共有

Bab 63

作者: macaroonie
last update 公開日: 2026-06-15 15:10:41

Bersandar dengan satu kaki terlipat ke belakang, Vino arahkan pandangannya menyorot pintu ruang 103 disisi kanan tidak jauh darinya.

Hampir sepuluh menit tidak ada pergerakan dari sana hingga Vino melihat pintu terbuka dan seorang dosen muncul keluar. Lalu diikuti para mahasiswa yang menyusul keluar tidak lama kemudian.

Tidak perlu usaha lebih untuk menemukan Bita. Kebanyakan mahasiswi ekonomi lebih memilih menggunakan shoulder bag, namun tidak dengan Bita. Tinggal menilik s
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 83

    Ujung ban depan motor Vino berhenti di depan garis zebra cross. Diikuti Honda Civic milik Fero yang berhenti mulus di sisi kirinya. Sama-sama menunggu lampu lalu lintas berganti warna. Kaca jendela yang turun setengah membuat pantulan sosok Fero yang terlihat dari kaca spion menyapa lapang pandang Bita. Dengan artian baik Fero maupun Bita mampu melihat satu sama lain. Bita kontan memindahkan wajahnya memaling ke kanan, dan berusaha sebisa mungkin tidak terlihat dari balik helm Vino. Diliriknya penghitung mundur yang menggantung di atas. Masih empat puluh dua detik lagi menuju hijau. Sementara pantatnya sudah panas sekali duduk di atas motor Vino. Bukan karena joknya yang lumayan tinggi hingga memaksa pantatnya agak terangkat. Namun genggaman tangan Vino yang belum mau membebaskan lengannya. Bahkan Vino hanya mengendarai dengan satu tangan. Seakan jika tidak di tahan oleh tangannya, Bita akan langsung terbang tersapu angin. Lebih-lebih posisi duduk mereka yang nyaris tanpa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 82

    "Aku nggak mau kalo kamu sampai macem-macem sama Fero."Untuk kesekian kalinya, Bita memberikan peringatan pada Vino. Duduk menyamping di atas motor dengan tangan bersedekap dada, Vino mendengus dari balik helmnya. "Emang gue mau ngapain Fero? Muka gue keliatan kayak kriminal?"Helm yang sudah terpasang di kepalanya, membuat wajah Vino hanya terlihat separuh. Namun dari bagian matanya yang tampak, Bita jelas melihat kilat bahaya yang cukup membuatnya yakin kemana semua ini akan bermuara."Kalo tujuan kamu mengajak Fero ke rumah kamu supaya kamu bisa leluasa menekannya, aku nggak akan ngomong sama kamu satu tahun full.""Emang tahan? Gue kecup dikit desah juga lo."Netra Bita membulat besar. "Vino!" Ditaboknya lengan laki-laki itu."Bener, kan?""Udah aku bilang jangan ngomong aneh-aneh di kampus!""Kalo di kamar boleh berarti?" Vino mencekal pergelangan tangan Bita yang hendak melayangkan p

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 81

    "Kamu jangan aneh-aneh ya, Vin." Bita menatapnya sangsi, memahami ke mana arah pembicaraan ini akan berujung."Apa? Gue cuma menawarkan bantuan?""Aku kenal kamu dan aku tahu kamu sedang merencanakan sesuatu. Dan sesuatu itu udah pasti bukan hal yang baik."Vino memasang raut tertohok. "Gue sejelek itu di mata lo, Ta? Sampai lo nggak percaya gue?"Bita mendesah. "Kalo gitu buat apa kamu menawarkan bantuan ke Fero?""Lo belum tau kalo Fero menganggap gue sama dia setara dalam hubungan persahabatan dengan lo?" tanya Fero. Mata Bita menyipit saat memandangi Fero dan Vino secara bergantian. "Emang kalian pernah ngobrol berdua?"Sesaat Vino terdiam sebelum menyuara santai. "Pernah. Ya ... cuma ngobrol-ngobrol biasa. Saling sapa selayaknya temen? Ya kan Fer?"Tidak langsung menjawab, Fero beradu pandang dengan Vino cukup lama kemudian menganggukkan kepalanya.Bita belum mau melunturkan sorot mata curiganya.

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 80

    "Lagi kumpul keluarga besar antar generasi ceritanya? Ikut, dong."Hening merayap di antara mereka. Tidak seorang pun terlihat berniat menjawab pertanyaan Vino."Kalo kamu mau merusuh, jangan sekarang. Kami lagi belajar buat ujian nanti." Bita menjatuhkan peringatan.Vino menyipitkan matanya pada Bita yang menatapnya datar. "Siapa yang mau merusuh? Orang gue cuma duduk dan pengen liat proses belajar kalian."Diambilnya catatan Fero tanpa permisi. "Sebagai anak manajemen, gue menyimpan banyak rasa penasaran terhadap hal-hal yang dikerjakan anak-anak akuntansi yang manis-manis ini."Sasha menampilkan raut jijik sebelum beringsut meninggalkan kursinya dengan alasan ingin meminjam buku di perpustakaan.Vino memindahkan perhatiannya dari Sasha yang menyambar bukunya lalu melipir dengan langkah kaki tergesa ke laki-laki asing di depannya. "Lo nggak ikutan pergi? Tiba-tiba pengen ngapain gitu? Kebelet boker?"Bagas menggelengka

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 79

    Bita menghela napas panjang sambil memandangi catatannya. "Aku masih suka ketuker antara biaya sama beban.""Nah!" Sasha menjentikkan jarinya. "Aku juga. Perasaan sama-sama keluar uang. Kenapa dosen ngotot bilang beda?""Karena memang beda."Bita dan Sasha serentak menoleh pada Fero. Bersama Bagas, Fero kembali bergabung di gazebo dengan kedua gadis itu guna mempersiapkan ujian berikutnya.Bagas menunjuk Fero. "Bener, kan? Udah gue bilang dia google berjalan, Kak. Gerak dikit udah bisa buka kuliah umum. Coba apa bedanya, Fer. Gue juga mau tau."Pipi Fero sedikit memerah. Namun setelah didesak tatapan penasaran dua mahasiswi itu, ia akhirnya melanjutkan."Biaya itu lebih ke pengorbanan sumber daya untuk memperoleh manfaat ekonomi. Sementara beban adalah bagian dari biaya yang manfaat ekonominya sudah dipakai dalam periode berjalan."Bita berkedip. "Bisa pake bahasa bayi?"Fero tertawa kecil."Misalnya pe

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 78

    Bita turun dari motor ojek online tepat di depan gerbang rumah. Di tangannya tergenggam segelas matcha mint latte ukuran sedang yang dibelinya dalam perjalanan pulang.Gelas plastik bening itu masih dingin. Butiran embun menempel di permukaannya, sementara warna hijau pucat minuman di dalamnya tampak kontras dengan tutup transparan yang membungkus bagian atas.Bita menatap minuman tersebut beberapa detik. Kemudian menatap rumah di seberang. Lebih tepatnya pada mobil toyota sedan yang sudah terparkir di teras. Niat Bita ingin memberikan minuman ini untuk Vino supaya mereka bisa berdamai. Meski jelas dengan Vino terlebih dulu mengirimnya pesan membuktikan bahwa laki-laki itu tidak lagi memendam amarah, namun tetap saja Bita kesulitan menyingkirkan rasa canggung yang mengganjal di dadanya.Bagaimanapun juga, mereka baru saja melalui perang dingin tersengit setelah percakapan yang berakhir tidak menyenangkan di basement kampus. Banyak dari ucapan Bit

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 19

    "Lo bukan kucing liar. Tapi rubah licik."Bita sama sekali tidak tersinggung. Ia justru mengulas senyum sensual. "Merasa tersanjung bisa dipanggil rubah licik oleh Tuan Alvino."Saat ditoilet, Bita menyadari Vino yang langsung tak karuan desahannya waktu Bita bergerak tak nyaman diatas benda kerasn

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 18

    Vino menepati janjinya. Pukul sepuluh malam laki-laki itu mengetuk pintu balkon kamar Bita dengan senyum badung sarat arti. Kata-kata yang hendak Bita keluarkan tertelan begitu saja sewaktu Vino tanpa peringatan menerjangnya dengan ciuman. Memojokkan Bita disudut kamar dan berakhir pasrah menerim

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 17

    "Menurut kamu, warnanya lebih bagus yang mana ?" Sasha menyodorkan gadgetnya pada Bita. Layarnya menampakkan gambar dua produk lipstik yang niatnya ingin Sasha beli salah satunya, namun ia bingung yang mana. Bita menatapnya sekilas. "Yang oren.""Nggak ada oren, Ta. Ini pink sama red cherry," prot

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 16

    "Aku minta maaf!" sesal Bita dengan napas memburu. Tangannya melilit lengan Vino dikoridor gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Bita bersyukur mereka satu fakultas, jadi tidak susah untuk Bita menemukannya karena masih satu gedung. Hanya saja lagi-lagi Vino menghindari Bita yang menunggu diluar ru

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status