnya semakin gelisah. "Tapi... kalau kamu nyuruh aku nggak datang, aku nggak bakal datang, kok."Pandangan Vino perlahan beralih kepada Bita. Dilihatnya wajah gadis itu
Bita duduk di kursi pengunjung, tepat di samping Vino. Sejak tadi, jemari laki-laki itu tak pernah benar-benar rileks. Sesekali mengepal, lalu mengendur lagi.Bita menoleh pelan. Vino membalas tatapannya dengan senyum tipis yang dipaksakan.Tak lama kemudian, majelis hakim memasuki ruang sidang. Semua orang berdiri. Sidang pun dimulai.Sidang pertama berlangsung jauh lebih tenang daripada yang dibayangkan Bita.Hakim membuka persidangan, memeriksa identitas kedua belah pihak, lalu memberi kesempatan kepada keduanya untuk menempuh mediasi sesuai prosedur.Namun keputusan mereka tetap sama. Papa dan Mami tetap pada pendirian masing-masing. Mediasi dinyatakan tidak mencapai kesepakatan.Majelis hakim kemudian menetapkan jadwal sidang berikutnya sebelum akhirnya mengetukkan palu. "Sidang ditutup."Ruangan perlahan kembali dipenuhi suara kursi yang bergeser dan langkah kaki orang-orang yang mulai meninggalkan tempatnya.
Vino sebenarnya sudah menduga Bita tidak akan puas hanya berkeliling kompleks. Dan dugaannya tepat. Setiap kali ia hendak memutar balik motornya, Bita selalu menggeleng sambil menunjuk ke depan. "Sedikit lagi." Vino menurut. Beberapa menit kemudian ia kembali memperlambat motor, berniat berbalik. Namun lagi-lagi Bita menggeleng. "Sedikit lagi." Sedikit demi sedikit itu akhirnya membawa mereka keluar dari kompleks, menyusuri jalanan kota tanpa tujuan yang jelas. Tanpa terasa, sore hampir habis. Langit yang semula hanya mendung kini benar-benar menggelap. Rintik pertama jatuh di kaca spion. Lalu disusul rintik kedua. Hingga dalam hitungan detik hujan turun semakin deras. Vino secepatnya membelokkan motor menuju satu-satunya bangunan yang terlihat di sepanjang jalan. Sebuah toko kecil, dan saayangnya toko itu sudah tutup. Motor berhenti tepat di depan t
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu
"Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa
"Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung







