หน้าหลัก / Romansa / Binar / Ch 6 | Tiga Laki-Laki dan Satu Penerjemah

แชร์

Ch 6 | Tiga Laki-Laki dan Satu Penerjemah

ผู้เขียน: iyanalmasalbantani
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-05 04:00:00

Tidak ada alarm pagi ini.

Hari Minggu. Hari di mana dunia tampaknya menyepakati secara kolektif bahwa tidak ada yang perlu terburu-buru. Aku membiarkan mataku terbuka dengan kecepatan mereka sendiri pelan, malas, menyesuaikan diri dengan cahaya yang sudah masuk dari celah gorden yang tidak pernah benar-benar rapat.

Aku berbaring diam sebentar, membiarkan kesadaran kembali pelan-pelan, seperti air yang mengisi bejana dari bawah. Langit-langit kamar. Kipas yang masih berputar. Suara sendok dari arah dapur.

Ibu sudah bangun.

Tentu saja sudah bangun. Ibu tidak pernah benar-benar tidur sampai siang bahkan di hari libur, ada saja yang dikerjakan, ada saja yang dibenahi, ada saja suara yang keluar dari dapur sebagai bukti bahwa hari ini sedang dimulai oleh setidaknya satu orang di rumah ini.

Aku meraih ponsel di sisi kasur.

Beberapa notifikasi dari semalam yang belum kubuka. Grup angkatan. Satu pesan dari Milo yang dikirim tengah malam isinya hanya meme yang tidak ada konteksnya, cara komunikasi khas Milo yang tidak pernah berubah sejak SMP. Dan satu notifikasi lain yang membuatku duduk lebih tegak dari yang seharusnya untuk pagi-pagi begini.

Pengumuman pembagian kelas.

Aku membukanya.

Daftar nama yang panjang, diurutkan alfabetis, dibagi ke dalam beberapa kelas. Aku langsung mencari namaku sendiri dulu, Kelas 1, nomor urut yang tidak terlalu awal tidak terlalu akhir. Lalu tanpa benar-benar merencanakan untuk melakukannya, mataku langsung mencari satu nama lain di antara semua nama itu.

Melva Thalika.

Kelas 2.

Aku menatap layar itu beberapa detik. Tidak ada yang dramatis dari momen ini, tidak ada musik, tidak ada perubahan pencahayaan, tidak ada apapun yang berubah di kamar ini. Hanya aku yang berbaring di kasur dengan ponsel di tangan, membaca dua kata yang menjawab pertanyaan yang bahkan tidak berani aku tanyakan dengan jelas.

Beda kelas.

Tentu saja. Kenapa tidak.

Aku meletakkan ponsel. Menatap langit-langit. Menghela napas bukan napas yang berat dan teatrikal, hanya napas biasa yang dikeluarkan seseorang yang baru saja membaca sesuatu yang tidak terlalu mengejutkan tapi tetap terasa seperti pintu yang menutup sebelum sempat diketuk.

Ya sudah.

Bukan akhir dari segalanya. Hanya kenyataan yang perlu dicatat dan disimpan di tempat yang benar di antara hal-hal yang memang tidak bisa diubah dan karena itu tidak perlu terlalu lama dipikirkan.

Dari arah dapur, suara sendok semakin jelas. Dan kemudian, suara yang sudah sangat hafal.

"Kakak, sarapan dulu!"

"Iya, Mah. Bentar."

Aku bangkit dari kasur. Mengambil handuk yang tergantung di pintu, melangkah ke luar kamar dan hampir bertubrukan dengan ibu yang rupanya sedang berdiri persis di depan pintu kamarku, tangannya sudah terangkat seolah mau mengetuk.

"Eh." Ibu mundur satu langkah. "Buruan mandi dulu, nasi sudah mau matang."

"Cuci muka dulu, Mah."

"Ya cepetan."

Aku masuk ke kamar mandi. Air mengalir dingin di hari Minggu pagi ini, matahari belum cukup tinggi untuk menghangatkan bak air yang sisi-sisinya masih bernoda sabun dari semalam. Aku mencuci muka dengan pelan, membiarkan dinginnya air benar-benar membangunkan sisa-sisa kantuk yang masih menempel di pinggiran kesadaranku.

Cermin di depanku memantulkan wajah yang sama seperti kemarin. Dan kemarin. Dan hari-hari sebelumnya.

Kelas 2, kata sesuatu di belakang kepala.

Sudah. Fokus.

Sikat gigi. Kumur. Handuk di wajah. Selesai.

Aku keluar dari kamar mandi dan berjalan ke ruang makan dan di sana, ayah dan Aksa sudah duduk di meja, masing-masing dengan piring yang sudah terisi.

Ayah duduk di kursi yang selalu ia tempati yang paling dekat ke jendela, yang dari sana bisa melihat sebagian kecil halaman depan. Ia sudah berpakaian rapi meskipun baru pukul delapan lebih sedikit, kemeja lengan panjang yang tidak terlalu formal, celana bahan yang sudah disetrika rapi. Ayah tidak pernah benar-benar bersantai secara fisik bahkan di hari Minggu. Ada sesuatu dalam dirinya yang selalu terlihat bersiap untuk pergi.

Di sebelahnya, Aksa.

Adikku itu tujuh tahun lebih muda dariku, yang artinya sekarang ia masih di usia yang seharusnya tidak ada yang terlalu dipikirkan, usia di mana hari Minggu berarti hari santai dan sarapan yang dihabiskan sebelum makanannya sempat dingin. Rambutnya masih berantakan, jelas baru bangun tidak lama sebelumku, dan ia duduk dengan posisi yang agak menyamping, kaki yang satu menggantung di tepi kursi.

Ibu belum duduk, ia masih di antara meja dan dapur, memindahkan sesuatu, membenahi sesuatu, seperti biasa.

Aku menarik kursi dan duduk.

Tiga laki-laki di meja makan. Dan seperti sudah menjadi hukum alam di rumah ini, tidak ada satupun dari kami yang membuka mulut duluan.

Ayah memandangi halaman. Aksa mengorek-ngorek nasinya dengan sendok tanpa benar-benar memakannya. Aku menuang air ke gelas. Suara televisi dari ruang tengah mengalir masuk, entah siapa yang menyalakannya, mungkin memang sudah menyala dari tadi, menjadi latar suara yang mengisi kekosongan tanpa benar-benar mengisinya.

Sudah seperti ini selama bertahun-tahun.

Aku tidak ingat dengan tepat kapan jarak itu mulai tumbuh di antara kami bertiga antara aku dan ayah, antara aku dan Aksa, antara ayah dan Aksa. Mungkin tidak tumbuh sekaligus. Mungkin ia datang sedikit demi sedikit, seperti kerak yang menempel di dinding tanpa ada yang memperhatikan sampai suatu hari tiba-tiba sudah ada di mana-mana.

Bukan karena tidak sayang. Itu yang selalu penting untuk dicatat.

Tapi ada jenis laki-laki yang tidak belajar cara mengungkapkan rasa sayang dengan kata-kata, yang lebih mudah hadir secara fisik daripada secara verbal, yang menunjukkan perhatian dengan cara-cara yang tidak selalu bisa dibaca oleh orang lain dengan mudah. Dan rupanya rumah ini punya tiga di antaranya.

Untungnya, selalu ada ibu.

Ibu meletakkan piring terakhir di meja dan duduk.

Dan seperti sesuatu yang sudah tersetting sejak lama, percakapan pun dimulai, bukan dimulai oleh ayah, bukan oleh Aksa, bukan olehku, tapi oleh ibu yang sudah tahu persis di mana harus meletakkan kata pertama agar semuanya bisa ikut bergulir.

"Kakak tadi lihat pengumuman kelas?" tanya ibu, menyendokkan nasi ke piringnya sendiri setelah memastikan piring kami semua sudah terisi.

"Udah, Mah. Dapet Kelas 1."

"Kelas 1." Mamah mengangguk. "Banyak yang dikenal?"

"Belum tau. Baru liat sebentar tadi."

Ayah yang dari tadi memandangi halaman pelan-pelan menoleh. "Sistemnya gimana sekarang, kelas dibagi dari awal atau nanti bisa pindah?"

"Dari awal, Pah. Satu semester kayaknya tetap di kelas yang sama."

"Oh." Ayah mengangguk pelan. "Berarti harus cepat adaptasi sama teman-teman kelasnya."

"Iya."

Hening sebentar. Mamah langsung mengisi jeda itu dengan suara sendok yang beradu dengan piring, memindahkan lauk ke tengah meja dengan gerakan yang sudah sangat terlatih tidak terburu-buru, tidak terlalu lambat, hanya cukup untuk memberi ruang bagi percakapan tapi tidak membiarkannya mati.

"Adek, tanya dong sama kakak," kata ibu ke Aksa sambil tetap memperhatikan meja. "Kamu kan penasaran tadi."

Aksa mendongak. Ada sesuatu yang ragu di wajahnya, ragu yang khas dari seseorang yang sebenarnya ingin bertanya tapi tidak terbiasa memulai. Ia melirik aku sekilas, lalu menatap piringnya lagi.

"Kuliahnya susah nggak, Kak?"

Pertanyaan yang sederhana. Tapi dari Aksa, yang tidak pernah banyak bicara kepadaku bahkan ketika kami duduk di ruangan yang sama selama bertahun-tahun, pertanyaan itu terasa seperti sesuatu yang lebih dari sekadar basa-basi.

"Tergantung," jawabku. "Ospeknya belum susah. Nanti pas kuliah beneran baru keliatan."

"Ospek itu apa kak?"

"Orientasi. Semacam perkenalan sebelum kuliah dimulai. Ada kegiatan, ada games, ada pertemuan sama kakak tingkat."

"Kaya MOS?"

"Mirip. Tapi lebih santai."

Aksa mengangguk pelan. Kembali ke piringnya. Tapi ada sesuatu yang berbeda dari biasanya, ia tidak langsung menutup diri setelah mendapat jawaban. Tangannya masih memegang sendok, tapi belum bergerak, seperti seseorang yang sedang mencoba memikirkan pertanyaan berikutnya namun belum menemukan kata-katanya.

Ibu melihat itu. Dan dengan sangat halus, tanpa ada yang sadar, ia menambahkan, "Tadi adek juga nanya soal kantin kampus, Kak. Katanya penasaran."

Ah. Ibu dan sistem penerjemahannya yang tidak pernah gagal.

"Kantin kampusnya lumayan," aku menjawab, kali ini langsung ke Aksa. "Ada beberapa warung. Nanti kalau kamu kuliah, pasti bakal lebih banyak lagi pilihannya dek."

Aksa mendongak lagi. "Emang aku bakal kuliah?"

"Ya iyalah."

"Emangnya harus?"

"Nggak harus," kataku. "Tapi kalau mau, bisa."

Aksa memikirkan itu sebentar. Lalu, dengan nada yang tidak terlalu serius tapi juga tidak main-main, ia berkata, "Berarti aku nggak usah kuliah aja. Capek kayaknya."

Ayah terkekeh pelan dari ujung meja.

Suara itu kecil, hampir tidak terdengar, dan langsung berhenti sebelum benar-benar bisa disebut tawa. Tapi ada. Dan dari ayah yang tidak pernah banyak mengeluarkan suara di meja makan, suara sekecil itu sudah cukup untuk membuat udara di ruangan ini terasa sedikit lebih ringan dari sebelumnya.

Ibu tersenyum ke piringnya. Aku melanjutkan makan.

Begini caranya. Bukan dengan percakapan yang panjang dan dalam. Bukan dengan pernyataan yang penuh makna. Hanya seperti ini, sesendok nasi, satu pertanyaan kecil, satu tawa yang nyaris tidak terdengar. Dan satu orang di tengah yang tahu persis kapan harus bicara dan kapan harus diam.

Keluarga ini tidak pernah ramai. Tapi momen-momen seperti ini, momen di mana ada sesuatu yang baru cukup untuk membuat tiga orang yang biasanya diam mau membuka mulut, meski hanya sedikit itu sudah lebih dari cukup.

Makanan habis tidak sekaligus.

Ayah yang pertama selesai, seperti biasa makan dengan efisien, tidak banyak jeda, tidak terlalu menikmati tapi juga tidak terburu-buru. Ia meletakkan sendok, menyeka mulut dengan tisu, lalu langsung berdiri mengambil piringnya sendiri dan membawanya ke wastafel.

Aku selesai berikutnya. Aksa masih menghabiskan sisa nasinya yang dari tadi ku pendam-pendam dengan sendok.

Tanpa ada yang mengomandoi, kami berempat membereskan meja siapa yang selesai makan, ia membawa piringnya. Siapa yang lewat dekat gelas kosong, ia mengambilnya. Sudah seperti koreografi yang tidak pernah dilatih tapi semua orang hapal gerakannya.

"Pah, berangkat sekarang?" tanya ibu dari arah wastafel.

"Sebentar lagi. Mau ambil berkas dulu."

Ayah masuk ke kamar. Tidak sampai lima menit, ia sudah keluar lagi tas di tangan, kunci motor di tangan yang lain. Ia berhenti sebentar di depan pintu, menoleh ke arah ruang makan tempat kami masih membereskan sisa-sisa meja.

"Kakak, Aksa, papah berangkat ya."

"Iya, Pah," sahut kami hampir bersamaan, cara yang tidak direncanakan tapi selalu terjadi.

Ibu sudah berjalan ke depan, mengantar ayah sampai ke motor seperti yang selalu ia lakukan setiap pagi tanpa pernah ada yang memintanya. Bukan ritual yang dibuat-buat. Hanya kebiasaan yang tumbuh pelan-pelan selama bertahun-tahun sampai sudah tidak ada yang bisa membayangkan pagi tanpa itu.

Dari dalam, aku bisa mendengar samar-samar suara motor yang dihidupkan. Lalu pelan-pelan menjauh. Lalu hilang.

Ibu kembali masuk. Menutup pintu. Langsung menoleh ke arah kami berdua yang masih berdiri setengah nganggur di dapur.

"Adek, mandi."

"Bentar, Mah."

"Bukan bentar, sekarang."

"Kan libur."

"Libur bukan berarti nggak mandi." Ibu mengangkat alis dengan ekspresi yang tidak menerima argumen apapun. "Ayo."

Aksa menghela napas panjang, jenis napas yang dikeluarkan seseorang yang sudah tahu akan kalah tapi tetap ingin menunjukkan bahwa ia tidak setuju, lalu berjalan ke arah kamar mandi dengan langkah yang lebih lambat dari yang dibutuhkan.

Ibu menatap kepergiannya, lalu menoleh ke aku.

"Kakak juga."

"Aku nungguin adek selesai aja mah"

"Tadi emang baru cuma cuci muka doang."

Aku tidak membantah.

setelah Aksa selesai barulah giliranku mandi.

Setelah mandi, aku kembali ke kamar.

Handuk di bahu, rambut yang masih basah, badan yang lebih segar dari tadi, ada sesuatu yang selalu terasa lebih ringan setelah mandi, seolah air dingin pagi hari punya kemampuan untuk membilas bukan hanya debu tapi juga sisa-sisa pikiran semalam yang belum sempat pergi.

Aku berbaring di kasur.

Mengambil ponsel.

Notifikasi baru sudah menumpuk dan mayoritas dari grup yang baru. Aku membuka aplikasi pesan dan menemukan bahwa ia sudah masuk secara otomatis ke satu grup baru yang namanya tertera rapi: "Kelas 1 — Prodi (angkatan)".

Aku menggulir ke atas untuk melihat dari mana percakapan dimulai.

Seseorang, entah siapa, nama yang belum aku kenal sudah memulai dengan memperkenalkan diri. Format yang sudah sangat familiar: nama, asal kota, hobi, harapan untuk semester ini. Satu pesan panjang yang tampaknya sudah dipikirkan sebelum dikirim, atau mungkin memang sudah menjadi template mental yang dipakai setiap kali memasuki grup baru.

Lalu yang lain mulai ikut.

Satu per satu, nama-nama baru muncul dengan perkenalan masing-masing. Ada yang panjang, tiga paragraf tentang siapa mereka dan apa yang mereka inginkan dari kuliah ini. Ada yang singkat, nama, asal, titik. Ada yang menyelipkan emoji di mana-mana. Ada yang menulis dengan serius tanpa satu pun tanda baca yang terlewat.

Tiga puluh dua orang. Tiga puluh dua cara berbeda untuk memperkenalkan diri.

Aku membacanya dari atas ke bawah, perlahan, seperti seseorang yang membaca buku menu di restoran baru, tidak terburu-buru, tapi juga tidak benar-benar yakin apa yang akan ia pesan.

Ada Dira, dari Bandung, suka desain grafis, berharap bisa banyak kolaborasi. Ada Hendra, dari Surabaya, sudah terlihat dari cara ia menulis bahwa ia tipe yang tidak suka basa-basi. Ada Putri, yang memperkenalkan dirinya dengan tiga kata, nama, jurusan, asal, lalu menambahkan satu kalimat: "Semoga kita semua betah." Kalimat yang sederhana tapi entah kenapa terasa paling tulus dari semua yang sudah masuk.

Aku terus menggulir.

Di antara nama-nama yang baru dan asing itu, aku mencari sesuatu bukan dengan sungguh-sungguh, hanya dengan kebiasaan yang sudah terbentuk tanpa disadari sejak kemarin. Mencari nama dengan huruf awal tertentu, dengan cara penulisan tertentu.

Tapi tentu saja tidak ada.

Kelas 1.

Aku mengingatkan dirinya sendiri lagi. Tidak sekelas. Tidak akan ada namanya di sini, tidak akan ada cara penulisannya yang khas, tidak akan ada hal-hal kecil yang biasanya tanpa sadar kucari di antara keramaian.

Aku meletakkan ponsel di dada. Menatap langit-langit.

Di luar kamar, terdengar suara televisi, Aksa yang sudah selesai mandi rupanya langsung beralih ke ruang keluarga untuk menonton video youtube dari televisi yang mungkin agar kesanya lebih lebar. Dan dari dapur, masih ada suara ibu yang bergerak pelan, membereskan sesuatu, menyiapkan sesuatu, melakukan hal-hal yang tidak pernah benar-benar berhenti selama ada hari yang sedang berjalan.

Aku kembali membuka ponsel.

Grup kelas masih ramai. Beberapa orang sudah mulai saling membalas perkenalan satu sama lain, percakapan kecil yang tumbuh di celah-celah antara satu perkenalan dan perkenalan berikutnya. Ada yang sudah menemukan sesama perantau. Ada yang sudah menemukan sesama penggemar sesuatu. Ada yang sudah membuat lelucon pertama dan disambut dengan deretan emoji tertawa.

Tiga puluh dua orang yang dua hari lalu masing-masing adalah orang asing, sekarang sedang membangun sesuatu di dalam kotak pesan yang sama.

Aku membaca semuanya tanpa membalas.

Belum. Belum saatnya. Ada cara tertentu yang aku punya dalam memasuki ruang baru, tidak dari pintu depan dengan suara keras, tapi dari sisi, pelan-pelan, memperhatikan dulu sebelum memutuskan di mana harus berdiri.

Tapi aku tetap membacanya. Karena dari sini, dari cara orang-orang ini memperkenalkan diri, dari pilihan kata mereka, dari apa yang mereka pilih untuk diceritakan dan apa yang mereka pilih untuk disimpan, sudah bisa terbaca siapa mereka, setidaknya sebagian kecilnya.

Tiga puluh satu orang baru.

Dan satu orang yang tidak ada di sini tapi entah kenapa tetap hadir di suatu sudut kepala.

Aku akhirnya mengetik sesuatu di kolom grup.

Tidak panjang. Tidak terlalu singkat. Nama, asal, satu kalimat yang cukup untuk menandai kehadiran tanpa terlalu banyak membuka diri.

"Awan Kailani. Dari sini juga. Senang bisa satu kelas."

Terkirim.

Beberapa detik kemudian, dua centang biru. Lalu tiga. Lalu empat. Beberapa yang membalas dengan "Sama-sama!" dan emoji. Satu yang langsung bertanya asal sekolahnya dari mana. Satu lagi yang mengirimkan stiker selamat datang yang gambarnya entah apa.

Aku membalas yang bertanya, melewatkan stiker, dan meletakkan ponsel di sisi kasur.

Dari luar kamar, suara televisi masih ada. Suara Aksa yang sesekali tertawa di bagian video yang ia tonton yang rupanya lucu. Dan kemudian suara ibu yang masuk ke ruang tengah, duduk di sofa, menyela program Aksa untuk mencari acara lain dan suara protes Aksa yang langsung menyusul.

"Mah, tadi lagi seru!"

"Mamah mau nonton berita bentar."

"Kartunnya belum selesai!"

"Nanti diulang."

"Nggak diulang!"

Aku tersenyum kecil di kamarku, sendirian.

Ini Minggu. Ayah sudah berangkat ke tempat yang memerlukannya, karena memang begitu cara ayah mencintai keluarga ini dengan tidak berhenti. Ibu yang sudah bebas dari pekerjaannya hari ini tapi tidak pernah benar-benar bebas dari rumahnya, karena memang di sinilah ia memilih untuk meletakkan dirinya. Dan Aksa yang masih di usia di mana hari Minggu masih terasa seperti sesuatu yang harus diperjuangkan dari perebutan remote televisi.

Dan aku di kamar, dengan ponsel yang grupnya masih ramai, dengan satu informasi pagi ini yang tidak bisa begitu saja dimasukkan ke laci dan dikunci.

Kelas 2.

Baik. Kelas 2. Itu faktanya.

Tapi fakta tidak selalu harus langsung diterima dengan lapang dada di pagi hari yang masih belum cukup siang. Kadang ia hanya perlu ditaruh dulu di sisi meja, dibiarkan ada, sementara hidup terus berjalan di sekitarnya.

Grup kelas masih berbunyi. Satu pesan baru, dua, tiga.

Aku membacanya satu per satu.

Hari Minggu sedang berjalan. Perlahan, tapi sedang berjalan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Binar   Ch 9 | Perkuliahan Pertama Di Kampus

    Pukul dua siang, aku sudah berdiri di depan lemari lagi.Kemeja biru muda yang sama masih menempel di badan sejak pagi, tapi sekarang giliran bagian bawah yang harus menyusul. Kolor kotak-kotak sudah kulepas, digantikan celana panjang berwarna abu gelap yang kuseterika terburu-buru sepuluh menit lalu karena ternyata masih ada bekas lipatan yang membandel di bagian lutut. Aku menariknya, memasukkan ujung kemeja ke dalam dengan rapi, lalu berdiri sekali lagi di depan cermin.Kali ini dari atas sampai bawah semuanya cocok. Tidak ada yang perlu ditutupi meja.Zoom tidak melihat ke bawah meja, batinku, tapi tatap muka melihat semuanya. Jadi kali ini semuanya harus benar.Aku menyambar tas ransel yang sudah kusiapkan sejak makan siang, isi seadanya, laptop, buku catatan yang masih kosong halamannya kecuali beberapa poin yang kutulis waktu Zoom tadi pagi, dan botol minum yang belum sempat kuisi ulang. Kuisi cepat-cepat di dispenser dekat dapur, lalu berjalan keluar.Motor sudah menunggu di

  • Binar   Ch 8 | Kemeja Dan Kolor

    Alarm berbunyi pukul enam pagi.Aku tidak langsung mematikannya. Membiarkannya berbunyi beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Bukan karena mengantuk, tapi karena ada sesuatu yang ingin ditunda dari momen sebelum alarm dimatikan. Momen ketika hari belum benar-benar dimulai. Ketika semuanya masih mungkin dan belum ada yang bisa salah.Lalu kutap layarnya. Diam.Aku duduk di tepi kasur.Hari ini hari pertama kuliah.Kalimat itu sudah ada di kepala sejak semalam, sejak aku meletakkan ponsel dan memejamkan mata, sejak tidur yang tidak terlalu nyenyak karena pikiran terus berputar di frekuensi yang tidak bisa dimatikan. Bukan cemas atau mungkin iya, sedikit, tapi bukan jenis cemas yang melumpuhkan. Lebih ke jenis perasaan yang muncul sebelum sesuatu yang besar dan baru dimulai, yang membuat tidur terasa lebih dangkal dari biasanya dan membuat pagi datang lebih cepat dari yang seharusnya.Aku berdiri. Membuka lemari.Zoom pagi, tatap muka sore. Itu jadwal hari ini dua mode yang ber

  • Binar   Ch 7 | Yang Tidak Awan Ketahui

    Di pagi yang sama, di tempat yang berbeda. Kamar Melva lebih rapi dari yang bisa diduga dari seseorang yang baru saja bangun. Kasurnya sudah dirapikan, bukan rapi sempurna, tapi cukup rapi untuk menunjukkan bahwa ini bukan kebetulan, bahwa ada seseorang yang memang terbiasa merapikan tempat tidurnya sebelum melakukan hal lain. Buku-buku di rak tersusun tidak sepenuhnya lurus tapi tidak berantakan. Meja belajarnya bersih kecuali satu gelas yang setengah isinya sudah tinggal sisa air dari semalam. Melva berbaring di atas kasur dengan laptop terbuka di depannya. Bukan untuk belajar. Bukan untuk mengerjakan sesuatu yang produktif. Pagi Minggu tidak seharusnya diisi dengan hal-hal yang produktif, itu prinsip yang tidak pernah ia ucapkan dengan keras tapi selalu ia praktikkan. Jadi laptop terbuka, platform streaming sudah menyala, film yang sudah lama masuk daftar tonton akhirnya mulai diputar. Opening credit masih berjalan. Musik latar yang pelan. Nama-nama yang ia tidak kenal. D

  • Binar   Ch 6 | Tiga Laki-Laki dan Satu Penerjemah

    Tidak ada alarm pagi ini. Hari Minggu. Hari di mana dunia tampaknya menyepakati secara kolektif bahwa tidak ada yang perlu terburu-buru. Aku membiarkan mataku terbuka dengan kecepatan mereka sendiri pelan, malas, menyesuaikan diri dengan cahaya yang sudah masuk dari celah gorden yang tidak pernah benar-benar rapat. Aku berbaring diam sebentar, membiarkan kesadaran kembali pelan-pelan, seperti air yang mengisi bejana dari bawah. Langit-langit kamar. Kipas yang masih berputar. Suara sendok dari arah dapur. Ibu sudah bangun. Tentu saja sudah bangun. Ibu tidak pernah benar-benar tidur sampai siang bahkan di hari libur, ada saja yang dikerjakan, ada saja yang dibenahi, ada saja suara yang keluar dari dapur sebagai bukti bahwa hari ini sedang dimulai oleh setidaknya satu orang di rumah ini. Aku meraih ponsel di sisi kasur. Beberapa notifikasi dari semalam yang belum kubuka. Grup angkatan. Satu pesan dari Milo yang dikirim tengah malam isinya hanya meme yang tidak ada konteksnya, c

  • Binar   Ch 5 | Tadi Kenapa Diem Aja?

    Satu notifikasi.Aku yang baru saja memejamkan mata membukanya kembali.Layar ponsel menyala di sisi kasur, cahayanya terlalu terang untuk ruangan yang sudah gelap ini. Aku meraihnya setengah sadar, setengah berharap itu hanya notifikasi grup angkatan yang tidak penting.Tapi bukan."Wan.."Dua kata. Bahkan bukan dua kata, satu kata dan dua titik yang menggantung, seperti kalimat yang belum selesai, seperti seseorang yang membuka mulut lalu ragu untuk melanjutkan.Aku duduk.Mataku yang tadi sudah hampir menyerah pada kantuk tiba-tiba tidak lagi mengantuk. Aku membaca pesannya sekali lagi. Lalu sekali lagi. Bukan karena tidak mengerti isinya hanya dua karakter, tidak ada yang perlu diurai tapi karena ada sesuatu yang aneh dari cara dua titik kecil itu bisa membuat dadaku tidak bisa tenang.Apa maksudnya?Bisa apa saja. Bisa sapaan biasa. Bisa ia mau bertanya sesuatu. Bisa ia lagi iseng. Bisa ia tidak sengaja mengirim. Bisa...Sudah. Jangan dipikirkan terlalu dalam.Aku mengetik."Gima

  • Binar   Ch 4 | Malam yang Tidak Perlu Banyak Kata

    Rumah kami beda komplek, tapi beda komplek yang dekat.Lima menit jalan motor, belok kiri di perempatan, lurus sampai pohon beringin besar yang sudah ada sebelum aku lahir, lalu belok kanan. Pagar besi hitam. Lampu teras yang selalu menyala meski tidak ada yang minta dinyalakan.Rumah.Motor kuparkir di samping mobil, ayah pasti sudah pulang. Dari dalam, samar-samar terdengar suara televisi dan tawa - tawa yang ringan, bukan tawa karena ada yang lucu di televisi, tapi jenis tawa yang tumbuh dari percakapan yang sudah berlangsung lama dan nyaman.Aku berdiri sebentar di depan pintu.Mereka lagi makan.Aku bisa tebak dari baunya, nasi hangat dan sesuatu yang digoreng. Dan dari suaranya, aku tahu mereka berdua. Bukan karena bisa mendengar kata-katanya dengan jelas, tapi karena ada frekuensi tertentu dari dua orang yang sudah hidup berdampingan bertahun-tahun, cara mereka bicara tanpa perlu keras, cara tawa mereka saling menyahut."Assalamualaikum.""Waalaikumsalam..." Suara ibu langsung

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status