LOGIN"Ma? Berlebihan banget nggak, sih?"
Bita mengembuskan napas panjang sambil menatap bayangannya di cermin.Anggun yang masih berdiri di belakangnya langsung menggeleng tak setuju."Berlebihan apanya? Ini justru pas buat acara formal." Ia merapikan sedikit helaian rambut putrinya. "Kamu bilang ulang tahun mama teman kamu di hotel, kan? Berarti tamunya pasti banyak orang penting. Masa kamu datang kayak habis beli cilok depan kampus?"Bita mendesah pelan.MPintu Asteria Café terbuka, Vino melangkah pelan memasuki kafe dengan masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Pandangannya sempat menyapu ke sekeliling. Kondisi kafe yang tidak terlalu ramai membuatnya cukup mudah menemukan sosok yang ia cari. Tamara duduk di salah satu sudut kafe. Begitu menyadari kedatangannya, perempuan itu langsung melambaikan tangan ke arahnya. Vino segera menghampirinya. “Udah lama nunggunya?” tanyanya begitu mengambil tempat duduk di hadapan Tamara. Tamara melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Nggak lama. Baru empat puluh tujuh menit.” Hampir satu jam. Waktu yang sebenarnya cukup untuk membuat Tamara hampir mati bosan. Ia bahkan sempat beberapa kali menyandarkan tubuh ke kursi, memainkan ponselnya tanpa tujuan, sampai hampir tertidur karena terlalu lama menunggu. Belum lagi waktu yang terbuang itu sudah pasti membuatnya terlambat datang ke lokasi sy
"Oke. Kalau gitu besok kita ketemu di Asteria Café aja ya jam sebelas. See you.” Setelah sambungan terputus, Tamara masih menatap layar ponselnya dengan senyum lebar yang belum juga hilang. Tak lama kemudian, pintu ruang makeup terbuka. Asistennya masuk sambil membawa segelas kopi yang sejak tadi diminta Tamara untuk dipesankan. “Ini kopinya.” Tamara menerima gelas tersebut. “Thanks, La." Lala memperhatikan Tamara yang kini menyesap kopinya dengan senyum yang tak juga luntur. “Ngapain kamu senyum-senyum? Kesambet?” Meski Tamara memang memiliki wajah cantik yang bisa dengan mudah membuat banyak laki-laki jatuh hati sejak detik pertama melihatnya, apalagi setelah penampilannya dipoles sedemikian rupa, dengan rambut panjang yang ditata bergelombang lembut, makeup soft glam yang semakin menonjolkan mata abu-abu terangnya, serta gaun hitam elegan yang membalut tubuhnya, untuk menghadiri Ardelle Fashion Night beber
Adrian menghela napas. “Saya paham kenapa kamu ingin melakukan itu. Tapi kamu juga harus memahami posisi kamu sekarang.”Kelopak mata Vino mengerjap. “Nama kamu memang sedang naik. Tapi jangan berpikir semua perhatian yang kamu dapatkan sekarang semata-mata karena orang melihat potensi kamu. Sebagian besar momentum kamu saat ini datang dari iklan itu. Dan di dalam iklan itu ada Tamara.”Adrian berhenti sejenak, memberikan waktu Vino meresapi ucapannya. “Kamu talent baru. Sementara Tamara sudah punya nama jauh sebelum kamu muncul. Dia sudah punya basis penggemar, sudah dikenal publik, dan ketika kalian muncul bersama di iklan, responsnya ternyata sangat besar. Publik menyukai kalian sebagai pasangan di iklan. Itu yang kemudian membuat nama kamu ikut terangkat.”Adrian kembali membuka laptopnya, lalu memutar layar sedikit ke arah Vino. Beberapa daftar pekerjaan dan permintaan kerja sama terlihat di sana. “Lihat ini.”Vino menoleh
Saat memasuki lobi agensi, Vino kembali merasakan beberapa pasang mata yang mengarah kepadanya. Hal seperti itu sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Sejak resmi menjadi talent di agensi ini, sesekali Vino memang mendapati orang-orang memperhatikannya. Entah karena mengenali wajahnya sebagai talent baru, sekadar penasaran, atau mungkin karena penampilannya yang memang cukup mudah menarik perhatian. Namun, hari ini rasanya sedikit berbeda. Beberapa orang yang sedang berbincang di dekat area lounge sempat menoleh ke arahnya. Ada yang hanya memandang sekilas, ada pula yang tampak membisikkan sesuatu kepada rekannya. Vino tidak terlalu memedulikannya. Ia sudah terbiasa diperhatikan. Hanya saja, ketika langkahnya semakin mendekati meja resepsionis, samar-samar telinganya menangkap satu nama yang beberapa kali disebut dalam bisikan itu. Tamara. Vino sempat menghela napas pelan sebelum memilih tidak menoleh dan teru
“Duh, pusingnya ini kepalaaa!” Sasha menengadahkan kepalanya ke atas, meninggalkan sejenak layar laptop di hadapannya. Ia mengusap keningnya dengan telapak tangan, lalu mengembuskan napas panjang. Bita dan Dira yang sejak tadi sama-sama menghadap layar laptop itu ikut menghela napas. Flowchart sistem pembelian memenuhi hampir seluruh layar. Beberapa proses dari bagian gudang hingga bagian pembelian sudah tersusun lengkap dengan dokumen dan panah penghubung, tetapi bagian tengahnya masih berantakan. Dua kotak proses bergeser ke samping, sementara beberapa panah dan dokumen masih belum mereka tentukan alurnya karena sejak tadi belum menemukan urutan yang tepat. “Kerjain besok-besok aja, kenapa, sih?” keluh Sasha kepada kedua temannya. “Toh, masih seminggu lagi juga.” “Besok juga pasti ada tugas lagi, lusa juga bakal ada lagi,” sahut Bita. “Kalau yang ini kita tunda, nanti malah makin numpuk. Mending kelarin sek
“Bita!” Langkah Bita terhenti begitu beberapa teman seangkatannya menghampirinya dan mengerubunginya di depan ruang kelas ketika ia baru saja masuk. “Kok nggak bilang-bilang sih kalau pacar kamu beneran jadi artis? Kita taunya dari gosip yang disebar Martin. Mana kita percaya sama si tukang ngibul itu? Eh, ternyata beneran,” sembur salah satu dari mereka, langsung disambung temannya tanpa jeda. “Harusnya kamu dong yang kasih tahu ke kita-kita. Diumumin kek, bangga gitu.” “Kenapa diem-diem aja sih, Ta? Kamu kan pacarnya.” “Apa kalian udah putus?” “Eh, jadi rumor kalian putus itu beneran?” “Aku lihat juga beberapa bulan ini kalian nggak kelihatan interaksinya. Padahal dulu waktu masih temenan aja kalian ke mana-mana bareng.” Bita mengerjap-ngerjapkan mata, menatap mereka bergantian. Mulutnya sudah terbuka hendak mengeluarkan suara, tetapi kembali ditimpa suara lain.
"Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino
"Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu







