LOGINPukul dua siang, aku sudah berdiri di depan lemari lagi.
Kemeja biru muda yang sama masih menempel di badan sejak pagi, tapi sekarang giliran bagian bawah yang harus menyusul. Kolor kotak-kotak sudah kulepas, digantikan celana panjang berwarna abu gelap yang kuseterika terburu-buru sepuluh menit lalu karena ternyata masih ada bekas lipatan yang membandel di bagian lutut. Aku menariknya, memasukkan ujung kemeja ke dalam dengan rapi, lalu berdiri sekali lagi di depan cermin. Kali ini dari atas sampai bawah semuanya cocok. Tidak ada yang perlu ditutupi meja. Zoom tidak melihat ke bawah meja, batinku, tapi tatap muka melihat semuanya. Jadi kali ini semuanya harus benar. Aku menyambar tas ransel yang sudah kusiapkan sejak makan siang, isi seadanya, laptop, buku catatan yang masih kosong halamannya kecuali beberapa poin yang kutulis waktu Zoom tadi pagi, dan botol minum yang belum sempat kuisi ulang. Kuisi cepat-cepat di dispenser dekat dapur, lalu berjalan keluar. Motor sudah menunggu di teras, di tempat yang sama seperti biasanya, cafe racer hitam dengan jok tunggal yang kubeli dari hasil menabung selama dua tahun terakhir SMA. Bukan motor yang paling mahal di antara motor-motor tetangga, tapi motor yang paling terasa seperti milikku sendiri, karena setiap bagian dari motor itu adalah hasil dari sesuatu yang kuputuskan sendiri, bukan warisan atau hadiah dari siapapun. Aku menyalakannya pelan. Membiarkan mesin menyala dan menghangat sebentar sebelum benar-benar berangkat, kebiasaan yang entah kapan dimulai tapi terasa seperti hal yang benar untuk dilakukan setiap kali sebelum berkendara jauh. Lalu aku berangkat. Pelan-pelan dulu keluar dari gang kompleks, menyapa sisa-sisa siang yang masih terik tapi sudah mulai melunak, sebelum akhirnya masuk ke jalan raya yang mulai memadat oleh kendaraan sore. Tidak tergesa-gesa. Aku menambah kecepatan sedikit demi sedikit, membiarkan motor menemukan ritmenya sendiri, dan entah kenapa ada semacam semangat kecil yang muncul begitu knalpotnya mulai meraung, suara yang sedikit lebih kasar dari motor kebanyakan, cukup untuk membuat beberapa pengendara di sebelah menoleh sekilas sebelum kembali fokus ke jalan masing-masing. Aku tidak keberatan dilihat sebentar seperti itu. Bukan karena ingin diperhatikan, tapi karena rasanya menyenangkan, motor ini bersuara seperti apa yang tidak pernah sempat kukatakan di dalam kelas. Jalanan sore selalu punya karakternya sendiri, berbeda dari jalanan pagi yang lebih longgar dan buru-buru dengan caranya masing-masing. Sore ini penuh dengan kendaraan yang pulang kerja lebih awal, angkot yang berhenti sembarangan menaikkan penumpang, dan beberapa pengendara motor lain yang sama-sama menuju kampus dengan jaket almamater yang sudah mulai pudar warnanya, tanda mereka bukan lagi mahasiswa baru sepertiku. Aku menyalip pelan di antara dua angkot yang berhenti beriringan, menahan gas sebentar ketika lampu kuning menyala di persimpangan, lalu melaju lagi begitu jalan benar-benar kosong. Ada semacam ketenangan aneh yang muncul setiap kali duduk di atas motor seperti ini, dunia terasa lebih sederhana, hanya ada jalan di depan, spion di kanan kiri, dan ritme mesin yang bisa dikendalikan sepenuhnya oleh tangan sendiri. Tidak ada yang perlu dipikirkan selain jalan itu sendiri. Kadang aku pengen semua hal sesederhana ini, pikirku, menikmati angin yang menampar pelan wajah dari balik helm. Tinggal jalan lurus, belok kalau perlu, berhenti kalau lampu merah. Nggak ada yang harus ditebak-tebak. Kampus sudah lebih ramai dari yang kubayangkan untuk sesi sore. Aku memarkirkan motor di depan kantor fakultas, di antara barisan motor lain yang sebagian besar terlihat baru, sebagian lagi terlihat sama tuanya dengan usia pemiliknya yang baru lulus SMA tahun ini. Beberapa wajah di sekitar parkiran terasa tidak terlalu asing. Bukan karena aku sudah kenal, tapi karena aku sudah melihatnya, entah dari kotak-kotak kecil di layar Zoom tadi pagi, entah dari hari orientasi kemarin yang penuh dengan name tag dan instruksi panitia yang berteriak lewat pengeras suara portable. Wajah-wajah itu sekarang berjalan dengan langkah sendiri, tanpa kotak nama, tanpa batas layar, dan entah kenapa itu membuat mereka terasa sedikit lebih nyata dari sebelumnya. Aku membuka ponsel, bermaksud mengetik sesuatu di grup untuk bertanya sudah sampai mana yang lain, tapi belum sempat jariku menyentuh layar, seseorang sudah melambaikan tangan dari arah tangga fakultas. Dutta. Wajahnya cocok dengan suara yang kubayangkan dari cara dia mengetik tadi pagi, cepat, santai, dengan semacam percaya diri yang tidak dibuat-buat. Ia melangkah turun dua anak tangga sekaligus, tangannya masih terangkat setengah, seolah lambaian tadi belum selesai. "Eh, anak Zoom tadi pagi!" katanya, cukup keras sampai satu dua orang di dekat parkiran menoleh sebentar. "Yang komen soal nekat itu kan?" Aku hampir tidak sadar bahwa dia menghafal komentarku tadi pagi, komentar singkat yang kutulis tanpa berpikir dua kali. "Iya, itu gua." "Nah bener kan gua bilang. Lu pasti anaknya kalem tapi ngomongnya nyelekit." Dutta tertawa sendiri dengan lelucon yang baru saja ia buat, lalu berjalan mendekat dan menepuk pundakku sekali, ringan, seperti sudah kenal lama padahal ini pertama kalinya kami berdiri di jarak yang bisa ditepuk. "Awan, kan? Gua liat namanya di absen tadi." "Iya, Awan." "Gua Dutta. Udah tau kelasnya di mana belum?" "Belum, baru mau nanya di grup tadi." "Santai, gua tau. Bareng gua aja, sekalian daripada lu bingung-bingung nyari sendiri." Ada sesuatu dari cara Dutta bicara yang membuat aku tidak perlu berpikir dua kali untuk mengikuti. Tidak ada jeda canggung, tidak ada basa-basi yang terasa dipaksakan, semuanya mengalir seperti percakapan yang sudah pernah terjadi sebelumnya, meski jelas belum pernah. Anak ini, pikirku, mengikuti langkahnya menaiki tangga, kayaknya gampang deket sama siapa aja. Kami mengobrol sepanjang jalan menuju gedung kelas, obrolan kecil yang tidak penting tapi entah kenapa terasa menyenangkan, tentang parkiran yang katanya selalu penuh di jam segini, tentang dosen yang katanya killer tapi sebenarnya baik kalau sudah kenal, tentang kelas Zoom tadi pagi yang menurut Dutta terlalu formal untuk pertemuan pertama. "Kalo tatap muka mah beda lagi, Wan. Lu bakal liat sendiri." "Beda gimana?" "Ya beda aja. Orang nggak bisa off camera kalo di kelas beneran." Dutta terkekeh pada leluconnya sendiri lagi, dan aku mendapati diriku ikut tersenyum, bukan karena leluconnya benar-benar lucu, tapi karena caranya menikmati leluconnya sendiri itu yang lucu. Dosen sudah ada di dalam kelas ketika kami sampai, berdiri di depan sambil menata beberapa kertas di atas meja, dan beberapa mahasiswa lain sudah duduk tersebar di kursi-kursi yang belum genap terisi setengah. Dutta berjalan langsung ke barisan tengah, memilih dua kursi bersebelahan tanpa bertanya dulu apakah aku mau duduk di sana atau tidak, seolah sudah otomatis menganggap aku akan mengikutinya. Dan memang begitu yang terjadi. Aku duduk di sampingnya, meletakkan tas di bawah meja, mengeluarkan buku catatan yang halamannya masih hampir kosong. Kalau tadi pagi Dutta yang menuntun percakapan di kolom chat, sekarang dia juga yang menuntun langkah, batinku. Mungkin ini yang kubutuhkan, orang yang jalan duluan supaya aku nggak perlu mikir harus ke mana. Tidak lama, tiga wajah lain muncul dari pintu, mengobrol dengan volume yang cukup untuk terdengar sampai barisan kami. Akbar, Alam, dan Rangga, tiga nama yang sudah kukenal lewat huruf-huruf kecil di layar sejak pagi, sekarang berjalan masuk dengan wajah dan suara yang benar-benar bervolume, persis seperti yang kupikirkan waktu duduk di teras rumah tadi. "Eh, Dutta udah di sini duluan!" Seru Akbar sambil melangkah cepat menuju barisan kami, diikuti Alam dan Rangga yang berjalan lebih santai di belakangnya. "Ya iyalah, gua kan rajin," Balas Dutta, membusungkan dada sedikit dengan gaya bercanda yang membuat Rangga langsung menggeleng. "Rajin nyari temen ngobrol doang." Mereka duduk berderet di belakang dan samping kami, memindahkan tas dan menggeser kursi dengan suara berdecit kecil di lantai keramik, dan untuk sesaat suasana barisan tengah itu terasa seperti sambungan langsung dari kolom chat tadi pagi, hanya saja sekarang setiap kalimat punya wajah yang mengucapkannya. "Lu Awan kan? Yang tadi pagi," Tanya Alam, menyodorkan tangannya untuk bersalaman dari kursi sebelah. "Iya, Alam kan?" "Iya. Nah ini Rangga, yang tadi nyuruh Dutta fokus." "Abisan Dutta chat-nya gangguin orang mulu dari awal kelas," sahut Rangga sambil tersenyum kecil. "Itu bukan gangguin, itu ice breaking." "Nggak ada yang minta di-ice breaking, Ta." Akbar tertawa duluan sebelum yang lain sempat menanggapi, dan aku mendapati diriku ikut tersenyum lagi, kedua kalinya dalam sepuluh menit terakhir, jumlah yang lumayan banyak untuk ukuran hari yang baru setengah berjalan. Empat orang ini, pikirku, memperhatikan mereka saling menyahut satu sama lain dengan ritme yang sudah terasa akrab meski baru bertemu langsung hari ini, kayaknya bakal jadi orang-orang yang sering ada di sekitar aku. Aku belum tahu apakah dugaan itu benar atau tidak. Tapi ada sesuatu yang terasa nyaman dari cara mereka menerima kehadiranku begitu saja, tanpa perlu banyak penjelasan, tanpa perlu aku berusaha keras untuk terlihat pantas berada di situ. "Eh, tadi lu naik motor apa? Yang bunyinya kenceng banget itu bukan sih pas masuk parkiran?" Tanya Akbar tiba-tiba, menyandarkan badan ke sandaran kursi Rangga di depannya. "Cafe racer, item. Itu gua." "Anjir, gua kira siapa. Keren, Wan," Sahut Akbar dengan mata yang tiba-tiba lebih hidup. "Rakitan sendiri apa beli jadi?" "Beli basicnya, terus dimodif dikit-dikit. Nabung dari SMA soalnya." "Sabar amat nabungnya. Gua mah kalo nabung buat beginian nggak akan tahan," Celetuk Alam, membuat Dutta tertawa keras. "Lu emang nggak akan tahan nabung buat apapun, Lam." Alam melempar pulpen kecil ke arah Dutta yang ditangkis dengan tawa, dan untuk sesaat suasana di barisan itu terasa hangat dengan cara yang tidak pernah kubayangkan bisa kudapatkan secepat ini, baru hari pertama, baru satu jam bertemu langsung, tapi obrolan mengalir seolah sudah berjalan sejak lama. Aku ikut tersenyum, tidak banyak bicara, tapi juga tidak merasa perlu banyak bicara. Ada tempat untuk diam di antara mereka, dan anehnya tempat itu terasa cukup nyaman untuk ditempati. Dosen berdeham pelan di depan kelas, cukup untuk membuat obrolan di barisan kami mereda satu per satu, seperti volume yang diturunkan perlahan, bukan dimatikan mendadak. Perkenalan dimulai lagi, mirip dengan yang tadi pagi, nama dosen, mata kuliah, kontrak belajar, ekspektasi tugas dan kehadiran. Tapi kali ini terasa berbeda, bukan karena isinya berbeda, melainkan karena ruangannya nyata, suara dosen memantul di dinding kelas yang sebenarnya, bukan keluar dari speaker laptop yang volumenya harus disesuaikan setiap beberapa menit. Tidak ada kolom chat kali ini. Tidak ada komentar-komentar kecil yang berjalan diam-diam di sisi layar. Yang ada hanya suara dosen yang terukur, sesekali suara pena mencatat, dan keheningan yang berbeda dari keheningan Zoom tadi pagi, keheningan yang terasa lebih penuh, karena di dalamnya ada tiga puluh dua orang yang benar-benar duduk di ruangan yang sama, bernapas di udara yang sama, bukan sekadar kotak-kotak kecil yang bisa dimatikan kapan saja. Dutta di sebelahku duduk lebih tenang dari yang kubayangkan, sesekali mencoret-coret pinggiran buku catatannya, tapi tidak lagi melempar lelucon seperti di parkiran tadi. Akbar, Alam, dan Rangga di belakang juga sama, mendengarkan dengan sikap yang jauh lebih tertib dari yang kuduga setelah melihat cara mereka mengobrol beberapa menit lalu. Ternyata bukan berarti rame terus, pikirku, sedikit heran dengan penemuan kecil itu. Cuma tau kapan harus rame dan kapan harus diam. Perkuliahan pertama sore itu berjalan cukup kondusif, tanpa banyak selingan, tanpa banyak bisik-bisik seperti yang biasanya kubayangkan terjadi di kelas-kelas penuh mahasiswa baru. Dosen menjelaskan dengan tempo yang stabil, sesekali melempar pertanyaan retoris ke seisi kelas yang dijawab dengan anggukan atau diam, dan aku mencatat beberapa poin yang terasa penting, sama seperti tadi pagi, bukan semua yang dikatakan, hanya hal-hal yang terasa seperti akan dicari lagi nanti. Di luar jendela kelas, matahari sore mulai miring, memantul dari kaca gedung seberang dan jatuh tipis-tipis di atas meja-meja plastik yang berjejer rapi. Aku sesekali melirik ke arah itu, lalu kembali ke papan tulis, lalu ke buku catatan, bergantian seperti ritme yang belum lama kupelajari tapi sudah mulai terasa wajar. Satu jam pertama berlalu tanpa terasa berat. Bukan karena materinya ringan, tapi karena ada empat orang di sekitarku yang entah kenapa membuat ruangan asing ini terasa sedikit lebih mudah untuk diduduki. Sesekali di antara penjelasan dosen, Dutta menyodorkan buku catatannya ke arahku, menunjuk satu bagian dengan pulpen, memastikan aku tidak ketinggalan poin yang baru saja disebutkan. Aku mengangguk, mencatat cepat, lalu mengembalikan perhatian ke depan. Hal kecil seperti itu, yang mungkin tidak akan diingat Dutta besok pagi, entah kenapa terasa berarti bagiku, semacam tanda bahwa aku sudah dianggap bagian dari barisan ini, bukan sekadar orang baru yang kebetulan duduk berdekatan. Kalau semua hari kuliah nanti kayak gini, pikirku, menatap punggung dosen yang masih menjelaskan di depan kelas, kayaknya introvert kayak aku bisa bertahan. Aku belum tahu seberapa benar pikiran itu nantinya. Tapi untuk sore pertama ini, dengan kemeja yang akhirnya rapi dari atas sampai bawah, dengan empat nama baru yang sudah terasa seperti bukan orang asing lagi, dan dengan suara motor yang masih terngiang samar di telinga dari perjalanan tadi, rasanya cukup untuk hari ini. Cukup untuk permulaan yang baik.Pukul dua siang, aku sudah berdiri di depan lemari lagi.Kemeja biru muda yang sama masih menempel di badan sejak pagi, tapi sekarang giliran bagian bawah yang harus menyusul. Kolor kotak-kotak sudah kulepas, digantikan celana panjang berwarna abu gelap yang kuseterika terburu-buru sepuluh menit lalu karena ternyata masih ada bekas lipatan yang membandel di bagian lutut. Aku menariknya, memasukkan ujung kemeja ke dalam dengan rapi, lalu berdiri sekali lagi di depan cermin.Kali ini dari atas sampai bawah semuanya cocok. Tidak ada yang perlu ditutupi meja.Zoom tidak melihat ke bawah meja, batinku, tapi tatap muka melihat semuanya. Jadi kali ini semuanya harus benar.Aku menyambar tas ransel yang sudah kusiapkan sejak makan siang, isi seadanya, laptop, buku catatan yang masih kosong halamannya kecuali beberapa poin yang kutulis waktu Zoom tadi pagi, dan botol minum yang belum sempat kuisi ulang. Kuisi cepat-cepat di dispenser dekat dapur, lalu berjalan keluar.Motor sudah menunggu di
Alarm berbunyi pukul enam pagi.Aku tidak langsung mematikannya. Membiarkannya berbunyi beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Bukan karena mengantuk, tapi karena ada sesuatu yang ingin ditunda dari momen sebelum alarm dimatikan. Momen ketika hari belum benar-benar dimulai. Ketika semuanya masih mungkin dan belum ada yang bisa salah.Lalu kutap layarnya. Diam.Aku duduk di tepi kasur.Hari ini hari pertama kuliah.Kalimat itu sudah ada di kepala sejak semalam, sejak aku meletakkan ponsel dan memejamkan mata, sejak tidur yang tidak terlalu nyenyak karena pikiran terus berputar di frekuensi yang tidak bisa dimatikan. Bukan cemas atau mungkin iya, sedikit, tapi bukan jenis cemas yang melumpuhkan. Lebih ke jenis perasaan yang muncul sebelum sesuatu yang besar dan baru dimulai, yang membuat tidur terasa lebih dangkal dari biasanya dan membuat pagi datang lebih cepat dari yang seharusnya.Aku berdiri. Membuka lemari.Zoom pagi, tatap muka sore. Itu jadwal hari ini dua mode yang ber
Di pagi yang sama, di tempat yang berbeda. Kamar Melva lebih rapi dari yang bisa diduga dari seseorang yang baru saja bangun. Kasurnya sudah dirapikan, bukan rapi sempurna, tapi cukup rapi untuk menunjukkan bahwa ini bukan kebetulan, bahwa ada seseorang yang memang terbiasa merapikan tempat tidurnya sebelum melakukan hal lain. Buku-buku di rak tersusun tidak sepenuhnya lurus tapi tidak berantakan. Meja belajarnya bersih kecuali satu gelas yang setengah isinya sudah tinggal sisa air dari semalam. Melva berbaring di atas kasur dengan laptop terbuka di depannya. Bukan untuk belajar. Bukan untuk mengerjakan sesuatu yang produktif. Pagi Minggu tidak seharusnya diisi dengan hal-hal yang produktif, itu prinsip yang tidak pernah ia ucapkan dengan keras tapi selalu ia praktikkan. Jadi laptop terbuka, platform streaming sudah menyala, film yang sudah lama masuk daftar tonton akhirnya mulai diputar. Opening credit masih berjalan. Musik latar yang pelan. Nama-nama yang ia tidak kenal. D
Tidak ada alarm pagi ini. Hari Minggu. Hari di mana dunia tampaknya menyepakati secara kolektif bahwa tidak ada yang perlu terburu-buru. Aku membiarkan mataku terbuka dengan kecepatan mereka sendiri pelan, malas, menyesuaikan diri dengan cahaya yang sudah masuk dari celah gorden yang tidak pernah benar-benar rapat. Aku berbaring diam sebentar, membiarkan kesadaran kembali pelan-pelan, seperti air yang mengisi bejana dari bawah. Langit-langit kamar. Kipas yang masih berputar. Suara sendok dari arah dapur. Ibu sudah bangun. Tentu saja sudah bangun. Ibu tidak pernah benar-benar tidur sampai siang bahkan di hari libur, ada saja yang dikerjakan, ada saja yang dibenahi, ada saja suara yang keluar dari dapur sebagai bukti bahwa hari ini sedang dimulai oleh setidaknya satu orang di rumah ini. Aku meraih ponsel di sisi kasur. Beberapa notifikasi dari semalam yang belum kubuka. Grup angkatan. Satu pesan dari Milo yang dikirim tengah malam isinya hanya meme yang tidak ada konteksnya, c
Satu notifikasi.Aku yang baru saja memejamkan mata membukanya kembali.Layar ponsel menyala di sisi kasur, cahayanya terlalu terang untuk ruangan yang sudah gelap ini. Aku meraihnya setengah sadar, setengah berharap itu hanya notifikasi grup angkatan yang tidak penting.Tapi bukan."Wan.."Dua kata. Bahkan bukan dua kata, satu kata dan dua titik yang menggantung, seperti kalimat yang belum selesai, seperti seseorang yang membuka mulut lalu ragu untuk melanjutkan.Aku duduk.Mataku yang tadi sudah hampir menyerah pada kantuk tiba-tiba tidak lagi mengantuk. Aku membaca pesannya sekali lagi. Lalu sekali lagi. Bukan karena tidak mengerti isinya hanya dua karakter, tidak ada yang perlu diurai tapi karena ada sesuatu yang aneh dari cara dua titik kecil itu bisa membuat dadaku tidak bisa tenang.Apa maksudnya?Bisa apa saja. Bisa sapaan biasa. Bisa ia mau bertanya sesuatu. Bisa ia lagi iseng. Bisa ia tidak sengaja mengirim. Bisa...Sudah. Jangan dipikirkan terlalu dalam.Aku mengetik."Gima
Rumah kami beda komplek, tapi beda komplek yang dekat.Lima menit jalan motor, belok kiri di perempatan, lurus sampai pohon beringin besar yang sudah ada sebelum aku lahir, lalu belok kanan. Pagar besi hitam. Lampu teras yang selalu menyala meski tidak ada yang minta dinyalakan.Rumah.Motor kuparkir di samping mobil, ayah pasti sudah pulang. Dari dalam, samar-samar terdengar suara televisi dan tawa - tawa yang ringan, bukan tawa karena ada yang lucu di televisi, tapi jenis tawa yang tumbuh dari percakapan yang sudah berlangsung lama dan nyaman.Aku berdiri sebentar di depan pintu.Mereka lagi makan.Aku bisa tebak dari baunya, nasi hangat dan sesuatu yang digoreng. Dan dari suaranya, aku tahu mereka berdua. Bukan karena bisa mendengar kata-katanya dengan jelas, tapi karena ada frekuensi tertentu dari dua orang yang sudah hidup berdampingan bertahun-tahun, cara mereka bicara tanpa perlu keras, cara tawa mereka saling menyahut."Assalamualaikum.""Waalaikumsalam..." Suara ibu langsung







