Home / Romansa / Binar / Ch 10 | Bersama Teman Baru

Share

Ch 10 | Bersama Teman Baru

last update publish date: 2026-11-01 00:36:12

Kelas bubar pukul empat lebih sedikit.

Dosen menutup laptopnya, mengucapkan sesuatu tentang pertemuan minggu depan, lalu keluar lebih dulu dengan langkah orang yang sudah tahu bahwa mahasiswa baru tidak akan langsung bergerak. Dan memang tidak ada yang langsung bergerak. Tiga puluh dua orang duduk diam beberapa detik, saling melirik, menunggu seseorang menjadi yang pertama berdiri.

Dutta yang pertama berdiri.

Tentu saja.

"Oke," katanya sambil menyampirkan tas ke satu bahu. "Kita pulang."

"Kita?" Rangga mengangkat alis dari bangku belakang. "Siapa 'kita'?"

"Semua yang masih mau hidup."

Aku memasukkan buku catatan ke tas. Halamannya sudah tidak kosong lagi. Tiga halaman, kalau yang setengah dihitung.

Lalu aku ikut berdiri. Bukan karena diajak. Tapi karena empat orang di sekitarku sudah berdiri, dan tetap duduk sendirian di barisan tengah terasa jauh lebih canggung daripada ikut.

Mengekor lagi.

Aku mulai menyadari ini sebagai pola.

Dutta jalan, aku ikut. Sistemnya sederhana.

Jarak dari kelas ke parkiran sekitar tiga ratus meter. Kami menempuhnya dalam dua puluh menit.

Bukan karena jalannya macet. Tidak ada yang macet di koridor fakultas jam segini. Hanya saja lima orang yang katanya mau pulang ternyata punya terlalu banyak hal untuk dibahas di setiap sepuluh langkah. Akbar berhenti di depan papan pengumuman untuk membaca jadwal yang sudah ia baca tadi pagi. Alam berhenti untuk membenahi tali sepatu yang sebenarnya tidak lepas. Rangga berhenti karena yang lain berhenti, dan Dutta berhenti setiap kali ada orang yang ia kenal, atau yang ia merasa sudah kenal, atau yang ia putuskan untuk dikenal saat itu juga.

"Dosen tadi ramah ya," kata Akbar.

"Ramah dari mana? Tugasnya dikasih di menit ketiga," jawab Alam.

"Itu bukan tugas, itu perkenalan."

"Perkenalan yang ada deadline-nya."

"Wan, menurut lu?" Dutta menoleh. "Ramah apa nggak?"

Mereka semua menoleh. Lima pasang mata, atau empat, karena Rangga masih sibuk dengan ponselnya.

"Ramah," kataku. "Tapi deadline-nya tetap deadline."

Akbar tertawa paling keras. Alam menunjuk ke arahku dengan wajah seseorang yang baru saja memenangkan argumen. Dutta menepuk pundakku lagi, kali kedua hari ini, dan aku mulai curiga itu bagian dari caranya mengucapkan setuju.

Kami melanjutkan jalan. Pelan. Sangat pelan.

Di koridor, kelompok-kelompok lain lewat dengan ritme yang sama, mahasiswa baru berkerumun dalam lingkaran kecil, saling bertanya jurusan dan asal sekolah dengan sopan yang masih kaku. Beberapa kakak tingkat melintas dengan wajah orang yang sudah hafal tempat ini dan tidak lagi perlu melihat papan petunjuk. Aku memperhatikan semuanya dari sisi, seperti biasa, sambil sesekali menjawab kalau ada yang bertanya.

Dan anehnya, aku tidak ingin cepat sampai.

Parkiran sore hari punya suasana yang berbeda dari parkiran siang. Matahari sudah miring, bayangan motor-motor memanjang ke arah barat, dan sebagian besar kendaraan yang tadi berjajar rapi sudah pergi, menyisakan petak-petak kosong yang terlihat seperti gigi yang copot.

Empat motor matic berjajar di sisi kiri. Milik Dutta, Akbar, Rangga, dan Alam, berdempetan seperti sudah saling kenal lebih lama dari pemiliknya.

Dan di ujung paling kanan, agak terpisah, motorku.

Hitam. Jok tunggal. Knalpot yang menyembul lebih panjang dari yang akan dibenarkan oleh kebanyakan orang tua.

Langkah Akbar berhenti lebih dulu.

"Itu," katanya pelan, menunjuk. "Itu motor lu?"

"Iya."

"Yang tadi bunyinya masuk parkiran?"

"Iya."

"Tadi di kelas gue kira lu cuma ngomong doang."

"Kenapa aku harus bohong soal motor?"

"Ya nggak tau. Orang kalem biasanya motornya ya... kalem."

Mereka semua sudah mengelilingi motorku sekarang, melingkar setengah lingkaran dengan jarak yang sopan, seperti orang yang sedang mengamati hewan langka di kebun binatang dan belum yakin boleh mendekat atau tidak. Mereka tidak terlalu kaget. Tapi cukup kaget. Jenis kaget yang tidak sampai membuat orang berteriak, hanya membuat mulut terbuka sedikit dan lupa ditutup.

"Gila," kata Alam akhirnya. "Ini beneran motor? Bukan motor-motoran buat foto?"

"Itu motor beneran."

"Boncengannya mana?"

"Jok tunggal."

"Jadi nggak bisa bonceng siapa-siapa?"

"Bisa. Kalau orangnya mau duduk di knalpot."

Dutta tertawa terlalu keras sampai harus menyandarkan diri ke motornya sendiri. Rangga hanya menggeleng pelan, tapi sudut bibirnya naik, dan dari seseorang seperti Rangga, itu sudah setara dengan tertawa terbahak.

"Berisik nggak sih ini?" Rangga bertanya. "Gue denger tadi. Dari gedung depan juga kedengeran."

"Lumayan."

"Lumayan atau banget?"

"Banget."

"Nggak ditegur satpam?"

"Belum. Mungkin nanti."

Akbar sudah berjongkok di sebelah roda depan, memperhatikan knalpot dari jarak yang menurutku agak terlalu dekat. "Ini bukan knalpot standar, kan?"

"Bukan."

"Pantesan. Ganti sendiri?"

"Dibantu bengkel langganan."

"Boleh pegang?"

"Jangan. Masih panas."

Akbar menarik tangannya secepat orang yang baru saja kena listrik. Alam menahan tawa. Aku menahan sesuatu yang lain, semacam bangga yang tidak enak untuk ditunjukkan, tapi juga tidak enak untuk disembunyikan.

Dua tahun menabung. Dan sekarang, empat orang berdiri mengelilinginya seperti benda yang layak ditanyai.

Rasanya aneh. Tapi aneh yang menyenangkan.

Biasanya pertanyaan yang kudapat soal diriku hanya sebatas nama, jurusan, dan asal sekolah, jawaban-jawaban pendek yang selesai sebelum sempat jadi obrolan. Sore ini, untuk pertama kalinya, yang ditanyai adalah sesuatu yang kupilih sendiri.

"Wan," panggil Dutta, setelah tawanya mereda. "Serius nih, lu keliatannya kayak orang yang motornya Beat."

"Aku juga sering dibilang begitu."

"Terus kenapa ini?"

Aku menatap motorku sebentar. Pertanyaan yang sederhana, tapi jawabannya tidak sesederhana itu.

"Karena kalau yang bersuara motornya," kataku akhirnya, "aku nggak perlu."

Hening sebentar.

Lalu Akbar mengangguk pelan, seperti baru mendengar sesuatu yang lebih dalam dari yang ia duga, dan Dutta menatapku lebih lama dari yang biasanya ia lakukan pada siapapun.

"Kalimat tadi," kata Alam, "boleh gue pake buat caption?"

"Nggak."

"Pelit."

"Wan."

Aku menoleh.

Guntur berdiri beberapa langkah di belakang kami, helm menggantung di satu tangan, ransel di bahu satunya. Wajah yang tenang, langkah yang tenang, cara berdiri yang tidak meminta perhatian siapapun. Orang pertama yang kukenal di kampus ini, jauh sebelum grup kelas ramai dan sebelum nama-nama yang suaranya paling keras mulai punya wajah.

"Guntur," kataku. "Dari mana?"

"Gedung belakang." Ia melirik motorku lalu melirik kerumunan kecil di sekelilingnya. "Dari jauh udah keliatan ada yang ngumpul. Tadinya gue kira ada kecelakaan."

"Cuma motor."

"Iya. Motor yang bikin orang ngumpul."

Di sebelahnya ada seseorang yang belum pernah kulihat. Tinggi, santai, tersenyum dengan cara orang yang terbiasa dikenal sebelum sempat memperkenalkan diri.

"Ren!" Rangga langsung berseru. "Lu masih idup?"

"Masih. Lu sendiri udah kelar orientasi apa belum?"

"Udah. Kemarin. Gue nggak mati."

"Sayang."

Mereka bersalaman dengan cara yang dimiliki dua orang yang sudah terlalu lama kenal untuk perlu basa-basi. Rangga menoleh ke arah kami. "Kenalin, ini Rendra, temen gue. Ren, ini Dutta, Akbar, Alam, sama Awan."

"Yang motornya itu?" Rendra menunjuk dengan dagu.

"Iya."

"Wah." Ia menatapku dan motorku bergantian. "Gue kira pemiliknya orang yang lebih ... gimana ya."

"Lebih berisik?" tanyaku.

"Iya."

"Banyak yang bilang begitu."

Rendra tertawa. Tawa yang ringan, yang tidak menuntut siapapun ikut tertawa.

Dan begitu saja, parkiran itu berubah. Tujuh orang sekarang berdiri melingkar di antara motor-motor matic dan satu cafe racer, dan percakapan yang tadinya hanya berjalan di satu lajur mendadak terbelah jadi beberapa. Akbar menjelaskan sesuatu kepada Rendra tentang knalpotku dengan antusiasme orang yang sedang menceritakan miliknya sendiri. Alam dan Rangga berdebat tentang siapa yang paling lama menunggu di jalan sore. Dutta berusaha menyatukan semuanya dengan kalimat-kalimat yang terlalu keras untuk diabaikan.

Meriah.

Dan seperti biasa, dalam keadaan seperti ini, aku bergeser pelan ke sisi.

Bukan karena tidak suka. Aku hanya tidak punya cara untuk ikut ke dalam percakapan yang begini cepat, yang lompat dari satu topik ke topik lain tanpa menunggu siapapun menyelesaikan kalimat. Yang kupunya adalah cara lain, yaitu satu orang, satu percakapan, volume yang cukup rendah untuk benar-benar didengar.

Guntur sudah ada di sebelahku. Ia bergeser tanpa bicara, seolah tahu itu tempat yang tepat.

"Hari pertama," katanya pelan. "Gimana?"

"Lebih berisik dari yang kubayangkan."

"Berisik yang mana? Mereka atau motormu?"

"Dua-duanya."

Ia tersenyum kecil. "Tapi kamu keliatannya nggak keberatan."

Aku menatap lingkaran di depan kami. Akbar sedang memperagakan sesuatu dengan tangan. Rendra tertawa. Rangga menggeleng. Dutta menepuk pundak seseorang, entah siapa.

"Belum," jawabku. "Mungkin nanti."

"Nanti ya nanti."

Aku mengangguk. Di seberang lingkaran, motorku diam di bawah matahari sore, diperhatikan tanpa bersuara.

"Tadi pagi gimana Zoom-nya?" tanya Guntur.

"Lancar. Dosennya enak."

"Mereka?" Ia mengarahkan dagunya ke lingkaran di depan kami.

"Mereka lebih hidup di kolom chat dari dosennya di layar."

Guntur tertawa tanpa suara, hanya bahunya yang bergerak.

Kalimat sederhana. Tapi jenis kalimat yang membuat bahu turun sedikit.

Bicara dengan Guntur tidak pernah melelahkan. Kami bisa diam tiga detik tanpa ada yang merasa harus mengisinya, dan itu, bagiku, adalah bentuk kenyamanan yang paling jarang kutemukan. Di sampingnya, aku tidak perlu menjadi sesuatu. Cukup berdiri.

Di tengah lingkaran, Rangga bertepuk sekali, cukup keras untuk membuat semua orang menoleh.

"Eh, dengerin." Ia menyimpan ponselnya ke saku. "Sore ini kosong nggak? Ke rumah gue aja. Daripada pada pulang, nanggung."

"Ada makanan?" tanya Dutta, tanpa jeda.

"Ada nyokap gue."

"Itu bukan jawaban."

"Itu jawaban terbaik yang bisa lu dapet."

"Berangkat," kata Akbar.

"Jauh nggak?" tanya Alam.

"Dua puluh menit."

"Dua puluh menit versi lu atau versi G****e?"

"Versi gue."

"Berarti empat puluh," kata Alam, tapi ia sudah mengambil kunci motornya.

Satu per satu semuanya setuju. Dutta paling cepat, Rendra tinggal ikut karena memang sudah bersama Rangga dari awal, Guntur mengangguk dengan satu kata. Dan lingkaran itu perlahan menoleh ke arahku, karena tinggal aku yang belum bersuara.

Ini bagian yang selalu paling sulit. Bukan karena aku tidak ingin ikut, tapi karena ada bagian dari diriku yang otomatis mencari alasan untuk pulang. Capek. Besok pagi. Mamah pasti nyariin. Seribu alasan kecil yang tidak pernah benar-benar kubutuhkan, tapi selalu siap sedia di kantong.

Belum sehari. Baru bertemu langsung beberapa jam. Sekarang ke rumah orang?

"Wan," kata Guntur, pelan, hanya terdengar olehku. "Ikut aja. Kalau capek, bilang."

Itu saja.

Tidak ada bujukan. Tidak ada paksaan. Hanya satu kalimat yang menyisakan pintu di belakang.

"Boleh," kataku. "Aku ikut."

"NAH," kata Dutta.

Aku mengeluarkan ponsel, mengetik cepat ke Mamah.

Mah, Kakak main ke rumah temen dulu. Pulangnya agak sore.

Balasan datang sebelum aku sempat memasukkan ponsel ke saku. Mamah pasti sedang menatap layarnya di sela-sela pekerjaan.

Iya, hati-hati ya Kak. Udah pake celana kan?

Aku menghela napas panjang.

Udah, Mah.

Bagus. Jangan lupa ucapin terima kasih ke ibu temennya.

Aku menyimpan ponsel dan memakai helm. Tidak ada gunanya menjelaskan kepada siapapun kenapa aku tersenyum sendiri di balik kaca helm yang gelap.

Rangga memimpin di depan. Di belakangnya Dutta, lalu Akbar dan Alam yang entah kenapa tidak bisa berhenti saling menyalip kecil-kecilan, Rendra di belakang mereka dengan motornya sendiri, lalu aku, dan terakhir Guntur, yang memilih posisi paling belakang tanpa ada yang bertanya kenapa.

Tujuh motor. Satu iring-iringan.

Masalahnya, enam di antaranya berjalan dengan kecepatan yang menurut ukuran motorku lebih mirip jalan kaki yang dibantu mesin.

Aku harus menurunkan gigi. Dan menurunkannya lagi. Mesin yang biasanya bisa menarik dengan tenang di kecepatan menengah sekarang dipaksa merayap di belakang Rendra, mengeluarkan raungan rendah yang terdengar seperti singa yang diminta ikut antre di TK.

Beberapa pengendara di sebelah kanan menoleh. Satu ibu-ibu di atas motor bebek bahkan menatapku sampai lampu hijau datang.

Aku menunduk sedikit di balik helm.

Di depan, Akbar memutar badannya setengah, menatapku dari spion, lalu mengacungkan jempol tinggi-tinggi seolah baru menyaksikan sesuatu yang patut dirayakan. Aku tidak membalas. Aku hanya menahan tawa yang sudah naik sampai ke tenggorokan.

Jalan raya sore mulai padat. Matahari sudah jatuh di sisi kiri, memantul oranye dari kaca-kaca toko yang kami lewati satu per satu. Lampu merah menyala. Tujuh motor berhenti berjajar, dan untuk beberapa detik tidak ada suara kecuali deru mesin yang dibiarkan menyala, dan satu di antaranya terdengar lebih keras dari yang lain.

Dutta menoleh ke belakang, mencari-cari dengan matanya sampai menemukanku. Ia mengangkat dua jari ke pelipis, memberi hormat tanpa alasan.

Aku membalas dengan anggukan kecil.

Lampu hijau.

Kami berjalan lagi.

Di persimpangan berikutnya Rangga mengangkat tangan kiri, memberi tanda belok, dan enam motor di belakangnya mengikuti tanda itu satu per satu seperti rantai yang percaya pada mata rantai pertama. Rendra menoleh sekilas ke arahku, lalu ke spionnya, lalu menggeleng kecil dengan senyum yang kuartikan sebagai sesuatu antara geli dan kagum. Di belakangku, lampu motor Guntur menyala tenang, menjaga jarak yang tepat. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.

Dan di titik ini aku teringat sesuatu. Tadi siang, di jalan yang sama, aku sempat berpikir betapa menyenangkannya kalau semua hal bisa sesederhana ini. Tinggal jalan lurus. Belok kalau perlu. Berhenti kalau lampu merah. Tidak ada yang harus ditebak.

Sekarang jalannya sama. Lampunya sama. Hanya saja ada enam punggung di sekitarku, yang harus kuikuti, yang harus kuimbangi, yang sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan aku masih ada.

Masih sederhana, pikirku. Cuma bedanya, sekarang aku nggak sendirian.

Aku menurunkan gigi sekali lagi. Mengikuti punggung Rangga yang berbelok masuk ke jalan yang belum pernah kulewati, menuju rumah yang belum pernah kulihat, bersama orang-orang yang tadi pagi masih berupa nama di kolom chat, dengan satu lampu motor yang tenang terus mengikuti di belakangku.

Motorku meraung.

Kali ini, aku tidak keberatan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Binar   Ch 10 | Bersama Teman Baru

    Kelas bubar pukul empat lebih sedikit.Dosen menutup laptopnya, mengucapkan sesuatu tentang pertemuan minggu depan, lalu keluar lebih dulu dengan langkah orang yang sudah tahu bahwa mahasiswa baru tidak akan langsung bergerak. Dan memang tidak ada yang langsung bergerak. Tiga puluh dua orang duduk diam beberapa detik, saling melirik, menunggu seseorang menjadi yang pertama berdiri.Dutta yang pertama berdiri.Tentu saja."Oke," katanya sambil menyampirkan tas ke satu bahu. "Kita pulang.""Kita?" Rangga mengangkat alis dari bangku belakang. "Siapa 'kita'?""Semua yang masih mau hidup."Aku memasukkan buku catatan ke tas. Halamannya sudah tidak kosong lagi. Tiga halaman, kalau yang setengah dihitung.Lalu aku ikut berdiri. Bukan karena diajak. Tapi karena empat orang di sekitarku sudah berdiri, dan tetap duduk sendirian di barisan tengah terasa jauh lebih canggung daripada ikut.Mengekor lagi.Aku mulai menyadari ini sebagai pola.Dutta jalan, aku ikut. Sistemnya sederhana.Jarak dari k

  • Binar   Ch 9 | Perkuliahan Pertama Di Kampus

    Pukul dua siang, aku sudah berdiri di depan lemari lagi.Kemeja biru muda yang sama masih menempel di badan sejak pagi, tapi sekarang giliran bagian bawah yang harus menyusul. Kolor kotak-kotak sudah kulepas, digantikan celana panjang berwarna abu gelap yang kuseterika terburu-buru sepuluh menit lalu karena ternyata masih ada bekas lipatan yang membandel di bagian lutut. Aku menariknya, memasukkan ujung kemeja ke dalam dengan rapi, lalu berdiri sekali lagi di depan cermin.Kali ini dari atas sampai bawah semuanya cocok. Tidak ada yang perlu ditutupi meja.Zoom tidak melihat ke bawah meja, batinku, tapi tatap muka melihat semuanya. Jadi kali ini semuanya harus benar.Aku menyambar tas ransel yang sudah kusiapkan sejak makan siang, isi seadanya, laptop, buku catatan yang masih kosong halamannya kecuali beberapa poin yang kutulis waktu Zoom tadi pagi, dan botol minum yang belum sempat kuisi ulang. Kuisi cepat-cepat di dispenser dekat dapur, lalu berjalan keluar.Motor sudah menunggu di

  • Binar   Ch 8 | Kemeja Dan Kolor

    Alarm berbunyi pukul enam pagi.Aku tidak langsung mematikannya. Membiarkannya berbunyi beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Bukan karena mengantuk, tapi karena ada sesuatu yang ingin ditunda dari momen sebelum alarm dimatikan. Momen ketika hari belum benar-benar dimulai. Ketika semuanya masih mungkin dan belum ada yang bisa salah.Lalu kutap layarnya. Diam.Aku duduk di tepi kasur.Hari ini hari pertama kuliah.Kalimat itu sudah ada di kepala sejak semalam, sejak aku meletakkan ponsel dan memejamkan mata, sejak tidur yang tidak terlalu nyenyak karena pikiran terus berputar di frekuensi yang tidak bisa dimatikan. Bukan cemas atau mungkin iya, sedikit, tapi bukan jenis cemas yang melumpuhkan. Lebih ke jenis perasaan yang muncul sebelum sesuatu yang besar dan baru dimulai, yang membuat tidur terasa lebih dangkal dari biasanya dan membuat pagi datang lebih cepat dari yang seharusnya.Aku berdiri. Membuka lemari.Zoom pagi, tatap muka sore. Itu jadwal hari ini dua mode yang ber

  • Binar   Ch 7 | Yang Tidak Awan Ketahui

    Di pagi yang sama, di tempat yang berbeda. Kamar Melva lebih rapi dari yang bisa diduga dari seseorang yang baru saja bangun. Kasurnya sudah dirapikan, bukan rapi sempurna, tapi cukup rapi untuk menunjukkan bahwa ini bukan kebetulan, bahwa ada seseorang yang memang terbiasa merapikan tempat tidurnya sebelum melakukan hal lain. Buku-buku di rak tersusun tidak sepenuhnya lurus tapi tidak berantakan. Meja belajarnya bersih kecuali satu gelas yang setengah isinya sudah tinggal sisa air dari semalam. Melva berbaring di atas kasur dengan laptop terbuka di depannya. Bukan untuk belajar. Bukan untuk mengerjakan sesuatu yang produktif. Pagi Minggu tidak seharusnya diisi dengan hal-hal yang produktif, itu prinsip yang tidak pernah ia ucapkan dengan keras tapi selalu ia praktikkan. Jadi laptop terbuka, platform streaming sudah menyala, film yang sudah lama masuk daftar tonton akhirnya mulai diputar. Opening credit masih berjalan. Musik latar yang pelan. Nama-nama yang ia tidak kenal. D

  • Binar   Ch 6 | Tiga Laki-Laki dan Satu Penerjemah

    Tidak ada alarm pagi ini. Hari Minggu. Hari di mana dunia tampaknya menyepakati secara kolektif bahwa tidak ada yang perlu terburu-buru. Aku membiarkan mataku terbuka dengan kecepatan mereka sendiri pelan, malas, menyesuaikan diri dengan cahaya yang sudah masuk dari celah gorden yang tidak pernah benar-benar rapat. Aku berbaring diam sebentar, membiarkan kesadaran kembali pelan-pelan, seperti air yang mengisi bejana dari bawah. Langit-langit kamar. Kipas yang masih berputar. Suara sendok dari arah dapur. Ibu sudah bangun. Tentu saja sudah bangun. Ibu tidak pernah benar-benar tidur sampai siang bahkan di hari libur, ada saja yang dikerjakan, ada saja yang dibenahi, ada saja suara yang keluar dari dapur sebagai bukti bahwa hari ini sedang dimulai oleh setidaknya satu orang di rumah ini. Aku meraih ponsel di sisi kasur. Beberapa notifikasi dari semalam yang belum kubuka. Grup angkatan. Satu pesan dari Milo yang dikirim tengah malam isinya hanya meme yang tidak ada konteksnya, c

  • Binar   Ch 5 | Tadi Kenapa Diem Aja?

    Satu notifikasi.Aku yang baru saja memejamkan mata membukanya kembali.Layar ponsel menyala di sisi kasur, cahayanya terlalu terang untuk ruangan yang sudah gelap ini. Aku meraihnya setengah sadar, setengah berharap itu hanya notifikasi grup angkatan yang tidak penting.Tapi bukan."Wan.."Dua kata. Bahkan bukan dua kata, satu kata dan dua titik yang menggantung, seperti kalimat yang belum selesai, seperti seseorang yang membuka mulut lalu ragu untuk melanjutkan.Aku duduk.Mataku yang tadi sudah hampir menyerah pada kantuk tiba-tiba tidak lagi mengantuk. Aku membaca pesannya sekali lagi. Lalu sekali lagi. Bukan karena tidak mengerti isinya hanya dua karakter, tidak ada yang perlu diurai tapi karena ada sesuatu yang aneh dari cara dua titik kecil itu bisa membuat dadaku tidak bisa tenang.Apa maksudnya?Bisa apa saja. Bisa sapaan biasa. Bisa ia mau bertanya sesuatu. Bisa ia lagi iseng. Bisa ia tidak sengaja mengirim. Bisa...Sudah. Jangan dipikirkan terlalu dalam.Aku mengetik."Gima

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status